
Kei terbatuk, nafasnya kembali sesak, ia merasa kesal, merasa marah dan merasa kecewa, tapi jauh di atas segalanya, entah kenapa Kei lebih menginginkan pelukan Hardhan yang selalu bisa menenanginya, saat ini ia sangat membutuhkan pelukan itu.
Aku pasti sudah gila, batin Kei.
Kei menatap Hardhan yang terlihat sangat menyedihkan, sangat terpukul, mata Hardhan memerah menahan air matanya, ia tidak pernah menyangka, suaminya yang selalu percaya diri, arogan dan sangat berkuasa itu, bisa terlihat sekacau ini.
Tanpa bisa dicegah, kakinya melangkah pelan ke arah Hardhan, tapi Hardhan langsung menariknya ke dalam pelukannya, dan tangis Kei pecah di dada Hardhan.
"Hiks... Hiks... Seharusnya aku membencimu, Hiks... Tapi aku tidak bisa... Hiks...." isak Kei sambil memukul-mukul dada Hardhan dengan kepalan tangannya.
Tangan kanan Hardhan mengelus kepala Kei, dan tangan kirinya mengelus punggung Kei, lalu mengecup puncak kepala Kei, "Jangan sayang, jangan pernah membenciku... Aku lebih baik berhenti bernafas daripada harus melihatmu membenciku...."
Kei melingkarkan tangannya ke Hardhan,
"Hiks... Aku pasti sudah gila... Hiks... Kamu yang membuatku menderita selama ini, hiks, hiks... Tapi kamu juga yang bisa membuatku nyaman hiks...." kata Kei sesengukan.
"Oh Kei... Terima kasih karena kau sudah memilih menjadi gila... Daripada membenciku." erang Hardhan yang kembali mendapatkan pukulan tangan Kei di dadanya.
"Sempat-sempatnya kamu menggodaku di saat seperti ini...." suntuk Kei membuat Hardhan terkekeh pelan.
Untuk waktu yang lama mereka saling berpelukan, di bawah sinar bulan dan bintang-bintang yang bertaburan di langit, dengan hembusan angin yang membawa keharuman bunga mawar di sekitar mereka.
Setelah Kei kembali tenang, Hardhan menjauhkan Kei sejauh tangannya, menatap Kei dengan penuh cinta, mengeluarkan senyum terbaiknya dengan segala pesonanya, membuat pipi Kei merona merah.
"Kau tambah cantik setelah habis menangis sayang." goda Hardhan lagi membuat Kei cemberut.
"Kamu harus menjelaskan dulu mengenai hubunganmu yang selama itu dengan Karina, baru aku akan memaafkanmu sepenuhnya...."
__ADS_1
Hardhan duduk kembali di bangku, membawa Kei duduk di atas pangkuannya, "Aku bisa duduk di bangku...." protes Kei.
"Begini lebih baik... Aku masih enggan melepasmu. Karina adalah sahabat baik adikku, Anindira. mereka berteman sejak SMP, dan Karina sering main ke rumahku. Anindira berusaha menjodohkanku dengan Karina, katanya Karina sangat menyukaiku. Tentu saja aku menolaknya, di dalam hatiku sudah ada kamu saat itu. Aku lebih menyukai bayangan gadis lima tahun bergigi ompong, daripada gadis cantik teman adikku itu."
Kei merengut lagi, "Jadi aku tidak cantik?"
Hardhan mencium kening Kei, "Tentu saja kau jauh lebih cantik darinya. Ketika Karina SMA, ia lebih giat lagi mendekatiku, dan ia sering ikut adikku berlibur ke Paris, dan menginap di penthouse...."
Kei melotot Ke Hardhan, "Dia tidur di kamar kita?" tanyanya dengan nada jijik.
"Tidak sayang... Satu-satunya wanita yang pernah masuk ke kamarku hanya kamu. Kembali lagi ke Karina, Adikku meninggal saat merayakan sweet seventeennya di salah satu pub di Paris bersama Karina. Ia tertabrak mobil hingga tewas di tempat tepat di depan pub itu."
Kei meremas tangan Hardhan, "Jangan di teruskan sayang kalau itu membuatmu sedih, aku percaya padamu...."
Hardhan menggeleng, "Aku harus menjelaskannya sekarang, aku tidak ingin kau salah paham lagi tentangnya... Kemarin saja sudah membuatku nyaris gila melihatmu semarah itu. Tidak, aku tidak mau merasakan hal mengerikan itu lagi."
