
"Karina akan segera ke Paris, jika ia tahu aku berada di sana..." jawab Hardhan.
"Aku khawatir Hardhan... Aku takut... Katamu salah satu tersangkanya adalah salah satu orang berkuasa di sana. Apa itu tidak terlalu berbahaya?"
"Kau tenang saja sayang... Saat ini akupun sudah berhasil membangun kerajaan bisnisku di sana, aku sudah berada satu tingkat di atasnya. Dan sudah banyak pihak yang bersedia membantuku."
"Berapa lama?"
"Aku hanya hadir untuk mengajukan tuntutan, selebihnya pengacaraku yang akan menanganinya, sampai proses sidang selesai. Jadi mungkin hanya tiga hari di sana."
Hardhan mencubit gemas hidung Kei, "Aku tidak akan tahan hidup jauh darimu." lalu mengelus perutnya "Dan anak kita."
"Aku juga... Apa aku tidur di rumah papa saja selama kamu di Paris?" usul Kei.
Hardhan menyentil kening Kei,
"Tadi kau baru saja berjanji padaku tidak akan keluar rumah tanpaku. Tapi sudah mau mengingkarinya."
"Itu rumah papa Hardhan... Rumahku dan rumahmu juga..."
"Iya aku tahu. Tapi aku tetap khawatir... Aku merasa kau lebih aman di rumahku."
"Iya... Iya... Aku mengerti. Sekarang kesini peluk aku." perintah Kei sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
Hardhan langsung menurut, dan merebahkan diri di sebelah Kei lalu memeluknya, "Sudah satu minggu lebih aku tidak memelukmu sayang... Rasanya begitu menyiksa."
"Aku selalu bertanya-tanya, kenapa belakangan ini aku selalu kesal melihatmu, dan bau badanmu membuatku mual. Ternyata itu karena aku sedang hamil, rupanya anakmu tidak menyukaimu." ledek Kei sambil menyeringai.
"Berarti anak kita laki-laki... Dia cemburu saat aku dekat denganmu."
"Apapun jenis kelaminnya nanti bukan masalah untukku, mendapati aku hamil saja sudah membuatku bersyukur. Aku akan terlihat tamak kalau aku juga menginginkan jenis kelamin tertentu untuk anakku."
Hardhan meletakkan telapak tangannya di atas perut Kei, "Aku belum memberitahu mama mengenai kehamilanmu..."
"Kita akan memberitahunya bersama sayang, aku juga ingin melihat raut wajah mama yang bahagia ketika mendengarnya. Kapan aku bisa keluar dari sini? Aku rindu kamar kita."
"Kalau kau mau saat ini juga aku bisa membawamu pulang, dan menyeret doktermu ke rumah kita..."
Tawa Kei pecah, "Kau berlebihan sayang... Apa di sini ada es batu? Aku sudah mulai mual, biasanya kalau aku mengulum es batu mampu meredakan rasa mualnya."
Hardhan mencium pipi Kei sebelum beranjak turun dari tempat tidur, "Sebentar, aku lihat di lemari es dulu yaa..."
Hardhan kembali dengan segelas batu es, lalu meletakkan di meja nakas sebelah Kei, kemudian membantu Kei duduk dan bersandar di kepala tempat tidur, dan menyerahkan gelas es batu itu ke Kei.
__ADS_1
"Aku sudah mengganti nomor handphonemu dengan nomor baru. Nomor yang sama dengan nomorku hanya beda satu digit belakangnya saja."
"Kenapa harus mengganti nomor handphone, kalau urusanmu di Paris nanti sudah selesai juga wanita ular itu tidak akan menggangguku lagi kan?"
"Hanya berjaga-jaga saja sayang..."
"Hardhan... Aku mengkhawatirkan Sonya... Apa belum ada kabar dari Alex?" tanya Kei.
"Belum, Alex pasti akan langsung ke sini jika sudah selesai mengantar Sonya."
"Aku ingin berada di samping Sonya ketika ia sedang sedih, seperti dia selalu berada di sampingku ketika aku sedih Hardhan."
"Sonya pasti mengerti sayang, mengingat kosndisimu pun sedang tidak baik..."
"Papa Sonya sudah seperti papaku sendiri..."
