Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Kedatangan Ryo #1


__ADS_3

Tiga minggu kemudian kafe sudah terlihat ramai, entah cara apa yang di pakai Hardhan untuk mempromosikan kafe ini hingga bisa seramai ini.


Akun sosial media kafe pun sudah banyak followernya, dan banyak pula yang berkomentar positif di setiap postingannya.


Hardhan memang melarang Kei turun tangan langsung untuk menghandle pesanan, tapi ketika kafe sedang ramai, terutama saat jam makan siang atau malam, Kei tidak bisa berpangku tangan begitu saja, jadi terkadang ia pun ikut turun tangan.


"Maaf bu, ada yang ingin bertemu ibu di ruang VIP 2..." kata Septi salah satu waitressnya.


"Siapa... Sonya?" tanya Kei sambil memberi sentuhan terakhir pada cheesecakenya.


"Bukan bu... Katanya teman kuliah ibu."


"Ya sudah saya ke sana... Tolong kamu letakkan cheesecake ini ke etalase depan ya..."


"Baik bu."


Setelah membuka sarung tangannya, Kei langsung beranjak ke ruang VIP di lantai dua, yang di siapkan untuk pengunjung yang menginginkan privasi.


"Ryo..." seru Kei ketika mendapati pengunjung itu adalah Ryo, yang sedang melihat pemandangan di luar jendela kaca.


"Hai sweetheart... Lama kita tak bertemu... Apa kabar?" sapanya sambil menghampiri Kei dan mengulurkan tangannya.


"Baik." jawab Kei membalas uluran tangan Ryo


Bagaimanapun ia harus bersikap sopan kepada pengunjung kafe, even itu Ryo sekalipun. Kei langsung menarik lepas tangannya ketika Ryo masih terus menggenggamnya.


Ryo memberi tatapan menyeluruh ke Ke arah Kei, dari ujung kepalanya sampai ke ujung jari kakinya. Membuat Kei merasa risih.


"Kamu tambah cantik saja Kei..." puji Ryo.


"Kamu sudah pesan? Atau kamu ke sini hanya untuk mengatakan itu?" tanya Kei tajam.


"Aku ke sini karena aku tahu kamulah pemilik kafe ini. Jadi yaa... Aku ingin mencoba menunya sekaligus memintamu untuk menemaniku makan siang." jawab Ryo.


"Maaf Ryo aku tidak bisa menemanimu... Kamu lihat kan? Pengunjung sedang ramai, jadi aku sibuk."

__ADS_1


"Sebentar saja Kei, kamu tidak mau tahu bagaimana keadaanku setelah di tahan suamimu dan di interogasi sekretarisnya yang menyeramkan itu? Padahal aku hanya menghibur istrinya yang sedang sedih dan terabaikan..."


"Darimana kamu tahu aku di sini?" Kei balik nanya mengabaikan pertanyaan Ryo. Ia tidak mau mengungkit lagi kejadian di pesta itu.


Ryo mengangkat bahunya, "Itu bukan hal yang sulit untukku..."


Ryo duduk bersandar di sofa empuk ruang VIP ini, lalu tangannya mengisyaratkan Kei untuk duduk di depannya. Tapi Kei mengabaikannya.


Kei melihat jam tangannya, "Ryo... Sebaiknya kamu pergi sekarang. Setengah jam lagi Hardhan akan sampai di sini. Apa kamu mau Hardhan menahanmu lagi?" bujuk Kei dengan nada sedikit mengusir.


Hardhan selalu datang ke kafe ini untuk makan siang setiap hari senin, rabu dan jum'at, di ruang VIP1 yang di khususkan untuknya. Dan sekarang hari jum'at, sudah pasti suaminya itu akan datang.


Kalaupun di luar hari itu juga hasilnya akan tetap sama, karena Kei yakin, Upin Ipin yang berada di lantai bawah itu pasti akan lapor pada Alex tentang kedatangan Ryo.


"Apa kau pikir aku akan takut? Kau salah sweetheart, aku tidak pernah takut dengan suamimu itu!"


Sambil menghela nafas kesal Kei duduk di depan Ryo, menopangkan kaki kanan ke kaki kirinya, "Ryo... Berhentilah memanggilku seperti itu... Hardhan tidak akan suka mendengarnya. Tolong pergilah sekarang... Aku tidak ingin ada keributan di kafeku..."


