The Gray Autumn

The Gray Autumn
N'évitez Pas


__ADS_3

Suasana hangat yang tak biasa di meja makan pagi itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keanu dapat kembali bercanda dan berbagi tawa bersama Arumi, meskipun obrolan mereka menggunakan bahasa yang campur aduk.


"Aku ingin sekali bertemu dengan Dinan, tapi sayangnya dia tidak ada di kota ini," sesal Arumi. Rasa sayang terhadap keponakannya yang satu itu memang luar biasa, berbeda dengan Jenna yang tidak terlalu dekat dengannya. Ketika Jenna besar, Arumi sudah pindah ke Paris.


"Dia menitip salam untukmu, Arum," sahut Keanu sambil terus menyantap menu sarapannya.


"Lalu, apa rencanamu hari ini, Arum?" Puspa ikut bersuara.


"Entahlah, mungkin berkunjung ke toko. Aku sangat merindukan tempat itu," jawab Arumi.


"Tante bisa ikut kami," sela Jenna. Sementara Autumn dan Darren hanya diam. Keduanya tidak mengerti dengan perbincangan yang berlangsung. "Bagaimana, Elle? Hari ini kita ajak tante Arumi ke toko, biar dia lihat seberapa rajinnya dirimu," Jenna mengalihkan pandangannya kepada Autumn.


"Sungguh? Aku akan sangat bahagia andai Ibu bisa melihat bakat terpendamku," ujar Autumn penuh percaya diri.


"Kau menggelikan, Elle," ledek sang adik yang segera berbalas sebuah lemparan selembar tisu dalam bentuk gulungan kecil.


"Hey, kalian," protes Arumi tegas tapi masih dengan nada yang bersahabat. "Ingat, ce n'est pas Paris (ini bukan Paris)." Wanita itu menggeleng tak mengerti dengan sikap kedua buah hatinya yang telah sama-sama dewasa. Akan tetapi, kelakuan Autumn dan Darren layaknya anak belasan tahun.


"Darren yang mulai duluan, Bu," Autumn membela diri seraya menoleh kepada sang adik yang tersenyum mengejek padanya. "Vous êtes vraiment énervant! Pourquoi êtes-vous venu ici? (Kau sangat menyebalkan! Kenapa kau ikut kemari?)," gerutu Autumn. Beberapa waktu tidak bertemu dengan Darren, tak membuatnya merasa rindu terhadap pemuda dua puluh tahun itu.


"Aku tidak akan menanggapi ucapanmu, Elle," sahut Darren tenang. Sedangkan Autumn hanya membalasnya dengan menjulurkan lidah. Kelakuan mereka berdua lagi-lagi membuat Arumi harus kembali melotot tajam sebagai isyarat agar keduanya segera menghentikan kekonyolan itu. Sementara Puspa dan Jenna hanya tertawa geli.


Lain halnya dengan Keanu. Dia yang saat itu membawa ponsel ke meja makan, justru sibuk dengan benda persegi tadi. "Lanjutkan dulu sarapannya, Pa," tegur Puspa dengan mesra. Dia menyentuh lengan Keanu, membuat pria itu segera menoleh. Akan tetapi, tak berselang lama sebuah panggilan masuk. Keanu pun beranjak dari meja makan karena harus menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


"Kakakku selalu sibuk dari dulu," ujar Arumi sepeninggal Keanu.


"Ya, kau benar. Suamiku itu memang gila kerja, padahal dia sudah memiliki perwakilan tapi tetap saja ...." Puspa tak melanjutkan kata-katanya, karena tak lama sang suami muncul lagi di sana. Keanu kembali duduk di kursinya. "Apa ada masalah?" tanya wanita bertubuh mungil itu.


"Tidak ada. Irawan yang menghubungiku barusan. Dia adalah penanggung jawab resort di Kepulauan Seribu. Katanya ada seorang pengusaha asing yang ingin bertemu denganku untuk masalah bisnis," jelas Keanu.


"Wah, itu berita yang sangat bagus," Arumi menanggapi.


"Ya. Kebetulan hari ini aku akan ke kantor, jadi kami akan bertemu di sana. Aku akan berangkat satu jam lagi," ujar Keanu seraya meneguk minumannya. Dia sudah kehilangan selera makan karena tadi sempat terjeda beberapa kali.


"Sepagi ini?" protes Puspa.


"Ya, karena nanti siang aku harus bertemu dengan Moedya," sahutnya membuat Arumi lebih memilih untuk tidak ikut menimpali obrolan suami istri tersebut.


"Sayangnya iya," jawab Keanu tenang dengan senyuman yang terkembang di wajahnya, membuat Puspa tak bisa membantah lagi. "Mama tahu bukan jika hanya itu hiburan untuk kami berdua," ucap pria itu lagi seraya melirik Arumi.


