The Gray Autumn

The Gray Autumn
Amant De Retour


__ADS_3

"Leon? Untuk apa kau menghubungiku lagi?" Autumn bangkit dan terududuk.


"Bukan itu yang ingin kudengar, Elle. Katakan siapa Tuan Royce yang kau sebutkan tadi!" desak Leon. Nada bicaranya terdengar penuh selidik dan curiga.


"Siapa pun Tuan Royce, itu bukan urusanmu!"


"Tentu saja itu menjadi urusanku, Elle! Kau masih berstatus kekasihku, dan kau berbicara dengan begitu mesra kepada pria lain. Oh, bagus sekali!" dengus Leon kesal.


"Kenapa kau harus marah? Aku sudah menganggap hubungan kita selesai saat kau menghilang tanpa kabar dan mengabaikanku dengan seenaknya!" dengus Autumn terbawa emosi.


"Aku sudah menjelaskannya padamu kemarin," kilah Leon membela dirinya.


"Kau pikir alasan seperti itu cukup? Sudahlah, Leon! Aku lelah dan sangat muak padamu!" Autumn menutup sambungan telepon begitu saja. Ia juga melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan jengkel seraya mendengus kesal. Telepon dari Leon telah membuat bunga-bunga indah yang bermekaran di dalam hati Autumn seketika layu. Wajah ceria gadis itu tak terlihat lagi dan berganti raut masam.


Autumn kemudian melihat arlojinya. Saat itu sudah lebih dari pukul sepuluh malam, dan ia harus segera tidur. Ia tak ingin jika dirinya sampai bangun kesiangan. Autumn pun segera berganti pakaian dan membersihkan wajah. Gadis itu terus memperhatikan dirinya dalam pantulan cermin wastafel sambil menggosok gigi.


'Kau sangat cantik dan juga manis' kata-kata itu terus terngiang di telinga Autumn, membuatnya semakin mendekatkan wajah ke cermin. Ia mengamati setiap detail paras cantiknya dengan saksama.


......................


Seusai sarapan, Autumn kemudian bersiap untuk berangkat ke kantor. Sementara Darren dengan papan skateboard kesayangannya. Pemuda itu hendak pergi ke kampus. Darren terlihat sangat bersemangat. Itu sesuatu yang tidak biasa, karena pemuda berambut agak gondrong tersebut selalu terlihat malas tiap kali ada jadwal kuliah.


"Pagi yang menyenangkan, Darry," ucap Arumi melihat sikap putra bungsunya.

__ADS_1


"Tumben sekali kau terlihat sangat bersemangat. Jangan katakan jika kau mendapatkan 'papan seluncur' baru," sindir Autumn. Ia menyebut kata papan seluncur sebagai pengganti kata pacar bagi sang adik.


"Seharusnya kau selalu seperti itu, Darren. Aku berharap kau juga merapikan rambutmu," Edgar ikut menimpali seraya membuka koran dan mulai membaca. Sedangkan Darren terlihat tak mau ambil pusing dengan semua ucapan yang masuk padanya. Pemuda itu begitu tak acuh, baik dari sikap maupun penampilannya.


"Ayah. Jika lulus nanti, apakah aku boleh meminta hadiah?" Darren mendekat kepada Edgar. Ia meletakkan papan skateboard yang sejak tadi dipegangnya.


"Hadiah apa?" tanya Edgar seraya melirik sesaat kepada pemuda itu.


"Nanti saja aku pikirkan dulu, tapi aku ingin agar Ayah berjanji untuk mengabulkannya," jawab Darren dengan tenang.


"Oh, tidak bisa begitu," tolak Edgar dengan segera. "Katakan dulu apa yang kau inginkan, barulah aku akan memutuskan apakah permintaanmu layak untuk dikabulkan atau tidak," jelasnya.


"Jika ini berhubungan dengan sesuatu yang disebut sebagai kebebasan berekspresi, bagaimana?" tanya Darren lagi sedikit berharap.


"Ini sudah siang. Sebaiknya kau segera berangkat, Elle. Kau juga, Darry. Ibu tidak mau mendengar teman-temanmu berteriak-teriak di depan rumah," ujar Arumi dengan gaya keibuannya.


