The Gray Autumn

The Gray Autumn
Intimidateur


__ADS_3

Autumn tertegun dan menoleh. Ia menatap sang ayah dengan raut tak mengerti. Kedua alisnya saling bertaut. “Pria yang mana maksud Ayah?” tanya gadis itu dengan nada ragu. Rasanya ia ingin segera melarikan diri dari sana untuk menghindari pembahasan tersebut. “Jika ini tentang suara pria yang Ayah dengar tadi, bukankah hal itu sudah kujelaskan berkali-kali,” Autumn kembali menegaskan.


Edgar mengempaskan sebuah keluhan pendek. Ia belum merasa yakin dengan semua penjelasan dari putri sulungnya tersebut. “Kau yakin tak ingin memberitahuku, Elle?” pertanyaan Edgar yang lebih terdengar seperti sebuah tantangan dan sedikit beraroma ancaman, membuat  Autumn menjadi salah tingkah. Gadis berambut panjang tersebut memaksakan dirinya untuk menganggukan kepala. Sedangkan Edgar masih dengan tatapannya yang terasa kian mengintimidasi. “Baiklah jika itu memang pilihanmu,” ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Autumn yang masih terpaku. “Aku tidak tahu kenapa kau harus menyembunyikan pria itu dari ayahmu sendiri. Akan tetapi, cepat atau lambat aku pasti akan segera mengetahuinya. Ini sudah malam. Segeralah beristirhat, bukankah kau sangat lelah?” Edgar meyentuh pipi Autumn dengan lembut seraya mengecup keningnya. Setelah itu, ia berlalu dari ruangan tersebut dan meninggalkan putri semata wayangnya yang kini hanya terpaku dalam kebimbangan.


Sementara itu, Benjamin masih berada di jalan. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Wajah tampan itu terlihat berseri. Benjamin seperti baru menemukan sesuatu yang membuatnya merasa begitu bahagia. Namun, satu hal yang tidak ia sadari. Tak jauh di belakangnya, mengikuti sebuah mobil sedan hitam yang entah dikendarai oleh siapa. Pengemudi tersebut menjaga jaraknya dengan mobil Benjamin seaman mungkin, sehingga pria berambut cokelat tembaga itu tak menyadari jika dirinya tengah diuntit oleh seseorang.


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam ketika Benjamin kembali ke kediamannya. Sementara, mobil yang sejak tadi mengikutinya memilih untuk memutar balik, setelah ia merasa cukup menguntit pria bermata abu-abu itu.


Baru saja Benjamin masuk ke rumahnya, dering ponsel menyambut dan membuat pria dengan postur 185 cm itu memilih untuk duduk sejenak di ruang tamu. Nama Aamber muncul di layer ponsel. Benjamin pun segera menjawab panggilan tersebut. “Ada apa, Aamber?” Benjamin membuka percakapan.


“Tidak ada. Aku hanya ingin mengingatkanmu, semoga kau tak lupa untuk datang ke Marseille akhir bulan ini,” jawab Aamber dari seberang sana.


“Kau tenang saja. Aku sudah mengosongkan jadwalku untuk beberapa hari,” jawab Benjamin yakin. “Bagaimana kabar Fleur? Apa ia ada masalah lagi di sekolahnya?”


“Ya, seperti biasa, Ben. Kau tahu bukan jika putrimu tak pernah banyak bicara, tapi aku yakin jika ada sesuatu yang terjadi padanya,” jelas Aamber. "Aku rasa mungkin ia akan bercerita padamu nanti saat kalian bertemu," lanjut wanita yang merupakan pengasuh dari Fleur.


Benjamin mengempaskan napas pelan. “Aku akan bicara dengannya nanti. Kau tidak perlu khawatir. Selamat malam, Aamber. Aku ingin beristirahat dulu,” ia mengakhiri perbincangan singkat itu. Benjamin kemudian menatap lukisan seorang wanita yang terpasang di dinding, yang merupakan gambar dari wajah mendiang ibunya, Celeste. Benjamin sangat mencintai sang ibu. Hubungan mereka begitu dekat, terlebih ketika sang ayah telah tiada. Pria bertubuh tegap itu beranjak dari duduknya dan melangkah ke dekat lukisan tersebut. Ia berdiri di sana seraya menatap lekat wajah cantik ibunya. “Aku harap ini bukan keputusan yang keliru, Bu. Aku menyukainya. Ya, aku mulai tertarik padanya,” gumam Benjamin dengan senyuman simpul di bibirnya. Sesaat kemudian, ia melanjutkan langkah menuju kamar.

