
Three Years Later.
Hardhan dan Kei saling bergandengan tangan menyusuri tepi pantai di ressort pribadi mereka. Sambil sesekali melihat Zou dan Zie yang sedang asik bermain pasir.
Lebih tepatnya melihat Zie yang merusak istana pasir yang sedang di buat Zou, dan Zou akan melotot galak ke adik kembarnya itu, meskipun kemudian dia akan tetap membangunnya kembali. Dengan kedua baby sitter yang duduk di belakang mereka.
"Kau mau lanjut jalan? Atau kita istirahat dulu?" tanya Hardhan khawatir, ketika tiba-tiba Kei menghentikan langkahnya.
"Tidak... Aku tidak apa-apa... Hanya saja bayi kita kembali menendang..." jawab Kei sambil tersenyum lebar.
Hardhan langsung berjongkok, kedua tangannya memegang perut Kei yang membuncit, kehamilannya sudah mendekati delapan bulan sekarang.
"Ya... Aku bisa merasakannya... Kali ini lebih kuat dari sebelumnya..." seru Hardhan sumringah, lalu mencium perut Kei, sebelum akhirnya kembali berdiri.
Hardhan kembali menautkan jemarinya ke jemari Kei, dan melanjutkan langkah mereka, Sampai langkah Kei kembali berhenti, dan memandang matahari terbenam di ujung Samudera Hindia, "Sunset hari ini terlihat lebih indah dibanding kemarin..." gumam Kei.
"Itu karena hari ini cerah sayang, cuaca sedang bersahabat." jawab Hardhan sambil memeluk Kei dari arah belakang, kedua tangannya di letakkan di atas perut Kei. Untuk waktu yang lama mereka memandangi Sunset, sampai suara tangis Zie mencuri perhatian mereka.
Dengan segera mereka menghampiri anak-anaknya, tapi Zie dengan lengan yang menghapus air matanya sudah berlari terlebih dahulu ke arah mereka, dan langsung memeluk Kei, yang langsung mengelus rambut putra keduanya itu.
"Mom... Do jahaaaatt... Huhuhu..." isak Zie.
Hardhan langsung mengangkat Zie, dan menggendongnya, "Kamu pasti merusak bangunan Zou lagi yaa?" tanya Hardhan lembut, sambil mendekati Zou yang masih asik mendirikan istana pasir.
Bentuknya terlihat nyaris sempurna, seperti bukan di bangun oleh anak usia tiga tahun.
"Huhuhuhu...." Zie masih terus nangis dan tidak menjawab, Kei menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra keduanya yang usil itu, yang senang mengganggu kakaknya, tapi ujung-ujungnya dia lah yang menangis.
Hardhan duduk di samping Zou, sambil memangku Zie yang tidak mau melepaskan tangannya dari leher Hardhan, "Zou... Kenapa Zie menangis?" tanya Hardhan lembut sambil mengelus kepala Zou.
Zou mengangkat bahunya, "Di anculin ini..." Zou menunjuk gerbang istana yang sedang ia rapihkan kembali itu, "Ini kan buwat dede Do.." jawabnya sambil terus merapikan gerbang yang rusak itu.
Hardhan mengerti maksud dari zou, "Jadi kamu membuat istana pasir ini untuk adik kamu?"
Zou mengangguk kencang, "Iyaa."
Hardhan kembali mengelus kepala Zou, "Tapi adik kamu kan belum bisa melihat sayang... Adik kamu masih ada di dalam perut Mommy itu..." kata Hardhan sambil menunjuk perut Kei, yang langsung mengelus perutnya.
Zou melihat perut mommynya, lalu beralih ke adiknya, "Di malah..." katanya.
__ADS_1
"Zie marah kenapa sayang?" tanya Hardhan sambil menjauhkan Zie dari pelukannya, untuk menatap matanya.
"Do bilang dedena tewe... Huhuhu..." Zie kembali nagis lagi sambil memeluk papinya.
Hardhan terkekeh pelan, "Memangnya kenapa kalau adik kalian perempuan?" tanya Hardhan, tangis Zie bertambah kencang, Hardhan menepuk-nepuk punggungnya menenangkannya.
"Ga mao... Ga mao!!" jerit Zie sambil memukul-mukul dada Hardhan dengan tangan kecilnya.
"Di mauna dede towo..." celetuk Zou.
"Ah, Papi mengerti sekarang... Jadi Zou maunya punya adik perempuan?" tanya Hardhan ke Zou yang disambut anggukan Zou, lalu beralih ke Zie, "Dan kamu Zie, maunya adik kamu laki-laki?" dan Zie mengangguk sambil menghapus air matanya dengan lengannya.
"Sudah... Sudah... Ayo kita masuk hari semakin gelap..." seru Kei sambil terkikik geli, hanya masalah jenis kelamin adiknya saja membuat si kembar ribut.
Hardhan jongkok lalu mengulurkan tangannya ke Zou, "Sini, Papi gendong..."
Zou menggeleng, "Do udah becal cekalang..."
"Ya sudah Zou mommy tuntun saja sini..." seru Kei mengulurkan tangannya ke Zou, dan Zou langsung berdiri, setelah menepis pasir di celananya Zou langsung menyambut tangan Kei, tangan kecilnya menggenggam tangan Kei.
"Ati-ati Momih, peyan-peyan..." Zou menuntun Kei, seperti ingin menjaga Kei.
