The Gray Autumn

The Gray Autumn
Miss Communication


__ADS_3

"Katakan ada apa ini?" pinta Benjamin yang terlihat cukup serius saat itu. Tatapannya terus dia layangkan kepada Autumn, sementara tangannya sibuk mengelus rambut panjang Fleur yang kini berada dalam dekapannya.


"Tidak ada, Ben. Kami hanya sedang berbincang-bincang. Namun, ada sesuatu yang harus Fleur jslaskan padaku, dan mungkin juga padamu," jawab Autumn menerangkan.


"Kau kemari untuk menjenguk putriku. Elle?" tanya Benjamin lagi. Dia lalu melirik barang-barang yang Autumn bawa dan letakan di atas laci sebelah tempat tidur. Sedangkan Autumn menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Tak berselang lama, Aamber masuk, dan segera menggantikan posisi Benjamin yang saat itu berdiri. Dia bermaksud untuk mengajak Autumn keluar dari kamar. Akan tetapi, niatnya terhenti sejenak ketika pria berambut cokelat tembaga itu mendengar suara tangisan Fleur dalam pelukan sang pengasuh. "Elle membentakku, Bibi," isak Fleur membuat Benjamin seketika mengalihkan perhatiannya kepada Autumn. Sementara Autumn sendiri tidak berkata apa-apa. Gadis itu tampak sedikit bingung. Dia belum menyiapkan sebuah penjelasan bagi Benjamin.


Pria bermata abu-abu itu segera meraih tangan Autumn dan membawanya keluar kamar. Dia menuntun gadis tersebut sambil berjalan cepat. "Ben!" protes Autumn karena Benjamin memegangi tangannya dengan cukup kencang. Namun, Benjamin tak memedulikan protes dari gadis itu. Dia terus menuntun Autumn hingga tiba di ruang kerjanya. Setelah masuk, Benjamin menutup pintunya rapat-rapat.


"Jangan salah paham, Ben," pinta Autumn dengan segera. Dia sudah dapat menebak makna dari sikap sang kekasih padanya.


"Apanya yang salah paham? Aku bahkan belum mengatakan atau bertanya apapun padamu," balas Benjamin seraya berdiri di hadapan Autumn. "Katakan padaku, kenapa Fleur sampai berbicara bahwa dia dibentak olehmu, Elle?" selidiknya.


"Aku tidak membentaknya. Kami sedang membahas sesuatu yang penting, tapi Fleur ...." Autumn tak melanjutkan kata-katanya.


"Fleur apa?" tanya Benjamin lagi agak mendesak Autumn.


"Fleur mengatakan sesuatu yang menurutku sangat keterlaluan, karena itu aku menegurnya. Kuakui jika nada bicaraku mungkin agak tinggi, jadi dia merasa bahwa aku sudah membentaknya," jelas Autumn lagi. Dia tak dapat memperkirakan akan seperti apa sikap Benjamin padanya.


"Putriku baru sembuh. Dia baru kembali dari rumah sakit. Meskipun dokter mengatakan jika kondisinya telah stabil, tapi itu bukan berarti dia benar-benar telah siap untuk situasi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang kalian bahas, tapi menurutku ini cukup keterlaluan, Elle," tegur Benjamin sedikit tegas.

__ADS_1


"Kau menyalahkanku, Ben?" protes Autumn.


"Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya tidak menyukai situasi seperti ini. Seharusnya kau berusaha untuk menarik hati putriku agar dia berubah pikiran dan kembali menerimamu ...."


"Fleur tidak pernah menerimaku!" tegas Autumn. "Itu kenyataannya!"


"Apa maksudmu? Aku melihat sendiri dia menyukaimu saat kalian bertemu untuk pertama kalinya. Semua karena insiden dengan mantan kekasihmu itu," bantah Benjamin dengan tak kalah tegas.


"Kau salah, Ben!" bantah Autumn. "Fleur sebenarnya tak pernah menerimaku sejak awal. Sekarang aku mengerti kenapa saat itu dia terus saja membahas tentang ibunya, mantan kekasihmu si gadis Inggris itu. Fleur melakukannya dengan sengaja agar aku merasa sakit hati," terang Autumn dengan cukup lantang. Tak ada keraguan dalam ucapan ataupun sorot matanya.


