Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Baby Twins


__ADS_3

"Ketubannya sudah pecah..." seru dokter Elsya. dokter lainnya mengulurkan fetal scalp clip ke dokter Elsya, yang langsung di pasang ke kepala bayi pertama untuk memantau aktivitas jantungnya.


"Kenapa bisa pecah? Apa itu berbahaya? Kalian bisa kerja atau tidak sih? Kalau terjadi apa-apa dengan Kei, saya tidak akan segan-segan menggantung kalian semua!" cecar Hardhan kesal.


Kalau tidak pecah bagaimana bayimu bisa keluar bambang! suntuk Sam dalam hati, merasa gemas dengan temannya itu.


"Air ketuban pecah, itu tandanya bayi anda akan segera keluar tuan... Memang seperti itu proses melahirkan..." jelas dokter Elsya dengan kesabaran tingkat dewa.


Memang harus sabar dan tahan banting menghadapi makhluk arogan yang satu ini... gumam Sam, diam-diam menyemangati dokter Elsya.


"Oh... Ya sudah kalian lanjut lagi... Saya tidak akan mengganggu..." seru Hardhan setelah melihat tatapan galak istrinya.


Hardhan kembali meremas tangan Kei, Sedari Hardhan sampai tadi hingga saat ini, tangan mereka masih saling mengait, detak nadi mereka menyatu dengan denyut yang tidak beraturan, tiap kali Kei kontraksi, tiap itu pula Hardhan merasakan kesakitannya, walaupun dalam bentuk yang berbeda.


Tangannya yang sakit karena remasan tangan Kei itu tidak ada artinya, dibandingkan dengan rasa sakit Kei ketika kontraksi. Dan setelah kontraksi itu selesai, Hardhan meremas lembut tangan Kei, menenangkannya, atau justru Hardhan lah yang mencari ketenangan dari tangan Kei.


Saat ini frekuensi kontraksi yang Kei rasakan menjadi lebih sering lagi... Hampir tiap empat menit sekali, bahkan terkadang belum sampai satu menit sudah kembali kontraksi lagi, dengan lebih kuat dan menyakitkan.


Dan tiap itu pula tangan Kei meremas kencang tangan Hardhan, sambil merintih kesakitan, membuat hati Hardhan terasa pilu.


Kei merasakan adanya dorongan untuk mengejan, sepertinya salah satu bayinya sudah tidak sabar ingin keluar. Mungkin efek kontraksi yang kuat sudah mendorong bayinya itu ke jalan lahir.


"Sudah pembukaan sepuluh... Nona Kei kalau saya bilang mengejan anda harus mengejan dan saat saya bilang berhenti anda harus berhenti, mau sekuat apapun kontraksi yang sedang anda rasakan yaa..."


Kei mengangguk, menghemat tenaganya untuk tidak berbicara, maupun berteriak.


"Tarik nafas dalam-dalam... Buang perlahan... Yaa dorong sekarang..." intruksi dokter Elsya dan Kei mengikutinya.


Dengan satu tangan berpegangan pada tangan Hardhan, dan tangan satunya lagi pada perawat, Kei mendekatkan dagunya ke dada sambil menarik punggungnya ke depan, lalu menarik kakinya ke arah dada sambil mengejan, membantu otot perut dan rahimnya mendorong bayinya keluar.


"Berhenti..." seru dokter Elsya, dan Kei langsung berhenti mengejan, meski kontraksinya masih teramat kuat terasa.


Kei mendengarkan intruksi perawat yang sedang menggenggam tangannya untuk menarik nafas dari hidung dan membuang nafas secara perlahan melalui mulut.

__ADS_1


Dan seperti menular, Hardhan juga melakukan hal yang sama dengan Kei, ia ikut mengatur nafasnya sesuai dengan istruksi perawat itu.


Kei terus melakukannya sampai dokter Elsya kembali menyuruhnya mengejan lagi.


Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya terdengarlah tangis pertama dari bayi pertamanya, yang memenuhi ruangan ini dengan suara tangisnya yang teramat kencang. Membuat Kei tertawa sambil menangis penuh haru, begitu juga dengan Hardhan.


"Selamat anak pertama kalian laki-laki..." ucap dokter Elsya sambil tersenyum.


"Kenzou..." seru Hardhan dengan suara parau.


