
Hardhan berusaha mengendalikan diri, ia melakukannya dengan perlahan dan lembut, tidak ingin menyakiti Kei. Tapi kebutuhannya semakin kuat, nafasnya memburu dan keras.
Ia ingin menguasai Kei, menjadikan wanita itu miliknya, hanya untuknya. Mata Kei yang selama ini terpejam sementara kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan ketika Hardhan memasukinya mulai terbuka, mata sendu Kei menatapnya penuh gairah,
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hardhan takut menyakiti Kei.
Dan setelah mereka mencapai puncak bersama, Hardhan merebahkan dirinya di sebelah Kei, nafasnya sama tersengalnya dengan nafas Kei
"Tidak pernah... Senikmat ini sejak... Sejak..."
Sejak kita di Pulau X....
Hardhan beringsut sedikit, membawa Kei kepelukannya, tangannya membelai rambut Kei.
"Apa aku menyakitimu sayang?" tanya Hardhan.
Kei kembali menggeleng.
"Lalu kenapa kau diam saja? Aku tahu tadi aku sudah memuaskanmu."
"Aku hanya bingung, biasanya tidak pernah seperti ini...." Kei menguap lebar, kepalanya mencari posisi nyaman di dekapan Hardhan, rasa kantuknya tidak tertahan lagi dan ia pun tertidur.
Hardhan terus menatap Kei, memperhatikan wajah Kei ketika ia tertidur pulas, hembusan nafas Kei sudah mulai teratur, kelopak matanya sesekali bergerak-gerak.
"Maafkan aku sayang... Maaf...." bisik Hardhan sambil mencium kening Kei, dan semakin mengencangkan pelukannya.
**********
Kei bangun ketika hari mulai siang, Hardhan sudah tidak ada di sebelahnya. Sambil menguap lebar Kei mengangkat badannya dan duduk tegak di tempat tidur menahan selimut di bawah lengannya.
Mengingat apa yang terjadi semalam membuat wajah Kei merona merah, ia sudah menunaikan tugasnya sebagai seorang istri, dan ia berharap Hardhan memegang janjinya, sebenarnya bukan janji tapi hanya kata-katanya saja, Hardhan hanya akan bercinta sekali dengan Kei.
Apa dia sekarang bosan padaku? Itukah alasan dia meninggalkanku sendirian di kamar?
Merasa kamar kosong, Kei menyibak selimut, turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi, mengisi bathup dengan air hangat, menuang bubble bath, menekan tombol power speaker dan berendam sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Pikirannya masih melayang-layang ke kejadian semalam.
Tidak seperti biasanya Kei bisa membuka matanya ketika sedang berhubungan dengan Hardhan, saat bersama Galang, berkali-kalipun Galang minta Kei membuka mata, Kei tidak pernah bisa, dan ketika Galang memulainya tubuh Kei berubah kaku, seakan-akan tubuhnya menolak sentuhan Galang. Mungkin tubuhnya sudah tahu kesakitan yang akan mengikutinya saat Galang memasukinya.
Dan semalam... Ketika Kei melihat bukti gairah Hardhan, rasanya Kei ingin menghilang dari sana, Kei takut membayangkan rasa sakitnya, itu terlalu besar untuknya, Kei bahkan tidak yakin bisa muat masuk ke dalam dirinya.
Tapi ternyata... yang terlihat menyeramkan justru membuatnya nyaman, Kei bisa menikmatinya, bahkan ia ikut berpartisipasi, Kei mendesah pelan.
Ada apa denganku? Padahal Galang lah pria yang kucintai...
__ADS_1
Selesai mandi Kei memakai jubah handuknya, Perutnya terasa lapar, dia tidak makan malam, bahkan melewati sarapannya.
Semua gara-gara raksasa sialan itu!!
Dengan kesal Kei keluar dari kamar, perutnya kembali berdemo ketika ia menghirup aroma masakan dari lantai bawah.
Apa raksasa itu yang masak?
Kei bergegas menuruni tangga, merasa tidak enak hati kalau sampai suaminya yang memasak untuknya. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok wanita dengan busana bergaya eksentrik sedang sibuk hilir mudik di area dapur.
Dia pasti madame Agathe yang dibicarakan Hardhan kemarin.
Dengan langkah pelan Kei menghampiri wanita itu "Bonjour Madame...." sapa Kei
Wanita itu segera balik badan ke arah Kei
"Oh ma chérie, bagaimana tidurmu... nyenyak?" balas wanita itu sambil tersenyum lebar, menampilkan gigi-giginya yang menguning, sisa-sisa kecantikan masa mudanya masih terlihat jelas di wajahnya.
