
Kamar presidential suite hotel mewah ini memiliki luas kurang lebih 400m dan di dominasi oleh warna emas, dengan furniture kelas premium, dan terbagi menjadi dua, area istirahat dan area hiburan.
Hardhan meletakan tangan di punggung Kei, membimbingnya masuk lebih dalam lagi, sampai ke kamar tidur utama, melihat tempat tidur besar di tengah kamar membuat perut Kei terasa mencelos, dan jantungnya berdegub kencang.
Menutupi kegelisahannya, Kei menghampiri meja rias, membuka anting-anting dan semua aksesoris kebaya pengantinnya, Kei terlihat susah menggapai jepit rambut kecil di belakang kepalanya, jepitan yang digunakan untuk menahan rambutnya.
"Mari kubantu."
"Terima kasih mas."
Hardhan mendudukkan Kei ke kursi meja rias tersebut, kemudian melepaskan satu persatu jepitan rambut itu.
"Aku tidak suka di panggil mas.."
Seperti Galang saja... Cih!
Kei menatap pantulan Hardhan di kaca meja rias,
"Lalu kamu mau aku memanggilmu apa?"
"Sayang...." bisik Hardhan di telinga Kei.
"Kalau itu mau mu."
"Keilani, kita memang tidak saling mencintai, tapi setidaknya kita harus bisa menikmati hubungan suami istri, dan aku berjanji akan selalu setia selama ikatan pernikahan kita" jelas Hardhan.
"Aku tidak percaya kamu bisa setia."
"Astaga Kei, sudah berapa banyak wanita yang meminta janji setia dariku... Dan hanya kaulah yang mendapatkannya... Hanya karena kau istriku, ini pertama kalinya aku berjanji setia kepada wanita."
Kei menatap serius wajah Hardhan, semudah itu janji keluar dari mulut seorang playboy, entah ia harus percaya atau tidak. Dan nantinya Hardhan akan setia atau tidak pun bukan urusan Kei, ia hanya harus bertahan selama 6 bulan ini.
"Aku tidak akan melarangmu untuk mengencani wanita-wanitamu, selama kamu memegang janjimu untuk menceraikanku setelah 6 bulan."
"Kalau itu mau mu." Hardhan meniru perkataan Kei sebelumnya.
"Dasar playboy." Kei mencibir, membuat Hardhan menyeringai lebar.
"Nah kau marah.... Padahal tadi kau yang mengizinkannya."
"Dihh siapa yang marah." suntuk Kei
__ADS_1
"Ada bagusnya tadi kita meninggalkan acara lebih awal, para tamu undangan akan berpikiran kita saling jatuh cinta, hingga tidak sabar untuk memulai malam pertama kita...."
"Aku sudah menduganya...." kata Kei sambil tersenyum.
Hardhan sudah selesai dengan semua jepitan di rambut Kei, dia menyisiri rambut Kei dengan jari-jari tangannya.
"Untungnya tidak memakai hairspray... Jadi rambutmu tidak kaku."
"Yaa, aku memang menolak memakainya tadi."
Hardhan membantu Kei berdiri dari kursinya, membalik badan Kei menghadapnya, lalu membuka satu persatu kancing kebayanya, membuat Kei terasa berhenti bernafas.
"A... Aku bisa membukanya sendiri."
"Ssttt...." Hardhan menepis tangan Kei "Jangan bergerak dan jangan merusak kesenanganku." lanjutnya.
Kebaya itu turun dari bahu Kei dan jatuh ke bawah, dengan satu kali gerakan, kamisol yang menutupi gunung kembar Kei juga terjatuh menyusul kebayanya, membuat nafas Kei tercekat.
"Sesuai dugaanku, begitu penuh... Begitu indah." kata Hardhan sambil meremas keduanya dengan lembut, membuat nafas Kei tercekat.
Dengan nafas memburu Hardhan mencium Kei, sementara tangan ahlinya bekerja melepaskan pakaian yang tersisa di tubuh Kei, membuat Kei sepolos bayi yang baru lahir.
Hardhan Berdiri di samping tempat tidur, matanya tidak pernah beralih dari Kei ketika dia menanggalkan pakaiannya sendiri satu demi satu. Gairahnya sendiri naik sepuluh kali lipat ketika mata sendu Kei melihatnya.
