The Gray Autumn

The Gray Autumn
Pertemuan Pertama


__ADS_3


Malam kian larut. Seorang gadis berambut cokelat berdiri dengan sedikit gontai. Autumn Dorielle Hillaire, putri sulung dari pasangan Edgar Hillaire dan Arumi. Usianya kini telah menginjak dua puluh dua tahun. Dia baru saja merayakan kelulusannya dari sebuah universitas ternama di kota Paris. Seperti yang telah Edgar katakan dulu, putrinya akan tumbuh menjadi gadis secantik sang ibu, yaitu Arumi.


Apa yang Edgar katakan memang benar adanya. Autumn kini menjelma menjadi seorang gadis yang sangat menarik dan juga energik. Elle, itulah panggilan gadis bermata abu-abu tersebut. Mata yang begitu indah dan sangat bening, bercahaya dan dapat menarik perhatian siapa pun yang menatapnya.


"Kau yakin tidak akan pulang bersama kami, Elle?" Seorang gadis berambut pirang menyembulkan kepalanya dari dalam mobil. Dia adalah Maeva, sahabat dekat Autumn.


"Tidak, Ev. Leon akan menjemputku. Kau tidak usah khawatir," jawab Autumn sambil memijit kening perlahan. Kepalanya terasa sedikit pusing, karena pengaruh minuman yang tadi dia nikmati saat berada di pesta salah seorang sahabatnya yang lain. Autumn seperti sang ibu. Dia bukan tipe orang yang kuat minum banyak. Segelas, dua gelas saja telah cukup membuatnya terlihat kacau.


"Ya, sudah. Kalau begitu aku pulang sekarang. Sebelum Abel berubah pikiran dan menyuruhku turun," ucap Maeva dengan setengah berbisik.


"Aku mendengarmu, Ev," ujar Abel yang sudah siap di belakang kemudi. Maeva segera menutup mulutnya dan menoleh kepada pemuda berwajah manis tersebut. Setelah itu, dia kembali mengalihkan perhatian kepada Autumn. Maeva melambaikan tangan, sebelum akhirnya mobil sedan itu berlalu dan menjauh.


Autumn kemudian melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah lewat pukul sebelas malam. Dia masih berada di luar, tepatnya di halaman sebuah salah satu night club berkelas di kota Paris. “Kacau!” keluh Autumn. Dia tidak tahu harus bagaimana. Kekasih yang dirinya tunggu tak juga datang menjemput.


Makin lama, gadis itu semakin merasa tak nyaman harus berlama-lama ada di sana. Dia tidak biasa dengan kehidupan malam seperti itu. Akhirnya, Autumn memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi. Namun, sebelum itu dia mencoba untuk menghubungi sang kekasih.


Gadis itu kemudian merogoh ke dalam sling bag dengan tali yang tersampir di pundak sebelah kiri. Autumn memeriksa ponselnya. Dia pun terdengar menggerutu. “Sialan! Kenapa kau harus mati!” Dia memaki ponselnya sendiri yang kehabisan baterai. Setelah itu, Autumn kembali memasukan ponsel tadi ke dalam tas.


Pandangannya kembali menyapu sekeliling tempat itu. Autumn baru menyadari jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian dari tiga orang pria yang menatapnya dengan nakal. Dia menatap ragu pada ketiga pria tersebut. Gadis itu merasa takut, tapi Autumn mencoba untuk tetap terlihat tenang. Tanpa berpikir panjang, gadis itu segera menghampiri sebuah mobil SUV hitam dengan seorang pria yang tampak akan memasuki mobil tersebut. “Permisi. Bolehkah aku menumpang mobilmu? Pria-pria di sebelah sana sejak tadi mengawasiku terus,” bisik Autumn kepada pria asing tersebut.


