
"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan pria itu?" tanya Hardhan pelan.
"Entahlah... Tapi yang pasti aku tidak akan pernah memaafkannya...."
"Kenapa?" tanya Hardhan lagi dengan suara serak, jantungnya berdetak kencang, Kei tidak akan pernah memaafkan pria itu, yang berarti Kei tidak akan memaafkannya.
Tuhan... Apa yang harus ku lakukan? Hubunganku dengan Kei baru saja membaik, apa aku harus membuat ia marah lagi?
batin Hardhan.
Kei mendongak, menatap wajah Hardhan,
"Biasanya kamu akan berkomentar Aku akan membunuhnya seperti itu, tapi sekarang kamu hanya bertanya kenapa...."
Kei cemberut sebelum melanjutkan "Kamu tidak sayang padaku lagi ya?"
Hardhan tersenyum tipis, lalu mencium kepala Kei, "Aku selalu sayang padamu... Dan kau tahu itu. Aku hanya ingin mengetahui alasanmu terlebih dahulu, setelah itu aku akan menghadirkan pria itu ke hadapanmu, agar kamu sendirilah yang memutuskan untuk membunuhnya atau tidak." jelas Hardhan muram.
Kei kembali menyandarkan kepalanya di dada Hardhan, jemarinya masih bermain-main di bulu tipis dada Hardhan "Baiklah, aku percaya padamu."
Kei melanjutkan ceritanya, "Kau tahu, begitu aku menapakkan kakiku ke lantai, aku merasakan rasa sakit yang teramat sangat di bagian pribadiku itu. Setiap langkah yang ku ambil, setiap itu pula aku merasakan sakitnya. Belum lagi kamar itu dalam keadaan gelap gulita, aku sebisa mungkin keluar tanpa menjatuhkan sesuatu yang bisa membangunkan pria itu. Saat itu aku benar-benar seperti berada di dalam neraka."
"Aku menguatkan diriku sendiri untuk tidak jatuh pingsan saat itu, sebelum aku bertemu Sonya, aku selalu merasa aman jika bersamanya. Jadi dengan langkah sepelan siput, aku kembali lagi ke rooftop, aku tidak sadarkan diri tepat saat mata Sonya menatapku."
"Teman-temanku berpikir aku pingsan karena aku terlalu mabuk, jadi mereka hanya membawaku kembali ke kamarku alih-alih ke rumah sakit. Aku tersadar dengan Sonya yang duduk di sampingku, wajahnya terlihat panik, aku langsung menangis histeris di depannya. dan menceritakan apa yang sudah menimpaku kepadanya."
"Sonya marah, dia bertanya nomor kamar pria itu, ia ingin memberi pelajaran pada pria berengsek itu, tapi aku melarangnya. Karena itu juga salahku, aku yang sudah salah masuk ke kamarnya. Aku sangat takut saat itu, aku takut akulah yang akan di tuduh menggodanya, dan terlebih lagi, aku takut bertemu dengan pria itu lagi."
"Aku hanya meminta Sonya mencarikan tiket pesawat saat itu juga, aku hanya ingin segera meninggalkan tempat itu. Aku sangat takut kalau pria itu akan mencariku dan mendatangiku lagi. Melihat kamarnya yang sangat besar itu, aku yakin pria itu pasti bukan pria biasa, dan itu semakin membuatku ketakutan setengah mati."
__ADS_1
"Aku pikir mimpi burukku akan hilang setelah aku meninggalkan pulau itu, tapi ternyata aku salah. Aku gemetar setengah mati saat di pesawat, hanya karena seorang pria yang duduk di sebelahku, sampai Sonya melihatnya dan bertukar posisi dengan pria itu. Sejak malam itu, aku selalu takut berdekatan dengan pria, bahkan aku sempat merasakan takut juga ketika bertemu papa untuk pertama kalinya sejak kembali dari pulau itu."
"Sampai akhirnya Galang hadir dalam hidupku, pelan-pelan dia berhasil mendekatiku dan mengambil hatiku. Beberapa bulan bersamanya, aku berhasil mengatasi fobiaku terhadap pria. Aku sudah bisa berinteraksi normal lagi, Galang seperti cahaya terang dalam hidupku, hingga aku langsung setuju ketika ia melamarku...."