Ryo mencondongkan badannya ke depan, kedua lengannya bertumpu pada pahanya,


"Kau sudah bersikap tidak sopan sweetheart dengan mengusir salah satu pengunjung kafemu, dan lagi... Pesananku belum datang."


"Tidak... Tidak ada masalah. Kalian tunggu saja di depan pintu." jawab Kei santai, lalu mengalihkan lagi perhatiannya ke Ryo, yang sedang menatap sinis ke arah Upin dan Ipin.


Ryo menyandarkan lagi punggungnya ke sofa, kedua tanggannya di lipat di depan dadanya,


"Apa kau tahu sweetheart... Suamimu nyaris menghancurkan perusahaanku? Dan dari yang ku dengar... Dia juga sudah mengakuisisi perusahaan Galang."


Kei tidak menjawab, karena waitress datang membawa pesanan Ryo, dan meletakkannya di atas meja.


"Kamu kenal Galang juga?" tanya Kei setelah waitress itu keluar.


Sudut bibir Ryo membentuk senyuman sinis, "Siapa yang tidak akan mengenalnya, dia sudah bersikap jumawa karena sudah berhasil menaklukkanmu. Dan dia selalu membanggakan hal itu kepada siapapun yang mau mendengarnya di kampus..." jawab Ryo, lalu tertawa hambar, "Cih, aku tergoda untuk melenyapkannya saat itu..." lanjutnya.


"Hmmm Ryo, lalu bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Kei dengan sebersit rasa sesal, bagaimanapun juga ia yang sudah menerima tawaran dansa Ryo, dan membuatnya mendapat masalah.

__ADS_1


Sedangkan Galang, memang semestinya dia mendapat konsekuensi dari perbuatan istri dan mamanya, anak mana yang akan membiarkan seseorang yang nyaris menampar ibunya. Jadi Kei tidak akan bersimpati untuknya.


"Untungnya aku tidak kalah handal dari suamimu itu, yaa walaupun aku harus mengalami kerugian hampir setengah triliun, itu bukan masalah untukku, itu harga yang pantas aku keluarkan untuk menghabiskan waktu bersama wanita idamanku..."


Setengah triliun? Entah benar atau tidak... Tetap saja itu nominal yang sangat besar. batin Kei.


"Berhentilah menganggapku wanita idamanmu... Aku sudah bersuami dan aku bahagia dengan pernikahanku..." ujar Kei dengan penuh keyakinan.


"Bukan seperti itu yang aku lihat di pesta malam itu. Saat itu aku melihat tatapan matamu padanya, dan aku bisa mengenali rasa sakit hati di matamu itu. Karena dengan mata seperti itulah aku melihat kau dan Galang saat bermesraan di kampus."


Ryo memajukan posisi duduknya, dan mencondongkan kembali badannya ke Kei, lalu tersenyum menggoda, "Dan aku sudah berhasil membuatmu kembali ceria... Sayangnya suamimu itu datang dan membuat raut kesedihan kembali ke wajah cantikmu itu." desah Ryo kesal.


"Itu hanya kesalah pahaman antara aku dan suamiku. Masalah itu sudah selesai, aku tidak ingin mengungkitnya lagi."


"Selesai untuk kalian, tapi tidak untuk Karina..."


"Apa maksudmu?"


"Dia mendatangimu di Paris kan?"


"Iya benar...nDarimana kamu tahu?" tanya Kei lalu memicingkan kedua matanya ke Ryo "Apa kalian berdua sedang merencanakan sesuatu?!"


Sudut bibir Ryo membentuk senyum samar sebelum berkata "Karina beberapa kali datang ke kantorku, dan memintaku untuk terus menggodamu dan memisahkan kau dan Hardhan. Wanita itu pintar sekali dalam hal membujuk..."


"Wanita ular itu..." suntuk Kei pelan nyaris seperti bisikan, tapi Ryo mendengarnya dan langsung tertawa keras.


"Kau benar sweetheart... Mulutnya memang sangat berbisa... Seperti ular. Dan dia nyaris berhasil membujukku."


"Apa kalian berdua mau mati!!!" teriak Hardhan dari ambang pintu dengan suara yang menggelegar, membuat Kei terlonjak kaget bulu kuduknya meremang dan jantungnya terasa mau copot.


Hai Readers yang baik hati....


Maaf yaa kemarin tidak sempat Up..🙏🙏


Hari ini author akan usahakan Up 3 bab yaa...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya untuk terus VOTE...😊🥰


Happy Reading... Luv U All...😘😘


__ADS_2