Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Hari Pernikahan #2


__ADS_3

"Gak nyangka aku sumpah... Yang nikahin kamu itu big bossku ternyata!" seru sonya masih terus mengarahkan pandangannya ke Hardhan yang sedang berbicara dengan empat pria yang sedang mengelilinginya.


Hardhan berdiri dengan pose santai, tangan kiri dimasukkan ke saku celana panjangnya, dan segelas minuman di tangan kanannya. Tampak sesekali terdengar suara tawa dari mereka.


"Terus?" tanya Kei mengalihkan pandangannya dari Hardhan ke buket bunga ditangannya.


"Gila.. Tiga tahun aku kerja baru hari ini aku bisa lihat pak Hardhan langsung, semua berkat kamu Kei hehe." Sonya menepuk-nepuk punggung Kei.


"Lebay ahh."


"Kamu tahu apa yang jadi topik utama karyawan wanita dikantorku? Semua tentang pak Hardhan, mereka mendeskripsikan sosok pak Hardhan dengan sangat jelas, sampai-sampai aku merasa sosoknya itu benar-benar ada di depan mataku... Tapi ternyata aslinya jauh lebih ganteng, macho boo...." goda Sonya sambil menyenggol bahu Kei dengan bahunya.


"Ganteng tapi playboy buat apa? makan hati yang ada." gerutu Kei sambil cemberut.


"Dia playboy kawakan, yang mungkin langsung setia ketika sudah menikah, dibanding Galang playboy amatiran, sudah nikah baru jadi playboy, cih!."


Kei langsung tersenyum lebar mendengar perbandingan itu.


"Sahabatku yang baik hati... Seorang playboy tetaplah playboy, yang tidak akan pernah puas hanya dengan satu wanita, dan playboy kawakan yang kamu bilang itu... Dia bahkan lebih parah lagi, wanitanya tidak ada yang bertahan lebih dari dua minggu... Dua minggu!!"


"Yaa mungkin akan terus seperti itu, sampai dia jatuh cinta...." gumam Sonya.


"Kebanyakan nonton drakor jadi begini nih...."


ledek Kei.


"Aku tahu sewaktu kita ngerayain ulang tahun aku di pulau X waktu itu kamu lumayan tertarik kan sama dia?"


"Iiihh sok tau...." elak Kei sambil tersenyum lebar.


"Dan kamu bahkan sengaja berenang di depannya."


"Hahaha... Itu tidak termasuk hitungan ketika otakku sedang tidak bekerja dengan baik."


Sonya tahu pasti saat itu Kei bertingkah tidak seperti biasanya, dia mondar mandir hanya di satu area, di area sekitar Hardhan, dan Kei terlalu banyak senyum saat itu, terlalu tebar pesona.


Tiap kali dia selesai berenang 1 putaran dia akan berdiri di pinggir kolam, mengeluarkan senyum terbaiknya ke arah Sonya, dengan tujuan yang sebenarnya adalah Hardhan. Tapi sudah pasti sahabatnya ini tidak akan mau mengakuinya.


"Yaahh sudahi dulu kuliah hari ini, susah memang kalau ngomong sama batu."


"Yee siapa juga yang mau di kuliahin sama kamu." balas Kei sambil meletin lidahnya.

__ADS_1


"Kuliahin apa sayang?" tanya Hardhan tiba-tiba dari arah belakang Kei. Tangannya merangkul pinggang ramping Kei, menarik Kei lebih dekat ke badannya. Kei berusaha sekuat tenaga untuk tidak menepis tangan Hardhan.


"Ohh Hardhan, kenalin ini sahabatku Sonya.."


Sonya mengangguk hormat ke Hardhan, membuat Kei memutar kedua bola matanya.


"Ya saya sudah tahu.., kamu dari divisi mana?"


"Saya dari divisi quality assurance pak...."


"Alex!!"


"Ya boss."


"Pindahkan dia ke kantor pusat."


"Baik boss."


"Oh itu tidak perlu, saya jadi merasa tidak enak" Sonya berusaha menolak, walaupun itu terdengar menggiurkan, orang bodoh mana yang akan menolak dipindahkan ke kantor pusat, dibawah kendali pak Hardhan langsung.


"Kamu sudah seperti kakak Kei, dan saya selalu menghargai siapapun yang bersikap baik kepada keluarga saya."


Pasti karena info yang sudah aku berikan ke Alex.


"Nah sekarang saya akan membawa istri saya berkeliling kembali, selamat menikmati pestanya" ujar Hardhan kemudian merangkul Kei dan meninggalkan Sonya.