Tubuh Hardhan begitu sempurna, dadanya yang bidang, perutnya sixpack, tangan dan kakinya juga berotot, dan bagian tubuhnya yang paling pribadi..
"Astaga!" Kei terkesima, tangannya reflek menutup mulutnya yang ternganga.
Melihat reaksi Kei, Hardhan tersenyum lebar
"Aku anggap itu sebagai pujian."
Hardhan kembali merangkak ke atas Kei, kedua tangan menopang badannya agar tidak menindih Kei. Hardhan terus memandangi wajah Kei yang merona di bawahnya. Kei langsung memejamkan kedua matanya.
Belum pernah Hardhan merasa puas hanya dengan memandangi wanita, biasanya ia bercinta hanya karena kebutuhan, tidak pernah sekalipun ia memandangi pasangannya, tidak seperti hari ini, memandangi Kei saja sudah membuatnya tergoda.
"Aku beruntung ini bukan yang pertama untukmu, aku tidak akan tega kalau harus menyakitimu." bisik Hardhan di telinga Kei, mengirimkan gelenyar-gelenyar aneh ke seluruh tubuhnya.
"Mas..." erang Kei sambil menggeliat liar dibawah Hardhan.
"Buka matamu Kei, aku ingin melihat api gairah dimata indahmu."
__ADS_1
"Tidak bisa mas... Aku tidak bisa membukanya."
Mas?
Satu kata itu membuat udara dingin terasa berhembus dipunggung Hardhan, terlintas satu pikiran yang membuat Hardhan seketika emosi.
"Itu kah alasannya kau tidak mau membuka matamu? Kau membayangkan aku sebagai dia?!!!"
Kei menggelengkan kepalanya, sambil mengumpat Hardhan langsung berdiri di samping tempat tidur, menatap kesal Kei yang belum juga membuka matanya, hanya kelopak matanya saja yang bergerak-gerak.
"Sial!!"
Dengan kedua tangan terkepal, Hardhan langsung jalan ke kamar mandi, menyalakan shower dengan air dingin, dan membiarkannya membasahi seluruh badannya, berharap air dingin tersebut mampu menurunkan gairahnya dah menenangkan pikirannya.
Berani-beraninya wanita sialan itu membayangkan aku sebagai mantan suaminya!!
batin Hardhan sambil meninju dinding kamar mandi.
Sementara Kei yang menyadari Hardhan meninggalkan tempat tidurnya dengan kesal merasa bersalah, Kei duduk di tempat tidur, menyelimuti diri sendiri dengan selimut yang terbuat dari sutera lalu menekuk kedua kakinya, Kei melingkarkan kedua tangannya ke kakinya kemudian menunduk, menutup wajahnya dengan lututnya. punggungnya yang terbuka bergerak karena isakan tangisnya.
Kenapa dia memintaku membuka mataku... Aku tidak bisa... Tidak pernah bisa...
Hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, Hardhan keluar dari kamar mandi, menatap Kei yang meringkuk di atas tempat tidur, terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya.
Hardhan masih terlalu kesal hingga mengabaikannya.
"Aku sudah mengisi air di dalam bathup, kau bisa membersihkan dirimu." kata Hardhan dengan suara dingin.
Kei mengangkat kepalanya, menatap Hardhan dengan penuh penyesalan.
"Mas aku...."
"Aku tidak mau mendengar alasanmu, apapun itu...." Hardhan memotong kata-kata Kei.
Setelah menghapus air matanya, Kei turun dari tempat tidur, membawa serta selimut yang menutupi badannya.
Setelah Kei menghilang dibalik pintu kamar mandi, Hardhan langsung mengambil bajunya di lemari pakaian. Kamar ini memang di khususkan untuk dirinya, dan tidak untuk di sewa.
Jadi semua keperluan Hardhan sudah ada di sini, termasuk baju-baju dan segala perlengkapan untuk Kei, Hardhan sudah menyuruh Alex untuk mengisi penuh lemari Kei dengan pakaian baru, termasuk lemari di kamar rumah Hardhan.
Mengingat kejadian tadi yang membuatnya kesal, Hardhan tergoda untuk membuang semuanya ke luar kamar.
__ADS_1