Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Takdir


__ADS_3

"Itu sudah lewat, papa tidak ingin kamu mengalami lagi penderitaan seperti itu... Sekarang kamu sudah bahagia dengan Hardhan, dan papa tidak akan pernah menyetujui jika kamu ingin kembali lagi ke Galang. Lebih baik papa menutup mata papa selamanya daripada harus kembali melihatmu di perlakukan seperti itu lagi..."


"Kumohon Papa, jangan mengatakan hal seperti itu lagi... Aku tidak ingin kehilangan Papa."


"Setidaknya Papa bisa nangis bersama Mamamu di atas sana, melihat kebodohanmu yang tetap kembali lagi ke Galang, dan kembali menderita."


"Papa... Tidak akan seburuk itu...."


"Sekarang lebih baik kamu renungkan kembali, kamu ingatlah bagaimana perlakuan Galang ke kamu, dan bagaimana perlakuan Hardhan ke kamu. Biarkanlah hati kecilmu yang akan berbicara nanti. Itulah bagian terjujur dari dalam diri kita."


"Mereka sama-sama playboy papa. Pada akhirnya aku juga akan tersakiti jika tetap bersama Hardhan. Dia terkenal tidak pernah puas hanya dengan satu wanita pa. Dia tetap bersamaku karena kami terikat perjanjian selama enam bulan. Hardhan yang menegaskan sendiri padaku kalau waktu enam bulan itupun hanya untuk mencegah gosip yang akan beredar."


"Perjanjian itu dibuat sebelum Hardhan mengetahui kamu adalah gadis kecil yang papa bawa ke rumahnya, Hardhan baru tahu kamu anak papa setelah pertemuan kalian. Setelah asisten pribadinya menyerahkan data dirimu ke Hardhan. Dan papa yakin Hardhan akan menjadi suami yang setia.


"Papa tahu darimana?"


Pak Hendrawan kembali teringat pertemuannya dengan Hardhan di rumah ini, empat bulan yang lalu, "Bagaimana kalau saya tidak setuju dengan pernikahan kalian?" tanya pak Hendrawan.


"Itu hak anda sebagai orangtua, di satu sisi saya tidak rugi sedikitpun, tapi tidak dari sisi Kei dan Galang, mereka akan terus menerus mencari calon suami lainnya yang akan bisa di ajak bekerjasama sampai mendapat persetujuan dari anda. Dan siapa yang paling dirugikan dan paling menderita dari semua itu?"


"Ya saya tahu... Sampai kapan kita berdua bersikap seperti orang asing? Kau benar-benar persis seperti papamu Hardhan. Saya seperti melihat sahabat saya sendiri."


Hardhan menyeringai lebar, "Saya pikir om sudah melupakan saya, om tidak pernah terlihat lagi setelah papa meninggal. Dan om cukup pintar menyembunyikan alamat rumah om hingga saya tidak dapat melacaknya. Tapi saya tetap bersyukur, om telah memilih orang yang benar-benar jujur dan bisa di andalkan untuk menemani saya meneruskan perusahaan papa. Saya tahu, om mendukung saya dari belakang, dan saya berhutang banyak hal untuk itu."


"Saya harus melakukan itu sebelum benar-benar melepasmu sendiri, itu pesan terakhir papamu. Dan lihat kau sekarang... Papamu pasti akan bangga sekali denganmu."


"Dan bangga memiliki sahabat seperti anda."

__ADS_1


Mereka tertawa bersama,


"Sekarang ceritakan sejujurnya pada saya, alasanmu ingin menikahi Kei."


"Sejujurnya, saya tertarik ketika pertama kali melihatnya di pulau X. Setidaknya saat itu saya pikir itulah pertama kali saya melihatnya, ternyata saya salah."


"Maksudmu?"


"Saya baru tahu kemarin, Kei adalah anak om. Yang berarti di pulau X itu adalah pertemuan kedua kami. Saya sempat kecewa mengetahui gadis kecil yang om bawa ke rumah saya itu sudah menikah. Dan lebih kecewa lagi mengetahui pernikahannya bak neraka, meskipun Kei tetap sabar menjalaninya. Dan ingin terus menjalaninya."


"Setelah saya mengetahui Kei anak om, saya merasa Ini semua seperti sudah di takdirkan om. Takdir yang kembali mempertemukan kami, takdir yang mengarahkan Galang meminta saya untuk menikahi Kei. Takdir yang sesuai dengan keinginan almarhum Papa, yang ingin menyatukan kami."


