The Gray Autumn

The Gray Autumn
Réciproque


__ADS_3

Autumn sudah selesai dengan barang-barang yang akan ia bawa ke Marseille. Gadis itu tampak sangat bahagia. Ia tak pernah begitu bersemangat ketika akan mengunjungi kota pelabuhan tersebut. "Kau terlihat sangat berbeda, Elle. Biasanya kau selalu uring-uringan setiap kali ayah mengajak kita ke Marseille. Lihatlah, kali ini kau tampak begitu bersemangat," Darren lagi-lagi datang dan menggangu sang kakak.


"Kau tidak senang jika aku terlihat seperti ini?" jawab Autumn tak acuh. "Aku akan berangkat satu jam lagi, jadi tolong minggir dan jangan membuat suasana hatiku menjadi kacau," ia mendorong pemuda itu untuk keluar dari kamarnya. Namun, Darren bergeming. Ia masih terlihat tenang bahkan malah terkekeh geli.


"Elle, aku mulai curiga akan sesuatu," ucapnya membuat Autumn yang saat itu berusaha untuk mengeluarkannya dari kamar, menjadi terdiam. Ia menatap sang adik dengan raut penasaran.


"Apa maksudmu?" tanya Autumn seraya mengernyitkan keningnya. Sedangkan Darren masih saja tertawa renyah. Ia seakan ingin terus mengerjai sang kakak.


"Kau tahu, Elle? Sikapmu terhadap tuan Royce semalam, menurutku terlalu berlebihan. Apa kau tak takut jika ayah dan ibu akan curiga?" ucapan Darren semakin membuat Autumn tak mengerti. Gadis itu melepaskan tangannya dari lengan pemuda berambut agak gondrong tersebut. Ia kembali ke dalam kamar dan merapikan dirinya di depan cermin.


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu," kilah Autumn mencoba untuk bersikap tak peduli. Namun, Darren tak membiarkannya begitu saja. Pemuda itu kembali masuk dan berdiri di dekat gadis yang kini sedang sibuk merapikan rambutnya.


"Ayolah, Elle. Jangan berpura-pura bodoh di depanku. Aku melihat kalian berciuman malam itu," ucap Darren dengan tenangnya. Akan tetapi, Autumn sebaliknya. Sepasang mata abu-abu gadis itu terbelalak dengan sempurna. Namun, hal tersebut justru membuat Darren menjadi semakin terlihat senang. "Apa artinya itu, Elle? Apakah tuan Royce juga yang menggigit lehermu sampai merah saat di Marseille tempo hari?" goda pemuda itu diiringi tawa geli.


"Ah, tutup mulutmu!" sentak Autumn jengkel. Gadis itu memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Kau tenang saja, Kakakku yang cantik. Mulut adikmu ini tertutup rapat. Sangat rapat," ujar Darren lagi dengan tenang. Namun, Autumn sangatlah mengerti. Ia yakin jika adiknya itu pasti menginginkan sesuatu sebagai timbal baliknya.


"Apa maumu, Darren? Aku tahu bahwa kau tak sebaik itu," tanya Autumn curiga. Sementara Darren hanya terbahak mendengar pertanyaan sang kakak yang terdengar seperti sebuah penawaran yang menarik baginya. Pemuda itu duduk di ujung ranjang Autumn dengan sedikit mencondongkan tubuh ke belakang, dan bertumpu pada kedua telapak tangan yang ia letakkan lebih mundur dari posisi badannya.


"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu, Elle. Untuk permulaan, aku ingin kau membantuku. Seperti biasa, Kakak. Aku ingin putus dari kekasihku yang sekarang," ujar Darren seraya membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia lalu merogoh dan menyodorkan ponselnya kepada sang kakak.


Autumn seakan sudah mengetahui dengan apa yang harus ia lakukan. Gadis itu menerima ponsel tersebut dan mulai mengusap layarnya. Ia masuk ke menu kontak. "Siapa yang harus aku hubungi?" tanyanya.


Darren beranjak dari duduknya dan menghampiri Autumn. Ia berdiri di sebelah gadis itu. "Carilah kontak dengan nama Bianca, dan lakukanlah tugasmu," titahnya dengan tenang.


