
Setelah menikmati makan siang khas Prancis buatan madame Agathe, Hardhan mengajak Kei berlayar di sepanjang sungai Seine, dengan menggunakan River Limousine, mereka mengelilingi kota Paris.
Melihat landmark Paris seperti Menara Eifel,
Louvre Museum, Notre Dame Cathedral dan bangunan-bangunan indah lainnya. Semuanya terlihat jelas dari sungai Seine, melihat highlight kota Paris dengan sekali jalan.
"Kau tahu... Akan membutuhkan waktu lebih lama jika kita mengeksplore ini semua jika melalui jalur darat."
"Ya tapi kita tidak bisa berhenti untuk foto."
Hardhan menaikkan sebelah alisnya,
"Untuk apa foto-foto itu? Kau ingin masuk ke geng cewek SMA mu?"
Sambil tertawa Kei menyenggol bahunya ke badan Hardhan, Hardhan langsung merangkul Kei, berdua mereka berdiri di sisi river limousine sambil melihat pemandangan kota Paris di siang hari.
"Aku ingin mencoba naik métro...." kata Kei
"Jangan... Berbahaya."
"Kenapa?"
"Muka polosmu itu, sasaran empuk pencopet-pencopet di sini." jawab Hardhan datar.
Tawa Kei pecah,
"Di tempat kita pun banyak copet Hardhan... Apa bedanya? Lagipula ada Alex dan lainnya, untuk apa bawa mereka kalau bukan untuk mencegah hal ini... Iya kan?"
"Tidak, aku tidak akan pernah mengajak dan mengizinkanmu naik angkutan umum, di sini atau di manapun."
"Dasar arogan!" desis Kei.
"Demi kebaikanmu."
"Kenapa Alex selalu kamu bawa kemanapun?, Memangnya tidak ada keluarga yang menunggunya dirumah? Aku jadi berpikir kalian berdua seperti Aladin dan jinnya, Genie...."
Membayangkan Alex sebagai Genie membuat Hardhan tertawa ngakak, Hardhan melirik Alex sekilas yang seperti biasanya selalu siap siaga dengan muka kakunya, bahkan jin pun bisa tertawa, sedang Alex... Hardhan bahkan hampir tidak pernah melihatnya tertawa, bahkan hanya tersenyum sekalipun. Muka Alex selalu datar.
"Dan kau manisku, apakah kau putri Jasmine?" tanya Hardhan, Kei memutar kedua bola matanya.
"Mungkin kamu terlalu banyak menyita waktu Alex, hingga dia tidak punya waktu untuk melirik wanita."
__ADS_1
Hardhan mengangkat bahunya
"Aku membayarnya mahal untuk itu."
"Papaku selalu memujimu, kamu selalu di kelilingi dengan orang-orang pilihan dan setia."
"Salah satunya adalah papamu, meski dia lebih setia kepada papaku."
Kei menatap Hardhan tak percaya
"Papa?"
"Yup, kau tidak tahu papamu bekerja di perusahaanku?"
Kei menggeleng
"Tidak... Aku baru tahu sekarang."
Hardhan mengalihkan pandangannya ke depan, pikirannya menerawang ke masa kecilnya.
"Sejak kecil, aku banyak belajar dari papamu, dia seorang negosiator ulung. Tidak ada proyek yang tidak menang tender jika papamu yang turun tangan. Papamu dan papaku, mereka berdua bersahabat."
"Lalu?"
"Aku juga pasti akan menolaknya mentah-mentah, aku pasti akan langsung kabur dari rumah!" gerutu Kei.
Hardhan kembali tertawa,
"Aku ingat saat itu pertama kalinya Papamu mengajakmu berkunjung ke rumahku, saat itu usiaku dua belas tahun, dan kau lima tahun. Kau dengan gigi depan yang ompong itu, berhasil menyita perhatian mama dan papaku, dan ketika aku tahu papa ingin menjodohkanku denganmu, aku langsung mencarimu, kau sedang asik main dengan adikku di ruang anak. Seperti kesetanan aku langsung menghampiri dan mendorongmu, berteriak-teriak di depanmu, membuang apapun yang sedang kau pegang saat itu."
