The Gray Autumn

The Gray Autumn
Èclair


__ADS_3

"Jika Elle tidak ada di Paris, lalu di mana dia sekarang?" tanya Fleur lagi penuh harap. Namun, Edgar hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Pria itu menggeleng pelan. "Ayolah, Tuan. Kumohon katakan di mana Elle," desak gadis bermata abu-abu tersebut sambil memasang raut yang menggemaskan. Sisi kanak-kanak Fleur terlihat dengan jelas saat itu, begitu polos dan juga murni.


"Benjamin Royce memang sangat pandai. Siapa yang akan berani menolak permintaan gadis kecil sepertimu. Akan tetapi, sayangnya aku tidak akan memberitahu siapa pun tanpa seizin Elle," ujar Edgar menolak permintaan Fleur dengan halus. "Kenapa kau tidak kembali saja, Nona Kecil?Lagi pula, bukankah kau seharusnya pergi menemui terapis hari ini?"


"Kesembuhan tidak lebih berarti jika dibandingkan dengan senyuman papaku. Selama ini dia sudah merawat dan melakukan banyak hal untukku, tapi ... tapi aku ...." Fleur tertunduk menyesali dirinya yang telah bersikap tidak baik.


"Selama ini aku tidak pernah melihat papa begitu sedih dan kacau. Namun, akhir-akhir ini dia bahkan tidak menyisir rambutnya dengan rapi. Walaupun papaku masih terlihat tampan, tapi aku tidak suka jika dia tidak tersenyum. Aku menyesal karena telah membuatnya seperti itu," tutur Fleur. Walaupun usianya baru sepuluh tahun, tapi gaya bicara anak itu memang terdengar lain.


"Jadi?" Edgar menautkan alisnya. "Apa kau yakin jika papamu menjadi seperti itu karena putriku?" tanya Edgar penuh selidik.


Fleur terdiam sejenak. Dia lalu melirik kepada Aamber. "Aku rasa ... iya. Papa selalu memuji Elle di depanku. Dia pasti sangat menyukainya," terang gadis bermata abu-abu itu.


"Oh, begitu. Baiklah," sahut Edgar seraya mengusap-usap dagunya. "Namun, sayangnya aku tetap tidak akan memberitahukan di mana Elle berada. Dia akan kembali ke Perancis jika nanti dirinya sudah benar-benar tenang," jelas pria penuh kharisma tersebut.


"Kenapa Anda jahat sekali?" protes Fleur kecewa.

__ADS_1


"Hey, Nona Kecil. Aku menyayangi Elle. Dia anak perempuanku satu-satunya. Entah kau akan memahami perkataanku atau tidak, tapi tak apa. Kau masih bisa mendengarkanku dengan baik," ujar Edgar kemudian. Dia terdiam sejenak, setelah itu kembali berkata, "Seperti halnya Benjamin Royce yang selalu membela dan melindungi dirimu, maka itu juga yang kulakukan terhadap Elle. Beberapa waktu lalu, dia terlihat tidak baik-baik saja. Karena itu, ketika Elle mengatakan bahwa dirinya ingin berlibur dan menenangkan diri, maka aku tidak merasa keberatan," jelas Edgar lagi masih tetap terlihat tenang.


"Lalu, apa yang harus kulakukan agar bisa membuat papaku kembali tersenyum?" tanya Fleur setengah bergumam.


"Tidak ada hal yang lebih pantas untuk kau lakukan, selain bersikap manis," sahut Edgar bersamaan dengan munculnya Arumi di sana. Dia membawa sebuah wadah kecil terbuat dari plastik berkualitas. Arumi kemudian duduk di sebelah Edgar. "Apakah perbincangan kalian sudah selesai atau masih berlanjut?" tanyanya.


"Aku rasa sudah selesai," jawab Edgar. Dia beranjak dari duduknya. "Aku permisi dulu, karena masih banyak urusan yang harus kutangani," dia mengangguk kepada Aamber sebagai tanda pamit. Sebelum berlalu, Edgar sempat tersenyum kepada Fleur, lalu menyentuh pipi Arumi. Bahasa tubuh yang tak luput dari perhatian seorang Aamber. Setidaknya, dia dapat menilai seperti apa keluarga yang dimiliki oleh Autumn.


