
Kei berjalan hilir-mudik sambil berpegangan pada sandaran sofa panjang ruang keluarga. Sesekali ia berhenti dan mengernyit sambil mencengkram sofa itu, keningnya berkeringat. Dokter Talita memantau tiap pergerakan Kei, mencatat durasi dan jumlah detik berlangsungnya kontraksi.
"Sejak kapan kamu mulai kontraksinya sayang?" tanya mama khawatir.
"Setelah makan siang tadi, Ma, aku merasa perutku sedikit menegang, dan sekarang satu jam setelah makan aku kontraksi lagi, Ma..." jawab Kei dengan suara lirih.
Sesekali dokter Talita mengelap kening dan leher Kei yang berkeringat.
"Apa kita perlu beritahu Hardhan?" tanya mama lagi.
"Jangan..." sahut Kei dan Talita bersamaan.
"Kontraksinya belum teratur Mama, jangan membuat Hardhan khawatir dulu, biarkan dia menyelesaikan urusan di kantornya terlebih dahulu. Kalau Hardhan tahu... Ia akan segera pulang dan berjalan hilir-mudik sambil memerintahkan ini itu, membuat semua orang di sekitarnya tegang dan tidak tenang nantinya."
Tadinya Hardhan meminta Kei untung melahirkan secara caesar saja, karena takut Kei tidak bisa menahan rasa sakit yang ekstrem, tapi Kei menolaknya. Kei ingin melahirkan secara normal, apalagi posisi bayi bagus dan tidak ada kendala untuk melakukan persalinan secara normal.
Meski begitu menurut dokter Elsya kalau lebih dari tigapuluh delapan minggu Kei belum ada kontraksi, pada tanggal yang sudah di tentukan ia akan dirangsang dengan induksi persalinan oleh tim medis. Untungnya sebelum tanggal itu, Kei sudah terlebih dahulu kontraksi.
Setengah jam kemudian Kei mencengkram sandaran sofa lagi ketika kontraksi itu kembali, merasakan campuran antara nyeri menstruasi dan konstipasi. Rasa sakit yang bergerak dari punggung bawah ke perut Kei, yang berlangsung selama sekian detik.
"Ya Tuhan... Ini sakit sekali..." desah Kei lirih, keringat kembali membanjiri tubuhnya ketika kontraksi itu selesai. Kei menghela dan menghembuskan nafas pelan-pelan, mengatur lagi nafasnya supaya kembali normal.
Mama mengelus punggung Kei, gerakan yang lumayan membuat otot Kei kembali rilex. "Sabar yaa sayang..." ucap mama menenangkan.
Dokter Talita menyerahkan segelas air putih ke Kei, "Minumlah Kei, kontraksi bisa membuatmu dehidrasi. Sebaiknya kita bergegas ke rumah sakit sekarang... Kau mulai lemas.
Kei mengangguk setuju, "Tolong ambilkan handphoneku, aku akan menelepon Hardhan..." seru Kei sambil menunjuk letak handphonenya di atas meja. Dokter Talita bergegas mengambil handphone itu dan menyerahkannya ke Kei.
Setelah dua kali berdering, Hardhan pun mengangkat teleponnya, "Yaa sayang... Kau sudah mulai merindukanku?" goda Hardhan.
"Sayang... Sepertinya aku akan segera melahirkan... Kamu langsung ke rumah sakit yaa..." desah Kei dengan suara lirih.
__ADS_1
"Kau apa?" ulang Hardhan, lalu sambil mengernyit Kei menjauhkan handphonenya ketika Hardhan mulai teriak panik dan Kei langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Yah sudah kuduga reaksinya akan seperti itu. Baiklah kita ke rumah sakit sekarang." kata Kei sambil menyeringai lebar pada mama dan dokter Talita. Ajaib ia masih bisa menyeringai di saat kontraksi itu kembali datang lagi.
**********
Ruang Presidential Suite ini sudah di sulap menjadi seperti ruang bersalin, Hardhan sudah meminta dokter Sam untuk menyiapkan semuanya. Di sebelah tempat tidur pasien sudah tersedia dua box bayi, bahkan terdapat pula dua inkubator, hanya untuk berjaga-jaga kata Hardhan saat itu.
Kei berbaring di atas tempat tidur, perutnya di pakaikan sabuk yang terhubung dengan alat Electrocardiograph, untuk memantau denyut jantung bayi dan memantau kontraksi yang terjadi.
