Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Pendarahan


__ADS_3

"Mademoiselle Karina... Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya madame Agathe sambil bergegas menuruni tangga dan menghampiri Karina.


"Oh Hardhan memanggilku... Aku harus segera menghampirinya, mungkin dia minta nambah... Hihihi..." kata Karina lalu mematikan sambungan teleponnya.


Madame Agathe melihat penampilan Karina dari ujung kepala sampai kakinya, merasa ada yang tidak beres, madame Agathe langsung teriak memanggil Hardhan, "Monsieur.... monsiuer Hardhan!!"


Mendengar teriakan madame Agathe, Hardhan langsung menyudahi renangnya, lalu mengambil handuk dan mengeringkan badannya.


"Ada apa madame?" tanya Hardhan sambil melilitkan handuk ke pinggangnya, lalu berubah marah ketika melihat Karina, "Sedang apa kau di sini?!!!!" bentaknya.


"Sayang... Aku tidak bisa melupakanmu..." rengek Karina sambil memghampiri Hardhan, dan Hardhan langsung mendorongnya hingga jatuh terjengkang.


Hardhan menekan tombol jam tangannya. "Ya boss." sapa Alex.


"Kesini sekarang!!!!" teriak Hardhan, lalu mengalihkan perhatiannya ke madame Agathe,


"Apa kau yang membukakan pintu untuknya madame?" tanya Alex.


"Non Monsiuer... Saya tadi sedang beberes lantai atas, dan Mademoiselle Karina sudah berada di sini ketika saya turun. Tadi mademoiselle Karina sedang menelepon seseorang memakai handphone monsieur, sebaiknya monsieur periksa lagi." jelas madame Agathe.


Karina langsung bangun dan ingin mengambil handphone Hardhan yang tergeletak di atas meja, tapi Hardhan sudah menahan tangannya dan kembali mendorongnya hingga terjatuh lagi.


"Hardhan... Aku melakukan itu karena aku frustasi... Aku sungguh-sungguh mencintaimu Hardhan..." isak Karina.


Dengan nafas memburu Hardhan melihat riwayat panggilan handphonenya, dan darahnya seperti membeku ketika melihat nama yang tertera di sana.


Hardhan menarik Karina berdiri dan langsung menamparnya dengan keras, dan Karina terjatuh lagi.


"Apa yang kau katakan padanya?!!!!!" teriaknya, bersamaan dengan masuknya Alex ke penthousenya.


Karina tidak mau menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dan mengelap setitik darah di sudut bibirnya.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu... Kei atau siapapun juga tidak akan bisa!!!" teriak Karina histeris.


Hardhan mencoba menelepon Kei, tapi tidak diangkat. "Alex... Buka rekaman CCTV sekarang!!" perintah Hardhan dan Alex langsung membukanya dari laptopnya, kemudian memutar layarnya ke arah Hardhan.


Terlihat dari awal Karina masuk, lalu ingin membuka pintu kaca ke arah kolam renang, tapi perhatiannya teralihkan dengan bunyi dering handphone Hardhan. Karina menghampiri meja tempat Hardhan meletakkan handphonenya.

__ADS_1


Setelah melihat siapa yang menelepon, Karina langsung melihat ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya ia merobek bajunya sendiri, dan langsung mengangkat video call dari Kei.


CCTV penthouse ini sudah dilengkapi dengan fitur mic audio, yang di letakkan tepat di atas tempat Karina berdiri saat video call, jadi Hardhan bisa mendengar percakapan itu dengan cukup jelas, yang membuat darahnya semakin mendidih, ia dengan jelas mendengar teriakan histeris Kei, dan tangisannya yang begitu memilukan.


Demi Tuhan... Kei sedang hamil!!!


Dengan nafas memburu Hardhan kembali menghampiri Karina, "Dasaar ibliiissss!!!!!" teriaknya sambil menampar Karina lagi dengan lebih keras, hingga membuat Karina pingsan.


"Ambil air... Siram dia cepat!!!!"


Alex langsung mengambil air dari dapur dan langsung menyiram wajah Karina membuatnya kembali sadar.


Hardhan berjongkok di sebelah Karina, lalu menjambak rambutnya sampai Karina mendongak ke arahnya, "Kau sudah membuat adikku terbunuh!! Dan sekarang kau ingin mencelakakan istriku!! Haaahh?!!"


Mata Karina terbelalak, ia tidak menyangka Hardhan sudah mengetahuinya. "Kenapa? Kau kaget aku mengetahuinya?!! Memang alasan apalagi aku membiarkanmu di sampingku selain bukan untuk ini... Mengirimmu dengan tanganku sendiri ke penjara, dan memastikan hukuman terberat untukmu!!!"


Karina tertawa hambar, "Kau tidak akan bisa melawannya..."


"Melawan siapa? Para sugar daddymu? Mereka sudah di tahan sekarang!!! Dan seharusnya kau pun juga ditangkap saat di bandara, kenapa dia bisa lolos Lex?!!"


