Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Paris, Je l'aime


__ADS_3

"Je t'adore...." Hardhan mencium kening Kei,


Lalu pipinya, "Je te désire...."


lanjut bibirnya, "Je t'aime...."


Kemudian Hardhan menangkup pipi Kei,


menatap lembut matanya, "Je t'aime pour toujours et à jamais." kata Hardhan dengan bahasa Perancis yang fasih.


"Artinya apa?" tanya Kei sambil nyengir.


Hardhan menyentil keningnya, "Tanya madame Agathe besok."


Sambil cemberut, Kei memukul bahu Hardhan dengan kesal, "Apa yang mau ditanyakan? Jangankan mengucapkan, hafal juga tidak yang tadi kamu katakan...."


Sudut bibir Hardhan membentuk senyum jahil,


"Aku tidak akan mengatakannya dua kali...." lalu kembali berenang menjauhi Kei dengan gaya bebas.


"Hardhaaann...." rengek Kei.


"Kau ingin tahu artinya apa?" tanya Hardhan dari ujung kolam di seberang Kei.


Kei menjawab dengan antusias "Iya...."


Dengan senyum dan tatapan mata jahil, Hardhan menggerakkan jari telunjuknya maju mundur, mengisyaratkan Kei untuk mendekat. Kei langsung berenang mendekati Hardhan, lalu memekik kesal ketika Hardhan memeluknya, dan memekik lebih kencang lagi ketika Hardhan mengangkatnya, dan mendudukkannya di pinggir kolam "Hardhan!!"


"Apa sayang? Kau mau lagi?" godanya sambil menyeringai jahil.


Kei memutar kedua bola matanya, "Yang tadi itu artinya apa?" desah Kei kesal, lalu menepis tangan Hardhan yang mulai menggerayangi gunung kembarnya lagi.


"Ahh perusak kesenangan...."


"Hardhaaan...." desak Kei dengan tidak sabar.


"Oh baiklah... Aku akan mengatakannya satu kali lagi... Tapi kau harus segera bersiap-siap, ada tempat yang akan kita kunjungi."


Kei mengerutkan keningnya, "Kemana? Tapi Sonya dan Alex belum sampai."


"Hari ini aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu sayang...."


"Berdua... Dalam artian benar-benar berdua? tanpa satupun pengawal?" tanya Kei.


"Iya, kau tidak suka berdua saja denganku? Kau tenang saja, aku tidak akan melahapmu di depan umum...."


"Bukan... Bukan seperti itu. Hanya saja kamu biasanya tidak pernah keluar tanpa di kawal...


Apa itu tidak apa-apa?"


"Hmmmm, harusnya tidak apa-apa. Tapi aku berani mencobanya... Bagaimana denganmu?"


Kei melingkarkan tangannya ke leher Hardhan

__ADS_1


"Selama ada kamu... Aku mau."


"Nah, sekarang bersiaplah... Sebelum aku berubah pikiran dan melahapmu lagi di sini."


Tanpa di suruh dua kali, Kei langsung berdiri dan berlari masuk ke dalam penthouse lalu ke kamarnya.


Sambil bersenandung lagu favoritnya, Kei berendam dan berelaksasi di semburan gelembung yang menghasilkan air hangat di kolam Jacuzzi, setelah enam belas jam di dalam pesawat, badannya terasa pegal-pegal, ditambah lagi kegiatan berenang yang aneh bersama Hardhan tadi.


Aerator yang menghasilkan gelembung-gelembung seakan memberikan pijatan pada telapak kaki, sehingga Kei merasa sangat nyaman, hingga memejamkan kedua matanya.


Selesai berendam, Kei memakai jubah mandinya. Mendapati kamar kosong, Kei langsung keluar ke balkon, melihat ke area kolam, ternyata Hardhan sedang membilas badannya dibawah pancuran shower.


"Sayang... Kamu ingin aku mengisi bathup untukmu?" teriak Kei.


Hardhan mendongak ke arahnya lalu mengangguk "Terima kasih sayang, aku segera kesana."


**********


Hardhan mengajak Kei makan siang di salah satu restaurant mewah, restaurant ini mendapatkan Michelin bintang tiga yang eksklusif. Dengan pemandangan kemegahan kota Paris, dan tentu saja landmark kota Paris yang mengagumkan, Menara Eifel.


Hidangan pembuka di sajikan di depan mereka. Hardhan memilih menu Filet de canette de Challans untuk Kei, yang di sajikan di atas piring porselen khusus hasil rancangan designer ternama, "Cantik sekali, aku tidak tega memakannya" desah Kei.


"Kau menggemaskan sekali sayang... Makanlah... Aku..." kata-kata Hardhan terpotong karena kehadiran pelayan yang menuangkan wine ke gelas Kei dan Hardhan.


"Aku apa?" tanya Kei setelah pelayan itu meninggalkan mereka.


"Aku membayar mahal ini semua untuk kau nikmati, bukan untuk kau pandangi manisku...." lanjut Hardhan sambil tersenyum manis.


"Hmmm... Ini enak... Sumpah...." seru Kei sambil memejamkan matanya. Hardhan terkekeh pelan melihat kelakuan Kei yang menggemaskan itu.


Kei menyeringai lebar, "Apa madame Agathe bisa memasak ini untukku?"