"Ayo jaga mommy kalian sana..." seru Hardhan setelah menurunkan Zie, setelah mengangguk kaki kecilnya berlari ke arah Kei, dan langsung memegang tangan Kei yang satunya lagi. Dan mereka kembali ribut karena berebut menekan tombol lift.
Tap sesampainya di ruang keluarga mereka kembali akur, saling bercanda, melompat-lompat dan kejar-kejaran layaknya anak tiga tahun lainnya, mungkin tingginya saja yang berbeda, tinggi Zou dan Zie sekarang saja sudah 105cm, sepertinya mereka akan setinggi papinya nanti.
**********
Sepuluh Bulan Kemudian.
Hardhan dan Kei sedang duduk berpelukan di sofa kamar bayi mereka, lengan Hardhan melingkar di bahu Kei, dan Kei bersandar pada dada Hardhan. Sambil memperhatikan gadis kecil yang sedang bermain di atas permadani tebal, ia tampak bingung memilih mainan yang tersebar di sekelilingnya.
Gadis kecil itu terlihat tidak bisa diam, merangkak kesana-kemari sambil berceloteh sendiri, ya baru dua minggu lalu gadis kecil mereka bisa merangkak, dan sekarang sudah terlihat mahir melakukannya.
Gadis kecil itu bernama Keizaa Triana Adipramana. "Kenapa kamu senang sekali menamai anak-anak kita dengan huruf berawalan K?" tanya Kei.
"Karena nama wanita yang sangat kucintai itu, berawal dengan huruf K... Keilani... Dan wanita keduaku adalah Keizaa... Anak kita." jawab Hardhan, jemari tangannya menyusuri kening, pipi sampai leher Kei.
Hardhan tidak bisa berada di dekat Kei tanpa menyentuhnya, menciumnya atau sekedar memeluknya. Dan Kei sangat menyukai kebiasaan suaminya itu.
__ADS_1
"Kau pasti akan menjadi Papi yang posesif untuk Zaa..." tebak Kei sambil terkekeh.
"Oh sudah pasti... Putriku itu akan menjadi gadis tercantik, termanis, dan tercerdas di dunia... Siapapun yang menginginkan anak gadisku itu, harus melewatiku terlebih dahulu.... Hmmm, mungkin juga harus melewati Zou dan Zie juga..." tegas Hardhan.
"Yah kamu benar sayang... Awalnya aku khawatir Zie tidak akan menyayangi adiknya ini, karena dia menginginkan adik laki-laki. Tapi ternyata... Sekarang Zie lah yang paling tidak ingin menjauh dari Zaa... Setiap pulang dari TK, yang pertama di cari adalah Zaa... Anak itu bahkan melewatiku, matanya hanya tertuju pada Zaa..." desah Kei lembut.
"Aku menginginkan bayi lagi... Hmm... Bagaimana kalau tiga lagi?" tanya Hardhan sambil mencium kening Kei, lalu ke pipinya dan terakhir ke bibirnya. Ciuman lembut yang dipenuhi cinta mereka berdua.
Seandainya mereka ada di kamarnya atau di ruang lain alih-alih kamar bayi, ciuman itu pasti akan berlanjut ke hal lainnya.
Suara rengekan Zaa memutus ciuman mereka, gadis kecil itu sedang merangkak ke arah mereka sambil merengek, meminta perhatian mereka. Dan ketika Hardhan dan Kei tersenyum ke Zaa, gadis itu langsung menyeringai lebar, membuat wajah cantiknya semakin menggemaskan.
"Ya Tuhan... Aku harus menempatkan lima bodyguard untuk menjaga putri kita itu... Tidak bukan lima, tapi sepuluh bodyguard... Supaya tidak ada pria yang berani menyentuhnya!!"
Dear Readers....
Extra part ini untuk menemani satnight kalian...
Happy Reading... dan jangan lupa di tunggu season keduanya yaaa....
Untuk yang punya aplikasi ungu, bisa ikuti akun
Si Nicegirl yaa, ada novel baru Nice di sana judulnya Love and Scandal. Warning : Khusus untuk pembaca dewasa, jadi bijaklah dalam membaca😁
**Blurb :
Tidak ada yang dapat menyakitimu dengan sangat dalam, selain dari orang terdekatmu. Tidak ada tempat yang paling menyakitkan, selain dari rumah yang tidak lagi dapat memberikanmu kebahagiaan.
Sejak Kecil, Rana selalu diajarkan untuk mau berbagi dengan Rania, adik yang Lahir dua menit setelah Rana, yang mengidap Gangguan Identitas Disosiatif atau kepribadian ganda, dan sering bersikap seolah-olah ia Adalah Rana. Kerap kali Rana harus merelakan miliknya menjadi milik Rania, termasuk juga mantan kekasihnya yang selalu berakhir ke dalam pelukan Rania.
Hingga sebuah kecelakaan membuat Rania harus kehilangan suaminya dan membuatnya koma selama satu bulan. Sampai akhirnya Rania pun sadar, tapi bukan sebagai dirinya sendiri melainkan sebagai Rana, dan mengklaim Rangga sebagai suaminya.
Kali ini akan kah Rana merelakannya?
Bisakah Rana menolaknya saat ada nyawa yang dipertaruhkan?
Apakah suaminya bisa memegang komitmennya untuk tetap setia kepada Rana?
__ADS_1
Dan saat Ananta, cinta terindahnya kembali hadir, siapa yang pada akhirnya akan dipilih Rana? Ananta atau Rangga**?