Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Duo Pembuat Onar #2


__ADS_3

Hardhan sudah berkeliling ke hampir semua sudut kota, tapi Kei dan Sonya belum juga di temukan. Hardhan merasa kesal dan merasa menyesal. Harusnya dia bunuh saja tadi Karina, karena sudah menyebabkan semua ini terjadi. Dan membuat Hardhan mengkhawatirkan istrinya setengah mati.


Waktu seakan berjalan dengan sangat lama, ditengah pencarian yang tak tentu arah ini. Mencari seseorang di tengah kota besar ini, seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Hardhan hanya berharap Kei menekan tombol darurat itu, untuk mempermudah pencarian mereka.


Alex sudah menyebarkan foto Kei dan Sonya via chat ke anak buahnya, mereka harus berpencar mencarinya. Dan sudah meminta bantuan detektif swasta yang Hardhan sewa untuk menyelidiki kematian adiknya.


Tapi hari sudah semakin malam, dan itu semakin menyiksa Hardhan. Semakin malam, semakin rawan di sini. Apalagi mereka naik angkutan umum, banyak pengemis yang menunggu kelengahan mereka untuk menjambret tasnya. Belum lagi dari para pemabuk dan pria usil.


Dan menurut penjelasan madame Agathe tadi, mereka berdua mengenakan pakaian seksi. Dan itu membuat Hardhan semakin khawatir. Setelah ia menemukan Kei nanti, ia akan mematahkan kedua kakinya supaya wanita itu tidak bisa pergi seenaknya lagi, dan membuat Hardhan khawatir sampai segila ini.


"Boss ada laporan Kei dan Sonya berjalan di sekitar jalan N" lapor Alex.


"Yasudah tunggu apalagi? Ayo kita segera kesana, kabari semua anak buahmu untuk berkumpul di sana." seru Hardhan.


Mereka sedang dalam perjalanan ke sana ketika terdengar bunyi bip dari jam Hardhan dan Alex yang berwarna merah. Membuat dada Hardhan terasa sesak, dan perutnya terasa jungkir balik. Kei tidak akan menekan tombol itu jika keadaan tidak benar-benar darurat.


Alex langsung membuka layar ponselnya, melihat titik Kei berada.


"Mereka ada di salah satu pub di jalan N itu boss"


Hardhan mengerang keras, "Tuhan... Tidak lagi... Berapa lama kita sampai sana?"


"Kurang dari lima menit boss."


lima menit yang terasa bagaikan seabad. Pasti terjadi sesuatu dengan Kei di sana hingga ia menekan tombol darurat.


Sesampainya di pub yang dimaksud, Hardhan dan Alex langsung bergegas masuk, mencari-cari sosok Kei dan Sonya. Hingga mata Hardhan melihat Kei yang sedang berusaha mendorong pria yang memaksanya minum.


Dengan kedua tangan terkepal Hardhan menghambur ke pria itu, dan langsung meninjunya, membuat pria itu terhuyung ke belakang. Pria itu membalas tapi Hardhan mampu menangkis pukulannya, dan mendaratkan tinju kerasnya ke perut pria itu, hingga pria itu terkulai lemas ke lantai sambil memegang perutnya.


Alex juga sudah berhasil melumpuhkan pria yang mengganggu Sonya.


Hardhan langsung mendekati Kei, menangkup wajahnya dengan kedua tangannya "Kei, sayangku... Kau tidak apa-apa?" tanya Hardhan cemas, Kei terlihat pucat, ia pasti sangat ketakutan saat ini.


"Hardhaaann...." Kei mengelus pipi Hardhan, lalu tangannya terkulai lemas, bersamaan dengan Kei yang kehilangan kesadarannya.


Hardhan menepuk-nepuk pipi Kei "Kei, bangun sayang ini aku... Sudah aman sekarang...."


"Boss." suara Alex memanggilnya, Hardhan mengalihkan perhatiannya dari Kei ke Sonya, yang terlihat lebih parah dari Kei.


"Kenapa ada pria tampan lagi di sini?" Sonya mengoceh sambil terus meraba-raba Alex.


"Kita kembali ke penthouse, kau dan kau, selesaikan masalah di sini...."


"Baik boss." sahut dua pengawal yang di tunjuk Hardhan tadi.

__ADS_1


**********


Kei tersadar di kamarnya, di dalam pelukan nyaman suaminya, dengan tangan Hardhan yang sedang mengelus lembut kepalanya, membuat perasaan lega membuncah di dadanya.


"Hardhaaannn...." isak Kei di dada Hardhan.


Hardhan semakin merapatkan Kei ke dalam pelukannya, tangannya mengusap naik turun di punggung Kei, berusaha menenangkannya.


"Untung pria sialan itu tidak berhasil membuatmu minum obat itu." kata Hardhan lembut.


