
Hardhan mendekatkan wajahnya ke perut Kei, "Hei broo... Kami tidak sabar menantikanmu..."
Kei terkikik geli, "Bagaimana kamu bisa tahu anak kita laki-laki?"
Hardhan menyeringai lebar, "Feelingku saja sebagai Papinya..."
"Bro and sist..." Kei ikut menerka-nerka.
"Nah... Itu lebih bagus lagi... Hardhan dan Kei versi kecil hadir secara bersamaan..." seru Hardhan.
"Kamu sudah menyiapkan nama untuk anak-anak kita sayang?" tanya Kei.
Hardhan duduk di lantai, "Hmmm, aku akan memberi nama setelah anak kita lahir nanti...." jawabnya.
"Sayang... Aku ingin makan seafood..." rengek Kei tiba-tiba.
"Seafood? Oh akan aku minta Alex membelinya untukmu yaa... Kamu mau ikan bakar, cumi... atau apa?"
Kei menggeleng, "Aku mau makan seafood yang di pinggir pantai... Sambil melihat matahari terbenam..."
"Oh aku tahu tempatnya yang paling terkenal di pulau ini, tapii..." Hardhan melirik sekilas jam tangannya kemudian kembali menatap Kei,
"Ini sudah jam empat lewat... Tempat itu pasti sudah penuh..." lanjutnya, tapi melihat wajah Kei yang memberengut membuatnya langsung menekan tombol jam tangannya.
"Yaa boss." sapa Alex.
"Pesan tempat di kafe seafood pinggir pantai, saya tahu sekarang sudah telat, tapi saya tidak mau tahu kau harus bisa mendapatkan kursi untuk kita dan juga anak buah kita yang lainnya, semuanya harus bisa berkumpul di sana..." perintah Hardhan.
"Baik boss." jawab Alex.
"Nah... Sekarang kau bersiap-siaplah sayang, kita langsung ke sana sekarang..." ujar Hardhan lembut, kemudian membantu Kei duduk.
"Bagaimana kalau ternyata benar-benar sudah penuh, dan Alex tidak mendapatkan kursi untuk kita..." tanya Kei, nada skeptis dalam suaranya membuat Hardhan menggelengkan kepalanya.
"Kau harus percaya dengan kemampuan Alex dalam bekerja sayang..."
__ADS_1
"Oh aku tidak meragukannya, sebagai bukti nyata, dia bisa menikahi sahabatku secara diam-diam... Kau bahkan sampai kecolongan... Hebat kan?" sindir Kei, ia masih merasa kesal dengan pernikahan diam-diam Sonya dan Alex.
"Nah... Kau mulai emosi lagi. Sekarang lekas ganti pakaianmu, Alex akan menjelaskannya di depan semua orang-orang kita sore ini..."
"Aku mau kamu memilihkan baju untukku..." pinta Kei dengan suara manja.
"Baiklah nyonya..." jawab Hardhan, ia langsung membopong Kei dan membawanya ke ruang ganti, kemudian mendudukkannya di kursi meja rias.
Hardhan membuka lemari pakaian, Lalu sambil tersenyum usil mengeluarkan lingerie dan memperlihatkannya ke Kei, "Bagaimana kalau ini?"
"Apa kamu sudah gila?" pekik Kei sambil menahan tawanya.
Hardhan mengembalikan lingerie itu ke tempat semula, lalu mengeluarkan mini dress seatas lutut warna pastel dengan motif floral, "Bagaimana dengan yang ini?" tanyanya lagi.
"Nah yang itu lebih baik..." jawab Kei.
**********
Di sepanjang pantai ini terdapat puluhan restaurant yang menjajakan olahan seafood. Hardhan benar Alex memang bisa di andalkan, dia berhasil memesan tempat yang cukup strategis.
Tapi Kei belum mau makan, ia meminta Hardhan untuk menemaninya jalan santai, menyusuri pantai indah ini, Sambil menenteng sepatu sandal di tangan kirinya, Kei membiarkan deburan ombak membasahi kaki telanjangnya, sementara tangan kanannya berada di dalam genggaman Hardhan.
"Dan ini pertama kalinya aku menyusuri pantai sambil bergandengan tangan dengan seorang wanita... Apalagi wanita itu adalah istriku tercinta..." aku Hardhan lembut, lalu terkekeh pelan sebelum melanjutkan,
"Sebelumnya aku selalu menganggap konyol pasangan-pasangan yang jalan saling bergandengan tangan di pinggir pantai, dan sekarang aku baru merasakannya, ternyata hal sesederhana ini saja sudah membuatku bahagia..."