Sementara Benjamin tertawa pelan mendengar penuturan dari sang kekasih. Pria itu menggeleng beberapa kali, sebagai tanda penolakan atas semua pendapat Autumn tentang putrinya. "Dia masih kecil, Elle. Tidak mungkin jika Fleur bisa bersiasat seperti itu!" sanggahnya tegas.


"Jelaskan padaku," pinta Benjamin. Nada bicaranya mulai terdengar rendah.


Autumn kembali mengempaskan napas pelan. Ditatapnya paras tampan sang kekasih. Meskipun pria itu berusia jauh di atasnya, tetapi Benjamin tak terlihat tua sama sekali. Dia masih tampak sangat menawan dan juga memesona. Segala hal yang ada pada dirinya begitu indah dan seakan sempurna. "Aku tak yakin apa kau akan mempercayai ini atau tidak. Namun, tadi Fleur mengatakan sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman," ucap Autumn kemudian. Ada setitik keraguan dalam sorot matanya.


"Apa itu?" tanya Benjamin. Dia berpindah ke dekat meja kerja, dan menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja tersebut. Rasa penasaran tampak jelas dalam raut wajahnya yang tampan.


"Fleur tak ingin kau dekat dengan siapa pun," ungkap Autumn pelan.

__ADS_1


"Siapa pun?" ulang Benjamin seraya menautkan alisnya.


"Ya, wanita manapun. Dia tak ingin kau bersama siapa pun. Aku yakin pasti ada seseorang yang telah mempengaruhi pikirannya, sehingga dia bisa mengatakan hal seperti itu," Autumn terdiam sejenak. "Coba saja kau tanyakan padanya. Dari mana dia mendapatkan kata-kata bahwa setiap wanita yang dekat denganmu hanya untuk bersenang-senang. Anak sekecil itu belum dapat memahami hal-hal yang ...."


"Kau mencurigai seseorang?" sela Benjamin. "Apa lagi ini, Elle? Aku mengenal Fleur dengan baik," Benjamin seakan membantah apa yang Autumn pikirkan.


"Ya, kau mengenal putrimu dengan baik. Akan tetapi, kau tidak selalu bersamanya, Ben. Berapa hari dalam seminggu kau menghabiskan waktumu bersama Fleur?" Autumn tetap pada pemikirannya. Dia balik membantah ucapan Benjamin.


Pria bermata abu-abu itu tertawa pelan seraya menyugar rambutnya yang tampak sedikit acak-acakan. "Jangan katakan jika kau mencurigai Aamber. Dia adalah pengasuh yang baik. Wanita itu sudah menjaga putriku sejak lama."


"Itu tak menutup kemungkinan, Ben. Aamber adalah orang terdekat Fleur, bahkan kurasa jauh lebih dari dirimu," sanggah Autumn tegas.


"Jangan gila, Elle! Jika Fleur belum dapat menerimamu dengan baik, seharusnya kau berusaha untuk mengambl perhatiannya secara wajar, bukan dengan hal-hal konyol seperti ini," Benjamin menggeleng pelan. Dia tak dapat memahami jalan pikiran gadis itu.


"Aku juga tidak suka saat kau harus berbicara dengan nada tinggi pada putriku. Ingat, kau belum berhak untuk melakukan hal itu," tegurnya lagi.


"Oh, astaga. Semua orang menyalahkanku. Entah itu Gabriel ataupun dirimu. Aku merasa begitu bodoh. Kau tahu? Situasi baik tak berpihak padaku sama sekali," keluh Autumn seraya merapikan penampilan. Tampaknya dia akan pergi.


Melihat hal itu, Benjamin segera menegakan tubuhnya dan meraih tangan sang kekasih. "Tidak, Elle bukan itu maksudku," Benjamin mencegah gadis itu agar tidak pergi. Akan tetapi, dengan segera Autumn menepiskan tangannya. "Aku lelah, Ben," tolak gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2