Sementara perawat lainnya memasang infus di tangan Kei untuk memastikan cairan elektrolit di dalam tubuh Kei terpenuhi. Dan kandung kemihnya di kosongkan dengan selang kateter, agar tidak menghambat kontraksi.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan Hardhan berdiri di tengah pintu, "Istri saya sudah mau melahirkan dan kalian baru memberitahu saya!! Apa kalian semua mau saya pecat?!!" teriaknya.
Suasana yang tadinya berjalan normal, team dokter dan perawat yang melakukan tugasnya dengan santai, berubah menjadi hening, bahkan seperti berhenti bernafas, seolah-olah Hardhan sudah menghirup semua oksigen di dalam ruangan itu.
Sam memberanikan diri mendekati Hardhan, "Dhan, prosesnya bisa memakan waktu tiga atau empat jam lagi... Jadi kau tenang saja..." jelas Sam.
"Sayang...." panggil Kei sambil mengulurkan kedua tangannya.
Raut wajah Hardhan langsung berubah, dari marah menjadi lembut, "Yaa sayang..." jawab Hardhan sambil bergegas menghampiri Kei, dan memeluknya.
"Ada apa sayang? Bagian mana yang sakit?" tanyanya lembut.
"Kalau kamu kesini hanya untuk membuat team dokter dan perawat takut... Lebih baik kamu tunggu di luar saja..." desis Kei.
Hardhan menatap satu-satu dokter dan perawat itu, "Apa saya membuat kalian takut?" tanya Hardhan.
"Tidak tuan..." jawab mereka serempak.
Jelas mereka akan jawab tidak, pilihannya hanya itu atau bersedia di pecat jika menjawab yang sebaliknya... gerutu Sam dalam hati, sambil mendekati Hardhan.
__ADS_1
"Posisi kedua bayi verteks, kedua kepala bayi sudah mengarah ke bawah, ke jalan lahir, jadi persalinan bisa di lakukan secara normal." jelas dokter Sam.
"Terima kasih Tuhan..." ucap Kei sambil meremas tangan Hardhan yang duduk di sebelahnya.
Hardhan menatap pilu ke Kei, "Kau yakin akan kuat melewati ini sayang... Aku takut kau akan jatuh pingsan..." tanyanya khawatir.
"Bersamamu aku selalu kuat sayang..." jawab Kei sambil mencoba tersenyum.
"Ohh datang lagi...." rintih Kei kesakitan, ia meremas tangan Hardhan sekencang-kencangnya, Hardhan panik dan kembali menatap tajam dokter-dokter itu.
"Kenapa kalian diam saja? Istri saya kesakitan!!" teriaknya.
"Kontraksinya kembali lagi tuan, itu wajar untuk persalinan normal..." jawab dokter Elsya sambil melakukan pemeriksaan dalam, setengah telapak tangannya dimasukkan ke bagian pribadi Kei, untuk meriksa seberapa besar bukaan yang sudah di capai, membuat Kei kembali merintih.
"Apa yang kau lakukan, Kei justru bertambah sakit!!" teriaknya lagi.
Dokter Sam memutar kedua bola matanya melihat reaksi konyol temannya ini, "Dhan, lebih baik kau tunggu di luar saja yaa..." bujuk Sam, yang langsung disambut dengan tatapan membunuh Hardhan,
"Kau mau mati yaa!! Beraninya kau menyuruhku keluar disaat istriku sedang merintih kesakitan seperti ini!!" hardik Hardhan.
"Ya.. Ya... Terserahmu saja..." sahut Sam menyerah, berharap team dokternya tidak berdemo minta naik gaji setelah ini.
"Sayang..." panggil Kei.
"Ya sayang..." sahut Hardhan lembut.
"Sudah ku bilang kalau kamu membuat keributan, lebih baik tunggu di luar saja..."
"Oh tidak... Aku tidak akan membuat keributan lagi..."
Kei menatap Hardhan dengan tatapan menyelidik, "Aku janji aku tidak akan teriak-teriak lagi..." ucap Hardhan kedua jarinya membentuk huruf V.
__ADS_1
"Ketubannya sudah pecah..." seru dokter Elsya, dokter lainnya mengulurkan fetal scalp clip ke dokter Elsya, yang langsung di pasang ke kepala bayi pertama untuk memantau aktivitas jantungnya.