
Kei membuka matanya yang di sambut dengan wajah sumringah suaminya. Hardhan terlihat sangat bahagia, lalu ia mencium tangan Kei.
Mengingat kejadian sebelumnya membuat Kei kembali kesal, ia langsung menarik tangannya dan membuang muka dari suaminya.
Raksasa sialan, dia terlihat bahagia melihat aku menderita karena foto mesranya dengan wanita ular itu!! suntuk Kei kesal di dalam hatinya.
"Sayang... Kau masih marah?" tanya Hardhan.
"Kenapa kamu membawaku ke sini? Aku mau pulang ke rumah papa..." suntuk Kei.
"Kei... Foto itu palsu. Foto itu hasil modifikasi atau manipulasi dengan menggunakan software pengolah grafis. Dan kau lihat ini..."
Hardhan meletakkan selembar kertas ke tangan Kei, "Disitu tertera keterangan dari pakar telematika yang kau sendiri pasti sudah mengenalnya, dia menerangkan sedetail mungkin bahwa foto itu hasil editan, kau bisa membacanya."
Dengan enggan Kei membaca surat keterangan yang berada di tangannya, lalu menatap Hardhan, air mata langsung mengalir ke pipinya.
"Maaf sayang... Aku sudah tidak percaya padamu tadi..." isaknya.
Hardhan naik ke atas tempat tidur, lalu berbaring miring menghadap Kei, dengan tangan kiri yang menopang kepalanya, dan tangan kanannya menghapus air mata Kei.
"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau wanita sialan itu selalu menerormu?" tanya Hardhan lembut.
"Sonya memberitahumu?" Kei balik nanya.
Hardhan mengangguk, "Ya Sonya yang memberitahuku, tadi dia ada di sini menjengukmu, tapi sekarang sudah pulang, papanya sakit."
"Papanya sakit? Sakit apa?"
"Aku tidak tahu... Tapi Alex sedang mengantarnya, nanti kita tunggu saja kabar dari Alex. Sekarang cepat katakan... Kenapa kau menyembunyikan hal itu dariku?"
"Aku hanya tidak ingin kamu khawatir..." desah Kei lirih.
Punggung jari Hardhan mengelus lembut pipi Kei, "Aku lebih baik mengkhawatirkanmu dengan masalah yang sudah aku ketahui, daripada aku harus mengkhawatirkanmu dengan masalah yang aku sendiri tidak tahu. Dan itu membuatku nyaris gila. Kau harus berjanji padaku, kau tidak akan menyembunyikan apapun dariku..."
"Iya... Aku janji."
__ADS_1
"Kau juga harus berjanji untuk tidak ke kafe atau pergi kemanapun tanpa aku, setidaknya selama dua bulan kedepan..." pinta Hardhan.
"Kenapa? Hardhan jangan konyol, aku juga punya tanggung jawab di kafe itu, aku tidak bisa seenaknya saja menghilang selama dua bulan... Apa pendapat karyawanku nanti."
"Mereka akan mengerti... Dan mereka juga ikut bahagia mendengar kabar gembira ini." kata Hardhan sambil mengelus perut Kei, memberi kehangatan untuk Kei dan calon anaknya.
"Kabar bahagia? Mereka bahagia mendengar aku tidak datang ke kafe selama dua bulan?!" tanya Kei tidak percaya.
"Kenapa aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya... Bahkan perutmu tidak terlihat rata lagi ketika sedang rebahan." gumam Hardhan lembut sambil terus mengelus perut Kei.
Kei langsung merengut, dan menepis tangan Hardhan dari perutnya, "Iya aku gemukan sekarang, sesuai dengan prediksi chef Dimas, aku akan menggemuk setelah dua minggu karena terus menerus nyemil pastry di dapur. Dan kamu tidak perlu ikut-ikutan meledekku..." gerutunya.
"Ahh... Aku baru mengerti sekarang kenapa karyawanku bahagia begitu mengetahui aku tidak datang selama dua bulan, mungkin mereka risih melihatku makan terus!." lanjut Kei kesal.
"Kau tidak boleh berburuk sangka dulu dengan karyawanmu sendiri..." kata Hardhan dengan nada geli.
"Ya terus apa yang mereka dengar sampai membuat mereka bahagia?" desak Kei.
Hardhan menatap lembut istrinya, memberikannya senyuman termanis yang Hardhan miliki, dan tangannya kembali mengelus perut Kei.
