Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Pengakuan


__ADS_3

Kei mendekatkan wajahnya ke wajah Hardhan


"Sayang.... Apa kamu tidak lapar?" bisiknya dengan suara menggoda.


Seperti memiliki tangan sebanyak gurita, ia dengan cepat menanggalkan pakaian Kei.


"Ya Tuhan Kei, aku sangat menginginkanmu...." erangnya sambil membalik posisi Kei hingga berada di bawahnya, membuat Kei memekik kaget, lalu menanggalkan celananya sendiri.


Kei menyeringai lebar, "Kamu selalu tidak sabaran sayang...."


"Jika menyangkut dirimu... Aku tidak bisa menahan diri, Sayang...." balas Hardhan sambil memasuki Kei.


Tangan mereka saling menggenggam, menyalurkan desahan cinta yang mengalir hangat ke seluruh pembuluh darah mereka, memompa jantung mereka berdetak lebih kencang dan cepat, di setiap gerak dan hembusan nafas mereka. Sampai mereka mencapai puncak kenikmatan dunia.


"Aku mencintaimu Kei... Aku sungguh-sungguh mencintaimu...." Ucap Hardhan lembut dengan nafas yang masih memburu.


Kei menguap lebar, lalu merapat ke dalam pelukan Hardhan,


"Kau tidak bisa bersikap lebih sopan lagi sayang? Apakah pernyataan cintaku terlalu membosankan hingga membuatmu menguap selebar itu?" gerutu Hardhan.


Kei terkikik geli, "Aku ngantuk sayang, hari ini sungguh melelahkan, dan kegiatan kita barusan, benar-benar telah menguras habis tenagaku...."


Sebelah alis Hardhan naik, "Aku yang lebih banyak bekerja barusan, kenapa kau yang kehabisan tenaga?"


"Tapi aku yang memulainya lebih dulu, dan itu butuh usaha dan keberanian yang besar...." elak Kei.


"Maukah kau berjanji padaku?"


"Berjanji apa?"


Hardhan mencium kepala Kei, "Untuk selalu memiliki keberanian yang besar itu...."


"Oh... Hmmm itu sih tergantung...."


"Tergantung apa?"


"Tergantung seberapa baiknya kamu padaku."


"Bagaimana kalau kau dulu yang berbuat baik padaku dengan menyiapkan makan malamku?" tanya Hardhan sambil mencubit gemas hidung Kei.


Kei langsung duduk, "Kamu belum makan?" tanyanya, selimutnya turun ke pinggangnya, dan menampilkan pemandangan gunung kembarnya yang indah. Tangan nakal Hardhan langsung memainkannya.

__ADS_1


"Rasanya aku berubah pikiran, aku masih belum kenyang denganmu... Aku bisa menahan cacing di perutku yang sedang berdemo saat ini, aku tidak mau turun dari tempat tidur ini...."


Kei langsung turun ke samping tempat tidur,


"Oh tidak bisa... Kamu harus makan, nanti kamu bisa sakit."


Hardhan menggeleng "Aku tidak akan sakit... Kemarilah sayang...." godanya sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Hardhaann...." Kei melotot galak ke Hardhan.


"Ahh... Perusak kesenangan...."


**********


Selesai makan malam yang super telat, Hardhan membawa Kei ke taman, ke bangku di bawah lengkungan bunga mawar, Hardhan meminta tukang kebun membuatnya untuk Kei. Cuaca cukup cerah hingga kerlap kerlip bintang terlihat jelas malam ini.


"Kenapa kita ke taman malam-malam? Banyak nyamuk sayang...." Kei mengeluh.


"Ada yang ingin aku ceritakan padamu, tapi aku berharap kamu jangan menginterupsinya sebelum aku selesai...."


"Tentang apa?" tanya Kei bingung, melihat keseriusan diwajah Hardhan.


"Masa depan kita?" Kei membeo.


"Aku sudah pernah cerita padamu tentang niat papaku yang ingin menjodohkan kita. Yang belum aku ceritakan adalah sikap papa yang terus menerus memintaku untuk tetap menikahimu ketika tiba saatnya aku menikah nanti. Terus terang sikap papaku itu pada awalnya membuatku jengkel, tapi lama kelamaan aku malah merasa ada yang aneh ketika papa tidak mengungkit masalah kau lagi."


"Dan aku merasakan kekecewaan papa ketika aku mengetahui alasannya, karena papamu tetap bersikeras tidak ingin menjodohkan kita. Papamu bilang kalau kita berdua memang berjodoh, maka secara alami kita pasti akan bertemu juga dan saling mencintai."


"Saat itu usiaku lima belas tahun, ketika papaku terbaring di rumah sakit dan sekarat, dia merasa menyesal karena meninggalkan tanggung jawab besar padaku, anak yang belum sepenuhnya dewasa untuk menjaga mama dan adikku, dan juga mengambil alih perusahaannya."


