The Gray Autumn

The Gray Autumn
Garder La Distance


__ADS_3

"Tidak, Elle. Tolong jangan bersikap seperti itu," pinta Benjamin. Dia menarik tangan dan meraih tubuh semampai Autumn ke dalam pelukannya. "Jangan salah paham," ucap Benjamin lagi dengan begitu dalam. Dia mengecup mesra kening Autumn dan berharap agar sang kekasih bisa menjadi luluh serta jauh lebih tenang.


"Ini tidak semudah yang aku kira, Ben," Autumn melepaskan dirinya dari dekapan Benjamin. Dia merasa begitu malas dengan segala hal yang telah terjadi dalam beberapa hari ini. Gadis itu sedikit menjaga jarak, meskipun sebenarnya dia sangat menyukai aroma tubuh dari pria tiga puluh lima tahun tersebut.


"Jangan bicara begitu, Elle. Pikiranku juga sedang tidak menentu saat ini. Aku yakin setelah kau pulang ke rumah nanti, tuan Hillaire pasti akan langsung bertanya macam-macam padamu," sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir pria berambut cokelat tembaga yang tampak sedikit acak-acakan.


Autumn seakan telah mengerti maksud dari ucapan Benjamin. Entah masalah apa lagi yang akan dia hadapi nantinya. Dia lalu mengeluh pelan. "Kau sudah bertemu ayahku?" tanyanya.


"Ya," sahut Benjamin dengan singkat, membuat Autumn kembali dapat menangkap sesuatu yang lain dari bahasa tubuh dan raut wajah pria itu.


"Aku harap, tuan Hillaire tidak memukulmu dengan stick golf," ujar Autumn sekenanya, membuat Benjamin menyunggingkan seutas senyuman. Namun, Autumn memang sedang tidak ingin bercanda. Dirinya merasa bahwa tak ada lagi yang harus dia bahas, bersama pria yang selalu tampak menawan tersebut. Gadis bermata abu-abu itu mendekat. Dia merapikan kerah baju yang Benjamin kenakan. Setelah itu, Autumn meyentuh dua kancing t-shirt yang terbuka. Dia lalu memindahkan jemari lentiknya, pada rahang kokoh berhiaskan janggut yang sudah mulai tumbuh meskipun tidak terlalu lebat. "Kau harus segera bercukur, Ben. Jika dibiarkan, maka janggutmu sebentar lagi akan tumbuh dengan lebat," ujar Autumn seraya menatap lekat Benjamin.


Sebuah senyuman menawan terlukis sempurna di wajah tampan ayah satu anak itu. Ada banyak wanita yang menaruh perhatian padanya, entah itu tulus atau tidak. Namun, pastinya tak ada yang terasa istimewa, jika dibandingkan dengan segala hal yang diberikan Autumn padanya. Benjamin kemudian merengkuh pinggang ramping dari tubuh semampai kekasihnya. Kedua tangannya melingkar erat di sana. Tak ada yang ingin dia lakukan saat itu, selain menikmati sentuhan bibir manis Autumn.


Beberapa saat lamanya, adegan pertautan di antara mereka terus berlangsung. Makin lama, ciuman itu terasa semakin panas dan membuat keduanya menjadi bergelora. Benjamin lalu menaikan bagian bawah dress yang Autumn kenakan, sehingga memperlihatkan kaki jenjang berlapis knee high boots berwarna hitam. Namun, sebelum Benjamin berbuat lebih jauh lagi, dengan segera Autumn mencegahnya. "Hentikan, Ben," pelan suara Autumn saat itu, tapi cukup membuat Benjamin merasa aneh.


"Jangan marah padaku, Elle," bisik Benjamin menghangat di wajah gadis bermata abu-abu tersebut.

__ADS_1


Autumn tersenyum kecil. Dia lalu menggeleng pelan. Ditangkupnya paras tampan sang kekasih dengan penuh perasaan. "Aku ingin sekali marah padamu, Ben. Akan tetapi, entah kenapa rasanya begitu sulit untuk melakukan hal tersebut. Aku tidak bisa dan tak pernah mampu. Rasanya seperti menyakiti diri sendiri, dan aku akan lebih terluka karenanya," lirih ucapan Autum. Dia terdengar jauh lebih dewasa kini.


