
Two Months Later....
Hardhan menaiki dua anak tangga sekaligus, ia berniat ingin segera menemui Kei, rapat umum pemegang saham hari ini benar-benar menyita banyak waktunya, sedang ia sudah sangat merindukan anak dan istrinya.
Dengan segera Hardhan membuka pintu kamarnya, melewati ruang TV dan membuka pintu kamar utamanya, "Sayang...." panggil Hardhan sambil melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.
Merasa tidak ada jawaban, Hardhan beranjak ke ruang ganti dan ke kamar mandi, tapi tidak juga menemukan istrinya.
"Mungkin sedang di kamar si kembar..." gumam Hardhan.
Hardhan membuka pintu penghubung antara kamarnya dan kamar bayinya, dan benar, Kei sedang menyusui salah satu anaknya, dada Hardhan membuncah dengan kebahagiaan saat melihat interaksi ibu dan anak itu. Hardhan bergegas menghampirinya dan duduk di sebelah Kei.
"Kau sendiri sayang? Dimana kedua suster itu?" tanyanya, Hardhan memegang tangan Zou yang sedang memainkan rambut mommynya, lalu membawa telapak tangannya itu ke pipi Hardhan, sebelum menciumnya. Sekarang ia sudah bisa membedakan anak kembarnya.
"Suster Vea izin karena orangtuanya sakit keras, sedang suster Nia sedang tidak enak badan, jadi untuk sementara aku memintanya istirahat dulu, takut menulari jagoan-jagoan kita..." jawab Kei.
"Apa tidak ada suster pengganti? Aku takut kau nanti kecapaian sayang..."
Kei mengibas tangannya yang bebas, "Itu sudah kewajibanku sebagai mommynya... Suster pengganti untuk Vea baru bisa datang besok."
Lalu terdengar rengekan dari box bayi Zie, sepertinya ia baru berasa lapar sekarang, "Sayang tolong kau gendong Zie... Sebelum anak itu nangis dan membangunkan Zou yang sudah mulai tidur..." pinta Kei.
Memiliki anak kembar memang seperti itu, kalau salah satu ada yang menangis maka yang satu lagi akan ikut menangis. Bahkan pernah saat Zou panas, tidak lama kemudian Zie juga ikut panas.
Hardhan menghampiri box Zie, lalu mengangkat dan menggendongnya di lengannya sambil menimang-nimangnya, Zie tidak merengek lagi, sudah asik sendiri menghisap jari jempolnya,
"Sayang... Zie juga lapar nih, apa aku menghangatkan stock ASImu saja?" tanya Hardhan.
"Tidak perlu sayang... Ini Zou sudah selesai, sebentar aku letakkan Zou dulu di boxnya." sahut Kei sebelum berdiri dan meletakkan Zou di boxnya, Kei menepuk-nepuk pelan paha Zou supaya lebih pulas lagi tidurnya.
Setelah dirasa Zou sudah terlelap pulas, Kei menghampiri Hardhan, dan Zie berpindah ke lengan Kei, dan mulai menyusuinya.
"Kau butuh bantuan apalagi sayang?" tanya Hardhan lembut.
Kei menggeleng, "Untuk saat ini masih aman terkendali..."
__ADS_1
"Ya sudah, aku mandi dulu yaa..." Hardhan mencium puncak kepala Kei.
"Iya sayang..."
**********
Malam harinya.
Hardhan menyandarkan pinggulnya di tepi meja rias Kei, dengan senyum menggoda yang tersungging di bibirnya, ia terus menikmati rutinitas harian istrinya itu sebelum beranjak tidur. Kemarin cara seperti ini berhasil membuat Kei bercinta dengannya, dan sekarang Hardhan ingin mengulanginya lagi, dan ia yakin hari ini ia pasti akan berhasil juga.
Kei sudah mengenakan lingerienya lagi, yang sekarang sudah kembali muat di badannya. Sesekali Kei melirik Hardhan sambil menyisir rambut panjangnya.
"Sini biar ku bantu..." Hardhan mengambil sisir itu dari tangan Kei, dan mulai menyisiri rambutnya, matanya beradu pandang dengan mata Kei lewat cermin, mereka saling menatap lekat-lekat.
Kei mendengus, "Aku tahu modus dari tatapanmu itu..."
"Jadi?" tanya Hardhan sambil menyeringai lebar.
Kei memutar badannya untuk memandang Hardhan, mata sendunya menatap Hardhan dengan penuh gairah, membuat Hardhan mengerang dalam hati. Bukannya tadi ia yang berniat untuk merayu Kei? Tapi sekarang justru Kei lah yang merayunya.
"Kali ini kau harus mengikuti aturan mainku..." desah Kei sambil membuka kait dan resleting celana panjang Hardhan, kemudian menariknya turun sampai ke mata kakinya.
"Cih, kesannya aku yang memanfaatkan tubuhmu, padahal kau juga memanfaatkan tubuhku..." cibir Kei sambil tertawa lebar.
