The Gray Autumn

The Gray Autumn
Bouton Lâche


__ADS_3

Autumn berdiri terpaku menatap kepergian sang ibu. Perasaannya yang kemarin begitu lepas dan bahagia, kini kembali kacau. Malas rasanya bagi gadis cantik itu untuk beranjak dari sana. Autumn memutuskan untuk kembali duduk pada bangku taman tadi. Dia teringat akan keadaan Fleur, si gadis kecil yang kini tengah sakit. Benjamin pasti kewalahan mengurusnya seorang diri.


Angin berembus dengan cukup kencang siang itu. Autumn kembali mengenakan mantel yang tadi sempat dia lepas. Tatapannya menerawang dengan pikiran yang kosong, hingga sebuah pesan masuk dan membuyarkan semua lamunannya. Gadis berambut cokelat itu merogoh ke dalam tas. Dia mengambil ponsel dan memeriksanya. Adalah sebuah pesan masuk dari Gabriel.


Selamat karena idemu sudah terpilih untuk acara even musim panas mendatang. Persiapkan dirimu dengan baik. Semoga kau bisa bekerja sama dengan rekan-rekan yang lain.


Autumn mengempaskan napas pelan seraya menyibakan rambut panjangnya ke belakang. Kembali dilihatnya layar ponsel, ketika ada satu lagi pesan masuk dari Gabriel.


Sudah waktunya masuk kerja. Belajarlah untuk bersikap profesional.


Autumn mendengus kesal. Makin lama, pria bermata hijau itu semakin menyebalkan. Autumn meraih tas yang dia letakan di sampingnya. Setelah itu, gadis muda tersebut beranjak dari sana. Dia mencoba untuk bersikap biasa saja, meskipun hati dan pikirannya begitu tak karuan. Musim gugur kali ini, terasa begitu kelabu bagi dirinya.


Gadis bermantel cokelat tersebut terus melangkah di trotoar. Dia tak peduli dengan sekitarnya. Tatapan mata abu-abu itu tertuju lurus ke depan, sedikit kosong dan menerawang. Pada akhirnya, langkah kecil dari kaki jenjang berbalut heels boots cokelat 5 cm milik Autumn, telah tiba di kantor The Royal Royce. Tak bersemangat, itulah raut wajah yang diperlihatkan gadis cantik berpostur semampai tersebut. Autumn, duduk dengan begitu saja di mejanya. Dia merasa malas untuk melakukan apapun. Saat itu, dirinya hanya ingin pulang dan menyendiri.


"Nona Hillaire, kau memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk melakukan persiapan. Jadi, aku harap tak ada alasan bagimu jika saatnya nanti terjadi sebuah kesalahan," ucap Elloise dengan bernada cibiran terhadap Autumn.

__ADS_1


"Tak ada yang bisa memprediksi sesuatu yang belum terjadi. Kesalahan akan selalu ada dalam setiap hal, meskipun kita telah berusaha untuk membuat dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan begitu sempurna," balas Autumn sinis. Dia tahu jika Elloise ingin mencari keributan dengannya.


"Tidak bisa seperti itu, Nona Manis. Kenapa kita mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari? Itu semua untuk meminimalisir kesalahan sekecil apapun yang mungkin terjadi. Ah, itulah bedanya antara profesional dan pemula. Aku tahu jika kau masih dalam tahap belajar, tapi ingat hal itu dengan baik," ujar Elloise lagi dengan sombong. Dia bicara seenaknya terhadap gadis berambut cokelat itu.


Autumn yang sudah duduk, kembali berdiri. Dia meletakan sebelah tangannya di atas meja, dan tangan satunya lagi di pinggang. "Kalau begitu, akan kuserahkan semua tugasku kepada orang yang jauh lebih profesional untuk menghindari adanya kesalahan," balasnya dengan senyuman sinis yang dia tujukan kepada wanita muda di hadapannya.