Pria itu menoleh. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu, menatap lekat terhadap Autumn. Dia seperti tengah menganalisa gadis itu dengan cermat. Sesaat kemudian, pria tadi mengalihkan pandangan pada beberapa orang pria yang Autumn maksud, lalu kembali menatap gadis di hadapannya. “Tentu,” jawabnya dengan suara yang terdengar begitu berat. Dia lalu membukakan pintu untuk Autumn yang bergegas masuk dan duduk manis di dalam mobil.


Entah kegilaan apa yang tengah Autumn lakukan. Dia tak tahu apa yang akan terjadi setelah mobil itu melaju dengan gagah dan meninggalkan area night club. Sementara Autumn sendiri masih terus berpikir. Sesekali gadis itu melirik pria yang tengah fokus pada jalanan ramai kota Paris.

__ADS_1


Pria tadi bukanlah anak muda sebaya Autumn. Dia juga terlihat sedikit misterius. Seketika Autumn tersadar. Akan lebih baik jika dirinya segera turun dari mobil itu. “Tuan, aku turun di sini saja,” ucapnya tiba-tiba, membuat pria tersebut segera menoleh kepadanya, kemudian menepikan mobil yang dia kemudikan.


“Kau yakin ingin turun di sini, Nona?” tanya pria dengan rambut cokelat tembaga itu meyakinkan Autumn. Nada bicaranya terdengar agak datar.


“Ya. Aku akan mencari taksi saja,” jawab Autumn seraya melepas sabuk pengaman. Dia meringis pelan. Pandangannya mulai berkunang-kunang.


“Baiklah." Pria itu juga kemudian melepas sabuk pengamannya. Dia turun lebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Autumn. “Akan kucarikan kau taksi,” ucapnya seraya melihat ke jalan raya, di mana masih berlalu lalang beberapa kendaraan.


Autumn terdiam seraya memperhatikan pria dewasa tersebut dengan lekat. Dia yakin jika usia pria itu sudah terbilang matang. Akan tetapi, si pemilik rambut cokelat tembaga tadi masih terlihat sangat menarik. “Kenapa Anda harus repot-repot, Tuan? Pulang saja. Mungkin istrimu sedang menunggu di rumah,” ujar gadis bermata abu-abu itu dengan begitu enteng.


Pria tadi menoleh. Sorot matanya yang menawan beradu dengan tatapan sayu Autumn yang kini mulai merasakan pusing di kepalanya. Makin lama, pandangan gadis itu semakin kabur hingga akhirnya gelap seketika.


......................


Pertanyaan dalam benaknya seketika terjawab, saat seorang pria masuk ke kamar tersebut. Pria itu baru selesai berolaraga, karena dia tampak berkeringat. Autumn menatap kehadiran pria tersebut di sana. Samar dalam pikirannya, dia ingat bahwa itu adalah pria yang semalam.


"Kau sudah bangun rupanya." Pria tadi menatap Autumn untuk sesaat. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. "Aku akan mandi dulu. Jika kau lapar, pergilah ke ruang makan. Mintalah pelayan untuk menyiapkan sarapan," suruhnya dengan sikap seolah-olah dia telah mengenal lama gadis itu. Sedangkan Autumn tidak segera menjawab. Dia masih terlihat bingung.


"Aku harus segera pulang," ucap Autumn tiba-tiba.


Pria berambut cokelat tembaga itu tertegun. Sebelum membuka pintu berwarna putih yang berada tidak jauh dari tempat tidur, dia sempat menoleh.


"Tentu saja kau harus pulang. Jangan sampai kekasihku melihatmu ada di sini," ucapnya datar. Setelah itu, dia pun membuka pintu dan menghilang di baliknya.


Dengan segera, Autumn menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia lalu merapikan rambut dan pakaian yang kusut. Namun, belum selesai Autumn melakukan hal itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Sayang!" terdengar suara lembut dari seorang wanita.

__ADS_1


🍒


🍒


🍒


Hai, semua. Sudah tahu kan siapa Autumn? Bagi yang belum tahu, ada baiknya intip "Kabut Di Hati Arumi". Yuk, lanjutkan.



 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2