Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Hardhan Yang Tidak Pernah Puas


__ADS_3

Setengah tubuh Kei berbaring di tempat tidur dan setengahnya lagi berbaring di tubuh Hardhan, di dalam dekapannya. Lengan Hardhan yang memeluk punggungnya terasa hangat dan aman, lengan satunya lagi menjadi bantalan kepala Kei.


Dengan mata setengah terpejam, Kei memandangi wajah tampan Hardhan yang tertidur, bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa pria yang sangat berkuasa, dingin dan arogan itu wajahnya bisa terlihat melembut seperti bayi ketika ia tidur, dengan bibir yang sedikit terbuka. Sepertinya percintaan mereka yang luar biasa tadi benar-benar menguras tenaga Hardhan.


"Pandangi aku terus, maka aku akan bercinta denganmu lagi...." gumam Hardhan dengan suara serak.


Kei mengerjapkan kedua matanya, tidak mengerti dengan apa yang di katakan Hardhan. Pria itu sedang tidur tapi bagaimana dia tahu Kei sedang menatapnya.


Apa dia sedang bermimpi? Astaga raksasa ini... Di dalam mimpinya saja masih bisa berbuat mesum juga dia.


Kei memekik kaget ketika tiba-tiba Hardhan menggulingkan tubuhnya, menempatkan Kei di bawah tubuhnya.


"Sudah ku bilang... Jangan menatapku seperti itu." geram Hardhan.


"Memangnya apa hubungannya?" tanya Kei polos.


"Mata sensualmu yang terus menatapku itu, selalu berhasil membuatku bergairah sayang."


Kei mendengus dan menyeringai lebar,


"Omong kosong, kau sedang menggodaku lagi kan?"


Hardhan tidak menjawab pertanyaan Kei, ia langsung menyatukan tubuh mereka dengan cepat dan dalam, memompa maju mundur dengan gerakan yang sudah ada sejak dulu kala.


Erangan nikmat keluar dari mulut Kei dan Hardhan, bersama mereka menuju puncak kenikmatan mereka untuk yang kesekian kalinya di hari ini, dengan saling mendesahkan nama satu sama lain.


Dengan nafas yang masih memburu, Hardhan menjatuhkan badannya di sebelah Kei, dan mengatur nafasnya supaya kembali normal


"Kau akan menjadi penyebab utama kematianku!"


"Aku? Kamu saja yang punya hasrat berlebih, tidak pernah ada puasnya." suntuk Kei.


Hardhan memiringkan badannya ke arah Kei, menopang kepalanya dengan tangan, tangannya yang bebas merapikan rambut yang menempel di wajah Kei.


"Sejauh menyangkut kau sayangku, aku tidak akan pernah bisa puas, kau membuatku ketagihan."


"Obat apa yang kamu minum sampai staminamu sebagus itu?" tanya Kei penasaran.


Hardhan menaikkan sebelah alisnya,


"Apa aku terlihat seperti pria lemah?"


Kei menggeleng, lalu tersenyum simpul,


"Tidak, kau jauh dari kata lemah."

__ADS_1


"Ahh aku kecewa dengan jawabanmu itu...."


Kei memiringkan badannya, menempelkan pipinya di atas bantal dan menatap bingung ke Hardhan, "Kenapa kecewa?"


Jemari Hardhan kembali menggerayangi tubuh Kei "Aku berharap kau menjawab aku pria yang lemah, supaya aku bisa kembali membuktikan padamu dengan bercinta sepanjang malam."


Kei kembali teringat malam pertama mereka di penthouse, yang terpacu karena Kei yang mengira Hardhan impoten. Hardhan memang tidak asal bicara, dia benar-benar bisa melakukannya sepanjang malam. Kei begidik lalu mendengus pelan, "Jangan harap."


Tawa Hardhan pecah, "Benar-benar perusak kesenangan, kau membuatku tidak ingin meninggalkan tempat tidur ini sayang."


Kei langsung duduk, menutupi badannya dengan selimut dan menahannya dibawah lengannya, ia memberengut ke Hardhan,


"Ohh kamu harus bangun, kamu harus mengajakku mengelilingi Mont Saint Michel lagi! Dan kita belum beli oleh-oleh."


Hardhan turun dari tempat tidur, memutarinya dan berdiri di samping Kei, dan tanpa Banyak berkata-kata lagi Hardhan langsung membopong Kei, mengabaikan protes Kei dan terus membawanya ke kamar mandi.