Tanpa harus diperintah dua kali, Autumn melakukan apa yang Darren katakan. Setelah menemukan nomor yang dimaksud, ia segera menghubunginya. Autumn menunggu sampai beberapa saat hingga panggilannya tersambung. Tak berselang lama, gadis itu mulai bicara, "Hey, ja•lang! Sebaiknya mulai detik ini kau segera menjauhi Darren, atau hak sepatuku akan melayang ke wajahmu dan membuatnya terlihat semakin tak beraturan, gadis alien!" Autumn membuka pembicaraannya dengan kata-kata yang sangat kasar.


"Oh, astaga aku benar-benat takut," ringis Autumn. "Aku tak akan mau membuang waktuku yang berharga hanya untuk bertemu denganmu. Intinya seperti itu. Jauhi Darren saat ini juga, dan carilah pria bodoh yang bersedia menerimamu apa adanya. Jika setelah ini kau masih berani mendekati Darren-ku, maka lihat saja apa yang akan kulakukan padamu!" ancam Autumn seraya menutup sambungan teleponnya. Ia mendelik tajam kepada sang adik yang tengah terkekeh geli melihat akting gadis itu yang terlihat meyakinkan.


"Entah berapa banyak lagi gadis tak berdosa yang harus kumaki tanpa alasan. Kau sungguh keterlaluan, Darren! Mulai saat ini berpikirlah untuk menjalin hubungan yang jauh lebih serius atau jangan pacaran sama sekali! Menyebalkan!" gerutu Autumn seraya meraih tangan Darren dan meletakkan ponsel milik sang adik di atas telapak tangan pemuda itu.

__ADS_1


"Ini bukan salahku, Elle. Aku sudah menolak gadis itu tapi ia masih mengejarku," kilah Darren masih dengan tawanya.


"Ya, dan kau menyimpan nomor teleponnya. Dasar brengsek!" umpat Autumn lagi seraya meraih kopernya dan menurunkan benda tersebut dari atas kasur. Sudah saatnya bagi gadis itu untuk berangkat ke bandara.


"Kau akan pergi sekarang?" tanya Darren yang mulai menghentikan tawanya.


"Ya. Jangan katakan jika kau ingin ikut!" sergah Autumn. Ia berjalan menuju pintu. "Cepat pergi dari kamarku sebelum aku menguncinya, atau kau terpaksa harus keluar dengan melompat dari jendela!" perintah Autumn dengan tegas.


Darren pun menuruti perintah Autumn. Namun, sebelum pemuda itu benar-benar pergi dari sana, ia sempat berbisik kepada sang kakak dengan nakalnya, "Sampaikan salamku untuk tuan Royce. Aku harap kali ini ia lebih berhati-hati. Jangan sampai kau kembali dengan membawa tanda merah yang jauh lebih banyak," ucapnya sambil kembali tertawa. Tanpa banyak bicara lagi, pemuda berambut agak gondrong itu segera berlalu dari hadapan Autumn. Akan tetapi, baru saja gadis bermata abu-abu tersebut bernapas dengan lega, tiba-tiba Darren berbalik. "Ah, hampir lupa. Aku ingin kau memenuhi tiga permintaanku sebagai alat untuk menutup mulut. Anggap yang tadi sebagai bonus, dan aku akan menagih tiga permintaan itu kapan-kapan saja," ujarnya tenang. Setelah itu, Darren kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Autumn tak menanggapi ocehan pemuda itu. Satu yang pasti, tentu saja ia merasa jengkel karenanya. "Dasar adik tak tahu diri!" umpat Autumn pelan, terlebih saat itu ia melihat Arumi tengah menuju ke arahnya.


"Kau sudah siap, Sayang? Sopir akan mengantarkanmu ke bandara," ucap wanita cantik itu lembut. Sementara Autumn menanggpainya dengan sebuah senyuman.


"Jaga dirimu baik-baik selama di sana. Aku harap kau tak berbuat yang macam-macam. Ingat, jangan mencari masalah dengan ayahmu, atau ia akan benar-benar mengaktifkan pelacak pada ponselmu," pesan Arumi seraya menyentuh bahu putri sulungnya dengan lembut.

__ADS_1


"Ibu tenang saja. Aku akan menjadi gadis yang baik selama di sana. Jika sempat aku akan mengunjungi makam kakek dan nenek, tapi jika tidak maka ...." gadis itu tak melanjutkan kata-katanya ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Autumn kemudian merogoh ke dalam tas dan mengambil benda tersebut. Sebuah pesan masuk dari Benjamin yang tak segera ia baca.


"Tak apa, Sayang. Bersenang-senanglah dan jangan lupa pesanku," tutup Arumi.


__ADS_2