
Kei meletakkan telapak tangannya di area pribadi Hardhan "Apa kamu benar-benar memiliki tahi lalat di sini?" godanya.
Hardhan mendesah pelan "Kau harus melihatnya sendiri sayang...."
Kei merengut, lalu menjauhkan tangannya dari area pribadi Hardhan, "Aku tidak mau?"
sebelah alis Hardhan naik "Kenapa?"
"Aku tidak mau mengikuti wanita ular itu, melihat yang tidak harus di lihat. Lagi pula tidak ada untungnya melihat belalaimu itu."
Hardhan tertawa hambar, "Belalai ini yang sudah memuaskanmu sayang, kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padanya?"
Wajah Kei memerah, "Kau benar-benar parah...."
Hardhan bersandar pada kepala tempat tidur, kedua tangannya saling mengait di belakang lehernya. "Ahhh... Istriku yang polos...." desahnya pelan.
Kei menatap Hardhan, pria yang sangat di cintainya. Jantung hatinya dan belahan jiwanya. Pria yang selalu ada untuknya, di saat-saat tergenting dalam hidupnya. Hardhan hadir di saat Kei benar-benar membutuhkannya.
Air mata Kei menetes di pipinya, membuat kening Hardhan mengkerut karena cemas.
"Kei... Aku hanya becanda... Aku tidak akan memaksamu, jadi jangan nangis...."
Kei menghapus air matanya dengan lengannya, "Aku nangis karena aku sangat terharu... Kamu mau datang menyelamatkanku. Dan tidak memarahi dan menghukumku karena keluar dari penthouse tanpa izinmu, dan juga telah memperdaya Upin Ipin. Kau malah bersikap baik padaku, aku jadi semakin bersalah padamu."
Alis tebal Hardhan kembali naik, "Siapa yang bilang aku tidak akan menghukummu dan Sonya? Bagaimanapun kalian sudah membuat semuanya khawatir. Aku, Alex, madame Agathe, bahkan pengawal-pengawal kita pun juga ikut panik."
Hardhan melihat penampilan Kei dari ujung rambut sampai ujung kakinya, "Dan kau pergi dengan pakaian seperti ini? Sudah berapa pasang mata pria yang melihat kulit mulusmu itu? Aku akan menghukummu dengan memukuli bokongmu, hingga kau tidak akan bisa duduk selama satu minggu."
Kei meringis, ngeri membayangkan Hardhan akan benar-benar melakukan itu. Dan Hardhan tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Kei langsung menduduki pinggang Hardhan. Lalu menatap Hardhan dengan tatapan sendunya, sambil memainkan jemarinya di atas dada Hardhan.
"Sayang, jangan lakukan itu padaku. Aku akan melakukan apapun untukmu, tapi jangan pukul bokongku yaa?" rengeknya
Hardhan mengerang pelan, "Aku harus menghukummu supaya kamu jera...."
Kei melepas tanktopnya melalui kepalanya, memperlihatkan gunung kembarnya di depan mata Hardhan "Kau tidak pakai bra?!" geram Hardhan
"Cup branya sudah menyatu dengan tank top itu sayang... Stop!!" Kei mencegah tangan Hardhan yang mulai bergerak ingin memegang gunung kembarnya "Aku akan melihat tahi lalatmu yang famous itu, dengan satu syarat...."
__ADS_1
"Apa?" tanya Hardhan sambil menelan ludah, jantungnya sudah mulai berdetak cepat.
"Kamu tidak boleh menyentuhku. Biarkan tanganmu itu di belakang lehermu, kalau kamu menyentuhku, berarti kamu kalah, sebagai gantinya kamu tidak akan menghukum aku dan Sonya. Bagaimana?" tantang Kei.
"Baiklah, lakukan sesukamu...." erang Hardhan.
Sentuhan tangan lembut Kei di belalainya, membuat nafas Hardhan tercekat, dan ia melakukan kesalahan besar dengan membuka matanya, saat melihat tatapan sendu Kei dengan bibirnya yang terbuka itu terlihat begitu menggoda.
Hardhan harus menarik Kei mendekat, Hardhan harus menariknya, atau ia akan menggila karena gairahnya. Tapi Hardhan tidak ingin kalah secepat ini dari Kei. Jadi ia tetap menahan kedua tangannya untuk tetap berada dibelakang kepalanya.
Kei mendesah kesal, lalu cemberut ke arah Hardhan, membuat sebelah alis Hardhan naik, seperti bertanya kenapa tanpa kata-kata.