Galang menyerahkan selembar kertas ke pak Hendrawan, "Ini adalah surat perjanjian saya untuk mereka, maaf om saya membuat surat ini saat belum tahu Kei anak om. Dan sejujurnya perjanjian enam bulan ini hanya untuk mengulur waktu saja om, saya berharap waktu enam bulan ini mampu membuat Kei melupakan Galang, itu makanya saya buat perjanjian juga mereka tidak boleh bertemu dan berkomunikasi selama itu."


"Entah kenapa saat melihat Kei di pulau X satu bulan yang lalu, seperti ada sesuatu dalam diri Kei yang membuat saya ingin melindunginya, menyayanginya. Dan saya baru tahu kemarin alasannya, karena Kei anak yang Papa inginkan sebagai menantunya. Setelah Papa meninggal, saya baru sadar satu-satunya keinginan Papa yang belum saya tunaikan adalah menikahi Kei. Saya sudah berusaha mencari keberadaan om, tapi om sepertinya memang tidak ingin di temukan, karena orang yang paling saya andalkan pun tidak bisa menemukan om."


"Dan sekarang, saya benar-benar ingin menikahi Kei dengan sungguh-sungguh, dengan setulus hati saya. Mungkin Kei menganggap pernikahan ini palsu, tapi tidak bagi saya. Saya akan mengerahkan segenap usaha saya untuk membuat Kei melupakan mantan suaminya."


"Itu sudah berlalu om...."


"Yah kamu benar. Baiklah saya menyetujui pernikahan kalian, tapi dengan satu syarat..."


"Dan apa syaratnya itu om?" tanya Hardhan


"Setelah enam bulan, biarkan Kei yang memutuskan ingin mempertahankan pernikahan kalian atau berpisah."


Hardhan tersenyum kecut, "Harga diri saya bisa jatuh om, kalau saya yang di gugat cerai istri."

__ADS_1


"Itulah satu-satunya syarat kalau kamu ingin terus melanjutkan rencana kalian." tegas pak Hendrawan.


"Baiklah saya akan pikirkan terlebih dahulu. Lusa akan saya kabari lagi."


"Pa... Papa..." gerakan tangan Kei yang menggoyangkan tangan pak Hendrawan membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Kamu tadi tanya apa?"


"Papa melamun saja sih... Papa tahu darimana?"


"Waktu itu papa ngobrol banyak dengannya."


Pak Hendrawan meremas tangan Kei,


"Kei..., Hardhan pria yang baik, memang dari luar terlihat sedikit arogan dan dingin, tapi di dalamnya dia berhati lembut, terutama kepada orang-orang terdekatnya. Kesetiaannya kepada keluarga tidak perlu diragukan lagi Kei. Dia akan menjadi suami yang setia."


"Aku juga dulu memandang Galang seperti itu pa. Di dunia ini tidak ada pria yang setia selain Papa dan Papanya Sonya, selebihnya hanyalah pria berengsek."


"Hardhan pernah selingkuh darimu?" tanya pak Hendrawan khawatir.


"Oh tidak Papa, Hardhan tidak selingkuh, setidaknya aku belum mengetahuinya."


"Tidak adil untuk Hardhan jika kamu berpikir dia selingkuh, jika pada kenyataannya dia tidak pernah selingkuh darimu."


"Yaa, aku tahu. Tetap saja memiliki suami playboy membuatku selalu cemas. Bahkan dia pulang telat saja aku langsung bertanya-tanya, wanita mana yang sedang ia tiduri. Papa, sepertinya aku sudah gila jika menyangkut Hardhan, aku selalu takut dia sekingkuh dariku, dia membuat perasaanku campur aduk, dan aku tidak menyukainya Pa...."


"Tidak menyukai Hardhan atau tidak menyukai perasaanmu?"

__ADS_1


Kei menghela nafas panjang, "Jika bersama Galang aku merasa nyaman, tapi tidak saat bersama Hardhan. Ada perasaan asing yang belum pernah aku rasakan sebelumnya Papa jika bersama Hardhan, aku seperti menaiki roller coaster. Dan aku tidak menyukai perasaan itu, selalu membuatku tidak nyaman."


Papa Kei menyeringai lebar lalu mengusap kepala Kei "Nanti kau akan tahu, kenapa perasaan tidak nyamanmu itu muncul."


__ADS_2