Kei memutar kedua bola matanya, "Memangnya aku bisa apa lagi kalau kamu sudah melarangnya?"
"Kau akan mengecoh pengawalmu kalau kau sudah bertekad..." sindir Hardhan mengingatkan Kei pada kejadian di Paris.
Kei menyeringai lebar, "Aku tidak akan mengulangi kekonyolan itu lagi sayang. Baiklah aku berjanji tidak akan keluar dari rumah jika tidak bersama kamu.... Bagaimana puas?"
"Lebih tepatnya aku merasa lega mendengar janjimu itu... Semua aku lakukan demi kebaikan kalian..." ujar Hardhan lembut.
"Kalian? Maksudmu aku dan mama?"
Hardhan mengungkung Kei di bawahnya, kemudian mencium kening, hidung, bibir dan dagu Kei, lalu tertawa lebar, membuat kening Kei mengkerut karena bingung melihat tingkah Hardhan.
"Demi kebaikanmu dan anak kita ini..." Hardhan langsung mencium perut Kei, dan menempelkan telinganya di perut Kei, seakan berusaha mendengar detak jantung anak-anaknya.
"Anak kita?" cicit Kei.
__ADS_1
Hardhan kembali menatap Kei sambil tertawa bahagia, "Iya... Anak kita sayang... Anak yang sedang kau kandung sekarang..."
Mata Kei terbelalak, kata-kata yang ingin ia utarakan tidak bisa keluar dari mulutnya, dan akhirnya hanya tergagap, "Aaaaakuu hhhhhamiill?"
Hardhan tersenyum penuh haru, "Iya sayang, kau hamil enam minggu..." katanya dengan suara parau.
Air mata Kei mengalir deras ke pipinya, tangannya langsung merangkul leher Hardhan, dan langsung menariknya ke pelukannya, Hardhan menahan badannya dengan lutut dan sikutnya supaya tidak menindih Kei.
"Oh Hardhan... Kau tidak sedang membohongiku kan?" tanyanya sambil terisak.
"Tidak sayang... Kau benar-benar sedang hamil... Anakku... Anak kita..."
"Aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya Kei lagi masih terisak. "Aauuuu...." teriaknya ketika Hardhan menggigit telinganya.
"Kau merasakan sakit, itu tandanya kau tidak sedang bermimpi..."
Dengan tangan terkepal Kei memukul punggung Hardhan dengan gemas, "Kamu jahat!"
Hardhan duduk menghadap Kei di tepi tempat tidur, senyum bahagia masih menghias wajah tampannya, "Akhirnya aku berhasil membuatmu hamil, apa kau bahagia sayang?"
Kei mengangguk, "Aku bahagia sayang, sangat-sangat bahagia... Berkali-kali aku memimpikan ini, memimpikan aku mengandung anakmu, anak kita. Aku sungguh-sungguh berdoa di setiap kesempatan semoga aku hamil. Dan sekarang... Tuhan sudah mengabulkannya."
Jemari Hardhan menghapus air mata Kei, "Kalau kau bahagia... Maka berhentilah menangis sayang. Aku tahu kamu menangis karena bahagia... Tapi tetap saja tertawa itu akan lebih baik untuk janin yang sedang kau kandung. Kau tahu... Interaksi pertama anak kita dengan dunia luar adalah melalui kau... ibunya. Kalau kau sedih, ia akan ikut sedih. Dan kalau kau bahagia, ia akan ikut bahagia. Jadi mulai sekarang... Aku melarangmu menangis... Dan terlebih lagi, aku tidak tahan melihat air matamu, membuat hatiku sakit."
"Kalau begitu kamu jangan membuatku kesal lagi. Dan tolong bereskan urusanmu dengan wanita ular itu!"
Hardhan menggenggam tangan Kei, "Sudah ada bukti kuat untuk menyeret Karina ke pengadilan. Tadinya aku akan mengajakmu kembali ke Paris minggu ini, tapi melihat kau sekarang selemah anak kucing, jadi aku membatalkannya."
"Kenapa harus ke Paris? Tidak bisakah menuntutnya di sini?"
"Sayang... Tempat kejadiannya di Paris, dan ada lagi tersangka lainnya selain Karina."
"Bagaimana kalau ternyata Karina tidak berada di sana saat kamu menggugatnya? bagaimana kalau dia bersembunyi di sini?" tanya Kei ragu
"Karina akan segera ke Paris, jika ia tahu aku berada di sana..." jawab Hardhan.
__ADS_1