The Gray Autumn

The Gray Autumn
Révélé


__ADS_3

Autumn berdiri sambil menghadap kepada Gabriel. Wajahnya terlihat puas dan tak menunjukan raut tegang sama sekali. Gadis bermata abu-abu tersebut, merasa lega karena telah dapat mengeluarkan energi negatif yang sejak tadi menggunung di hatinya. Sementara Gabriel memperhatikan gadis cantik di hadapannya dengan sorot aneh. Pria berambut pirang itu duduk di tepian meja kerja, dengan kedua tangan di sisi kiri dan kanan. "Katakan sesuatu padaku, Elle. Kenapa kau bersikap seliar tadi?" Gabriel memulai pembicaraan di antara mereka.


"Dia yang memulainya, aku hanya menanggapi," jawab Autumn tenang.


"Dengan cara memukul wajah Elloise hingga hidungnya berdarah?" Gabriel menggeleng pelan seraya berdecak tak percaya. "Itu bukan cara menanggapi yang baik, Nona," ujarnya. Gabriel kemudian melipat kedua tangan di dada.


"Semuanya tergantung dari siapa yang kuhadapi," bantah Autumn tetap merasa tak bersalah. "Lagi pula, dia yang lebih dulu menarik rambutku. Aku hanya melakukan perlawanan. Apa menurutmu itu salah?" Autumn bersikap sangat sombong di hadapan Gabriel. Dia seakan tak merasa takut sama sekali. "Silakan laporkan aku pada bos besar. Aku sudah muak berada di sini," ucap gadis itu lagi.


"Apa gunanya aku melaporkan seorang Autumn, pada bos besar yang merupakan kekasihnya sendiri?" sindir Gabriel. Dia lalu menegakan tubuhnya dan mendekati gadis berambut cokelat itu. "Dengar, Elle. Kau boleh merasa muak berada di sini. Namun, karena insiden tadi, maka aku tetap harus mengambil tindakan sebagai efek jera dan juga peringatan bagi yang lain," nada bicara pria bermata hijau itu masih terdengar santai.


"Oh, jadi hanya aku yang akan kau beri hukuman? Lalu bagaimana dengan Elloise?" protes Autumn tegas.


"Dia asisten pribadiku. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukannya," bela Gabriel membuat Autumn tertawa renyah. "Kenapa? Apanya yang lucu?" pria berpostur 180 cm itu mengernyitkan kening.


"Apa yang dilakukan Elloise selain mondar-mandir dan mengkritik hasil pekerjaan orang lain? Tak ada. Menurutku dia tak kompeten sama sekali. Aku merasa heran, bagaimana bisa kau mengangkat orang seperti itu untuk dijadikan sebagai asisten pribadi," cibir Autumn seraya memalingkan wajahnya dari Gabriel.


Gabriel menanggapi ucapan gadis cantik yang telah mencuri perhatiannya itu dengan sebuah senyuman kecil. "Baiklah, jika menurutmu Elloise tidak layak untuk menjadi asisten pribadi dan juga kurang kompeten, maka untuk satu minggu ke depan kau yang akan mengerjakan segala hal yang menjadi tugasnya," putus Gabriel dengan tenang.


Seketika Autumn terbelalak saat mendengar ucapan sang kepala marketing. Dia tidak bisa membiarkan pria itu bersikap sesuka hati terhadap dirinya. "Hey, apa maksudmu? Kau tidak bisa bersikap seperti itu padaku!" protesnya keras. "Aku hanya karyawan magang di sini dan tidak tertarik untuk ...."

__ADS_1


"Anggap ini sebagai teguran dan juga peringatan bagimu, Elle. Ingat, kami memiliki peraturan yang harus ditaati. Apa yang kau lakukan telah menimbulkan keonaran dan tidak dapat kutolelir dengan baik. Kau sudah membuat salah satu anggota timku terluka. Karena itulah dirimu harus diberi hukuman!" tegas dan sangat jelas putusan dari Gabriel, membuat Autumn terdiam. "Kita lihat, apa kau bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar memukul wajah rekan kerjamu," tantang pria itu. Setelah berkata demikian, Gabriel mengulurkan tangannya ke arah pintu sebagai isyarat bahwa pembicaraan di antara mereka telah selesai. Dia mempersilakan Autumn untuk keluar dari ruangannya.


......................


Keesokan harinya, Benjamin sudah membawa Fleur pulang ke rumah. Keadaan gadis kecil itu telah membaik. Dokter hanya menyarankan agar Fleur lebih banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan sehat. Kondisi Aamber pun sama. Wanita bertubuh agak gemuk itu sudah kembali beraktivitas. Dia begitu bahagia karena Fleur telah diperbolehkan pulang.