"Tapi kata-kata terakhir sebelum papa meninggallah yang selalu menghantuiku dan membuatku tidak tenang. Papa tetap menginginkan aku menikahimu, ia benar-benar menginginkan anak sahabatnya yang menjadi menantunya. Jadi aku berusaha keras untuk mewujudkannya setelah papa meninggal."


"Tapi kalian berdua seperti menghilang di telan bumi. Papamu benar-benar tidak ingin di temukan, bahkan Alex sekalipun yang mencarinya. Dan saat aku merasa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bertemumu kembali, disitulah aku baru menyadari, bahwa hatiku telah di tawan oleh anak berumur lima tahun itu, jadi aku merasakan hatiku sakit ketika berpikir tidak akan bisa menemuimu lagi."


"Kau tahu... Aku sudah jatuh cinta padamu hingga tidak ada ruang lagi untuk wanita lain di hatiku. Mungkin kedengarannya konyol, jatuh cinta pada anak yang baru ditemui satu kali. Tapi itulah kenyataannya."


"Mama tadi cerita kalau kamu sudah mencariku selama bertahun-tahun, tapi mama tidak mau bilang alasannya, mama ingin kamu yang bercerita sendiri padaku. Jadi itukah alasan kamu mencariku selama ini?"


Hardhan mengangguk, "Tapi di pertemuan kedua kita aku malah tanpa sengaja menyakitimu Kei... Aku minta maaf untuk itu... Seandainya aku bisa memutar balikkan waktu, aku pasti akan melakukannya untukmu...."


Hardhan mendongakkan kepalanya ke langit, menghela nafas panjang, jantungnya berpacu dengan cepat, ia tahu besar kemungkinan ia akan kehilangan Kei ketika mengakuinya, tapi lebih baik Hardhan menamparnya dengan kenyataan, daripada mengecupnya dengan kepalsuan.

__ADS_1


Hardhan kembali menghela nafas panjang, menguatkan dirinya sebelum melanjutkan,


"Aku lah pria itu Kei...."


Hardhan memberanikan diri menatap mata Kei, dahi Kei mengkerut bingung, matanya mencari-cari jawaban dari mata Hardhan.


"Aku yang memperkosamu...." aku Hardhan pelan.


Mata Kei terbelalak, "Kkkkaauuu apa?" tanyanya tergagap.


"Aku yang memperkosamu di pulau X, saat itu aku mengira kau wanita yang akan menemaniku." aku Hardhan lagi dengan suara parau.


Kei menangkup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya masih terbelalak kaget, lalu kepalanya menggeleng keras, "Tidak... Itu tidak mungkin...." bisiknya dari sela-sela jari tangannya, Kei menggeser duduknya menjauh dari Hardhan.


Air mata Kei menetes, membasahi pipi dan jemari tangannya, sementara badannya gemetar hebat "Itu tidak mungkin... Ini terlalu kejam... Aku... Aku...."


Hardhan memegang pundak Kei membuat Kei meringis, lalu menepis tangan Hardhan dari pundaknya. Dengan seluruh badan gemetar Kei berdiri linglung, menepis tangan Hardhan yang ingin membantunya.


Baru selangkah Kei jalan, langkahnya sudah goyah, reflek tangan Kei berpegangan pada lengkungan yang dirambati bunga mawar untuk mencegahnya jatuh, membuat telapak tangannya tertusuk duri-duri mawar itu. Tapi rasa sakit di telapak tangannya, tidak sesakit hatinya sekarang ini.


"Kei...."


"Jangan mendekat." cegah Kei, masih tetap berpegangan kepada lengkungan mawar itu, ia merasakan kepalanya yang tiba-tiba pusing, nafasnya menjadi sesak dan matanya yang berkunang-kunang.


Tuhan... Aku jatuh cinta pada orang yang sudah memperkosaku, yang sudah menghancurkan hidupku.


"Siapa... Siapa wanita yang seharusnya menemanimu malam itu?" tanya Kei pelan, lebih seperti bisikan.


"Karina...."


Tanpa sadar telapak tangan Kei meremas lengkungan mawar itu, membuat Kei memekik sakit.


Hardhan bergegas menghampiri Kei, memegang telapak tangan Kei yang terluka dan berdarah, Kei menepis lagi tangan Hardhan, lalu mundur menjauhinya sambil menatap Hardhan dengan penuh kebencian.


"Selama itu kamu sudah berhubungan dengannya? Kamu bilang kamu mencintaiku sejak pertama kali kita bertemu... Tapi kamu mampu berhubungan dengan wanita lain selama itu?!! Kamu pasti sangat mencintainya yaa?!"


"Demi Tuhan aku tidak mencintainya Kei... Kamulah satu-satunya cintaku."


Kei terbatuk, nafasnya kembali sesak, ia merasa kesal, merasa marah dan merasa kecewa, tapi jauh di atas segalanya, entah kenapa Kei lebih menginginkan pelukan Hardhan yang selalu bisa menenanginya, saat ini ia sangat membutuhkan pelukan itu.


Aku pasti sudah gila, batin Kei.

__ADS_1


__ADS_2