Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Hardhan Murka


__ADS_3

Hardhan langsung bergegas pulang, ketika Alex memberitahunya isi chat madame Agathe, beserta rekaman suara yang dikirim madame ke Alex.


Hardhan tidak pernah merasa semarah ini, hingga mengubur Karina hidup-hidup pun juga belum tentu mampu menghilangkan rasa amarahnya. Setiap kali Hardhan mengulang rekaman percakapan itu, setiap kali pula Hardhan ingin membunuh wanita itu.


Dan lagi apa-apaan tahi lalat di belalainya, Hardhan bahkan tidak tahu dia memiliki tahi lalat di tempat pribadinya itu. Kei pasti tidak akan percaya kalau Hardhan hanya sekali bercinta dengan Karina, apalagi mendengar kebohongan-kebohongan yang dengan lancarnya mengalir keluar dari mulut Karina sialan itu.


Hardhan harus segera sampai ke penthouse, lalu menghajar dan mengusir Karina di depannya, supaya tidak ada keraguan lagi di dalam diri Kei, bahwa Karina tidak berarti apapun untuk Hardhan.


"Kenapa lama sekali sampainya!!" teriak Hardhan.


"Kendaraan sedang padat boss." jawab Alex


"Kau sudah periksa lokasi Kei?"


"Sudah boss, lokasinya masih di penthouse."


Hardhan menghela nafas lega, setidaknya Kei tidak bertindak nekat dengan keluar dari penthouse.


"Sudah ada kabar lagi dari madame Agathe?" tanya Hardhan lagi.


"Tidak ada boss."


"Hubungi pengawal Kei, awasi sekitar dengan ketat, jangan sampai Kei keluar dari apartment."


"Baik boss. Nona Kei tidak akan bertindak ceroboh jika ada Sonya bersamanya." hibur Alex berusaha menenangkan hati boss nya.


"Yah kau benar, untung saja Sonya tidak ikut kita hari ini... Lex, sudah sampai mana penyelidikan kecelakaan yang menyebabkan kematian Anindira?"


"Kita hanya tinggal menunggu hasil autopsi nona Anindira yang sebenarnya boss. Detektif swasta yang kita sewa masih terus menyelidikinya. Sesuai dugaan anda, sepertinya ada tangan-tangan berkuasa yang sengaja menutupi kasus ini. Tapi para saksi yang berada di tempat kejadian, bersedia memberikan kesaksiannya nanti di pengadilan. Dan monsieur Gerard bersedia memberikan perlindungan untuk para saksi tersebut."


"Seharusnya ini masalah mudah, kalau saja mama mengizinkan jenazah Anindira di autopsi ulang. Entah kenapa Mama tidak ingin melanjutkan penyelidikan ini." desah Hardhan, "Saya ingin segera menyingkirkan Karina, dan menjauhkannya dari Kei. Saya tidak akan tahan melihat Kei terus tersakiti seperti ini, dia bisa saja salah paham lagi nanti. Saya tidak ingin menghadapi amarahnya lagi."


"Saya mengerti boss."


Mobil sampai di depan lobby apartment, dan Hardhan sudah membuka pintu mobil dan melompat turun, bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti. Dengan setengah berlari Hardhan masuk ke dalam di susul Alex dan dua pengawal lainnya.


"Lex suruh Upin Ipin itu ikut kita ke atas." perintah Hardhan.


"Upin Ipin?" tanya Alex bingung.

__ADS_1


"Itu mereka, dua pengawal yang kau tugaskan untuk menjaga Kei."


"Oh, Dean dan Paul?"


"Siapapun namanya, nama yang dipanggil Kei lah nama yang sebenarnya...."


"Baik boss."


Alex langsung memberikan kode kepada Upin dan Ipin untuk ikut ke atas. Dan mereka langsung mengekor di belakang Hardhan.


Ketika Alex membuka pintu untuk Hardhan, Karina langsung berlari menghampiri Hardhan, "Hardhan sayang...." sapanya sambil merentangkan tangan ingin memeluknya, tapi Hardhan langsung mendorongnya hingga terjatuh.


Tanpa menghiraukan Karina yang sedang kaget dengan sikap kasarnya, Hardhan memandang sekelilingnya mencari sosok istrinya, lalu Hardhan mendekati madame Agathe yang terlihat puas melihat Karina jatuh.


"Dimana Kei madame?" desak Hardhan.


"Madam Kei keluar dari penthouse ini monsier, bersama mademoiselle Sonya. Madame terlihat sangat terpukul dan sedih hingga ia berniat untuk menenangkan diri." jelas madame Agathe dengan sebersit rasa sesal.


"Apa?!" tanya Hardhan tidak percaya, lalu menatap Alex tajam, "Katamu Kei ada di penthouse?!!" teriaknya.


