
"Done. Kau tinggal membahasnya di rapat direksi nanti." kata Hardhan lalu menyerahkan dokumen yang ia pegang ke alex.
"Anda tidak menghadiri rapat boss?"
"Tidak, kau saja yang memimpin rapat. Aku akan membawa Kei pulang, ini hari yang berat untuknya dan aku belum menghiburnya."
"Baik boss."
"Kei masih di ruangan Sonya?" tanya Hardhan.
"Terakhir saya dapat info mereka sekarang sedang di rooftop boss."
"Ya sudah kau boleh keluar sekarang."
Baru selangkah berjalan Alex mendengar laporan di earpiecenya, lalu berbalik kembali ke Hardhan, "Boss Galang ingin bertemu denganmu."
"Biarkan dia masuk."
"Tapi sebentar lagi nona Kei kembali."
"Biarkan saja, saya ingin melihat reaksinya ketika berjumpa mantan suaminya lagi."
Semoga kau tidak mengecewakanku Kei.
Pintu terbuka dan Galang masuk, bergegas menghampiri Hardhan, "Hardhan tolong bebaskan mama dan Inge...." pintanya memelas.
Sebelah alis Hardhan naik membentuk ejekan,
"Kau selalu memelas tiap kali kau ke sini. Kalau kau bisa mengendalikan ibu dan istrimu... Semua ini tidak akan terjadi...."
"Tapi Inge seminggu lagi akan melahirkan...."
Hardhan mengangkat bahunya, "Bukan urusan saya" katanya dingin.
"Apa kau tidak memiliki belas kasihan?! Mereka orang tua dan wanita hamil!!" teriak Galang.
Hardhan berdiri lalu menggebrak meja kerjanya, membuat Galang kaget dan mundur selangkah ke belakangnya. Dengan tatapan memburu Hardhan menghampiri Galang.
"Apa kau akan diam saja terhadap orang yang akan menampar ibumu?" tanyanya lalu menarik kerah kemeja Galang, dan memutarnya hingga Galang nyaris tercekik
"Tangan istrimu yang kotor itu bahkan sudah menampar Kei!! Apa saya harus diam saja?! Masih untung saya hanya mengirim mereka ke penjara... Apa perlu saya membuat mereka berdua menghilang selamanya?!" ancam Hardhan lalu mendorong Galang hingga jatuh terjengkang.
Darah menghilang dari wajah Galang, badannya gemetar ketakutan, Galang langsung berlutut,
"Mereka sudah menyesal... Tolong maafkan mereka...."
__ADS_1
"Sepertinya hukuman yang saya berikan sebelumnya tidak membuat istrimu jera, jadi kenapa saya harus percaya kalau kali ini dia benar-benar menyesal!"
"Tolong Hardhan, beri kesempatan sekali lagi"
"Dan kau bekerjasama dengan Karina dan Carmel. Kau pasti sudah tahu kan bagaimana kondisi Carmel dan keluarganya saat ini? Kau dan keluargamu akan segera menyusul." tegas Hardhan, Galang semakin memucat.
"Maaf Dhan saat itu aku sedang frustasi, aku hanya tidak ingin Kei melupakanku, dan beralih menyukaimu... Aku tidak bisa berhenti memikirkannya...."
"Sekarang kau pilih... Menyelamatkan keluargamu atau melupakan Kei selamanya?!"
"Tolong jangan Hardhan, itu pilihan yang sulit... Kau boleh akuisisi perusahaanku, tapi jangan memintaku memilih antara keluargaku dan Kei...."
"Cih, kau benar-benar egois. Kau tetap ingin memiliki Kei kembali tanpa berpikir keluargamu yang selalu menyakitinya! Kau ingin melihat Kei terus tersakiti seperti itu? Apa itu masa depan yang akan kau berikan padanya?"
Galang tertunduk diam, memikirkan perkataan Hardhan, sejurus kemudian dia mendongakkan kepalanya, "Biarkan aku bertemu Kei... Kalau dia masih mencintaiku aku akan memilihnya. Tapi kalau tidak... Aku akan memilih keluargaku, dan melupakannya." tegas Galang.
Hardhan tersenyum sinis, "Memangnya kau ada di posisi untuk bisa tawar menawar dengan saya? Saya bersikap lunak padamu karena bagaimanapun juga kau yang sudah membatu Kei mengatasi fobianya dengan pria. Itu satu-satunya hal baik yang pernah kau lakukan untuknya."
Pintu terbuka, Hardhan melihat Kei masuk dengan wajah cerianya "Sayang...." kata-katanya terhenti ketika melihat Galang.
Galang yang mendengar suara Kei langsung memutar badan ke arah pintu lalu berdiri
"Kei...." sapanya.
Untuk sesaat Hardhan melihat perubahan dalam wajah Kei ketika menatap Galang, ada raut kesedihan di wajahnya, sebelum senyum yang terlihat dipaksakan menghias wajah cantiknya.
"Kei... Aku merindukanmu...." kata Galang sambil menyentuh pundak Kei tapi Kei menghindar, lalu menatap tajam mata Galang.
"Bilang sama Inge dan mamamu... Aku tidak peduli mereka mau menghina atau menggangguku! Tapi jangan pernah bersikap tidak sopan dengan mama mertuaku!! Atau aku sendiri yang akan mengirim mereka ke neraka!!" ancam Kei, lalu bergegas menghampiri Hardhan.