"Kita saling membutuhkan sayang..." goda Hardhan sambil meletakkan tangannya di bahu Kei, dan memandunya berdiri, kemudian menundukkan badannya ingin mencium bibir Kei, tapi tangan Kei menahannya.
"Tunggu... Audah kubilang kali ini aku yang pegang kendali..." seru Kei, lalu melepas satu persatu kancing kemeja Hardhan di mulai dari kancing teratasnya.
Hardhan mengangkat kedua tangannya dengan sikap menyerah, "Baiklah nyonya... Apapun yang ingin kau lakukan... Lakukanlah... Sebelum aku tidak bisa menahan gairahku sendiri..." erang Hardhan.
Kei melempar asal kemeja Hardhan yang sudah berhasil ia lepaskan, "Naik ke tempat tidur sekarang..." perintah Kei mengikuti cara Hardhan memerintahnya saat ingin bercinta.
Dengan patuh dan tanpa protes lagi, Hardhan beranjak ke tempat tidur, dan merebahkan badannya di atasnya, dengan kedua tangan terlentang, "Sekarang apalagi nyonya?" tanyanya.
Kei memandang Hardhan sambil bertolak pinggang, "Siapa suruh rebahan? Duduk... Bersandar pada kepala tempat tidur..." serunya, dan sambil terkekeh pelan Hardhan menurutinya.
__ADS_1
Hardhan tidak menyangka ia masih bisa terkekeh, di saat dirinya nyaris mati karena menahan gairahnya.
Sambil terus saling memandang, Kei membuka lingerie dan G-Stringnya sekaligus, membuat mata Hardhan beralih dari matanya lalu menyusuri tiap bagian tubuh Kei, ia sangat ingin menyentuh Kei, hingga membuat ia merasa nyeri hanya dengan memandang wanita itu "Kemarilah sayang... Please..."
Sambil tersenyum menggoda, Kei naik ke atas pinngang Hardhan, menduduki perutnya, jemari tangannya bermain-main pada bulu halus dada Hardhan, "Mau langsung atau pemanasan dulu?" goda Kei, membuat Hardhan mengerang.
"Terserah sayang... Sekarang aku kan berada di bawah kendalimu..."
Kei melingkarkan lengannya ke leher Hardhan, menariknya dan langsung mencium bibirnya, Hardhan menyambutnya dengan penuh gairah dan rakus, dengan semua hasrat dan nafsu yang membara diantara keduanya.
Kei tenggelam dalam gairahnya, tangan mahir Hardhan yang meremas dan membelainya, membuai setiap ujung saraf Kei hingga Kei sangat mendambakan kepuasan.
Jemari Hardhan menyelip ke antara tubuh mereka, Hardhan tahu persis kapan ia harus menyentuh titik sensitif Kei, dan tahu kapan jarinya harus bergerak, membuat Kei mengerang penuh nikmat dan mengangkat pinggulnya yang bergerak mengikuti gerakan tangan Hardhan, hingga Kei mencapai puncak kenikmatan, dengan tangan Hardhan yang masih terselip di antara mereka, dan bibirnya di bibir Hardhan. Suara erangan yang paling di sukai Hardhan dari Kei.
Dengan nafas yang tidak beraturan, Kei terkulai di atas dada Hardhan, dan tidak protes sedikitpun saat Hardhan membalik posisinya dengan Kei yang sekarang berada di bawah Hardhan.
"Sekarang giliranku..." seru Hardhan sambil tersenyum jahil.
Hardhan kembali mencium Kei, ia baru akan menyatukan tubuh mereka ketika terdengar suara tangisan dari speaker yang terhubung ke kamar bayinya. Kei langsung menahan dada Hardhan.
"Anak kita nangis..." serunya.
"Biarkan saja, kan ada suster..." Hardhan tidak melanjutkan lagi perkataannya ketika teringat perkataan Kei siang tadi.
Hardhan mengerang pasrah ketika Kei mendorongnya hingga terlentang dan beranjak turun dari tempat tidur, kemudian memakai jubah tidurnya.
"Aku lihat mereka sebentar yaa..." kata Kei lalu melihat bukti gairah suaminya yang masih menegang, "Dan jaga itu untukku... Aku segera kembali..." lanjut Kei sebelum menghilang di balik pintu.
Hardhan memegang keningnya sambil menghela nafas panjang, "Ahh... bertambah dua lagi perusak kesenangan..."
Dear Readers....
Season 1 End yaaa...
Lanjut lagi ke season 2, kira-kira 2-3 minggu lagi...π
__ADS_1
Terima kasih untuk supportnya selama iniπ
Sekarang author mau melanjutkan terlebih dahulu novel yang lainnya.... Tak bisa ke lain hati, yang sudah lama terabaikan karena TML ini. Dan juga melanjutkan novel Mengejar Cinta Alex, perjalanan cinta Alex dan Sonya.