Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Bertiga...?


__ADS_3

Sarapan pagi ini terasa hambar, tapi Kei melihat mama dan suaminya tetap makan seperti biasanya, tidak ada keluhan yang keluar dari bibir mereka. Mungkin mereka hanya menghargai masakan Kei.


"Maaf hambar... Kurang garam yaa?" tanya Kei lalu sedikit berdiri dari kursinya, kemudian mengambil garam yang di letakkan di tengah meja, dan menuangkan ke mangkok sayur, kei mencicipi lagi. Merasa masih hambar Kei kembali bersiap menuang garam ke mangkok itu lagi tapi tangan Hardhan menahannya.


Hardhan mencicipi sayur itu, "Astaga Kei, Sayurnya jadi asin sekali..." Hardhan menangkup pipi Kei


"Kau masih sakit? Aku panggil Sam yaa...."


Kei menggeleng keras, "Tidak perlu... Aku tidak sakit Hardhan... Kenapa sih gak jujur aja kalau masakanku hari ini hambar... Ya kan ma?"


"Iya sayang... Sayurnya hambar tapi tetap enak kok. Lidah suamimu sepertinya sedang bermasalah." jawab mama sambil tersenyum penuh arti.


"Lidahku baik-baik saja ma... Ada apa sih dengan kalian?" tanya Hardhan bingung, sambil melihat ke mama dan Kei bergantian.


"Harusnya aku yang tanya kamu kenapa? Jelas-jelas cuma kamu yang berasa keasinan! Bilang saja kalau sudah tidak suka sama masakanku..." suntuk Kei merajuk.


"Tapi memang benar sayur itu asin Kei... Untuk apa aku berbohong." lalu Hardhan menatap mamanya "Ma...."


Mamanya hanya tertawa lebar, "Dasar bodoh..."


Hardhan merasa benar, sayur ini memang asin, jadi ia memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk mencicipinya, sekedar untuk memastikan saja, "Bi Ijah... Kemari sebentar!" teriak Hardhan.


Tidak lama kemudian bi Ijah datang menghampirinya, "Ada apa tuan?" tanyanya.


"Coba bibi cicipi sayur ini." perintah Hardhan.


Dengan segera bi Ijah mencicipi sayur itu, "Bagaimana? Asin kan Bi?" tanya Hardhan.


Bi Ijah menatap Kei, lalu ke mama yang menggeleng samar, dan bi Ijah mengerti maksudnya, "Tidak tuan... Sayur ini tidak asin..." jawab bi Ijah, dosa berbohongnya di tanggung majikannya, pikir bi Ijah dalam hati.


"Aku tidak berselera makan lagi... Aku ke kamar dulu..." suntuk Kei, sambil melotot galak ke Hardhan.


"Kei...." panggil Hardhan, tapi Kei tidak menghiraukannya.


"Sudah biarkan dulu dia... Kamu lanjut makan lagi saja..." kata mama lalu beranjak bangun dari kursinya.


"Mama mau kemana?"


"Mama mau lanjut berkebun lagi... Kabari mama kalau ada berita baik."


Berita baik apa? Yang ada berita buruk, karena sekali lagi aku sudah membuat Kei marah.


gerutu Hardhan dalam hati.


Hardhan menyusul Kei ke kamar, sesampainya di dalam kamar, Hardhan melihat Kei sedang duduk di sofa panjang sambil menonton drama Korea, dan Kei terlihat menangis melihat adegan sedih drama itu.

__ADS_1


Sejak kapan Kei suka drakor?


tanya Hardhan dalam hati.


Hardhan duduk di samping Kei, lalu merangkulnya. "Itu hanya drama sayang, kau tidak perlu masukkan ke dalam hati apalagi sampai nangis..."


"Kamu lihat saja Hardhan... Betapa terpukulnya istrinya melihat foto-foto suaminya yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Dan jahatnya lagi... Teman-temannya justru terlihat mendukung perselingkuhan itu!!" suntuk Kei lalu menyandarkan kepalanya di bahu Hardhan.


"Kalau aku yang jadi istrinya... Sudah aku potong punyanya..." geram Kei sambil menunjuk kesal ke arah televisi, membuat Hardhan merasa ngilu mendengarnya.


"Aku tidak akan pernah berani selingkuh kalau begitu..." goda Hardhan.


"Coba saja kalau berani... Kamu tidak akan menemukan senjatamu itu lagi ketika kamu terbangun dari tidurmu!" ancam Kei sambil mengambil sepotong es batu, lalu mengulumnya di mulutnya dan menyandarkan kembali kepalanya ke bahu Hardhan.


"Apa kamu panas dalam sayang? Kenapa mengulum es batu itu?" tanya Hardhan khawatir.


Kei mengangkat bahunya, "Aku hanya sedang kepingin saja... Rasanya menyegarkan sekali." jawab Kei sambil beringsut dari tempat duduknya, kemudian merebahkan badannya di sofa panjang itu, dengan kepalanya di atas paha Hardhan.


Hardhan menekan tombol off di remote televisinya, kemudian mengelus lembut kepala istrinya, "Sayang aku sudah hire asisten manager untuk membantumu, dan juga menambah beberapa karyawan baru lagi mengingat semakin banyaknya pengunjung kafe. Jadi kau tidak perlu datang setiap hari ke kafe."


"Oh terima kasih sayang... Aku baru saja mau membahasnya denganmu mengenai hal itu."


"Apa kau kelelahan sayang? Seharusnya kau datang hanya memantau saja, tidak perlu turun tangan langsung. Kau owner bukan karyawan."