"Apa kamu sudah lelah?" tanya Hardhan.


Sebenarnya Kei lelah sekali, semalaman juga ia tidak bisa tidur, tapi kalau Kei bilang lelah, pasti Hardhan akan mengajaknya istirahat di kamar, dan mengingat ciumannya tadi di ruang rias...


Oh tidak, dia akan mengulur waktu selama mungkin.


"Tidak kok... Malah bersemangat, oh lihat itu Mama dan Papa, mari kita samperin mereka."


Kei menarik Hardhan, menghampiri orang tua mereka.


"Nahh... Itu dia mereka." kata papa Kei antusias.


"Saatnya potong kue sayang."


Mama Hardhan menepis tangan Hardhan dari siku Kei dan menempatkan tangannya sendiri menggandeng tangan Kei, membawa Kei ke tempat dimana kue pernikahan diletakkan. Hardhan dan papa Kei mengekor dibelakang mereka.

__ADS_1


Kue pernikahan itu di desain dengan begitu indahnya, terdiri dari 7 susun dengan karakter Hardhan dan Kei berdiri kokoh di puncaknya.


Kei menggenggam pisau kue dengan tangan Hardhan diatas tangannya, bersama-sama mereka memotong kue tersebut dari bagian teratas sampai terbawah, diiringi suara dari host yang menjelaskan makna dari proses pemotongan kue ini, serta fotografer dan videografer yang sibuk mengabadikan momen tersebut.


Acara berlanjut dengan Hardhan dan Kei saling menyuapkan kue pada satu sama lain.


"Ini merupakan simbol cinta dari kedua mempelai, untuk memulai kehidupan yang baru, dan sebagai bentuk komitmen mereka untuk saling menjaga selamanya dalam suka dan duka." seru host disambut tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.


Kei nyaris tersedak kuenya saat mendengar kalimat host tersebut. Hardhan menatap Kei dengan sebelah alis yang di naikkan. Lalu matanya teralihkan ke bibir Kei, sementara tangannya mengelap sudut bibir Kei, membersihkan kue yang menempel disana.


"Kau tidak mau melakukan hal yang sama padaku?" tanya Hardhan.


"Tapi tidak ada kue yang menempel di bibirmu." elak Kei.


"Ahh tapi aku bisa merasakannya, kalau kau tidak mau membersihkannya dengan tanganmu, bagaimana dengan bibirmu?"


Kei baru akan menjawab, ketika Hardhan menciumnya, disambut pekikan dan kekehan kecil dari para tamu undangan.


"Dasar anak nakal." keluh mamanya sambil menyenggol Hardhan.


Hardhan melepas ciumannya, seperti orang tanpa dosa ia menghadap tamu kembali sambil tersenyum lebar, sementara Kei sibuk mengatur nafasnya.


Raksasa playboy satu ini... Kenapa bisa begitu tenangnya setelah berciuman!


gerutu Kei dalam hati.


Host meminta para wanita single untuk berkumpul dan bersiap menangkap buket bunga yang akan di lempar Kei dan Hardhan ke mereka, yang konon katanya siapapun yang mendapat buket bunga dari pengantin, maka dia akan segera menikah dalam waktu dekat.


Dengan antusias para wanita berkerumun di belakang Kei dan Hardhan, sementara para pria hanya menatap mereka sambil tersenyum kecut.


Kei dan Hardhan sudah sama-sama menggenggam buket bunga, dengan hitungan ketiga mereka melempar bunga itu kebelakangnya dan langsung terdengar teriakan histeris dari para wanita yang saling merebutkan buket bunga tersebut.


Kei dan Hardhan balik badan kembali ke arah para tamu, terlihat wanita yang mendapatkan buket bunga mereka sedang berlari ke arah prianya dan memeluknya, sementara sang pria hanya mematung.


"Baiklah... Kalian bisa lanjutkan kembali pestanya, saatnya saya dan istri saya beristirahat."


"Hardhan, masih ada satu jam lagi sebelum acaranya selesai!!" bisik mamanya kesal.


"Bukannya mama ingin segera menimang cucu?" goda Hardhan yang disambut dengan tawa lebar mamanya.


"Hardhan aku belum mau istirahat." protes Kei, masih berusaha mengulur-ngulur waktu.

__ADS_1


Hardhan mengelus lembut pipi Kei, kemudian berbisik mesra di telinganya,


"Aku sudah tidak sabar ingin melahapmu...."


__ADS_2