
Mereka makan malam di restaurant mewah yang berada di ketinggian sekitar seratus meter, dengan konsep modern mewah dan pencahayaan yang redup, Restaurant ini di dominasi oleh warna kuning karamel.
Hardhan sudah memesan dua kursi di dekat jendela, Kei terus memandangi city scape yang penuh dengan kerlap kerlip lampu, dan tentu saja dengan Menara Eifel yang berdiri tegak di tengahnya, yang menjadi daya tarik utama kota ini.
Terdengar Hardhan sedang menyebutkan pesanannya ke pelayan, entah apa yang dipesan Hardhan Kei tidak mengerti, mereka berbicara dalam bahasa Prancis, dan Kei menyerahkan sepenuhnya pada Hardhan, melihat tulisan di buku menunya saja sudah membuat kepala Kei pusing.
"Apa tidak ada dress lain dengan kerah yang lebih tertutup? Kau tahu bola mata pelayan tadi nyaris saja melompat keluar, melihat dada montokmu itu!" gerutu Hardhan setelah pelayan itu pergi.
"Dan aku harus beberapa kali mengulangi pesananku karena pria itu tidak fokus mendengarnya." lanjutnya.
Kei mengalihkan pandangannya dari Menara Eifel ke wajah Hardhan yang terlihat tidak senang. Kei menunjuk ke arah Alex, yang sedang duduk di meja terpisah dengan empat anak buahnya.
"Salahkan dia yang memilih dress ini untukku, asal kamu tahu dress ini masih lebih sopan dibanding dress lainnya, dress lain dadaku lebih terbuka lagi, hanya satu centi mendekati...." Kei mengibas tangannya,
"Sudahlah aku malas berdebat, kamu selalu saja bersikap berlebihan. Apa kamu tidak bisa melihat ke sekeliling kamu sekarang ini? Banyak wanita-wanita cantik yang memakai dress yang jauh lebih seksi dari yang aku pakai!"
"Aku memang tidak melihat mereka, aku hanya melihat wanitaku."
"Pantas banyak wanita yang bertekuk lutut padamu, kata-katamu begitu manis." ledek Kei.
"Dan kamu harus lihat wanita-wanita cantik dan seksi itu, aku tidak ada apa-apanya di banding mereka, jadi yaahh aku merasa kamu memang berlebihan jika menganggap pelayan tadi tertarik padaku."
"Tidak semua pria melihat hanya dari kecantikan saja, ada beberapa pria yang menginginkan wanita sepertimu, wanita yang secara alami mampu membangkitkan gairah terliarnya, hanya dari melihat wajahmu saja."
"Itu pasti pria playboy sepertimu!"
Hardhan tersenyum sinis, meraih dagu Kei memaksanya melihat Hardhan.
"Benar, playboy sepertiku. Melihat wajahmu saja sudah membuatku bergairah, dan kau tau pasti aku belum menyalurkannya. Dan aku menginginkanmu seutuhnya malam ini, dan aku akan memastikan akulah yang ada di dalam pikiranmu bukan pria lain!" kata Hardhan dingin, membuat bulu kuduk Kei meremang.
Hardhan menarik tangannya dari dagu Kei, dan Kei langsung menaikkan dagunya, bersikap menantang,
__ADS_1
"Kamu yang tidak berhasil menyalurkannya kenapa menyalahkan aku? Atau jangan-jangan kamu im...."
Melihat mata Hardhan yang berkilat dengan kemarahan, Kei langsung menutup mulutnya, Kei kembali mengalihkan perhatiannya ke luar. Berdoa dalam Hati semoga Hardhan tidak meledak dengan kemarahannya di sini.
Astaga apa aku sudah gila?? Aku masih berani menantangnya.
Tiba-tiba suasana menjadi heboh, membuat Kei terlonjak kaget di kursinya, berpikir kehebohan itu adalah perbuatan suaminya, dengan marah Kei beralih ke Hardhan yang sedang melihat sumber kehebohan itu, dan mata Kei mengikutinya.
Terlihat di kursi samping meja mereka, seorang pria sedang berlutut di depan wanitanya, dengan sebuket bunga di tangan kirinya, dan kotak cincin di tangan kanannya. Pria itu berbicara panjang lebar dengan kalimat yang tidak dipahami Kei.
Sedang wanitanya, menatap penuh haru ke prianya dengan kedua tangan menutup mulutnya, yang mungkin sedang ternganga kaget karena tidak menyangka akan mendapatkan lamaran dari pria yang di cintainya itu.