"Menurut monsieur Gerrard, permintaan penahanan nona Karina di bandara telat boss, nona Karina sudah terlebih dahulu meninggalkan bandara. Dan mereka sedang menuju kesini sekarang." jelas Alex sambil memperlihatkan isi chatnya ke Hardhan.


"Kau bilang tidak ada niat? Kau membiarkan para sugar daddymu itu mencekoki Anindira dengan obat... Dan kau masih bilang tidak ada niat?!!!"


"Aku juga takut saat itu..."


Hardhan mencekik leher Karina, "Cukup!!!! Simpan alasanmu untuk di pengadilan nanti... Aku pastikan kau akan membusuk di penjara. Kalaupun kau bisa lolos, aku tidak akan pernah membiarkannya... Akan kupastikan kau tetap akan menjemput ajalmu dengan cara yang paling menyakitkan!!! Itulah balasannya karena kau sudah membunuh adikku dan menyakiti istriku!!" ancam Hardhan lalu mendorongnya.


"Ikat dia Lex, biarkan seperti itu sampai pihak berwajib menahannya." perintah Hardhan sambil menekan keningnya, ia merasakan nyeri yang teramat sangat di kepalanya.


"Kau tidak apa-apa boss?" tanya Alex.


"Sudah kau urus wanita sialan itu dulu..." desah Hardhan lalu menjatuhkan diri di sofa kecil.


"Hardhan... Tolong maafkan aku..." rintih Karina.


Hardhan mengibaskan tangannya, "Bawa dia keluar Lex... Tunggu monsieur Gerrard di lobby, biarkan pihak berwajib menahannya di depan umum, dan undang semua media massa ke sini... Aku mau berita penangkapannya menjadi tajuk utama di semua media!"

__ADS_1


"Baik boss."


"Jangan Hardhan... Hardhan..." tangan Alex membekap mulut Karina sambil menyeretnya keluar dari penthouse.


Madame Agathe menyerahkan segelas lemon hangat ke Hardhan, "Minum ini monsieur untuk menjaga tekanan darahmu, menghilangkan rasa mual, pusing dan terlebih lagi menenangkanmu."


Hardhan mengambil gelas itu dan langsung meneguk habis isinya, dan menyerahkan kembali gelas kosongnya ke madame Agathe, "Terima kasih madame."


Madame Agathe menepuk-nepuk pundak Hardhan, "Sebaiknya kau telepon madame Kei... Dan menjelaskannya."


"Dia tidak mengangkat teleponku..." desah Hardhan lirih.


"Madame Kei butuh waktu kalau begitu." ujar madame Agathe sambil mengambil baju kotor Hardhan dan menaruhnya di mesin cuci.


Hardhan mencoba menelepon Kei lagi, tapi tetap tidak di angkat. Hardhan sangat mengkhawatirkannya, mengkhawatirkan Kei dan anak yang sedang di kandungnya, anaknya.


"Bodohnya aku karena lupa meminta Alex mengganti password pintu sialan itu!!" suntuknya kesal.


"Kenapa hanya ada monsieur Alex... Kemana pengawalmu yang lain?" tanya madame Agathe sambil menatap layar handphonennya, menimbang-nimbang untuk mengirim video yang dia rekam tadi ke Kei atau tidak.


"Aku di sini hanya tiga hari madame, jadi aku hanya membawa Alex. Seharusnya aku tetap berjaga-jaga walau hanya sehari sekalipun."


Madame Agathe melirik Hardhan yang terlihat kacau dan frustasi, Hardhan terus mencoba menelepon Kei tapi tetap tidak di jawab.


Sambil menghela nafas panjang, madame Agathe menekan tombol kirim, berharap video ini mampu mendamaikan mereka, dan videonya langsung terkirim ke Kei.


Hardhan masih terus berusaha menelepon Kei, walaupun tidak di jawab. Lalu baru terpikir olehnya untuk menelepon mamanya, tapi tetap tidak di jawab juga, membuat Hardhan semakin frustasi.


Dan ketika handphonenya berdering dengan nama Kei yang tertera di layarnya, Hardhan langsung menjawabnya, "Kei sayang...."


"Jangan sayang-sayangan kalau kau hanya menikahinya untuk main-main!!!!" teriak mamanya.


"Ma... Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang aku ingin bicara dengan Kei, tolong berikan handphonenya ke Kei, Ma..."


"Kei masih belum sadar... Dan sekarang masih di ruang tindakan... Dasar anak bodoh!! Berdoa saja kau semoga Kei mau memaafkanmu, setelah kalian membuatnya pendarahan!!" lalu mamanya terisak kencang.


Hardhan langsung berdiri "Pendarahan?! Lalu bagaimana dengan anakku, Ma?" desak Hardhan panik.

__ADS_1


"Berdoa saja semoga janinnya bisa di selamatkan, kalau tidak... Kau bukan hanya kehilangan anakmu, tapi juga istrimu, Kei pasti tidak akan pernah memaafkanmu. Begitu juga mama!!"


__ADS_2