Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Rapuh


__ADS_3

"Berdoa saja semoga janinnya bisa di selamatkan, kalau tidak... Kau bukan hanya kehilangan anakmu, tapi juga istrimu... Kei pasti tidak akan pernah memaafkanmu. Begitu juga mama!!" sahut mamanya.


Hardhan tidak mendengar lagi kelanjutannya, karena handphonenya sudah terlepas dari tangannya, dan nyaris beberapa kali tersandung ketika ia berlari menuju kamarnya.


Tidak... Tidak... Tidak....


Tuhan... Tolong jangan ambil anakku...


Kei... Bertahanlah sayang... kau dan anak-anak kita... batin Hardhan.


Dengan tangan gemetar Hardhan mengambil asal kemeja dan jas serta celana panjang dari lemari bajunya. Setelah selesai dan mengenakan sepatunya ia langsung turun lagi ke bawah, Alex sudah ada di sana.


"Kau urus masalah di sini... Saya pulang sekarang Kei pendarahan..." dengan tatapan terpukul Hardhan bergerak semakin dekat ke Alex,


"Aku mau kau atur beberapa orang di tahanan, yang akan terus menyiksa Karina secara fisik dan mental, terus lakukan sampai wanita sialan itu merasa frustasi dan membunuh dirinya sendiri!!!" desis Hardhan dengan nada kejam.


Alex mengangguk mengerti, "Baik boss."


"Ganti semua password di sini, tambahkan dengan fingerprint!" seru Hardhan lalu bergegas keluar dari penthousenya menuju bandara.


Setelah melalui perjalanan yang sangat menyiksanya, akhirnya Hardhan sampai di ruang presidential suite tempat Kei di rawat keesokan siangnya. Badannya sudah terasa lelah sekali, seakan seluruh tenaganya sudah terserap habis.


Seperti setengah sadar Hardhan memasuki ruang presidential suite ini, mengabaikan sapaan para pengawalnya yang berjaga di depan ruangan, ia langsung masuk dan menuju kamar utama.


Nafasnya terasa tersedot keluar, dadanya terasa berat dan hatinya seakan diremas dengan begitu kuat hingga terasa sangat menyakitkan, ketika melihat Kei terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur dengan mata yang terpejam rapat. Kei terlihat begitu rapuh, begitu ringkih.


Dengan langkah yang terasa berat, Hardhan menghampiri tempat tidur, tidak mempedulikan mama, pak Hendrawan dan dokter Sam yang sedang berada di sana.


"Hardhan..." panggil mamanya, Hardhan mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar mama tidak mengganggunya.


Hardhan menarik kursi ke sisi tempat tidur, lalu duduk sambil meremas tangan Kei.


"Bagaimana keadaannya Sam?" tanya Hardhan lirih, matanya tidak beralih sedikitpun dari wajah Kei.

__ADS_1


"Stress psikis yang menyebabkan Kei pendarahan, tapi untungnya hanya sedikit, dan tidak membahayakan kandungannya."


Hardhan menghembuskan nafas lega,


Terima kasih Tuhan.... Terima kasih.


"Hanya saja..." gumam dokter Sam ragu-ragu.


"Hanya saja apa?" desak Hardhan.


"Kei mudah trauma, dan kejadian kemarin menyebabkan trauma psikis. Membuat Kei merasa lebih aman berada di alam bawah sadarnya, daripada melihat hal yang membuatnya sakit ketika ia membuka matanya." jelas Sam.


"Jadi Kei belum sadar dari kemarin?"


"Kata Sam, walaupun Kei dalam keadaan tidak sadar, tetapi ia masih bisa mendengar kita. Jadi mama dan pak Hendrawan sudah berusaha bicara dengannya, bahkan mama memutar video yang di kirim madame Agathe untuk meyakinkannya kalau semua tidak sesuai dengan yang di katakan wanita ular itu. Tapi Kei tetap belum sadar juga." sahut mama sambil terisak.


Hardhan merebahkan kepalanya di atas tangan Kei, badannya bergetar karena isakan tangisannya.


Aku selalu membuatmu trauma Kei...


Mama menghampiri Hardhan, tangannya menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menenangkannya.


"Tolong tinggalkan kami..." pinta Hardhan.


Mereka saling tatap, sebelum akhirnya dokter Sam mengangguk, dan beranjak keluar kamar.


Setelah mereka pergi, Hardhan berdiri dan menyibak selimut Kei, setelah melepas sepatunya ia merebahkan diri di samping Kei kemudian menarik kembali selimut itu sampai batas pinggangnya.