Elloise tertawa renyah. Dia lalu menggeleng pelan diiringi sebuah decakan tak percaya. "Astaga, Elle. Aku sama sekali tak mengerti kenapa Gabriel bisa memilih idemu untuk event musim panas mendatang. Padahal, di sini ada banyak ide brilian yang masuk ke meja kerjaku. Sayangnya, aku harus mengikuti intruksi dari kepala marketing kita yang tampan," sindir Elloise pada akhirnya.


"Kalau begitu kau tanyakan sendiri pada Gabriel. Aku juga tidak tahu alasannya kenapa dia memilih ide yang kuajukan. Lagi pula, aku tidak peduli. Waktu magangku di sini hanya tinggal beberapa minggu lagi," ujar Autumn dengan sikap tak kalah mencibir dari Elloise.


"Apanya yang luar biasa? Nama ketua marketing kita memang Gabriel, bukan?" Autumn melipat kedua tangannya di dada, seakan menerima tantangan dari Elloise. Gadis itu tahu jika wanita muda di hadapannya berusia beberapa tahun lebih tua dari dirinya. Akan tetapi, Autumn tak peduli dengan hal itu. Satu hal yang pasti, Elloise telah mengajaknya bicara hingga berujung dengan nada yang beraroma perdebatan pada saat yang tidak tepat. Wanita muda tersebut tidak tahu, jika Autumn sedang mengalami kekesalan yang belum dia lampiaskan.


"Kau ingin melangkahiku, Nona sok cantik?" Elloise menantang balik. Dia merasa tak terima, karena selama ini belum ada yang berani menentang ucapannya dengan terang-terangan seperti yang dilakukan Autumn.


"Kau yang memulainya!" tunjuk Autumn.

__ADS_1


"Singkirkan telunjukmu dari hadapanku!" Elloise menepiskan tangan Autumn dengan kasar, sehingga mengundang perhatian dari rekan kerja yang lain.


"Lalu apa maumu, Nona penguasa? Kau ingin aku tunduk dan berkata iya pada semua yang kau ucapkan? Kau juga seorang karyawan di sini, hidup dan makan dari upah tiap bulan yang dibayarkan oleh perusahaan! Kita sama, meskipun jabatanmu memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan diriku atau teman-teman yang lain. Akan tetapi, itu bukan berarti kau bisa berkata dengan seenak hatimu terhadap setiap orang!" kesal Autumn melupkan emosinya saat itu.


"Tutup mulutmu!" Elloise menyerang Autumn terlebih dahulu. Dia menarik rambut panjang gadis itu hingga terhuyung dan mendekat kepadanya. Namun, dengan segera Autumn membalas perlakuan wanita muda itu. Kedua tangannya meraih blouse yang berada di bagian dalam blazer dan menariknya dengan kencang. Beberapa kancing dari pakaian yang dikenakan Elloise terlepas kemudian jatuh ke lantai, sehingga bagian atas dadanya terekspos. Refleks Elloise melepaskan tangannya dari rambut Autumn dan memegangi bagian depan blousnya.


Saat itulah, Autumn menunjukan siapa dirinya. Gadis bermata abu-abu tersebut melayangkan tinju yang kemudian mendarat tepat di hidung mancung Elloise. Wanita muda itu mendongak seraya mundur beberapa langkah. Dia hampir saja terjerembab ke belakang, andai tak ada yang menahan tubuhnya.


"Apa-apaan ini?" tegas, suara Gabriel terdengar saat itu. Dia membantu Elloise untuk tetap berdiri. Sementara wanita muda tersebut sibuk menahan darah yang mengucur dari lubang hidungnya.


"Apa yang kau lakukan, Elle?" tegasnya.


"Dia yang memulainya!" tunjuk Autumn kesal.


"Tidak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar memalukan!" Gabriel tampak begitu tak menyukai apa yang dilakukan oleh Autumn dan juga Elloise. "Jika kalian ingin berkelahi, maka silakan pergi dan lakukan hal itu di luar. Aku tidak ingin ada keributan di ruangan ini!" geramnya. Sesaat kemudian, Gabriel mengalihkan pandangan kepada Elloise. "Segera obati lukamu dan hentikan pendarahannya," setelah itu dia beralih kepada Autumn. "Kau ikut ke ruanganku!" titahnya jengkel

__ADS_1


__ADS_2