__ADS_1


......................


 


Keesokan harinya, seperti biasa Autumn telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Makin hari, ia semakin menikmati masa magangnya di sana, terlebih karena hari itu ia mendapat pesan berisi ucapan selamat pagi dari Benjamin Royce. Hal tersebut menjadi sebuah suntikan semangat bagi Autumn. Namun, semangat yang tengah dirasakan gadis bermata abu-abu itu seketika sirna, ketika seorang pria tiba-tiba muncul dan mensejajari dirinya dari samping. Autumn melirik pria itu dan segera mempercepat langkah. Ia mendahuluinya hingga sedikit menjauh.


“Tunggu, Elle!” seru pria yang tiada lain adalah Leon. Ia bergegas mengejar Autumn dan kembali mensejajari gadis itu. “Aku ingin bicara denganmu sebentar saja,” pinta pria itu sedikit memohon. Akan tetapi, Autumn tak menggubrisnya sama sekali. Ia terus berjalan dan membiarkan Leon begitu saja. Autumn bahkan menganggap seolah-olah pria itu tak ada di dekatnya. “Elle! Ayolah, kumohon!” Leon berusaha untuk meraih tangan gadis itu, tapi dengan segera Autumn menepiskannya. Ia melotot tajam kepada pria yang telah dianggapnya sebagai mantan kekasih.


“Jangan berani-berani menyentuhku!” sergah Autumn tegas dengan telunjuk yang lurus tertuju di depan wajah tampan Leon. “Cepat mundur atau ‘adik kecilmu’ akan merasakan lututku dengan keras!” ancamnya.


Autumn mengeluh pelan seraya melipat kedua tangannya di dada. Gadis cantik berambut cokelat itu membuang mukanya ke samping, karena tak ingin melihat wajah memelas yang diperlihatkan Leon padanya. “Membosankan! Aku tak mau lagi berurusan denganmu, kenapa kau masih saja menggangguku? Apa sepulang dari Meksiko kau dipecat sehingga tak punya pekerjaan dan akhirnya memilih untuk menjadi penguntit? Ayolah, Leon! Sudah kukatakan bahwa aku muak padamu dan hubungan kita pun telah berakhir! Kau dengar? Berakhir!” tegas Autumn seraya mendengus kesal. Ia bermaksud untuk melanjutkan langkahnya, sebelum Leon kembali membuat gadis itu tertegun.


“Katakan padaku siapa pria itu?” tanya Leon.


Autumn menoleh. “Pria yang mana?” ia mengernyitkan keningnya.


“Pria yang kemarin membawamu pergi dariku. Pria berambut pirang dengan mata hijau,” jelas Leon meyebutkan ciri-ciri Gabriel.

__ADS_1


Autumn tersenyum puas. “Apa masalahmu?” tanyanya angkuh.


“Apakah pria itu yang kau panggil tuan Royce?” selidik Leon yang tampak begitu penasaran.


“Bukan urusanmu!” balas Autumn tak acuh. “Aku sudah terlambat. Kau benar-benar pengganggu!” dengusnya lagi seraya kembali melanjutkan langkah.


“Baiklah. Lalu siapa pria yang semalam mengantarkanmu pulang? Aku melihat kalian berciuman dengan sangat mesra," cecar Leon lagi.


Autumn begitu terkejut mendengar ucapan Leon. Ia menoleh dan kembali melotot tajam kepada pria itu. Autumn kemudian menghampiri Leon yang berada beberapa langkah darinya. Gadis itu terlihat begitu marah. Jari telunjuknya kembali mengarah lurus tepat di depan hidung mancung Leon. “Kau mengintaiku diam-diam? Jangan katakan jika kau sengaja melakukannya!” Autumn berkata dengan penuh penekanan tajam. “Tak tahu malu!” sentaknya pelan tapi tegas.


“Aku hanya merasa penasaran,” kilah Leon.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2