"Ya, Moedya memang senang memancing sejak dulu. Apakah danau itu masih ada, Kak?" seberkas kenangan manis hadir dalam ingatan Arumi. Namun, tak lama kenangan manis itu sirna ketika dirinya teringat saat harus menangis dan meratapi kepergian pria yang kini telah menjadi suami Diana. Arumi tersenyum nanar, kemudian menggeleng pelan. Dia tak seharusnya mengingat apapun yang berkaitan dengan Moedya. Kedatangannya ke Indonesia kali ini bukanlah untuk mengenang masa lalu, meskipun ada dari beberapa kenangan yang tak mungkin untuk dia singkirkan. Salah satunya adalah toko kue Sweet in Jar.


Toko itu telah banyak berubah dari terakhir kali Arumi menyerahkannya ke tangan Puspa, dan kini dikelola oleh Jenna. Mereka bahkan memiliki banyak karyawan. Arumi memperhatikan tangan-tangan terampil yang begitu cekatan dalam mengolah si manis beraroma sedap itu.


"Aku selalu menghabiskan waktu di sini, Bu. Dua minggu berlalu tanpa terasa, meskipun aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan setiap harinya. Tak banyak di antara mereka yang fasih berbahasa Inggris, terlebih bahasa Perancis. Namun, aku menyukai tempat ini. Saat nanti aku kembali ke Paris, toko ini akan menjadi tempat yang paling kurindukan," tutur Autumn dengan tatapan yang sama tertuju pada mereka di dalam dapur.


"Kau benar, Elle. Aku juga merasakan hal seperti itu dulu. Kau tahu? Aku menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk menyendiri di sini," terang Arumi dengan seutas senyuman di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Kenapa Ibu harus menyendiri? Apa Ibu mencoba menghindari seseorang?" selidik Autumn melirik sang ibu.


"Ya. Aku menghindarinya dengan alasan untuk merenung. Namun, ternyata aku telah keliru. Makin aku menjauhinya, maka dia semakin terlepas dari genggamanku. Lalu semua berakhir ...." Arumi menarik napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. Kegetiran itu kembali mengusik sanubari. Akan tetapi, Arumi segera menepiskan semua dengan mengingat paras tampan Edgar. Ya, Edgar yang telah berjuang keras untuknya.


"Apakah pria itu adalah paman Moe?" tanya Autumn tanpa basa-basi.


"Ya. Pria itu adalah Moedya. Arjuna Moedya Aryatama. Dia merupakan pria pertama yang menarik perhatianku, setelah aku kembali dari Perancis," Arumi membalas lirikan putrinya kemudian tersenyum. "Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Itu hanya masa lalu. Seindah apapun moment yang telah kulewati bersama Moedya, itu tak akan berarti apa-apa. Kau tahu kenapa, Elle?"


Autumn menggeleng pelan. Sementara tatapannya masih lekat tertuju kepada sang ibu.


"Karena kenyataannya aku menghabiskan sisa masa depanku bersama ayahmu, Edgar Hillaire," jelas Arumi. "Jika kau memang mencintai tuan Royce dan berharap lebih dari kisah indah kalian, maka kusarankan agar kau berhenti untuk menghindar. Hadapi seberat apapun masalah yang menjadi sandungan dalam perjalanan antara kau dengannya. Setelah nanti dirimu merasa bahwa sudah berjuang dengan keras, maka lihat ke mana takdir akan membawa kalian berdua. Setidaknya kau tidak merasa menyesal karena sudah menjadi pengecut yang lari dari masalah, dan tidak berbuat apa-apa untuk mencari solusi," jelas Arumi panjang lebar, membuat Autumn terdiam dan memikirkan semua ucapan sang ibu dengan dalam.


Sementara itu, Keanu sudah tiba di kantor. Sesuai rencana, dia akan bertemu dengan pengusaha asing itu di sana. Keanu telah siap di ruangannya. Ini bukanlah kali pertama dia menerima tamu penting dalam satu bulan itu.


Suara ketukan di pintu membuat Keanu bergegas merapikan kemeja beserta blazer yang dia kenakan. Setelah itu, sekretarisnya masuk dan memberitahukan bahwa tamu penting yang sedang dia tunggu sudah tiba di kantor tersebut. Keanu segera beranjak dari belakang meja kerjanya dan berjalan dengan gagah menyambut seorang pria yang baru saja masuk.


"Welcome to my office, Mister," sambut Keanu ramah dan penuh wibawa.


"Thank you very much. Kantor Anda sangat luar biasa. Aku dengar Anda juga memiliki darah Perancis," balas pria itu dengan tak kalah ramah.


"Ya, itu benar. Ayahku berasal dari sana," ucap Keanu. Dia mengarahkan tangan kanan ke arah kursi, sebagai isyarat agar tamunya segera duduk.


"Baguslah, karena itu artinya kita bisa berbincang dalam bahasa Perancis saja. Perkenalkan namaku Benjamin Royce."

__ADS_1


__ADS_2