Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Melepas Kerinduan


__ADS_3

"Nona Kei, seperti yang anda lihat, tuan Hardhan sudah kembali sehat, jadi tidak masalah infusnya di lepas." seru Sam sambil menekan kapas alkohol di bekas jarum infus dengan plester.


"Untung bagimu Alex sedang tidak berada di sini, atau aku akan menyuruhnya mengirimmu ke pedalaman Afrika!!" ancam Hardhan lagi, kali ini berhasil membuat Sam meringis ngeri.


Melihat raut wajah Sam yang tertekan karena suaminya, membuat Kei merasa kasihan. Kei menangkup pipi Hardhan dengan kedua tangannya, memalingkan pandangannya dari Sam ke Kei.


"Sayang, kalau kamu marah... Marah lah sama aku... Karena aku yang meminta Sam melakukan itu." akunya lembut.


Hardhan menyentil kening Kei, "Bodoh, mana mungkin aku marah padamu...."


Kei menyeringai lebar, lalu memeluk Hardhan, "Kalau begitu jangan di permasalahkan lagi yaa...."


Hardhan mengelus rambut Kei, kemudian menepuk-nepuk punggungnya, "Kalau itu maumu sayangku...."


Hardhan melepas pelukannya, lalu menatap tajam ke Sam dan dokter lainnya.


"Kenapa kalian masih di sini... Cepat keluar semua... Mengganggu saja...." hardik Hardhan.


"Tunggu sayang... Ada yang ingin aku tanyakan ke Sam...." Kei menatap Sam, "Sam... Apa kamu sudah bicara dengan dokter Talita mengenai permintaan aku tadi?" tanya Kei.


Mendengar namanya di sebut membuat Talita mendongak dari catatan medis yang sedang ia baca, keningnya mengkerut bingung lalu menatap direkturnya, Sam.


"Saya belum menanyakannya Kei, seperti jawaban saya tadi, saya menunggu Hardhan bangun untuk mendiskusikannya...." jawab Sam.


Sebelah alis Hardhan naik, "Permintaan apa sayang?" tanya Hardhan.


"Aku ingin dokter Talita bertugas di rumah kita sayang...." sahut Kei ringan sambil tersenyum kecil pada suaminya.


"Ahh, rupanya begitu." Hardhan mengalihkan perhatiannya ke Sam dan menatapnya tajam, "Lain kali apapun permintaan istri saya, kau harus menurutinya Sam, sekalipun Kei memintamu untuk lompat ke sungai kau harus mau, karena kalau kau menolak, aku sendiri yang akan melemparmu ke sungai... Menolaknya sama dengan menolakku... Mengerti?!" cetus Hardhan tegas.


Sam mengerti dengan perumpamaan yang Hardhan bicarakan. "Iya saya mengerti boss." lalu menatap Talita, "Baiklah dokter Talita, kau bersedia kan memenuhi permintaan nona Kei?" tanyanya.


Memangnya aku bisa menolak? menolak sama saja dengan mengajukan surat pengunduran diri. Belum lagi amarah dari tuan Hardhan kalau aku menolak permintaan istrinya... Sam sialan!! Menyerahkan keputusan final ke aku, tidak bisakah dia membuatkan alibi untukku?!


gerutu Talita dalam hati.

__ADS_1


Talita baru akan menjawab ketika pintu kamar terbuka, dan Alex dengan pembawaan yang tidak kalah berkharismanya dengan bossnya, melangkah masuk dengan percaya diri, ia tidak mengindahkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Pandangan matanya hanya fokus ke kedua sejoli yang berada di atas tempat tidur.


Oh My God! Dia lebih ganteng di lihat dari dekat.


gumam Talita dalam hati.


Talita hanya beberapa kali melihat Alex di rumah sakit ini, itupun hanya bisa melihat dari kejauhan. Hanya yang terpilih saja yang bisa mendekati ruangan presidential suite ini.


Alex, adalah alasan Talita untuk terus menjadi yang terbaik di rumah sakit ini, supaya ia terpilih masuk ke jajaran team dokter eksklusif. Team dokter yang menangani big boss mereka dan keluarganya.


Dan ia sudah berhasil masuk ke team dokter yang menangani Kei, dengan begitu ia bisa selangkah lebih dekat lagi ke Alex.


"Selamat pagi boss... Nona Kei...." sapa Alex sambil membungkuk hormat ke Hardhan dan Kei.


Hardhan mengangguk, "Kalian boleh keluar dari ruangan ini...." seru hardhan ke team dokternya setengah mengusir.


"Tunggu!" cegah Kei, "Kita belum mendengar jawaban dari dokter Talita sayang...."


Hardhan mengelus lembut pipi Kei, dan menyelipkan rambut Kei ke balik telinganya. "Dia tidak akan menolaknya sayang... Bukan begitu Talita?"