"Ya kau benar sayang... Pemimpin adalah teladan bagi anak buahnya. Apa kau ngantuk? mau pindah ke tempat tidur?" tanya Hardhan.


"Tidak mau... Aku mau terus di sini... Lebih nyaman dipahamu daripada bantal." jawab Kei sambil melihat foto-foto di gallery foto handphonenya, mencari hasil foto terbaik untuk di posting di akun kafenya.


"Kita pindah ke tempat tidur yaa... Kau bisa tetap menyandarkan kepalamu di atas pahaku nanti." bujuk Hardhan.


"Kamu saja yang pindah ke tempat tidur sana, aku mau tetap di sini."


"Kenapa belakangan ini suasana hatimu selalu berubah-ubah? Apa ada perbuatanku yang tidak kau sukai? Apa ada yang salah dari diriku sayang? katakan saja..." cecar Hardhan.


"Aku bersikap biasa saja... Mungkin perasaanmu saja yang sedang sensitif." balas Kei santai.


"Lalu kenapa setiap malam kau selalu mengusirku dari tempat tidur? Kenapa selalu menyuruhku tidur di sofa? Apa kau sudah bosan denganku?"


Kei mendongak melihat suaminya, "Jangan konyol... Mana pernah aku bosan padamu... Atau jangan-jangan kamu yang sudah bosan denganku... Sudah tadi berbohong bilang sayurku asin, kamu mau cari gara-gara yaa supaya kita ribut?"


"Sayur tadi memang... Ahh sudahlah... Aku yang salah... Kamu lanjut saja nontonnya aku mandi dulu."


Hardhan langsung bergegas ke kamar mandi, dan menutup pintunya dengan kencang, ia tidak habis pikir dengan sikap Kei belakangan ini. Benar-benar menguji batas kesabarannya.


Hardhan mandi dibawah pancuran shower dengan air dingin. Meredam gairahnya yang sudah satu minggu ini tidak tersalurkan karena Kei yang terus menerus menolaknya. Bahkan satu minggu ini ia harus tidur di sofa.

__ADS_1


Demi Tuhan ini rumahku... Dan itu tempat tidurku... Kenapa aku yang harus tidur di sofa? Sepertinya aku harus bersikap tegas padanya, membiarkannya terus seperti ini akan membuatnya semakin besar kepala nantinya.


Dengan kesal Hardhan mengeringkan badannya dengan handuk, lalu melilit handuk itu ke sekeliling pinggangnya, kemudian bergegas menghampiri Kei.


Hardhan melihat Kei duduk meringkuk di sofa, tangannya memeluk kakinya yang ditekuk, dan menyembunyikan wajahnya di lutut, badannya bergetar karena isak tangisnya yang memilukan, membuat hati Hardhan menjadi pilu, dan lupa akan kemarahannya tadi.


Hardhan duduk di sebelah Kei lalu memeluknya,


"Kei maaf... Tadi aku tidak bermaksud..."


"Jangan sentuh aku!!" teriak Kei sambil mendorong badan Hardhan menjauh darinya.


"Demi Tuhan.... Ada apa denganmu? Kau marah karena sayur? Atau aku membanting pintu? atau apa cepat katakan sialan?!" geram Hardhan berusaha keras menahan amarahnya.


"Lihat sendiri!!!" teriak Kei lagi sambil melempar handphonenya ke Hardhan dan mengenai pipinya, kemudian Kei berdiri sambil berkacak pinggang dan melihat Hardhan dengan tatapan membunuh, "Apa tanggapanmu mister playboy?!!" hardik Kei.


Hardhan melihat fotonya yang sedang bercinta dengan Karina... Dan tercetak di sana tanggal pengambilan fotonya, lima hari yang lalu.


Hardhan langsung berdiri, "Kei ini editan sayang... Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya... Kau harus percaya itu..."


Kei mundur menghindari tangan Hardhan yang ingin meraihnya, "Percaya? Hah... Aku harus percaya padamu dengan bukti nyata foto itu? apa yang harus ku percaya?"


Hardhan meraih tangan Kei lalu menariknya ke pelukannya, "Sayang kau harus percaya padaku... Itu siasat Karina untuk memisahkan kita..."


Kei terus berontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan Hardhan, "Ya sudah kita pisah saja... Aku lelah... Aku capek!!!" teriak Kei histeris.


Hardhan semakin mengeratkan pelukannya, "Tidak Kei... Tolong jangan katakan hal mengerikan itu lagi... Aku akan..." kata-kata Hardhan terpotong dengan teriak kesakitan Kei,


"Aarrggghh... Perutku sakit... Perutku kram... Aaargh!!" teriak Kei sambil memegang perutnya, Hardhan langsung membopong Kei dan membaringkannya di atas tempat tidur, Kei langsung meringkuk seperti bola sambil memegangi perutnya.


"Kei... Kamu kenapa? Kamu sedang datang bulan?" tanya Hardhan panik.


"Sakit... Ya Tuhan sakit sekali..."


Hardhan langsung menekan tombol di jam tangannya, "Ya boss." jawab Alex


"Kirim ambulance kerumah sekarang!!" teriak Hardhan.


Sesampainya di rumah sakit Sam dan beberapa dokter lainnya sudah menyambutnya, dan tanpa banyak bicara lagi mereka langsung periksa Kei yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan Kei Sam?" desak Hardhan.


Sam menepuk-nepuk pundak Hardhan, "Untungnya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka bertiga sudah aman sekarang, kau sudah boleh masuk."


"Mereka bertiga? Apa maksudnya?"

__ADS_1


__ADS_2