Alex membuka ponsel pintarnya, sekali lagi mengecek lokasi "Lokasinya di kamar boss."


Sesuai dugaannya kamar kosong, dan madame Agathe benar Kei sudah keluar dari penthouse ini, dan meninggalkan handphonennya di atas tempat tidur. Hardhan mengambil handphone itu dan melemparnya ke dinding kamar, menyebabkan suara berisik yang terdengar sampai ke lantai bawah.


"Arrrggghhh.... Siaaalll!!!!!" teriak Hardhan.


Hardhan bergegas keluar kamar, membanting pintu kamarnya sekencang mungkin, membuat kaca-kaca ikut bergetar, lalu kembali menuruni anak tangga, bahkan sejak kecilpun dia tidak pernah menuruni tangga secepat hari ini.


"Alex... Gantung Karina sekarang juga!!!!!" teriak Hardhan murka, suaranya laksana petir, menggelegar di seluruh ruangan, membuat Karina langsung jatuh pingsan.


"mon dieu!" pekik madame Agathe, wajahnya memucat, begitu juga dengan Upin dan Ipin, Sudah pasti mereka takut Hardhan akan murka juga pada mereka, karena tidak mengetahui Kei sudah meninggalkan penthouse ini.


"Dia pingsan boss."


"Siram dia dengan air!!"


Upin bergegas mengambil air dari dapur, dan langsung menyiramnya ke wajah Karina, membuat Karina kaget dan langsung tersadar sepenuhnya, dia terbatuk-batuk karena sebagian air yang masuk ke dalam hidungnya.


"Hardhan..."

__ADS_1


"Diam kau!!" potong Hardhan dengan tatapan bengis, membuat Karina mengkerut ketakutan.


"Tunggu apa lagi Lex?! Cepat eksekusi dia!!"


"Baik boss."


Alex meminta dua pengawal Hardhan lainnya untuk menahan tangan Karina, yang terus memberontak berusaha melepaskan diri.


"Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini Hardhan... Kau mencintaiku kan? Kalau tidak untuk apa kau bertahan denganku selama delapan tahun ini!"


Hardhan ingin memberitahu alasannya, tapi ia melihat Alex menggeleng, melarangnya. Alex benar, tidak butuh waktu lama lagi, semua kejahatan Karina akan terbongkar.


Untuk apa ia memberikan kematian yang cepat untuk Karina, jika Hardhan bisa membuatnya lebih tersiksa lagi dengan hukuman penjara seumur hidup.


"Kau tidak bisa menjawabku kan? Berarti aku benar, kau memang mencintaiku...."


Dengan tatapan membunuh, Hardhan menghampiri Karina "Dari sekian banyak wanita yang pernah bersamaku... Kau lah yang paling menjijikan!!" desis Hardhan.


"Tetap saja aku wanitamu yang terlama...."


Hardhan meletakkan tangannya di leher Karina dan mencekiknya "Aku tidak tahu apa yang kau masukkan ke dalam minumanku hingga aku mau bercinta denganmu!! Itulah satu-satunya kebodohan yang pernah kubuat!! Dan sekarang kau sudah menyakiti satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini!!! Aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri!!" geram Hardhan dengan suara yang terdengar menyeramkan, mengalahkan binatang buas sekalipun. Karina megap-megap berusaha menarik oksigen ke paru-parunya.


"Boss." suara Alex kembali menyadarkan Hardhan, dengan kesal ia menjauhkan tangannya dari leher Karina, yang sekarang terbatuk-batuk.


"Seret dia keluar!!!" perintah Hardhan, kedua pengawal itu langsung membawa Karina keluar.


Tatapan Hardhan yang menusuk beralih dari Karina Ke Upin dan Ipin, "Bagaimana kalian bisa tidak melihat Kei keluar?!"


"Sepertinya tadi nona Sonya sengaja mengalihkan perhatian kami boss, karena setelah bicara dengan kami, nona Sonya langsung keluar apartment, katanya ingin menyusul boss dan pak Alex." Ipin menjelaskan kronologinya.


"Madame... Apa Kei memakai jam tangannya?" tanya Hardhan.


"Oui monsieur Hardhan, madame memakainya."


"Tapi kita tidak bisa mengecek lokasinya boss kalau nona Kei tidak menekan tombol daruratnya."


Hardhan mondar mandir dengan berbagai bayangan yang berkecamuk di dalam pikirannya, memikirkan keselamatan istrinya. Hardhan mengacak-ngacak rambutnya dan mengerang frustasi "Aarrgghhh... Wanita ini benar-benar membuatku gila!!"


Bagaimana Readers....

__ADS_1


Lanjut Up jangan??😁


__ADS_2