Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Pesta


__ADS_3

Malam ini Kei terlihat tambah cantik dengan gaun tube dress merah dengan aksen ruffle, Hardhan sempat protes dengan belahan gaunnya yang tinggi sampai ke tengah paha Kei, bagian atasnya yang terbuka lebar itu, dan rambutnya yang di sanggul modern, semakin memperlihatkan lebih banyak lagi kulit mulus Kei. Hardhan bertekad tidak ingin jauh dari istrinya.


"Aku tidak menyangka akan sebanyak ini yang datang." gumam Kei.


"Yang hadir malam ini terdiri dari berbagai macam kalangan, dari mulai jajaran komisaris kantor, para petinggi daerah hingga para model yang akan kami gunakan untuk mempromosikan produk terbaru ini." jelas Hardhan, sambil mengambil dua gelas minuman dari pelayan yang lewat, kemudian menyerahkan salah satunya ke Kei.


"Kita duduk di sana saja."


Hardhan membawa Kei ke salah satu kursi VVIP, menarik salah satu kursi untuk Kei, kemudian ia duduk di sebelahnya.


"Bagaimana menurutmu? Pesta ini terlihat mewah atau terlalu mewah?" tanya Hardhan membuat Kei tertawa pelan.


"Perbandingan yang aneh, harusnya yang kamu tanya pesta ini terlihat mewah atau biasa saja..."


"Tidak ada yang biasa saja dalam urusan perusahaanku. Hanya ada mewah atau terlalu mewah. Jadi bagaimana?"


Kei melihat kesekeliling ruang pesta ini, terlihat seseorang sedang bermain piano di sudut panggung, yang nantinya juga akan di isi oleh band-band ternama.


Hiasan indah dari aneka macam bunga tersebar di beberapa titik, beberapa meja bulat mengisi area tengah ruangan, lampu-lampu kristal yang tergantung menambah kemeriahan pesta ini. Pemandangan pohon-pohon yang sudah di hias dengan kerlap kerlip, terlihat jelas dari jendela-jendela besar ruangan ini.


"Hmmm biasa saja..." ledek Kei.


Hardhan baru akan membalas Kei ketika Alex menghampirinya, dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Ah sayangku, ada hal penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Kau tunggu di sini saja jangan kemana-mana."


"Iya..." jawab Kei.


Setelah Hardhan dan Alex menjauh, Kei mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan menelepon Sonya.


"Kamu sudah sampai mana?" tanya Kei.


"Di toilet nih, di luar hujan, gaun bawahku agak kotor nih, aku bersihin dulu."


"Oh yaudah aku kesana sekarang ya...."


"Ok."


Kei bangun dari kursinya, matanya mencari-cari tulisan toilet.


"Ya ampun Sonya, untung gaun kamu hitam, jadi tidak terlalu terlihat kotornya."

__ADS_1


"Iya... Tapi tetap saja tidak enak di lihat." gerutu Sonya sambil berusaha menghilangkan nodanya.


"Sudahlah, lagipula itu kan di bagian bawah, tidak akan ada yang lihat."


"Arrgghh kesel aku. Lupa angkat gaunku pas turun dari taksi online tadi."


Kei tertawa lebar, "Biasa pake celana panjang atau rok mini yaa..."


"Yup betul...Bagaimana? Cocok tidak aku pakai gaun?" tanya Sonya sambil berputar seperti Peragawati.


Sonya memang terlihat lebih cantik, terlihat lebih feminin. Gaunnya jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Sonya memang memiliki bentuk badan yang bagus, seperti gitar Spanyol, dan gaun ini tambah menegaskan bentuk badannya.


Aneh juga Kei melihat temannya yang biasa bergaya asal dan tidak pernah Make up, paling hanya menggunakan bedak dan lipstik saja, terlihat begitu cantiknya ketika ia dandan...


"Cantik..." puji Kei.


"Nah... Mari kita mulai pestanya." kata Sonya sambil merangkul Kei dan keluar dari toilet.


Kei melihat Hardhan sedang asik bicara dengan salah satu koleganya, jadi Kei tidak ingin mengganggunya. Tapi akhirnya mata mereka bertemu, terlihat Hardhan berbicara sesuatu sebelum akhirnya meninggalkan koleganya dan langsung menghampiri Kei.


Jantung Kei terasa ingin copot, nadinya berdetak dengan cepat, dan perutnya terasa mencelos ketika melihat Hardhan yang terlihat lebih tampan dan lebih gagah dari biasanya mendekatinya. Senyumnya yang memikat itu bahkan bisa membuat bidadari enggan balik ke kayangan lagi.