"Wanita ular itu membohongiku! bahkan tidak ada satu titik pun noda di belalaimu, huft!! Padahal gara-gara tahi lalat itu aku jadi keluar dari sini, dan akan menerima hukumanmu... Sial!"
"Hhhmmppttthh...." terdengar tawa tertahan Hardhan, membuat kedua mata Kei memicing kesal ke arahnya
"Kenapa kamu tidak menyentuhku?!" tanyanya kesal
Hardhan mengangkat bahunya, "Aku hanya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menghukummu...." katanya santai
Biasanya raksasa sialan ini tidak bisa tidak menyentuhku. Rupanya dia benar-benar berniat untuk menghukumku, aku tidak boleh kalah.
"Aahhh Keiii ..." erang Hardhan.
Lalu diluar kendalinya tangannya yang berkhianat memegang pinggul Kei, dan mengarahkan Kei untuk terus bergerak, dan Kei melakukannya dengan sangat baik.
"Kumohon Kei, kumohon.... Aku membutuhkanmu sekarang...." erang Hardhan dengan suara rendah dan parau.
Dan Kei mengerti, ia memejamkan matanya dan merasakan dirinya meluncur ke puncak yang sudah dikenalnya, puncak yang selalu diraihnya bersama Hardhan. Hingga badannya melemas, lalu Hardhan menariknya dan mendekapnya erat. Dan Hardhan enggan melepasnya.
"Kamu kalah sayang, kamu kalah...." gumam Kei dengan nafas tersengal.
Hardhan mencium ujung kepala Kei dengan penuh kasih, "Kau tahu benar kelemahanku...."
Kei tertawa di dada Hardhan "Aku tahu dan aku memanfaatkannya...."
Hardhan kembali mencium kepala Kei, "Aku sangat mencintaimu, my love...."
Kei kembali tertawa di dadanya, membuat sebelah alis Hardhan kembali naik.
__ADS_1
"Tidak adakah orang yang memberitahumu untuk tidak menertawakan pria yang sedang merayumu?" tanya Hardhan jengkel.
"Bukan begitu sayang, tadi sewaktu kamu bilang my love, perutku langsung keroncongan, aku lapar...."
Tangan Hardhan mengusap-ngusap punggung Kei, "Belakangan ini kau selalu lapar sayang, dan nafsu makanmu meningkat, kau yakin kau tidak sedang hamil?" tanya Hardhan lembut
"Apa wanita hamil akan selalu merasa lapar walaupun sudah makan banyak?"
"Sepertinya begitu. Karena ia makan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk janin yang ada di dalam perutnya."
Kei menghela nafas panjang, "Tapi aku baru saja selesai haid dua minggu lalu. Jadi tidak mungkin aku hamil...." Lalu Kei kembali duduk "Temani aku makan, please...." pintanya manja
"Bagaimana aku bisa menemanimu makan, kau masih mendudukiku... Apa kau ingin satu ronde lagi? atau dua mungkin?"
Kei langsung berdiri dan menjauh dari Hardhan, "Aku tidak punya tenaga lagi, aku lapar." gerutunya sambil memakai jubah tidurnya.
"Ahh perusak kesenangan...." gumam Hardhan, lalu turun dari tempat tidur dan memakai jubah tidurnya.
"Ayo turun."
Mereka keluar dari kamar lalu mendengar suara ribut-ribut dari kamar tamu. Merasa ingin tahu Kei mendekat ke arah kamar tamu itu, menepis tangan Hardhan yang berusaha mencegahnya.
Terdengar suara Sonya dari dalam kamar, suaranya tidak jelas khas orang yang sedang dalam pengaruh minuman keras, tapi Kei bisa menangkap kata-katanya, "Sini cepat aku membutuhkanmu lagi... Jailangkuuuung, kenapa lama sekali sihh?!"
Kei langsung membekap mulutnya sendiri, "Ya Tuhan, dia garang sekali...." gumam Kei, lalu terlonjak kaget ketika Hardhan menepuk bahunya, dan menyuruhnya turun dengan isyarat matanya.
Nah..., apa yang terjadi dengan Alex dan Sonya?
Nanti Author akan buat Prequel dari novel TML, khusus untuk kisah cinta Alex dan Sonya.
Jadi biarkan novel TML ini menjadi milik Hardhan dan Kei saja ya...
Setuju?
Untuk Readers yang baik hati...
Bab selanjutnya diperkirakan tayang pukul sebelas malam yaa...😊😊
Happy Reading, and happy satnight...
__ADS_1
Love You All....😘🥰