
Hari ini supermarket tidak terlalu ramai, sehingga Kei dan mama lebih leluasa berbelanja. Mama sedang memilah buah apel ketika Hardhan menelepon Kei.
"Sedang apa sayang? tanyanya.
"Belanja bulanan nih sama mama...."
"Kenapa tidak menyuruh bi Ijah saja sih? nanti kau lelah sayang."
"Tidak apa-apa Hardhan, aku iseng juga di rumah."
"Benar kau tidak lelah?" tanya Hardhan lagi.
"Iya sayang, kamu sudah makan?"
"Belum... Bagaimana kalau kita makan diluar, sekalian sama mama." usul Hardhan.
"Hmmm ya boleh... Dimana?"
"Kau cari tempat saja di sekitar sana, nanti aku dan Alex nyusul."
"Ajak Sonya yaa...." pinta Kei.
"Baiklah sayang... Ya sudah lanjut belanja lagi jangan lupa beli vitamin untuk menambah stamina ya."
"Vitamin? Kamu sakit?" tanya Kei khawatir.
Hardhan tertawa pelan, "Untukmu sayang, persiapan bulan madu kedua kita di Paris nanti, supaya kau tidak cepat lelah."
"Apaan sih... Sudah ah aku mau lanjut belanja." gerutu Kei lalu mematikan sambunga teleponnya.
"Siapa? Anak nakal itu?" tanya mama.
Kei mengangguk, lalu melihat trolley belanja yang sedang di dorong Upin, "Banyak sekali apelnya ma...."
"Hardhan sangat menyukai apel sayang."
"Oh... Nanti aku buatkan apple pie yaa untuk mama dan Hardhan."
"Wah... Tawaran yang menggiurkan, sudah pasti mama tidak akan menolaknya...."
Kei tertawa lebar "Oh iya ma, nanti sebelum pulang ke rumah, Hardhan ngajak kita makan siang bareng."
"Anak itu... Bilang saja dia mau bertemu denganmu. Dia sudah tergila-gila padamu Kei. Dia seperti celeng bergairah jika berada di dekatmu." goda mama membuat wajah Kei merona merah.
"Mama... Hardhan tidak seperti itu...." elak Kei tapi tidak bisa menahan tawanya. Perbandingan Hardhan dengan celeng jauh sekali.
__ADS_1
"Kau tertawa, berarti kau setuju dengan mama."
Kei berhenti di bagian obat-obatan, matanya mencari-cari vitamin yang diminta Hardhan tadi, lalu meletakkan di trolley belanjaannya.
Selesai menyelesaikan pembayaran di kasir, Kei meminta Upin dan Ipin memindahkan belanjaannya ke dalam mobil, sementara Kei dan mama berkeliling di mall ini.
"Sekarang masih jam 11 Kei... Bagaimana kalau kita ke salon dulu...." usul mama.
"Ide bagus ma... Yuk...." jawab Kei penuh semangat, sudah lama ia tidak ke salon, setidaknya salon yang berada di mall. Rasanya beda saja dengan salon pribadi di rumah Hardhan.
"Keilani...." sapa seseorang di belakangnya, Kei langsung balik badan ke arah orang itu, yang ternyata Inge dan mamanya Galang.
"Inge... Mama.. ." sapa Kei.
"Jangan panggil saya mama lagi, kamu sudah bukan menantuku lagi...." geram mamanya Galang.
"Siapa mereka Kei?" tanya mama.
Kei canggung untuk menjawabnya, mama memang tahu Kei pernah menikah sebelumnya, tapi tetap saja menyebut mantan mertua dan istri kedua mantan suaminya sepertinya kurang enak di dengar.
"Mereka...."
"Dia mantan menantuku." potong mama Galang,
"Anakku menceraikannya karena dia mandul. Sepertinya kau belum hamil juga Kei... Kau lihat ini...." mantan mertuanya mengelus perut Inge yang membesar "Seminggu lagi cucuku akan lahir." katanya bangga.
"Ma... Sudahlah...." Kei menenangkannya.
"Memang dia mandul... Dua tahun dengan anakku tapi tidak hamil-hamil, lihat menantuku yang sekarang ini... Sekali saja sudah langsung sukses."
"Cih... Kau bangga memamerkan cucu hasil perzinahan." ledek mama, membuat mantan mertuanya emosi dan ingin menampar mama, tapi Kei menahan tangan mantan mertuanya.