"Hari ini aku harus menemui rekan bisnis. Tolong jaga Fleur selama aku pergi," pesan Benjamin yang sudah berganti pakaian setelah dari rumah sakit. Dia terlihat jauh lebih segar.


"Tidak kau pinta pun aku pasti akan menjaganya, Ben. Apa kau lupa selama ini Fleur tinggal dengan siapa?" tanggapan Aamber seketika membuat Benjamin tersenyum lebar seraya mengangguk pelan.


"Aku harus segera pergi. Fleur, baik-baiklah di rumah. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk segera menghubungiku," pesan Benjamin. Tak lupa pria itu memberikan kecupan hangat di kening putri semata wayangnya sebelum dia berlalu.


"Tuan Hillaire," sapa Benjamin menghampiri ayah dari sang kekasih.


Edgar menoleh. Sebuah senyuman terlukis di wajah tampan penuh kharisma itu. "Tuan Royce. Apa kabar?" balasnya. Dengan hangat dan penuh kearaban, suami dari Arumi tersebut menjabat tangan Benjamin.


"Kabarku sangat baik. Bagaimana dengan Anda?" Benjamin balik bertanya.


"Seperti yang Anda lihat," Edgar mengempaskan napas dalam-dalam seraya menatap sekeliling area tempat itu. "Ini adalah hari yang sangat indah, meskipun cuacanya terasa dingin dan menusuk," ucapnya kembali mengarahkan pandangan kepada Benjamin.

__ADS_1


"Ya. Anda benar," sahut Benjamin. Dia menerima stick golf yang disodorkan oleh Edgar padanya. "Jadi, ada masalah penting apa tentang resort?" kini giliran Benjamin untuk bermain.


“Aku tidak tahu ini masalah yang besar atau bukan. Namun, sebagai salah satu rekan bisnis terdekat dan juga merupakan pemegang saham, aku hanya ingin berbagi sedikit cerita dengan Anda," ujar Edgar. Sedangkan, Benjamin tidak menjawab. Dia menatap Edgar dengan raut penuh penasaran.


"Pada akhir musim panas kemarin, ada salah seorang pejabat tinggi pemerintahan yang mengunjungi dan menghabiskan liburannya di resort. Dia juga rupanya membawa serta keluarga besar, termasuk ayahnya yang sudah lanjut usia. Masalahnya adalah ayah dari pejabat tadi terjatuh ketika sedang melewati jalanan menuju paviliun. Dia mengatakan jika material yang melapisi jalan setapak itu terlalu licin. Sang pejabat memberikan teguran cukup keras terhadap staf resort. Berita tentang insiden kecil itu muncul di salah satu surat kabar lokal kota Marseille. Aku hanya takut ini akan membawa citra buruk bagi nama baik resort kita, yang baru dibuka beberapa waktu lalu," tutur Edgar panjang lebar.


"Oh, ya tentu. Kecelakaan semacam itu memang kerap terjadi. Aku rasa, jika mereka hanya menyalahkan fasilitas yang tidak sesuai, itu tak akan terlalu menjadi masalah besar. Kita sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan tanpa main-main, bahkan untuk setiap detail dari material yang digunakan. Lagi pula, sudah berapa orang yang melewati jalan setapak itu, dan baru ayah dari pejabat tersebut yang jatuh di sana. Terlalu konyol jika sampai hal tadi akan dijadikan alasan untuk mengusik resort kita, terlebih usia dari ayahnya pun sudah tidak muda lagi," Benjamin mengempaskan napasnya dalam-dalam.


"Anda benar sekali, Tuan Royce. "Aku hanya berharap tidak ada kelanjutan dari masalah ini," balas Edgar.


Benjamin mengangguk pelan. Pikirannya kini tertuju kepada Autumn. Ini adalah saat yang tepat bagi dirinya untuk berbicara kepada Edgar. "Tuan Hillaire. Aku juga ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada Anda," pria bermata abu-abu itu sudah membulatkan tekadnya. Dia harus segera mengakhiri kisah cinta tersembunyinya bersama putri dari Edgar Hillaire tersebut.


"Oh, kedengarannya sangat serius," sahut Edgar masih terlihat tenang. Dia bahkan sempat menyunggingkan sebuah senyuman penuh kharisma terhadap Benjamin.


"Ya, ini sangat serius bagiku," Benjamin terdiam sejenak. Dia tengah mengumpulkan segenap ketenangan yang sempat menghilang karena rasa gugup. Ini adalah kali kedua bagi pemilik The Royal Royce, berbicara di hadapan orang tua gadis yang dicintainya setelah Samantha dulu.


"Katakan saja, Tuan Royce. Apa yang ingin Anda bicarakan denganku?" Edgar memperhatikan pria di sebelahnya.


"Aku ingin membicarakan tentang hubunganku dengan Autumn."

__ADS_1


__ADS_2