"Mungkin bisa... Tapi rasanya tidak akan sama. Yang kau makan sekarang ini buatan chef terkenal sayangku...."


Kei mengangkat bahunya, "Tidak masalah, aku tetap ingin mempelajari resepnya, supaya aku bisa memasaknya untuk mama...."


"Pantas mama begitu menyayangimu, kau begitu perhatian padanya."


"Aku juga sangat menyayanginya...."


"Aku cemburu...." desah Hardhan.


"Jangan konyol...."


Setelah hidangan pembuka selesai, hidangan utama langsung di sajikan "Apa ini?" tanya Kei.


"Noisettes de chevreuil rôties, Hazelnut daging rusa panggang, dengan saus juniper berry, polenta dan ara ungu confit. Cobalah, kau pasti suka."


"Hmmm ya benar enak...." gumam Kei, sambil terus menikmati hidangan menu utama makan siangnya itu. Sampai menu hidangan penutup mewah di sajikan di depannya.


"Marron et coing façon Mont Blanc, gabungkan dua kue gourmet yang sangat terkenal dan paling menarik di sini, yaitu pavlova dan mont-blanc... Terbuat dari cakram meringue kakao yang diberi krim dan mousse kastanye untuk campuran tekstur yang renyah, lembut, dan halus yang menjadi satu."


"Wah kamu tahu banyak yaa tentang makanan enak di sini...." puji Kei

__ADS_1


Hardhan tertawa lebar, "Ada penjelasannya di buku menunya sayang, sekarang cepat kau habiskan itu."


Kei membelah lapisan lembut itu dengan sendoknya, lalu mencicipinya "Terasa mencair di lidahku, saking lembutnya...."


Hardhan tidak merespon, hanya terus memandang Kei dengan tatapan lembutnya yang mempesona, membuat Kei menjadi salah tingkah.


"Kenapa? Ada coklat yang menempel di sudut bibirku?" tanya Kei.


Hardhan menggeleng, "Tidak ada, sudah cepat habiskan...." perintahnya sambil tertawa geli.


Kei merasa ada sesuatu yang keras di dalam kuenya itu, lalu dia memisahkannya dari tumpukan coklat dan krim, matanya langsung terbelalak kaget. Benda keras itu ternyata cincin emas putih yang bertahtahkan berlian tujuh belas karat. Kei memegang cincin itu di tangan kanannya.


"Hardhan ini?"


"Saat makan malam pertama kita di Paris dulu, kau terlihat begitu terharu melihat seorang pria melamar kekasihnya. Aku jadi berpikir, aku tidak pernah melamarmu seperti seharusnya. Jadi hari ini aku melamarmu.... Tapi aku tidak akan mau berlutut seperti pria itu, harga diriku terlalu tinggi untuk melakukan hal yang menggelikan seperti itu."


"Oh Hardhan... Kamu konyol sekali. Kita kan sudah menikah...." Kata Kei, matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Hardhan meremas tangan kiri Kei, "Awal pernikahan kita tidak di dasari oleh cinta. Dan kerena sekarang kita sudah saling jatuh cinta, tidak ada salahnya kita perbarui lagi janji kita di sini."


Hardhan mengambil cincin itu dari tangan Kei, lalu memasukkannya ke jari manis tangan kanannya. Air mata Kei sudah tidak bisa dibendung lagi dan mengalir jatuh di pipinya.


"Je t'aime pour toujours et à jamais..., Tu es toujours dans mon coeur, Je ne peux pas vivre sans toi..." kata Hardhan lembut sambil menghapus air mata Kei, lagi-lagi dalam bahasa yang tidak di mengerti Kei.


"Kamu membuatku tambah sedih lagi...." isak Kei.


"Kenapa?" tanya Hardhan khawatir.


Kei menghapus air matanya, lalu memberengut menatap Hardhan, "Kata-kata itu begitu indah keluar dari bibirmu, tapi aku tidak tahu artinya..."


Tawa Hardhan langsung pecah, memancing rasa ingin tahu pengunjung lain, "Ah... Istriku yang polos...." ujarnya sambil menepuk-nepuk kepala Kei.


"Jadi apa artinya?"


"Jawab dulu pertanyaanku... Apa kau mau memperbarui janji kita di sini?"


"Iya... Aku mau." jawab Kei mantap.


"Maukah kau mencintaiku selamanya? Menua bersamaku? Mungkin banyak perubahan yang akan terjadi padamu, kulitmu yang mulai keriput, rambutmu yang akan memutih, gigimu yang tanggal satu-persatu... Dan tulang belakangmu yang membengkok... Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah, aku akan selalu jatuh cinta padamu, lagi dan lagi."


"Cih... Kamu juga akan seperti itu...." kata Kei sambil tertawa hambar.


"Iya... Aku juga akan seperti itu. Apakah cintamu juga akan berubah seiring berubahnya penampilanku?"


"Tidak sayang... Tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Bersamamu, aku tidak pernah mencoba untuk bahagia. Karena saat bersamamu... Kebahagiaan itu terjadi begitu saja."


"Je t'aime, toi...." ujar Hardhan lembut.


"Je t'aime aussi..." balas Kei malu-malu


"Nah itu kau bisa balas. .."


"Hanya kalimat itu yang aku bisa...." kata Kei sambil nyengir, dan merekapun langsung tertawa.

__ADS_1


Aahh... Paris memang romantis.


__ADS_2