The Gray Autumn

The Gray Autumn
Peur Passée


__ADS_3

"Marah atau tidak, itu bukan urusanmu! Aku harus menyelesaikan sesuatu dengan nyonya Hillaire!" Edgar menyingkirkan tubuh Autumn ke samping, sehingga tak lagi menghalangi jalannya. Pria itu melanjutkan langkah menuju tempat peraduannya bersama sang istri. Edgar membuka pintu dengan warna hijau emerald itu. Di dalam sana, tampaklah Arumi yang baru selesai membersihkan riasannya. Dengan sebuah senyuman hangat, wanita yang masih terlihat cantik itu menyambut kehadiran sang suami.


Arumi menghampiri Edgar yang berdiri menatapnya. Dia merangkul pria bertubuh tegap itu, kemudian menciumnya. "Kau terlihat sangat kacau, Ed. Apa ada sesuatu yang membuatmu kesal?" tanya Arumi setelah selesai dengan ciumannya.


"Kau terlihat sangat cantik malam ini," sanjung Edgar dengan raut cukup datar.


"Bagaimana dengan kemarin malam dan tadi siang?" goda wanita itu.


"Kau selalu menjadi ratuku," jawab Edgar dengan senyuman kecil di sudut bibirnya, "tapi aku harus bertanya sesuatu padamu," raut wajah Edgar berubah menjadi lebih datar dan serius, membuat Arumi melepaskan dekapannya dengan perlahan.


Wanita cantik itu menatap sang suami untuk sesaat. Dia tahu jika Edgar saat itu pasti sedang merasakan sesuatu yang membuatnya merasa terganggu, dan mungkin mengganjal di hati. "Ada apa, Sayang?" tanya Arumi. Dia terus memperhatikan pria yang kini menghindarinya dan memilih untuk duduk di ujung tempat tidur. Arumi kemudian mengikutinya dan segera duduk di sebelah sang suami. Disentuhnya pundak Edgar. "Apa kau ada masalah denganku?" tanyanya pelan.


"Ya," jawab Edgar singkat.


Arumi terdiam sejenak tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang suami. Dia seakan sudah dapat menebak apa yang menjadi kegalauan Edgar saat itu. "Maafkan aku, Sayang. Aku belum sempat berbicara padamu," ucapnya menjelaskan tanpa diminta. Akan tetapi, Edgar tidak menanggapi. "Jangan marah. Aku memiliki alasan kenapa tidak langsung bicara padamu," ucap Arumi lagi.

__ADS_1


"Aku kecewa padamu. Kau sudah tahu siapa pria itu, tapi kenapa kau ...."


"Aku baru mengetahuinya kemarin-kemarin," sanggah Arumi. "Selama ini Elle tidak bersedia untuk jujur padaku, meskipun aku selalu bertanya padanya," tutur ibu dua anak itu.


"Aku sangat terkejut," ucap Edgar seraya menyugar rambut, kemudian mengusap kasar wajahnya.


"Elle bicara padamu?" tanya Arumi. "Aku senang karena akhirnya dia bersedia untuk mengatakannya. Aku rasa, mungkin Elle harus mengumpulkan keberanian dulu sebelum jujur padamu," jelas Arumi tetap bersikap lembut dengan suaranya yang cukup pelan.


"Bukan Elle yang bicara padaku," bantah Edgar. "Benjamin Royce sendiri yang memberitahukan semua. Dia sudah mengatakan tentang hubungan asmaranya


bersama putri kita. Andai saja dia mengungkapkan hal itu bukan di tempat umum, maka aku pasti sudah bersikap jauh lebih tegas padanya," Edgar mengepalkan tangan di atas paha sambil mendengus pelan.


"Tidak, Arum!" tolak Edgar dengan tegas. "Aku tidak akan menyetujuinya sama sekali," lanjut pria itu. Dia berdiri sambil bertolak pinggang. Edgar beberapa kali terdengar berdecak kesal, membuat Arumi ikut berdiri. Dia kembali mencoba menenangkan sang suami.