"Aku tidak akan menyukai yang seperti itu. Seberapa keras kepalanya dirimu, Elle. Aku akan berusaha untuk terus membuatmu menjadi luluh, dan buktinya kau bisa membuat hatiku terasa hidup kembali. Kau pikir aku tidak berbuat apa-apa untuk mempertahankanmu?" Benjamin menyibakan rambut Autumn ke belakang.


"Apa yang ayahku minta darimu?" tanya Autumn datar. "Apakah dia memintamu untuk menjauhiku?" tatap mata gadis itu mulai terlihat sayu.


"Tidak," jawab Benjamin. "Namun, seandainya dia memintaku untuk menjauh darimu, maka aku tidak akan pernah melakukannya," ucap pria itu lagi dengan yakin.


"Kau berani menentang ayahku?" tantang Autumn.


"Kenapa tidak?" sahut Benjamin percaya diri.


"Tidak, Elle," tolak Benjamin pelan, tetapi cukup tegas.


"Izinkan aku untuk bernapas sejenak, Ben. Aku ingin merenung sesaat," ucap Autumn dengan suara bergetar.


"Aku akan menemanimu," kini giliran Benjamin yang menangkup paras cantik Autumn.

__ADS_1


"Sayangnya aku ingin sendiri," tolak gadis berambut panjang itu seraya menyingkirkan tangan Benjamin dari wajahnya. "Aku harus menghirup banyak udara segar agar bisa bernapas lega serta berpikir dengan jernih. Tolong berikan aku sedikit ruang," pinta Autumn. Dia lalu membalikan badannya dan bermaksud untuk pergi.


Akan tetapi, dengan segera Benjamin meraih pergelangan tangan gadis yang teramat dia cintai tersebut. Pria berparas rupawan itu menggeleng pelan sebagai tanda tidak setuju. "Aku tak akan mengizinkanmu melewati pintu itu dengan membawa sebuah kekesalan terhadapku atau keadaan kita," ucapnya.


"Apapun yang ada dalam hati, hanya akulah yang mengetahuinya. Semua rasa marah dan kesal yang kurasakan ... ah sudahlah. Aku harus pulang, Ben," Autumn melepaskan genggaman tangan Benjamin dari pergelangannya.


"Aku akan mengantarmu," Benjamin segera menyusul Autumn ke dekat pintu.


"Fleur jauh lebih membutuhkanmu," tolak Autumn pelan, tapi terasa begitu dalam.


"Namun, aku juga membutuhkanmu, Elle!" tegas Benjamin dengan segera. Dia menatap lekat gadis itu dan seakan memintanya untuk tidak berpikir yang macam-macam.


"Aku tahu itu, Ben," balas Autumn pelan. "Aku sangat memahaminya," ucap gadis itu lagi. Dia lalu memutar pegangan pintu. Saat pintu terbuka, tampaklah Fleur di atas kursi rodanya. Di sisi kanan gadis kecil tersebut, terlihat Aamber yang berdiri menemani. "Aku sudah selesai bicara dengan papamu, Fleur. Semoga kau cepat sembuh," setelah berkata demikian, Autumn beranjak dari hadapan mereka. Dia menerima mantel yang disodorkan oleh seorang pelayan padanya.


"Elle!" panggil Benjamin seakan ingin menghentikan langkah kecil gadis yang kini telah melewati pintu keluar. Dia bermaksud untuk menyusul Autumn yang sudah tak terlihat.


Namun, langkah Benjamin harus terhenti ketika Fleur mencegahnya. Pria itu menoleh dan menatap sang putri dengan perasaan tak menentu. "Apa-apaan ini, Fleur?" dalam dan terdengar cukup lirih suara pria bermata abu-abu itu. "Kenapa kau bersikap seperti ini?" Benjamin merasa tak terima atas apa yang harus dia hadapi.

__ADS_1


"Biarkan saja Elle pergi," jawab Fleur.


__ADS_2