Hardhan benar... Madame Agathe bisa berbahasa Indonesia.
"Terlalu nyenyak hingga aku melewatkan makan pagi ku...." suntuk Kei sambil duduk di bar stool, dengan satu kakinya dibiarkan menggantung ke bawah.
"Monsieur Hardhan tidak ingin mengganggumu, ini makanlah... Saya membuatnya sendiri." Madame Agathe meletakkan pie di depannya, yang sudah di bagi menjadi delapan slice.
"Namanya quiche lorraine, kau bisa menemukannya di seluruh Perancis."
Kei menikmati pie itu, merasakan potongan daging asap, telur dan keju yang menyatu, rasanya pas gurih dan tidak terlalu manis.
"Tapi sepertinya aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada quiche buatanmu madame... Ini benar-benar lezat... Ohh aku tidak bisa berhenti memakannya." Kei mengambil satu slice lagi.
"Saya bisa mengajarimu membuatnya, kalau kamu mau tentunya...." kata madame Agathe membuat Kei memekik senang.
"Benarkah? Ohh aku rasa aku tidak jadi bosan berada di sini hehehe."
Kei terlonjak kaget ketika tiba-tiba Hardhan meletakkan jasnya di pangkuan Kei, menutupi paha Kei yang terpampang sampai ke pinggangnya. Hardhan lalu memeluk Kei dari belakang, tangannya merapatkan bagian dada jubah mandi Kei, kemudian mencium unjung kepala Kei.
"Jadi kau bosan di sini?" tanyanya
"Hardhan kamu apa-apaan sih? Madame kan wanita!" protes Kei sambil berontak di dalam pelukan Hardhan, madame Agathe tertawa geli melihat mereka.
"Alex... Kau boleh pergi sekarang."
"Baik boss." Alex langsung keluar dari penthouse ini.
__ADS_1
Hardhan melepaskan pelukannya dan duduk di bar stool di sebelah Kei.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku? Kamu sudah menghilangkan makan malamku, dan sekarang tidak membangunkanku untuk sarapan! Aku sudah hampir mati kelaparan!" gerutu Kei sambil memberengut.
Hardhan menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Kei ke balik kupingnya.
"Kamu tidur pulas seperti bayi... Aku tidak tega membangunkannya, aku membiarkanmu istirahat karena semalam aku yang membuatmu kelelahan."
Hardhan mendekati Kei lalu mencium bibir Kei,
"Supaya kamu punya banyak tenaga untuk malam ini...." bisik Hardhan di telinga Kei, membuat wajah Kei merona merah.
Kei melirik madame Agatha, madame sedang asik mengaduk-ngaduk panci masakannya.
"Ku pikir kamu hanya mau melakukannya satu kali."
Hardhan tertawa pelan,
"Kau kecewa sayang?"
"Bukan... Bukan itu maksudku, kamu sendiri yang menyatakannya waktu itu, kalau hanya ingin memakaiku satu kali dan langsung bosan setelahnya."
Hardhan mengangkat bahunya,
"Ternyata aku salah... Aku tidak merasa bosan, malah aku ingin merasakannya denganmu lagi, dan lagi, dan lagi...."
Kei menghela nafas panjang,
"Sampai batas waktu kapan?"
"Oh jangan menghela nafas seperti itu... Seakan-akan kau tidak menikmatinya, yang ku tahu semalam kau sangat menikmati, bahkan selama tidurpun kau selalu memelukku, seperti sengaja menggodaku."
Pipi Kei kembali merona merah,
"Aku... Mana mungkin aku seperti itu...." sangkalnya, lalu mengangkat dagunya, "Lagipula kalau kamu tidak suka kenapa tidak menggeserku...." lanjutnya.
"Aku tidak bilang aku tidak suka... Justru aku sangat menyukainya. Dan kenapa aku membiarkanmu istirahat selama itu? Karena hari ini aku ingin membuatmu terjaga semalaman, seperti kau membuatku terjaga semalam..." kata Hardhan dengan suara parau.
"Kamu yang tidak bisa tidur, kenapa menyalahkan aku?"
"Bagaimana aku bisa tidur dengan adanya wanita seksi di dalam pelukanku? Yang terus mendesah sambil menempelkan badannya padaku, sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak memakaimu dan mengganggu tidurmu... Astaga kau seperti baru pertama kali saja merasakan kenikmatan bercinta...."
Benarkah seperti itu?
__ADS_1
Tanya Kei dalam hati.