Dipeluknya tubuh tegap Edgar. Walaupun pria itu sudah tidak muda lagi, tetapi sisa-sisa ketampanan masih tampak jelas padanya. Edgar juga masih menjaga pola hidup, sehingga postur tubuhnya tetap terlihat bugar. "Katakan padaku, Ed. Apa yang membuatmu begitu tidak menyukai hubungan Elle dengan tuan Royce?" tanya Arumi. "Mereka berdua saling jatuh cinta, sama seperti kau dan aku dulu," lembut tangan Arumi membelai dada Edgar dari belakang. Sesekali wanita itu mengecup pundak suaminya dengan mesra.

__ADS_1


"Inilah yang membuatku tidak bisa marah padamu. Kau selalu membuatku tergila-gila hingga sekarang," Edgar menggeleng pelan, menyadari kelemahannya di hadapan Arumi. "Aku memiliki alasan yang sangat mendasar, kenapa tak ingin Elle menjalin hubungan dengan Benjamin, atau pria-pria lain yang setipe," ujarnya.


"Katakan padaku. Kau tahu bukan jika Elle adalah gadis yang berwatak keras dan penuh rasa ingin tahu. Dia tidak akan menerima alasan yang hanya dirasa mengada-ada. Jika memang alasan itu dianggap sangat fatal olehmu, maka sebaiknya ungkapkan saja agar Elle bisa memahaminya," saran Arumi. "Akan tetapi, aku tidak yakin bagaimana tanggapan dari seseorang yang tengah dilanda asmara membara," lanjut Arumi lagi.


"Haruskah kukatakan? Bagaimanapun juga aku tak ingin membuka aib seseorang dengan begitu gamblang," tolak Edgar seraya mengempaskan napas pelan.


"Tentu saja kau harus mengatakannya, Sayang," balas Arumi yang kemudian melepaskan dekapannya dari sang suami. Dia mengajak Edgar untuk kembali duduk. Seperti yang selalu dilakukannya dulu, Arumi tahu bagaimana cara menenangkan pria itu. Dia berdiri di hadapan Edgar yang kini duduk menghadap padanya. Diraihnya wajah sang suami, kemudian dikecup keningnya dengan lembut. Sementara Edgar segera membenamkan wajah pada tubuh Arumi sambil melingkarkan kedua tangan di pinggang sang istri. Dia terdiam sejenak sambil menikmati belaian lembut jemari lentik wanita yang selama ini menjadi pujaan hatinya. "Katakanlah, Ed. Jika kau mau, maka aku yang akan bicara kepada Elle dan memberinya penjelasan. Akan kubuat dia mengerti."


"Entahlah, Arum. Aku tak tahu apakah ini sebuah keadilan atau bukan bagi putriku. Namun, aku hanya merasa takut," ucap Edgar penuh keresahan.


"Apa yang membuatmu takut?" tanya Arumi lagi.


"Masa laluku. Kau tahu jika aku juga dulu adalah pria yang brengsek. Aku masih ingat seperti apa diriku memperlakukan seorang wanita. Bayangan seperti itu muncul dan kembali mengusikku ketika Benjamin mengatakan bahwa dia telah mengencani Elle. Putriku, dia masih sangat muda, Arum," sesal Edgar.


"Kau merasa jika ini adalah sebuah karma bagimu?" Arumi masih belum berhenti mengelus lembut rambut sang suami.

__ADS_1


"Ya, mungkin seperti itu. Aku takut dan juga merasa bodoh. Entah dengan cara apa harus kubentengi anak gadis kita agar tak bersinggungan dengan pria-pria sepertiku," helaan napas berat Edgar menghangat di perut Arumi, menembus baju tidur berbahan satin lembut yang membungkusnya.


"Kenapa kau harus menyalahkan dirimu, Sayang. Cinta datang dan hinggap tanpa bisa diduga. Terkadang juga salah sasaran. Akan tetapi, aku rasa seberapapun brengseknya seorang pria, pasti akan ada satu titik di mana mereka merasa lelah dengan semua petualangannya. Contoh nyata adalah dirimu, Tuan Hillaire," ucap Arumi.


__ADS_2