"Mama cari mati kalau sampai menampar mertuaku...." cegah Kei.
Tamparan keras Inge mendarat di pipi kiri Kei
"Beraninya lo ngancam mertua gue!!"
Kei melepas tangan mantan mertuanya, kemudian memegang pipinya yang sakit, lalu menampar balik Inge, membuat Inge terbelalak kaget karena tidak menyangka Kei akan membalasnya.
"Kalian yang mulai ya!!!" seru Kei kesal.
Inge hendak menyerang Kei lagi, tapi Upin Ipin yang baru sampai langsung menahannya. Tadi Kei melihat Upin Ipin berlari sekencang mungkin kearahnya. Muka mereka pucat, mungkin takut Hardhan akan memarahi mereka, karena tidak menjaga Kei dengan baik. Nanti Kei akan bicara ke Hardhan kalau Upin Ipin tidak salah.
"Bawa mereka ke kantor polisi... Saya akan menuntutnya atas pencemaran nama baik...." perintah mama.
__ADS_1
"Siapa yang mencemarkan nama baik?!" tanya Inge kesal.
Mama menatap Inge dan mantan mertua Kei bergantian "Kalian punya bukti yang menerangkan bahwa menantu saya ini mandul?" tanya mama.
"Tidak perlu bukti, dia bukti nyatanya dua tahun tidak bisa hamil." elak mama mertuanya.
"Berarti tuduhan kalian tidak berdasarkan bukti yang menguatkan, dan itu termasuk fitnah. Saya pastikan anak saya akan menuntut kalian!" ancam mama.
Dengan anggukan kepalanya, mama memerintah Upin dan Ipin untuk membawa mereka.
"Ma kasihan Inge lagi hamil, Ma...."
Mama melihat pipi Kei yang memerah bekas telapak tangan Inge "Kau masih merasa kasihan dengan wanita yang tidak punya sopan santun itu... Dia sudah menamparmu Kei, dan mama tidak terima mereka menghina kamu seperti itu."
"Tapi Ma...."
"Sudah jangan tapi-tapi... Sekarang mari kita cari restaurant untuk makan siang, nanti keburu Hardhan datang."
"Ma jangan bilang Hardhan yaa tadi Inge menamparku...." pinta Kei ketika mereka sudah duduk di dalam restaurant.
"Sebelum mama bilangpun Hardhan pasti sudah melihatnya Kei... Pipi kirimu terlihat jelas memerah."
Kei mengambil compact powder dari dalam tasnya, mencoba menutupi pipi kirinya yang memerah, tapi sia-sia. Kei memasukkan lagi compact powder itu ke dalam tasnya sambil mendesah.
"Aku kasihan sama Upin dan Ipin ma. Dia pasti kena marah Hardhan nanti."
"Kau selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu dari dirimu sendiri Kei. Sekarang kamu pikirkan dulu, cara menutupi pipi kirimu itu."
Mama menukar posisi, menyuruhku duduk di pojok dekat jendela "Lebih baik kamu duduk di sana, pipi kirimu dekat jendela, mama akan duduk di depanmu supaya Hardhan nanti duduk di sampingmu, jadi dia hanya bisa melihat pipi kananmu saja."
Kei menarik nafas lega, tidak menyangka ide mama begitu brilliant.
Pesanan sudah hampir semuanya tersaji di atas meja ketika Hardhan, Alex dan Sonya datang. Ada ketegangan yang sama di wajah ketiga orang itu.
Jantung Kei berdegup kencang ketika dengan langkah panjang Hardhan menghampiri mejanya dan duduk di sebelahnya, lalu meraih dagunya, membawa wajah Kei sepenuhnya menatap wajah Hardhan, lalu mengelus pipi Kei yang memerah.
"Kau pintar mama, menempatkan dirimu duduk di depan Kei, supaya aku tidak dapat melihatnya ya?"
Perut Kei terasa mencelos, ternyata Hardhan sudah mengetahuinya, "Jangan salahkan Mama... Aku yang memintanya."
"Sakit?" tanya Hardhan lembut.
Kei menggeleng, lalu menyeringai lebar,
"Aku membalasnya dengan lebih keras lagi."
__ADS_1
"Anak pintar...." kata Hardhan sambil menepuk-nepuk kepala Kei "Tapi aku juga akan membalasnya... Seribu kali lipat!!" lanjut Hardhan penuh tekad.