"Kamu mau menjanjikan sesuatu untukku sayang?" tanya Kei.
Hardhan menghentikan langkahnya, lalu memegang pundak Kei dan menatap serius wajahnya, "Menjanjikan apa sayang?"
"Aku mau sedikitnya dua kali dalam setahun kita mengajak anak-anak kita bermain di pantai... Mengenalkan mereka pada keindahan alam sejak dini. Saat pikiran mereka masih penasaran dengan keindahan dunia di sekitar mereka." pinta Kei.
"Sudah pasti aku akan menyetujuinya sayang..., Bagaimanapun juga anak-anak belajar lebih efektif dengan menggunakan panca indra mereka, dan alam memberikan kesempatan tak terbatas untuk itu..."
Hardhan mengambil alih sepatu sandal dari tangan Kei ke tangannya, lalu kembali menggandeng Kei dengan tangan lainnya, dan melanjutkan jalan santai mereka. Sampai mereka melihat Talita melambaikan tangan ke mereka, meminta mereka bergabung dengan yang lain.
__ADS_1
"Sepertinya Alex sudah akan mengumumkan berita pernikahannya, apa kau mau mendengarnya?" tanya Hardhan.
"Sudah pasti aku mau mendengarnya, inilah yang aku tunggu-tunggu sampai hampir membuat kepalaku mau pecah karena memikirkannya!" geram Kei sambil melihat Alex dan Sonya yang sudah berdiri bersisian.
Beberapa meja sudah di gabung menjadi satu, hingga memanjang dan cukup untuk seluruh anak buah Hardhan yang ikut ke pulau X ini. Kei duduk di sebelah Hardhan, matanya tidak pernah lepas dari pasangan suami istri aneh itu di depannya.
Sonya tampak cemberut, sementara Alex terlihat sedikit gelisah. Baru kali ini ia melihat Alex grogi seperti itu, terlihat seperti manusia pada umumnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan Lex?" pancing Hardhan dengan sebelah alis yang di naikkan, setelah beberapa saat hanya ada kesunyian.
"Kami sudah menikah." kata Alex singkat.
Tangan Kei semakin gatal ingin mencekik makhluk datar itu, "Kami siapa?" desaknya tidak sabar. Matanya bertemu mata Sonya, yang sedang menatapnya dengan perasaan bersalah.
Sorry, kata Sonya tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya saja.
I will kill you, balas Kei tanpa suara juga sambil melotot galak.
"Saya dan Sonya sudah menikah." aku Alex, suasana langsung riuh dengan sorakan bahagia dan berbagai tanggapan dari anak buahnya secara bersamaan.
Dengan serentak seperti sepasukan tentara yang sedang berbaris, mereka bergantian menyalami Alex dan Sonya. Hingga hanya tersisa Kei, Hardhan dan Talita yang masih tetap duduk di tempatnya masing-masing.
Kei menatap Talita, wanita itu hanya terdiam, dan matanya terlihat kosong saat menatap Alex, mungkin ia merasa syok dengan berita yang baru saja di dengarnya itu. Kei jadi merasa kasihan melihat Talita seperti itu.
Tapi Kei juga tidak akan membiarkan kalau Talita masih terus mendekati dan mencari perhatian Alex. Kei akan meminta Hardhan untuk berbicara pada Alex, supaya Alex bisa bersikap tegas dengan Talita, dan menjauhinya.
Sonya duduk di samping Kei, tangannya langsung meremas tangan Kei, "Kei... Kamu jangan marah yaa..." katanya memelas.
Kei langsung menarik tangannya, "Kamu punya banyak kesempatan untuk memberitahuku Nyaaa, tapi kamu tidak pernah sekalipun memberitahuku!"
Bukannya Kei sudah berniat ingin mencekik Sonya ketika ia memberitahukan pernikahannya, tapi alih-alih mencekiknya, Kei malah memeluk sahabatnya itu.
"Maaf...." Desah Sonya lirih.
"Aku seharusnya mencekikmu... Atau menggantungmu bersama Jailangkung itu di pohon beringin... Tapi alasan kamu menikah itu yang membuatku mampu memaafkanmu... Tapi tetap saja aku marah karena kamu tak kunjung juga memberitahuku!" gerutu Kei.
__ADS_1
Sonya berubah santai di dalam pelulan Kei, lalu menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat sahabatnya, "Aku tidak mau membuat kamu khawatir Kei, mengingat kamu sedang mengandung..."
Kei kembali memeluk Sonya, "Oh dear, malangnya dirimu terikat dengan pria dingin itu..."