"Apa?" tanya Kei lemah.


Hardhan mengelap keringat di kening dan leher Kei, "Aku menamai anak pertama kita Kenzou... kau setuju? tanyanya lembut dan Kei mengangguk.


Tidak sampai dua menit kemudian Kei kembali mengejan, dan terdengar tangisan dari anak keduanya yang tidak kalah kencangnya dengan anak pertama mereka tadi.


"Waahh... Jagoan lagi..." seru dokter Elsya.


Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, Kei berusaha untuk tetap sadar, ia tidak boleh tertidur, ia harus menyusui putra-putranya.


"Namanya siapa sayang?" tanya Kei, suaranya lebih lemah dari sebelumnya.


"Kenzie... Bagaimana?"


Kei mengangguk setuju, entah apa yang di lakukan dokter Elsya pada area pribadinya, Kei tidak peduli. Kini Kei dan Hardhan hanya fokus ke kedua putranya, perawat sedang melakukan tindakan dan prosedur yang harus mereka lakukan kepada bayi yang baru lahir, dengan dokter spesialis anak yang juga ikut turut memantau.


Setelah team dokter memastikan kedua bayinya baik-baik saja, salah satu perawat membawa bayi pertama mereka Kenzou.


"Buka bajunya ya nona... Anda harus menyusui dini bayi anda..." kata perawat itu.


"Tunggu!" cegah Hardhan.


Menyusui? tanya Hardhan dalam hati, lalu sambil menyipitkan matanya ia mengarahkan pandangannya ke Sam.

__ADS_1


"Sam kau keluar!" perintah Hardhan.


Sam mengerjapkan matanya bingung, "Saya keluar? Kenapa?" tanyanya.


"Istriku mau menyusui... Apa kau mau melihat gunung kembarnya? Dasar mesum! Keluar sekarang!" usir Hardhan.


Ya Tuhan... Jauhkan saya dari suami-suami posesif macam ini... batin Sam.


"Baiklah saya keluar..." gerutunya sambil menggelengkan kepalanya.


"Sekarang kau boleh membuka bajumu sayang..." kata Hardhan sambil tersenyum lembut.


Entah Kei harus senang atau malu dengan sikap posesif suaminya ini, tapi untuk sekarang ia hanya ingin segera menyusui putranya.


Setelah dadanya terbuka, perawat itu langsung meletakkan Kenzou yang telanjang di atas dadanya, hingga terjadi interaksi skin to skin contact, kemudian membiarkan interaksi alami bayinya untuk mencari dan mendekati sendiri put*ng susu Kei. Begitupun dengan Kenzie, bayi keduanya.


Kenzou berhasil menyusu pertama kalinya di sebelah kanan Kei. dan Kenzie di sebelah kirinya. Rasanya luar biasa, rasa sakit dan lelah yang Kei rasakan selama proses kelahiran langsung menguap hilang saat melihat bayi-bayinya, apalagi saat menyusuinya seperti sekarang ini.


Kei mengelus lembut kepala kedua bayinya, belum terlalu terlihat mereka berdua lebih mirip siapa, mirip Kei atau Hardhan. Karena katanya wajah bayi masih suka berubah-ubah.


Tapi yang jelas, dalam waktu singkat Kei sudah bisa membedakan keduanya, Kenzou memiliki tanda lahir seperti bercak berwarna cokelat muda di bawah dagunya. Kei akan merahasiakan ini dulu dari Hardhan, biarkan Hardhan bingung membedakan mereka berdua.


"Mereka luar biasa..." desah Hardhan penuh haru, Hardhan memasukkan jari telunjuknya ke genggaman tangan mungil bayinya, sampai tidak terasa air matanya bergulir ke pipinya.


"Iya... Semua ini seperti mimpi... Aku memiliki bayiku sendiri... Bayi-bayiku..."


"Bayi kita..." ralat Hardhan sambil mencium tangan Kei.


"Iya bayi kita..." balas Kei.


Hardhan dan Kei serta team dokter dan perawat minus dokter Sam, mereka semua terus melihat proses interaksi alami antara ibu dan anak itu.


Sampai bayi mereka merasa kenyang lalu melepaskan isapannya dan tertidur, kemudian kedua perawat mengambil bayi mereka, melakukan prosedur yang harus mereka lakukan selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2