"Aku pikir Galang tidak akan tahu aku sudah tidak suci lagi, tapi ternyata dia tahu, aku menghancurkan hidupnya di malam pertama pernikahan kami. Dia begitu terpukul mengetahui dia bukan yang pertama untukku. Walaupun pada akhirnya dia menerimanya dengan lapang dada, tapi sikapnya langsung berubah... Galang jadi sering main perempuan."
"Sikapnya jadi berbeda dengan sewaktu kami belum menikah, mungkin aku sudah melukainya dengan sangat dalam hingga membuatnya menjadi seperti itu. Makanya aku berjanji dengan diriku sendiri untuk selalu ada untuknya, mendampinginya dalam keadaan apapun. Dan aku tutup mata dengan semua perbuatannya, karena apa? Karena akulah yang sudah membuatnya seperti itu."
Kei mengeratkan pelukannya ke Hardhan,
"Jadi kamu sudah paham kan sekarang kenapa aku tidak akan pernah bisa memaafkan pria itu? Selain pria itu sudah menghancurkan hidupku, dia juga membuat pernikahanku seperti itu. Bukan hanya aku saja yang hancur, Galang juga ikut hancur."
Tidak mendengar jawaban dari Hardhan, Kei kembali mendongakkan kepalanya melihat mata Hardhan, tatapan matanya terlihat kosong, sepertinya ia sedang merenung.
"Sayang, kamu kenapa? Tdurlah kalau kamu lelah...."
Hardhan menatap lembut mata Kei, "Seperti aku...." lanjutnya.
Kei langsung bangun dan duduk "Kamu mencintaiku?" tanyanya tak percaya.
Hardhan ikut duduk sambil tersenyum, lalu menggerakan maju mundur jari telunjuknya, meminta Kei untuk lebih dekat lagi dengan Hardhan. Kei menurut, ia condongkan badannya ke arah Hardhan, dan wajahnya mendekati wajah Hardhan.
Lalu Hardhan menyentil kening Kei, membuat Kei memekik jengkel "Dasar bodoh, jadi selama ini kau tidak mengetahuinya?" tanya Hardhan.
Kei memegang Keningnya sambil cemberut, tidak lama sebelum akhirnya ia tertawa lebar lalu mencium bibir Hardhan "Aku senang mendengarnya, harusnya kamu mengatakan itu lebih awal, jadi aku tidak akan cemburu dengan wanita ular itu...."
Hardhan tertawa lebar, "Kau terdengar seperti mama."
"Memangnya apa yang sudah di lakukan Karina, hingga mama menjulukinya wanita ular?"
__ADS_1
Hardhan menangkup wajah Kei dengan kedua tangannya "Suatu saat nanti, aku pasti akan menceritakannya padamu. Untuk saat ini, aku sangat membutuhkan dukungan darimu, dan kau harus selalu percaya padaku...."
"Percaya sama seorang playboy, sama saja dengan percaya kalau salju akan turun di sini...." cibir Kei.
"Kei...."
"Iya... Iya... Aku akan percaya padamu. Setelah aku pikir-pikir apa yang dikatakan mama memang ada benarnya, kita tidak bisa menghakimi masa lalu seseorang, masa lalu tidak dapat dirubah, dan masa depan tidak layak mendapat hukuman karena masa lalu. Jadi kata mama, daripada aku menghakimimu karena masa lalumu, lebih baik aku berdiri di sampingmu, untuk memperindah masa depanmu. Jadi aku memberimu kesempatan kedua."
Hardhan sumringah mendengar setiap perkataan Kei, nanti dia akan sangat berterima kasih pada mamanya, untuk nasihatnya kepada Kei itu.
"Apa itu bisa di artikan, kau ingin bersamaku selamanya sayang?" tanya Hardhan penuh harap.
Kei tidak menjawab, ia hanya berlutut lalu menduduki Hardhan, jemarinya membuka kancing kemeja Hardhan yang tersisa.
"Selama kamu tidak kembali lagi ke masa lalumu, dan kamu tidak mengecewakanku lagi apalagi membohongiku...." jelas Kei.
Kei mendekatkan wajahnya ke wajah Hardhan,
"Sayang, apa kamu tidak lapar?" bisiknya dengan suara menggoda.
Hai Readers....
Happy satnight untuk yang memiliki pasangan...
Untuk jomblowan dan jomblowati tidak perlu baper, Author akan terus up menemani malam minggu kelabu kalian.... 😁😁
Happy Reading....
Terima kasih untuk Votenya...😘😘
__ADS_1