Dan dia suamiku... Raksasaku.


"Iya maaf, tadi aku kebelet pipis."


"Ya sudah sekarang ikut aku."


"Tapi Sonya..."


"Biar Alex yang menemaninya."


"Kita mau kemana?"


"Mengenalkanmu kepada kolega dan tamu-tamu VVIP."


"Hardhan aku.... "


Hardhan berhenti, meletakkan kedua tangannya di pundak Kei "Kamu tidak perlu bicara sama mereka, kamu cukup tersenyum saja, dan menjawab pertanyaan mereka sekenanya saja. Jangan sampai mereka tertarik padamu, dan berusaha merebutmu dariku" goda Hardhan membuat senyum mengembang di bibir Kei, ajaibnya kata-kata Hardhan mampu membangkitkan rasa percaya dirinya.


Hardhan membawa Kei dari satu kelompok ke kelompok lain, mengenalkan Kei lalu mengobrol ringan sebentar, dan beralih lagi ke kelompok lainnya, begitu seterusnya.

__ADS_1


Kei tercekat ketika seseorang meraih lengannya dan menariknya menjauh sekitar satu meter dari Hardhan.


Kei mengerang pelan ketika mengetahui siapa yang sudah menariknya "Carmel..." pekik Kei sambil melirik Hardhan yang masih mengobrol dengan koleganya.


"Kau tahu kondisi Galang sekarang? Dia benar-benar terpukul Kei... Tiap hari dia mabuk dan selalu menyebut-nyebut namamu." kata Carmel dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan.


Kei panik, perkataan Carmel membuatnya tidak tenang, membuat Kei kembali teringat mantan suaminya, dan kenangan-kenangan saat bersamanya.


Galang begitu terpuruk, sementara aku... Aku sangat menikmati pernikahan ini. Oh Tuhan, aku sudah menghianati cintanya Galang....


Kei menghela nafas panjang, menenangkan dirinya sendiri, matanya perih menahan airmata yang nyaris keluar. Aku tidak boleh nangis di sini.


Kei kembali melirik Hardhan, bertanya-tanya dalam hati apakah Hardhan dapat mendengarnya? Kei tidak bisa melihat raut wajah Hardhan, karena posisi Hardhan yang membelakanginya.


"Kei... Kok malah diam."


Kei kembali menghela nafas panjang, menguatkan diri untuk tidak langsung memeluk Carmel dan bertanya lebih banyak lagi tentang Galang. Carmel pasti tahu Kei sudah menikah lagi, dan Kei harus bersikap seperti wanita yang bahagia dengan pernikahannya. Supaya Carmel tidak curiga dengan pernikahan kontrak Hardhan dan Kei.


"Carmel, itu sudah bukan urusanku lagi. Aku sudah menikah lagi sekarang."


"Setidaknya kau bisa meneleponnya, memberikan support yang bisa menenangkannya, supaya Galang tidak terjerumus semakin dalam ke dunia malam."


"Carmel, aku tidak bisa, Galang juga tahu itu. Dan kalau suamiku tahu.. ."


"Dia akan teramat sangat murka!" sambung Hardhan dingin memotong pembicaraan Kei, membuat Kei dan Carmel tersentak kaget.


Ternyata dia mendengarnya.


Kei meringis, bulu kuduknya langsung meremang, sudah lama ia tidak mendengar suara dalam dan dingin Hardhan lagi. Kei melirik Carmel, mukanya sudah seputih mayat


"Carmel ini suamiku, Hardhan." kata Kei berusaha menenangkan suasana.


Hardhan langsung menarik tangan Kei, bergerak menjauh dari Carmel. Dari arah depan terlihat Alex dan Sonya datang menghampiri mereka.


Alex pasti langsung menyadari suasana hati bossnya yang memburuk.... batin Kei,


Ia harus menjelaskan sesuatu sebelum Alex dan Sonya sampai di depannya, tapi tidak bisa, Kei terlalu takut bahkan hanya untuk bernafas sekalipun.


"Kau, tunggu disana dengan Sonya. Alex kemari." perintah Hardhan. Kei dan Sonya jalan menjauh ke arah yang Hardhan tunjuk.


"Cari informasi tentang Carmel itu, dan pastikan dia tidak mendekati Kei lagi." perintah Hardhan ke Alex.

__ADS_1


"Baik boss."


__ADS_2