Pasti wanita itu menjawab setuju, karena sang pria langsung memasangkan cincin ke jari manis wanitanya, dan mereka langsung berpelukan disambut dengan tepuk tangan pengunjung lain. Kei pun ikut tepuk tangan, pemandangan yang seromantis itu biasanya hanya dia lihat di drama-drama.
Tiba-tiba Hardhan menarik Kei, membawanya keluar dari restaurant itu, setelah menerima mantel yang mereka titipkan tadi, Hardhan kembali menariknya membuat Kei merona merah karena malu menjadi perhatian pengunjung lain.
Entah kapan Hardhan memberi perintah ke Alex, anak buah andalannya itu sudah membawa mobil ke depan lobby menara ini, Hardhan mendorong Kei masuk.
Hardhan tidak menjawab, rahangnya mengeras. Kei menatap Alex dari kaca spion, mata mereka bertemu di kaca kecil itu, terlihat gerakan samar kepala Alex yang menggeleng.
Ohh berarti raksasa ini tidak boleh di ganggu... Ok.
Sambil melipat kesal kedua tangannya, Kei mengalihkan pandangannya ke luar jendela, kemanapun selain ke sosok menyeramkan di sebelahnya.
Perjalanan kembali ke penthouse dilalui dengan sunyi, sampai mobil berhenti di depan Lobby, tanpa menunggu Alex membuka pintu untuknya Hardhan bergegas turun, menarik Kei keluar bersamanya, mengabaikan sapaan petugas apartment Hardhan terus jalan, menaiki lift pribadi ke penthousenya.
Hardhan mendorong Kei ke dalam kamar dan menguncinya, dengan langkah pelan dia mendekati Kei, sambil membuka pakaiannya sendiri.
"Aku tadinya ingin bersabar, menunggumu memintanya sendiri, tapi sepertinya itu malah membuat kau berpikiran aku ini lemah." desisnya.
"Bu... Bukan itu maksudku." Kei mundur selangkah demi selangkah menghindari Hardhan.
__ADS_1
Hardhan sudah menanggalkan semua pakaiannya, bukti gairahnya terlihat jelas meminta kepuasan. Mengirimkan getaran-getaran halus ke seluruh tubuh Kei, membuat daerah pribadinya berdenyut liar.
Ya Tuhan... Pria ini serba besar, pasti akan terasa lebih sakit dari biasanya.
Dengan satu gerakan Hardhan menarik Kei ke dekatnya, membuat Kei memekik, tangannya dengan lihai menanggalkan semua pakaian Kei sampai Kei juga menjadi sepolos Hardhan.
"Kau mau naik sendiri ke tempat tidur, atau aku yang membopongmu?" tanya Hardhan dengan suara parau.
"A... Aku. .." mulut Kei di bungkam dengan ciuman Hardhan, Sambil tetap mencium Kei Hardhan membopongnya ke tempat tidur, Tangan Kei merangkul leher Hardhan.
Hardhan terus mencium Kei, jemarinya yang lihai menggoda dan mengusap bagian pribadi Kei, membuat nafas Kei tersengal, jantungnya berdegup kencang, Kei mencengkeram seprai, ketegangan aneh membuatnya menggeliat-geliat, erangan pasrah keluar dari mulutnya.
Ciuman Hardhan beralih ke pipi
"Kei... Hh Kei..." Hardhan mencium kening Kei,
"Apa aku harus menyelesaikannya?" ciumannya beralih ke leher Kei, "Atau melanjutkannya?"
Dengan gugup Kei menyentuh Hardhan, nafas Kei keras dan cepat, matanya masih terpejam, ia ingin tubuh dan jiwa Hardhan menyatu dengannya.
"Hardhan... Aku ingin sekarang." Kei menyurukkan kepala ke leher Hardhan, dan menggigitnya pelan, membuat Hardhan kehilangan kendali diri sepenuhnya.
Tubuh keras Hardhan mendesak masuk, membuat Kei memekik dan matanya terbuka lebar bertemu dengan mata Hardhan yang menatapnya khawatir
Rasanya... Berbeda.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hardhan, Kei menggeleng.
Hardhan bergerak dengan irama terkendali, mendorong Kei ke tepi jurang kenikmatan yang memabukkan. Bersama-sama mereka menikmati puncak dari permainan mereka.
Malam pertama mereka, di kota paling romantis.
__ADS_1