"Karina beralasan seseorang menjambret tas Anindira, sehingga adikku itu mengejarnya tapi tidak melihat mobil yang datang dari arah kanannya hingga ia tertabrak."
"Dititik terpurukku Karina selalu datang menghiburku, dia selalu datang ke penthouse dan menemaniku minum, berkali-kali dia merayuku tapi aku selalu menolaknya, aku selalu menganggapnya sebagai adikku. Tapi entah kenapa malam itu dia berhasil merayuku, dan itu menjadi awal hubungan kami."
Kei meringis, "Apa dia masih suci saat itu?" tanya Kei sinis.
"Tidak... Aku bukan yang pertama untuknya. Kei... Hubunganku dan Karina memang terjalin selama delapan tahun... Tapi kami berhubungan hanya sekali itu saja, aku selalu berhasil menolaknya. Dan saat di pulau X itu, seharusnya menjadi hubungan kedua kami, tapi malah kau yang masuk ke kamarku alih-alih dia."
"Aku sempat curiga sewaktu Karina memelas meminta berhubungan sekali lagi mengingat dia akan melanjutkan studynya di Paris, ternyata saat itu ia sedang hamil. Dan kau sayangku, secara tidak sengaja sudah menyelamatkanku dari menjadi ayah anak pria lain."
"Aku mengetahuinya setelah aku menyusulnya ke Paris, dan ternyata dia selama ini menjadi sugar baby salah satu pengusaha ternama di sana, dan pengusaha itu juga hadir di acara adikku."
__ADS_1
"Kei... Alasanku tetap bertahan selama itu dengan Karina adalah karena aku curiga, dia menjadi salah satu penyebab meninggalnya adikku. Aku harus terus mengawasinya, tapi percayalah Kei... Aku hanya sekali saja menyentuhnya."
"Iya aku percaya." kata Kei.
"Aku harus pura-pura bersikap baik di depannya, hanya supaya dia tidak curiga kalau aku sedang melakukan penyelidikan lagi tentang kematian adikku. Aku sengaja mengembangkan bisnisku di Paris, karena semakin banyak aku memiliki relasi di sana, semakin banyak pula yang bisa aku mintai pertolongan."
"Dan masalah pesta itu... Aku sebenarnya mengejarmu ke toilet tapi dia menahanku, dan mengancam akan memberitahumu kalau aku yang sudah memperkosamu. Jadi dia memonopoli waktuku, dan membuat seakan-akan aku mengabaikanmu...."
"Bodoh... Kenapa tidak membiarkan saja dia memberitahuku, daripada membuatku berpikiran buruk tentangmu." suntuk Kei kesal
"Apa kau akan menerima informasi itu dengan baik? Apakah reaksimu akan lebih baik lagi dibanding kau merasa aku mengabaikanmu? Aku merasa serba salah saat itu Kei...."
Kei menggeram kesal, "Benar kata mama... Dia memang wanita ular!!"
"Kau tahu... Karina bekerjasama dengan Carmel dan dua wanita yang bergosip ditoilet. Dan juga mantan suamimu, Galang."
"Galang? Darimana dia mengenal Karina? Dan bagaimana kamu bisa tahu mereka merencanakan semua itu?"
"Aku menugaskan beberapa anak buahku untuk selalu mengawasi Galang, setidaknya selama enam bulan ini. Aku harus benar-benar mencegahnya bertemu denganmu, dan merebutmu kembali dari tanganku. Anak buahku melaporkan pertemuan mereka, lengkap dengan suara percakapannya. Kau bisa mendengarkan rekaman suaranya kalau kau tidak percaya."
"Aku percaya padamu. Apa perjanjian enam bulan itu masih berlaku?"" tanya Kei.
"Aku dengan tegas mengatakan, aku tidak pernah menganggap perjanjian itu ada. Aku membuat itu hanya karena ingin mengikatmu lebih lama denganku, dan aku bertekad membuatmu jatuh cinta padaku sebelum enam bulan."
Kei menyeringai lebar, "Bagaimana kalau selama itu aku tidak jatuh cinta padamu?"
"Aku mungkin akan menculikmu, dan membawamu pergi sejauh mungkin darinya, mungkin kita akan tinggal di luar negeri. Dan aku akan terus mengeluarkan pesonaku hingga kau jatuh cinta padaku...."
__ADS_1
"Kau janji akan melakukan itu?" tanya Kei menggoda.
Tawa Hardhan pecah, "Iya aku berjanji...." jawabnya lalu mencium bibir Kei.