"Seperti yang kutawarkan tadi, ini Èclair untukmu," Arumi menyodorkan wadah plastik yang dipegangnya kepada Fleur. Namun, gadis kecil itu tampak ragu untuk menerimanya. "Ambilah, Sayang," ucap Arumi lagi. "Ini kue buatanku sendiri. Saat masih tinggal di Indonesia, aku pernah mengelola toko kue peninggalan mendiang ibuku selama beberapa waktu. Kami membuat kue secara handmade. Kebiasaan itu masih terbawa hingga sekarang. Sayangnya, Elle tidak begitu tertarik dengan kue, meskipun aku kerap mengajaknya untuk berkreasi bersama di dapur," tutur Arumi.


Fleur menoleh padanya untuk sesaat. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Arumi. "Terima kasih, Nyonya," ucap gadis kecil itu pelan. Belum sempat dia mengatakan hal lain, terdengar suara dering ponsel milik Aamber. Adalah sebuah panggilan masuk dari Benjamin. Aamber lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Fleur. Namun, dia tidak segera menjawab panggilan tersebut. "Sepertinya papamu mencari kita, Fleur. Sudah waktunya untuk kita berpamitan," ujar wanita paruh baya tersebut. "Aku akan menyuruh sopir agar menjemputmu ke teras. Tangga rumah Anda sangat banyak, Nyonya Hillaire," ucap Aamber lagi seraya mengalihkan pandangan kepada Arumi yang saat itu hanya tersenyum.


"Apakah Anda juga tidak akan memberitahuku di mana Elle berada, Nyonya?" tanya Fleur beberapa saat kemudian.


"Maafkan aku, Sayang. Elle sedang tidak ingin diganggu. Dia hanya butuh waktu untuk sedikit relaksasi," sahut Arum lembut.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kulakukan untuk membuat papaku kembali terlihat bahagia?" sesal Fleur.


"Dengan datang kemari saja, itu sudah merupakan sesuatu yang luar biasa. Kau telah melakukan hal yang sangat berarti bagi papamu. Selebihnya, biarkan dia yang menyelesaikan," ucap Arumi lembut.


"Sebaiknya kita segera pulang, Fleur. Papamu mengirimkan pesan padaku. Suasana hatinya sedang tidak baik. Jadi, jangan sampai kita membuat dia semakin merasa kacau," saran Aamber. Dia meraih tas yang segera digantungkannya di atas pundak. Sesaat kemudian, wanita itu berdiri dengan diikuti oleh Arumi.


"Sering-seringlah berkunjung kemari, Fleur. Aku akan memberikan kursus gratis padamu tentang cara membuat kue," ucap Arumi lagi setelah mereka berada di depan pintu. Di halaman, seorang sopir sudah menunggu untuk membantu Fleur.


Gadis kecil bermata abu-abu itu melirik sesaat kepada Aamber. Setelah itu dia tersenyum pada Arumi. "Terima kasih, Nyonya. Maaf karena aku sudah bersikap buruk," ujarnya penuh sesal.


"Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Semoga kau segera pulih dan dapat kembali berjalan dengan normal," balas Arumi seraya mengelus lembut pucuk kepala Fleur.


Sesaat kemudian, sang sopir naik ke teras dan membopong Fleur masuk ke mobil. Sementara Aamber membawakan kursi rodanya. Sebelum masuk ke dalam kendaraan yang telah menunggu, Aamber kembali menghampiri Arumi. "Terima kasih, Nyonya Hillaire. Anda dan tuan Hillaire sangat ramah. Aku benar-benar terkesan dan tak lagi merasa ragu terhadap Elle. Benjamin memang tidak salah memilih, hanya aku dan Fleur yang terlalu takut. Aku terlalu menyayangi Fleur, karena dia adalah amanat dari Samantha," sepasang mata tua Aamber mulai berkaca-kaca ketika dirinya berbicara kepada Arumi. Rona penyesalan kian menyeruak dalam dirinya.


"Tidak apa-apa, Nyonya Morris. Sebentar lagi Elle akan kembali. Namun, jangan katakan apapun kepada Fleur atau tuan Royce. Biarkan Elle yang memutuskan semuanya," balas Arumi pelan.

__ADS_1


__ADS_2