Talita menatap dokter Sam, "Dengan senang hati saya bersedia direktur Sam...." jawab Talita, lalu membungkuk hormat ke Hardhan dan Kei, "Terima kasih sudah mempercayakan saya untuk merawat nona Kei." lanjutnya, lalu melirik Alex. Pria itu masih terlihat dingin dan sulit dijangkau, seperti biasanya.


Lagi pula ada bagusnya juga aku tinggal di rumah tuan Hardhan, aku jadi bisa sering-sering melihat Alex kan.... batin Talita.


"Baiklah, kalian keluar sekarang!" usir Hardhan untuk yang kesekian kalinya, dan kali ini Kei tidak melarangnya.


"Bagaimana Paris Lex?" tanya Hardhan ketika Sam dan dokter lainnya sudah meninggalkan kamar ini.


Alex membuka laptopnya dan memperlihatkan berita online yang sedang menjadi trending topik di Paris. "Semua berjalan sesuai rencana boss, Karina menjadi tajuk utama di semua media massa, termasuk juga pengusaha-pengusaha itu."


"Bagus... Ini baru permulaan untuk menjatuhkan mentalnya... Bagaimana dengan keluarganya di sini Lex?"


"Tinggal tunggu perintah dari boss"


"Jalankan saja sesuai rencana, biarkan mereka menggelandang di jalan, melihat keluarganya menderita seperti itu akan membuat pukulan menyakitkan untuk Karina."

__ADS_1


"Baik boss."


"Apa itu tidak terlalu kejam sayang?" tanya Kei.


"Untuk menghukum wanita sialan yang sudah menyebabkan adikku meninggal dan nyaris membuatku kehilanganmu dan anak kita? Tidak, hukuman itu justru kurang kejam."


Hardhan merangkul Kei, mengajaknya melihat berita tentang penangkapan Karina, "Kau lihat Kei, berita ini pasti membuatnya sangat frustasi, ditambah lagi berita kebangkrutan keluarganya nanti, semoga dia langsung mengakhiri hidupnya secepatnya."


Kei menghembuskan nafas panjang, lalu mengerutkan keningnya, "Bisakah di translate ke dalam bahasa Inggris atau bahasa kita? aku tidak mengerti isi tulisan itu...."


Tawa Hardhan pecah, lalu mencubit gemas pipi Kei, "Mulai sekarang kau harus belajar bahasa Perancis sayang, bagaimanapun juga kita akan sering bolak balik kesana, dan ah iya, bahasa Italy juga, aku dapat proyek besar di sana...."


Kei mendesah keras, "Haruskah aku bisa menguasai kedua bahasa itu juga? bukannya bahasa International itu bahasa Inggris yaa? Aku rasa itu saja sudah cukup." suntuk Kei.


"Kau tetap harus belajar bahasa lain, minimal kau harus menguasai lima bahasa di luar bahasa Inggris, diantaranya bahasa Mandarin, bahasa Perancis, bahasa Spanyol, bahasa Jerman, dan bahasa Jepang."


"Otakku tidak akan sanggup untuk mempelajarinya...." gumam Kei muram,


Kei merangkul leher Hardhan, lalu menggesekkan hidungnya ke hidung Hardhan, "Lupakan dulu Paris atau Italy, bagaimana kalau kita ke pulau X dulu, aku sudah lama tidak ke sana. Dan aku tidak perlu belajar bahasa asing." bujuk Kei.


"Kau tidak apa-apa kalau kembali ke sana? aku takut kau belum sepenuhnya melupakan kejadian buruk di sana...." desah Hardhan lirih.


Kei mencium pipi Hardhan, lalu bergerak ke telinganya dan menggigit pelan sebelum berbisik "Aku ingin mengingat malam pertama kita di sana...." godanya, membuat Hardhan mengerang pelan.


Hardhan mengibas tangannya di balik punggung Kei, meminta Alex meninggalkan mereka, dan Alex mengerti. Dia mengambil laptopnya dan langsung bergegas keluar kamar.


"Aku sangat merindukanmu sayang...." erang Hardhan lalu mencium bibir Kei, menumpahkan kerinduannya selama ini dengan ciuman-ciumannya, hingga Kei berbaring terlentang di tempat tidur itu.


"Sayang, nanti ada yang masuk...." akhirnya Kei bisa mengeluarkan protesnya setelah bibir Hardhan meninggalkan bibirnya dan beralih ke leher Kei sekarang, dengan nafas yang tidak beraturan.


"Alex akan menjaga pintu itu tetap tertutup dengan nyawanya... Sekarang jangan ada protes lagi, aku sangat merindukan ini, biarkan aku memuaskanmu...." seru Hardhan.


"Tapi... kita belum bisa melakukannya sekarang sayang, aku baru saja...." Hardhan membungkam protes Kei dengan bibirnya, tangannya turun ke bagian bawah tubuh Kei.


"Ahh, aku akan memuaskanmu dengan cara yang lain kalau begitu..." bisik Hardhan lembut.

__ADS_1


__ADS_2