"Iya... Aku mengerti. Nanti ketika kau sudah sehat dan tidak lemah lagi, aku sendiri yang akan mengantarmu untuk membesuknya... Bagaimana?" bujuk Hardhan.
"Kamu janji akan menemaniku besuk papa Sonya?"
"Iya sayang... Aku janji. Mungkin setelah aku kembali dari Paris, dan kondisimu sudah jauh lebih baik."
**********
"Selamat Kei... Hardhan... Sebenarnya mama sudah menebaknya, kau selalu melewati sarapan pagimu Kei, dan pinggangmu mulai melebar." kata mama sambil menghapus air mata di sudut matanya.
"Akhirnya kau hamil Kei... Oapa sangat senang mendengarnya... Selamat untuk kalian." kata papa dengan suara serak.
"Terima kasih Ma... Pa..." jawab Kei dan Hardhan bersamaan, lalu mereka saling tatap dan tertawa bahagia.
"Mulai sekarang kau jangan naik tangga ke atas Kei, kau harus menggunakan lift seperti mama..." seru mama.
"Ya, mama benar... Lift lebih aman sayang..." lanjut Hardhan.
Kei mengangguk setuju, "Iya... Aku akan menggunakan lift."
"Kau harus menjaga baik-baik kandunganmu Kei, jaga pola makan, istirahat yang cukup dan hindari kegiatan yang tidak penting, yang dapat membuatmu lelah." nasihat papanya.
"Iya pa..."
"Apa mama sudah menyiapkan dua kamar tamu untuk dokter yang stand by itu ma?" tanya Hardhan.
"Sudah... Mama sudah menyiapkannya. Dan sekarang mereka sudah berada di kamarnya masing-masing."
__ADS_1
"Bagus... Kalau begitu sekarang aku akan membawa Kei ke kamar, supaya Kei bisa kembali istirahat." seru Hardhan sambil membantu Kei berdiri.
"Oh yaa... Ya... Silahkan." desah pak Hendrawan, lalu menghampiri dan memeluk Kei, "Papa sayang kamu Kei..."
Kei membalas pelukan papanya, "Aku juga pa..."
"Kau harus terus berbahagia yaa sayang..." bisik papanya lirih sambil menepuk-nepuk punggung Kei.
"Aku pernah berjanji pada papa aku akan bahagia... Dan sekarang aku sudah menepatinya pa... Hardhan membuatku sangat bahagia..." akunya lembut.
Pak Hendrawan melepas pelukannya, lalu menghapus air matanya, "Istirahatlah... Papa ingin berbincang-bincang dengan mama mertuamu..."
Kei mencium pipi papanya, "Malam pa..."
"Malam juga sayang..." balas papanya.
Lalu Kei membiarkan Hardhan menuntunnya ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai dua, ke kamar mereka.
Dengan hati-hati Hardhan merebahkan Kei ke atas tempat tidur, "Kau mau apa sayang? Mau makan lagi? Es batu? Susu? Buah?"
"Aku mau kamu..." jawab Kei sambil tersenyum jahil.
Hardhan langsung menelan ludahnya, "Jangan memancingku sayang... Aku tidak ingin melakukannya ketika kau masih selemah ini."
"Lalu kapan?" tanya Kei.
"Ketika kau sudah lebih kuat lagi sayang, makanya kau harus lebih banyak makan, ingat sekarang kau makan bukan hanya untukmu sendiri, tapi juga untuk anak kita..."
Anak-anak kita, batin Hardhan.
"Tapi saat ini aku mau kau menciumku..." rengek Kei manja, lalu Hardhan mencium pipi Kei.
"Sudah..."
"Aku tidak mau di pipi... Aku mau kau menciumku di bibirku..." rengek Kei lagi membuat Hardhan mengerang pelan.
"Baiklah... Hanya ciuman ringan yaa..." tawar Hardhan, dan Kei mengangguk.
Hardhan langsung mencium bibir Kei, dan bibir Kei membuka dan langsung mengulum bibir Hardhan, jemari tangan Kei bergerak tidak bisa diam di belakang kepala Hardhan, dan menahannya ketika Hardhan hendak menjauh.
Kedua tangan Hardhan menangkup pipi Kei, lalu melepas ciumannya, "Sayang... Kita belum bisa melakukan itu sekarang..."
"Ahh perusak kesenangan..." ejek Kei meniru ucapan Hardhan.
__ADS_1