"Sayang... Kamu sudah tidak sibuk lagi kan?" tanya Kei manja sambil memeluk Hardhan.
Hardhan merasakan kelegaan yang luar biasa, ia langsung bernafas lega, sepertinya tanpa sadar ia tadi menahan nafasnya ketika Kei menghampiri Galang. Hardhan balas memeluk Kei lalu mencium kepalanya.
"Tidak sayang... Kau ingin pulang sekarang?" tanya Hardhan lembut.
"Iya... Aku sudah berjanji pada mama akan membuatkan apple pie untuk kalian."
"Apel? Kau kan alergi apel Kei!" celetuk Galang.
Kei langsung balik badan ke arah Galang, "Tidak masalah, selama aku tidak memakannya. Dan sedang apa dia di sini sayang?"
"Dia meminta kita melepaskan Inge dan ibunya." jawab Hardhan.
"Jangan lepaskan, biarkan mereka membusuk di penjara! Mari kita pulang sayang...." Kei menarik tangan Hardhan.
__ADS_1
"Tunggu Kei aku ingin bicara denganmu...." cegah Galang.
"Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu." tolak Kei.
Hardhan memegang bahu Kei, lalu menatapnya lembut "Bicaralah... Kalian harus menyelesaikan masalah kalian kan?" lalu Hardhan berbisik di telinga Kei, "Aku percaya padamu sayang."
Setelah mencium kening Kei, Hardhan dan Alex meninggalkan mereka berdua. Hardhan berhenti di depan pintu, lalu berbalik menatap tajam Galang "Jauhkan tanganmu dari istriku, kalau kau ingin keluar dari ruangan ini dalam keadaan utuh!" ancam Hardhan dengan suara dingin dan menutup pintu di belakangnya.
Kei menatap penuh Galang, mantan suaminya. Tadi Kei sempat kaget melihatnya berada di sini, dan apa reaksi Kei begitu melihat kembali pria yang sangat di cintainya itu? Tidak ada, kosong.
Kei pernah membayangkan pertemuannya lagi dengan Galang akan penuh haru dan banjir air mata kebahagiaan, setelah kontrak pernikahannya dengan Hardhan selesai. Tapi ternyata, rasa itu tidak ada, Kei tidak merasakan perasaan apapun sekarang ketika Galang berada di depannya.
Sepertinya rasa cinta yang begitu mendalam pada Galang sudah menguap pergi, atau sebenarnya memang Kei tidak pernah mencintainya? Kei hanya sudah terbiasa dengannya? entahlah.
"Aku merindukanmu Kei...."
"Maaf Galang, tapi aku tidak merindukanmu." balas Kei dingin.
Galang terlihat syok mendengar jawaban Kei,
"Kau sudah melupakan kenangan indah kita Kei? Masa-masa kita pacaran hingga menikah? Masa suka duka kita yang sudah pernah kita lalui bersama? Apa itu tidak ada artinya sama sekali untukmu sekarang?"
"Semanis apapun masa lalu, dia tetap di sebut kenangan. Dan hidup bukan hanya untuk kenangan, tapi juga untuk masa depan. Dan masa depanku adalah bersama suamiku sekarang, Hardhan."
"Kei aku masih mencintaimu... Apa kau lebih memilih Hardhan karena dia lebih kaya dariku?! Itu kah alasannya?"
Kei ternganga, tidak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya,
"Kau tidak pernah berubah Galang, pikiranmu masih sepicik dulu!"
"Lalu apa yang membuatmu lebih memilih dia daripada aku?!!" desak Galang kesal.
"Aku belajar menghargai Hardhan, dari cara dia menghargaiku. Aku juga belajar mencintai Hardhan, dari cara dia mencintaiku. Yaa, aku belajar banyak darinya, bagaimana seharusnya kita memperlakukan seseorang yang kita cintai. Pria yang baik... Tahu bagaimana cara mencintai wanita dengan baik."
"Tetap saja dia juga seorang playboy, apa kau seyakin itu dia tidak akan pernah selingkuh?"
"Aku tidak akan menghakimi masa lalunya. Seperti dia yang tidak pernah menghakimi masa laluku. Aku sudah menerima masa lalunya, mendukung masa kini, mencintai dan akan terus mendampingi masa depannya. Dan terlebih lagi, aku percaya padanya."
"Tapi Kei... Bagaimana denganku? Aku masih mencintaimu Kei... Sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu, aku tidak bisa tidur jika tidak dalam keadaan mabuk. Aku tidak bisa hidup tanpamu Kei...." isak Galang.
"Belajarlah cara menghargai Inge Lang...."
"Apa?" tanya Galang tak percaya.
"Belajarlah mencintai apa yang sudah kamu miliki sekarang, sebelum hidup mengajarkanmu mencintai apa yang sudah hilang darimu. Karena yang paling setia pun bisa pergi, kalau merasa sudah tidak di hargai lagi."
__ADS_1
"Apa itu kau?"
"Ya... Dan jangan sampai kau kehilangan Inge juga. Aku sudah mengubur masa laluku, aku harap kau juga melakukan hal yang sama, demi kebaikanmu, keluargamu, dan terlebih lagi untuk kebaikan anakmu."