"Hardhan... Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."


Hardhan duduk di pinggiran bathup, tangan kirinya menahan Kei untuk tetap duduk di pangkuannya, sementara tangan kanannya menyalakan keran air.


"Bukannya kita harus mandi dulu sayang? Biarkan sekali-kali aku memandikanmu."


Kei mendengus lagi,


"Terdengar seperti ada udang di balik batu."


"Kau sudah sangat mengenalku sayang...."


Dan sesuai dugaan Kei, Hardhan kembali bercinta dengannya sekali lagi.


**********


Setelah makan siang yang teramat telat, mereka kembali menyusuri jalan-jalan berliku di kota Mont Saint Michel. Kota yang memiliki nuansa kota tua abad pertengahan yang menawan, seperti di film-film kolosal.


"Kau tahu, kota ini memiliki penduduk kurang dari seratus orang, termasuk biarawan dan biarawati...."


"Benarkah?" tanya Kei.


Hardhan mengangguk,


"Konstruksi kota ini mengikuti struktur feodal yang berstrata. Biara yang berdiri di puncak pulau adalah strata tertinggi, untuk Tuhan. Kemudian ada balai kota, lalu toko dan perumahan, dan pada dasar pulau di luar tembok kota adalah rumah petani dan nelayan."


"Pantas biara itu berada tepat di tengah kota dan di puncak pulau." gumam Kei.


"Kau ingin masuk ke dalam biara? Biar Alex membeli tiketnya untuk kita."

__ADS_1


Kei mengangguk penuh antusias, setelah mendapatkan tiket mereka masuk dan berkeliling komplek biara yang agung bak kastil kerajaan, mereka juga masuk ke kapel bawah tanahnya.


Dengan di temani guide profesional, mereka walking tour menyeberangi teluk dengan melintasi dataran lumpur, dan juga melihat padang rumput berair.


"Kau lihat domba-domba itu." Hardhan menunjuk ke kumpulan domba-domba yang sedang merumput.


"Iya... Mirip domba-domba dalam film shaun the sheep."


"Daging domba itu memiliki cita rasa yang lezat, dan menjadi menu andalan lokal di beberapa restaurant di sekitar Mont Saint Michel ini."


"Oh aku jadi ingin mencobanya...."


Hardhan terkekeh pelan,


"Kau tadi sudah mencobanya sayang, menu makan siang agneau de pré-salé yang kau makan tadi."


"Ohyaa... Kau benar kalau begitu, karena makan siangku tadi benar-benar lezat."


Puas berkeliling, mereka kembali ke jalan Grand Rue untuk berburu souvenir, melewati gang-gang sempit yang di penuhi dengan wisatawan mancanegara.


Hardhan menempatkan Kei diantara dirinya dan Alex, dengan dua anak buah di depannya untuk membuka jalan, dan dua lagi di belakangnya. Kalau bukan demi Kei, Hardhan tidak akan pernah berdesak-desakan seperti ini.


Kei menolak keras ketika Hardhan menyarankan Alex saja yang membeli souvenir, supaya Hardhan dan Kei bisa duduk santai di salah satu restaurant sambil menunggu Alex.


"Menurutmu, apa Mama akan menyukainya?" tanya Kei sambil menunjuk salah satu keramik antik.


"Hmm... Mama akan menyukai apapun yang di berikan menantunya."


"Kalau begitu, aku ingin yang ini, ini, dan satu lagi yang di sana."


Alex segera mengambil keramik yang di tunjuk Kei, dan langsung membayarnya ke kasir.


"Kau menemukannya dimana? Dia selalu sigap dimanapun berada." bisik Kei.


Hardhan tersenyum lalu menyentil kening Kei, membuat Kei memberengut ke arahnya sambil mengusap keningnya, "Aku tidak mengatakan hal yang konyol... Kenapa kamu menyentilku...."


"Aku tidak ingin kau membicarakan pria lain."


Kei memutar kedua bola matanya,


"Dia Alex Hardhan..."


"Dia juga seorang pria."


Kei mengibas tangannya,

__ADS_1


"Sudahlah, aku mau cari souvenir lagi."


Sore itu mereka habiskan dengan berburu souvenir, hingga sore beranjak malam dan mereka kembali ke Paris, ke penthouse mereka.


__ADS_2