"Teman-temanmu sama meresahkannya denganmu, Dik," ledek Autumn seraya menepuk pundak sang adik.


"Kau tidak punya cermin di kamarmu, Elle?" balas Darren tak mau kalah dengan ledekan sang kakak, membuat Autumn tertawa pelan saat menanggapinya. Mereka berdua kemudian berpamitan pada kedua orang tuanya dan pergi.


Autumn sudah berusia dua puluh dua tahun. Akan tetapi, Edgar belum mengizinkannya untuk membawa mobil sendiri. Sementara Autumn tak suka jika ia harus pergi dengan diantar sopir. Alhasil, gadis itu lebih memilih pergi tanpa fasilitas mobil mewah milik sang ayah. Sementara Darren, pemuda itu sangat menyayangi papan skateboard. Ia selalu membawa benda tersebut ke manapun, sama dengan teman-temannya yang lain. Sekelompok pemuda labil yang masih mencari jati diri.


"Aku duluan, Elle," Darren berlalu bersama beberapa temannya. Sementara Autumn masih berdiri di trotoar dan menunggu taksi. Gadis itu terpaku dengan raut wajahnya yang terlihat cerah dan berseri. Bayangannya sudah tiba pada saat sepulang kerja nanti, di mana ia akan bertemu dan makan malam bersama Benjamin. Akan tetapi, raut berseri Autumn tiba-tiba memudar ketika ada seorang pria yang berdiri di sebelahnya. "Hai, Elle," sapa pria itu tenang.

__ADS_1


Autumn tersentak. Ia segera menoleh. Sepasang mata abu-abunya terbelalak sempurna. "Kau? Bagaimana kau ada di sini?" tanyanya seakan tak menyukai kehadiran pria yang tak lain adalah Leon.


Leon tersenyum kalem. Ia tak langsung menjawab. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang. Ia pun mengempaskan napas pelan. "Kau tak suka aku di sini?" Leon balik bertanya.


"Bukankah kau sedang di Meksiko?" Autumn mengernyitkan keningnya.


"Aku kembali sekitar dua hari yang lalu. Aku pikir kau akan menyambutku dengan penuh suka cita," ujar pria berambut cokelat itu kecewa. "Kau mau ke mana pagi-pagi begini?" tanyanya yang beran melihat penampilan Autumn yang sudah rapi. "Apa kau akan kencan dengan Tuan Royce sepagi ini?" sindir Leon.


"Jangan banyak bicara! Apapun yang kulakukan itu bukan lagi urusanmu!" sergah Autumn. Ia bermaksud untuk pergi dari sana. Autumn tak peduli meskipun dirinya belum mendapatkan taksi, yang penting ia bisa menghindar dari kekasihnya yang hilang tersebut.


"Elle, tunggu!" Leon meraih pergelangan tangan Autumn dan membuat gadis itu menghentikan langkahnya. "Aku ingin kita bicara sebentar saja," pintanya.


"Aku tidak mau!" tolak Autumn tegas.


"Kenapa? Kau masih berstatus kekasihku, dan aku berhak untuk meminta perhatian darimu!" balas Leon dengan nada bicara yang cukup tegas.


"Terserah! Satu hal yang pasti, aku sudah menganggap hubungan kita selesai saat kau menghilang tanpa kabar sama sekali. Aku tak membutuhkan seseorang yang egois sepertimu!" tolak Autumn lagi.


"Kau tak membutuhkanku lagi karena telah mendapatkan pengganti, begitu rupanya?"


"Sudah kukatakan jika itu bukan urusanmu!" sergah Autumn lagi dengan tak kalah tegas. Ia berusaha untuk melepaskan cengkeraman Leon dari pergelangan tangannya. Untung saja, karena suasana di sekitar jalanan itu belum terlalu ramai, sehingga pertengkaran mereka tak terlalu mengundang perhatian banyak orang.


Leon tak juga melepaskan tangan Autumn, meskipun gadis itu terus menolaknya. "Bersikap baiklah, Elle. Aku pasti akan melepaskan tanganmu," ujar Leon pelan. Sementara Autumn masih berontak.

__ADS_1


"Lepaskan gadis itu, Bung!"


__ADS_2