"Waahh... Kau sudah bersikap arogan yaa dari kecil ckckck."
"Kau tahu apa balasanmu dari perbuatanku itu?" tanya Hardhan mengabaikan perkataan Kei
"Apa?" Kei balik nanya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar.
"Kau tersenyum lebar padaku, benar-benar tersenyum! Kau tidak marah, tidak juga takut. Kau malah tersenyum dengan mukamu yang polos itu, dengan matamu yang selalu terlihat sendu itu. Dan kau tahu? Aku jadi ingin memelukmu dan melindungimu...."
"Kau memelukku saat itu?!" tanya Kei sambil micingin kedua matanya.
Hardhan kembali tertawa,
__ADS_1
"Tentu saja tidak, harga diriku terlalu tinggi, jadi aku hanya balik badan dan keluar dari ruang anak, dengan kedua tanganku yang mengepal. Dan setelah kau dan papamu pulang, aku baru tahu kalau kau baru saja kehilangan mamamu...."
Hardhan terdiam sebentar, menarik nafas dalam-dalam,
"Itu pertama kalinya aku merasa menjadi pria brengsek! Aku berharap pak Hendrawan mengajakmu berkunjung ke rumahku lagi, tapi ternyata itu merupakan kunjungan pertamamu dan juga terakhir...."
Hardhan berhenti, menertawakan dirinya sendiri,
"Tentu saja aku tidak mau merendahkan harga diriku, dengan meminta pak Hendrawan membawamu kalau berkunjung lagi ke rumahku. Sepertinya papamu menyesali diri sendiri karena sudah membawamu berkunjung, hingga papaku ingin mengambilmu sebagai menantu. Kau tahu? Itu pertama kalinya papamu menolak permintaan papaku " lanjutnya.
"Yah itu terdengar seperti Papa." bisik Kei.
"Itulah kenapa Mamaku langsung setuju aku menikahimu, karena keinginan sambil lalu Papaku itu akhirnya terwujud, mendapatimu sebagai menantunya."
"Tapi... Pernikahan kita palsu Hardhan... Aku tidak bisa membayangkan apa reaksi mamamu nanti begitu mengetahuinya... Ya Tuhan, tanpa sadar kita akan menyakiti perasaannya."
Air mata Kei menetes ke pipinya, Hardhan menarik Kei ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung Kei.
"Sejujurnya aku tidak pernah menganggap pernikahan ini palsu, aku sungguh-sungguh ingin menikahimu, Tuhan tahu aku mengucapkan janji pernikahan dengan segenap hatiku, di depan Papamu, di depan penghulu, dan saksi-saksi yang hadir saat itu. Aku punya alasan untuk itu, dan aku tidak bisa menjelaskannya sekarang."
Kei melepaskan diri dari pelukan Hardhan, mendongakkan kepalanya dan menatap Hardhan.
"Tapi kau sudah menandatangani perjanjian kalau kita akan bercerai setelah 6 bulan, kau tidak boleh mengabaikannya! Bagaimana dengan Galang?"
"Aku ingat, karena itulah aku menerima syarat dari papamu...." Hardhan menghapus air mata Kei dengan tangannya.
"Dan apa syarat itu? Aku berkali-kali menanyakannya ke papa, tapi dia tidak mau menjawabnya."
"Papamu ingin, ketika waktunya tiba... Kau lah yang harus memutuskan kita bercerai atau tidak."
"Ohh papa benar-benar menyayangiku..." kata Kei, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Jadi ketika saatnya nanti tiba, aku menyerahkan semua keputusannya kepadamu, terserah kau mau kembali lagi ke mantan suamimu, atau tetap bersamaku."
Dan bisa aku pastikan, saat waktunya tiba, kau tidak akan bisa menonggalkanku dan Mama, dan kau bahkan akan melupakan Galang.
Batin Hardhan.
Kei memeluk Hardhan,
"Terima kasih...." bisiknya
__ADS_1
"Sampai saat itu tiba, kau sudah berjanji kepadaku untuk menjadi istri yang baik, dan menantu yang baik untuk Mamaku. Jadi aku harap, kau juga menepati janjimu itu, dan jangan pernah menolakku...."
Kei mengangguk di dada Hardhan.