"Obat apa?" tanya Kei bingung.


"Obat perangsang yang di minum Sonya."


"Obat apa?!" tanya Kei berharap ia salah mendengarnya.


Kei langsung mendongak, menatap mata suaminya, "Itu tidak benar kan?" tanya Kei lagi.


"Sayangnya itu benar Kei...."


Kei langsung duduk, kemudian menatap Hardhan lagi, "Lalu sekarang dimana Sonya? bagaimana keadaannya?" Cecar Kei.


"Di kamarnya... Bersama Alex."


Kei langsung turun dari tempat tidur, sambil mengumpat Hardhan menggapai tangannya dan menariknya kembali ke tempat tidur.


"Biarkan mereka Kei...."


"Mereka tidak boleh melakukan itu Hardhan, mereka belum menikah!!"


"Sonya akan tersiksa sayang kalau tidak ada yang memuaskannya. Begitulah obat itu bereaksi."


Air mata Kei kembali menetes di pipinya, "Semua salahku Hardhan... Aku tidak bisa menjaganya...." isak Kei. Hardhan kembali membawa Kei ke dalam pelukannya.


"Kau juga sedang menghadapi masalahmu sendiri tadi, dengan pria di sebelahmu itu."


"Kau tahu penyebab Sonya sampai sesedih itu? Itu semua gara-gara Alex. dia memberi Sonya foto perselingkuhan Owen, padahal seminggu lagi mereka akan bertunangan!"


"Aku yang meminta Alex untuk menyelidiki calon suami Sonya itu." aku Hardhan.


Kei menjauhkan diri dari dada Hardhan, lalu menatap Hardhan dengan penuh tanda tanya


"Kenapa?"


"Kau sudah menganggap Sonya sebagai kakakmu, yang berarti Sonya juga adalah kakakku. Karena umurku lebih tua darinya, jadi aku menganggapnya adikku. Dan aku ingin adikku bahagia. Jadi diam-diam aku meminta Alex untuk menyelidiki Owen, apakah pria itu memang sebaik yang terlihat, atau tidak. Yang ternyata dia bukan pria baik-baik."

__ADS_1


"Tapi itu justru menyakiti hati Sonya."


"Sayang, lebih baik sakit sekarang, daripada setelah menikah nanti. Apa kau mau Sonya mengalami rumah tangga yang sama seperti kau dan Galang?"


Kei menggeleng.


"Maka biarkan untuk saat ini dia merasa sakit hati. Semoga Sonya bertemu dengan pria yang jauh lebih baik dari Owen sialan itu."


"Seperti aku menemukanmu...." kata Kei lalu memeluk Hardhan.


"Lebih tepatnya, aku yang menemukanmu." ralat Hardhan, membuat Kei tertawa di dadanya.


"Maaf..."


"Untuk apa?" tanya Hardhan.


"Sudah meninggalkan penthouse tanpa seizinmu, dan membuatmu khawatir."


"Aku memang khawatir, tapi itu tidak ada apa-apanya dengan kau yang harus mendengarkan omong kosongnya Karina. Kau pasti merasa sakit hati, kesal dan marah. Dan mungkin kau jadi meragukanku lagi..."


"Aku memang kesal dan marah... Aku berteriak sambil memaki-makimu tadi di wahana Disneyland. Tapi aku tidak meragukanmu, aku lebih percaya padamu daripada Karina."


Hardhan melepas pelukannya, menjauhkan Kei sepanjang tangannya agar ia bisa melihatnya,


"Lalu kenapa kau kabur dari penthouse, dan bilang ke madame Agathe kalau kau ingin langsung balik ke Jakarta sekarang."


Kei menyeringai lebar, "Supaya kamu tambah emosi dan langsung bersikap tegas kepada Karina."


Hardhan menyentil kening Kei "Dasar bodoh, tanpa kau pergipun aku akan bersikap yang sama dengan mengusir dan mencekiknya."


"Kau mencekiknya?" tanya Kei tidak percaya.


"Kau bisa bertanya pada madame Agathe besok, untuk memastikannya."


"Tidak perlu, aku percaya padamu."


"Apa kau ingin periksa tahi lalat di belalaiku sekarang?" bisik Hardhan di telinga Kei.


Kei terbelalak kaget, "Darimana kamu tahu Karina mengatakan itu?"


"Madame Agathe merekam pembicaraanmu dengan Karina. Sayangnya tidak sampai habis. Kalau aku tahu kau berniat pergi, maka secepat kilat aku akan sampai di sini terlebih dahulu, dan mematahkan kedua kakimu."


Kei meletakkan telapak tangannya di area pribadi Hardhan "Apa kau benar-benar memiliki tahi lalat di sini?" godanya sambil meremasnya.


Hardhan mendesah pelan "Kau harus melihatnya sendiri sayang..."

__ADS_1


__ADS_2