Hardhan berbaring miring memeluk Kei, kepalanya di sandarkan di bahu Kei, seakan-akan ia yang membutuhkan kekuatan dari Kei bukan sebaliknya. "Sayang... Aku sudah pulang. Kau memintaku pulang hari ini dan sekarang aku sudah di sini... Aku akan menjagamu... Aku akan melindungimu dan anak kita. Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, aku akan selalu membawamu kemanapun aku pergi, walaupun harus mendorongmu dengan kursi roda." bisik Hardhan lirih.


"Kau menungguku kan? Kau baru merasa nyaman jika bersamaku kan? Kau kan selalu kuat jika bersamaku... Dan aku melemah tanpamu. Kita saling membutuhkan sayang, kita saling menguatkan. Tolong bangunlah dan lihat aku... Aku tidak berbohong ketika aku mengatakan lemah, saat ini aku benar-benar selemah anak kucing sayang, aku membutuhkanmu... Aku membutuhkan belaianmu... Aku membutuhkan pelukan hangatmu..." isak Hardhan.


"Sayang... Jangan menyiksaku dengan terus seperti ini... Aku pernah bersumpah tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita. Aku sudah bersumpah aku akan selalu setia, dan seharusnya kau percaya kata-kataku itu, bukan perkataan orang lain. Kau menyakitiku ketika kau tidak mempercayaiku. Kau harus tahu itu."

__ADS_1


"Sayang... Wanita yang menyakitimu itu sudah aku bereskan... Dia tidak akan bisa mengganggumu lagi. Bangunlah... Kau tidak ingin melewatkan kesempatan melihat wanita itu mati kan? Ah, kau pasti akan bersikap seperti biasanya, merasa kasihan terhadap orang yang sudah menyakitimu. Tapi kali ini aku tidak akan menurutimu, aku akan memastikan wanita sialan itu tidak ada lagi di dunia ini."


Hardhan meletakkan telapak tangannya di atas perut Kei, lalu mengusapnya lembut dengan gerakan memutar. "Nak... Tolong bilang Mommy... Papi rindu... Papi sangat merindukan Mommy, Papi sangat membutuhkan Mommy..."


**********


Kei terbangun karena hembusan hawa panas di bahu kanannya, pelan-pelan ia membuka matanya, lalu mendapati Hardhan tertidur di sebelahnya dan bersandar pada bahunya, hembusan hawa panas itu keluar dari hidung suaminya.


Kei memegang pipi Hardhan dengan tangan kirinya yang terpasang infus, berniat membangunkannya, tapi ia malah kaget ketika telapak tangannya terasa panas. Ya Tuhan..., dia sakit.


"Hardhan... Bangun sayang... Badanmu panas sekali..." seru Kei sambil menepuk-nepuk pipi Hardhan.


Kelopak mata Hardhan bergerak-gerak sebelum akhirnya membuka, "Sayang... Akhirnya kau sadar juga..." serunya sambil bangun dan duduk bersila menghadap Kei. Tangan Hardhan meraih telapak tangan Kei, lalu menciumi punggung tangannya.


"Terima kasih Tuhan.... Terima kasih...."


Kei berusaha duduk, Hardhan membantunya kemudian meninggikan bantal untuk Kei bersandar, "Aku haus..."


"Aku ambilkan minum ya..." seru Hardhan lalu beranjak ke dispenser, kemudian membawa segelas air hangat dan menyerahkannya ke Kei, dan Kei langsung meminumnya, lalu menyerahkan gelas kosong ke Hardhan, yang di letakkan Hardhan di meja nakas.


Kei menangkup pipi Hardhan, "Kamu sakit? badanmu panas sekali Hardhan..." tanya Kei khawatir.


"Aku tidak apa-apa, yang terpenting sekarang adalah kau dan anak kita..." jawab Hardhan sambil tersenyum lebar.


"Jangan konyol... Kamu sudah tidak enak badan kan saat tiba di Paris kemarin? Kenapa memaksa pulang ke sini kalau sedang sakit? Harusnya kamu pulihkan diri dulu di sana." cecar Kei.


Hardhan hanya menjawab dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Yaahh... Kamu pasti panik..." Kei mendesah panjang sebelum akhirnya melanjutkan


"Seharusnya aku marah padamu, tapi rasa marahku kalah dengan rasa khawatirku karena kamu sakit."


Hardhan meremas tangan Kei, menatap penuh wajah istrinya, "Kamu masih belum percaya sepenuhnya padaku kan?" tanya Hardhan muram.

__ADS_1


"Siapa yang akan percaya jika kelihatannya seperti nyata, kau benar-benar sedang renang, baju yang berserakan, bajunya yang sobek..." Kei tidak sanggup meneruskan, ia mendongakkan kepalanya berusaha menahan air mata yang sudah mulai menggenang di matanya. Lalu mengalihkan perhatiannya ke masalah lain.


"Alex... Dokter Sam... Siapapun di sana tolong ke sini sekarang!!" teriak Kei.


__ADS_2