
Autumn terpaku menatap pria yang berada tak jauh dari dirinya. Sementara Gabriel berdiri di sebelah gadis itu. "Aku sudah mengetahui sejak, lama bahwa bos kita memiliki hubungan istimewa dengan tetangga apartemenku," bisik pria berambut pirang tersebut. Akan tetapi, Autumn tidak menanggapinya. Ia tampak sedikit kecewa dengan apa yang dilihatnya.
Sayup-sayup terdengar suara riuh rendah yang membuat Benjamin memaksa untuk melepaskan dirinya dari pelukan Esmee. Ia lalu menoleh ke arah sumber kegaduhan kecil itu. Seketika raut wajahnya berubah total, ketika ia melihat Autumn berdiri tak jauh darinya bersama beberapa karyawan lain. Benjamin kemudian mengalihkan pandangannya kepada Gabriel. Sang kepala marketing pun tersenyum sopan. "Tuan Royce," sapa pria itu hangat.
Benjamin terlihat sedikit kikuk. Sesekali ia menatap kepada Autumn yang saat itu tampak memalingkan wajahnya. Sementara Esmee terus menggandeng lengan pria bermata abu-abu tersebut. "Ramai sekali. Ada acara apa?" tanya Benjamin seraya melepaskan tangan Esmee dan melangkah ke hadapan Gabriel.
"Kebetulan sekali, Tuan Royce. Aku sudah biasa mengadakan acara perkenalan untuk anggota baru di dalam tim. Kami biasanya mengadakan pesta kecil di sini, di apartemenku. Aku sengaja mengajak Nona Hillaire kemari agar ia bisa lebih mengakrabkan diri dengan rekan-rekannya yang lain, berhubung ia adalah anggota baru. Kami harus menjaga kekompakan di dalam maupun di luar kantor. Begitu kan, teman-teman?" Gabriel menoleh kepada beberapa rekan satu timnya. Mereka serempak mengangguk setuju.
"Oh, itu sangat bagus. Aku baru tahu jika kau tinggal di sini. Aku juga merasa sangat terkesan karena kalian memiliki ritual unik untuk penyambutan anggota baru. Baiklah, selamat bersenang-senang," balas Benjamin dengan senyuman kalemnya.
"Ya. Aku sudah tinggal di sini sejak beberapa tahun yang lalu," terang Gabriel. "Bagaimana jika Anda bergabung bersama kami?" tawar pria berambut pirang itu. "Di dalam memang tidak ada menu yang mewah, tapi aku rasa pesta kecil-kecilan ini akan menjadi jauh lebih meriah jika bisa dihadiri oleh seorang bos besar The Royal Royce. Bagaimana, Tuan Royce?" Gabriel menatap lekat dan sedikit berharap kepada Benjamin.
Benjamin tak segera menjawab. Ia melirik Autumn untuk sesaat. Gadis itu tak bersedia untuk membalas tatapannya. Autumn lebih memilih mengarahkan pandangan kepada Esmee yang saat itu tengah menatap tajam kepadanya. Wanita berambut pendek tersebut masih mengingat kejadian terakhir saat ia bertemu dengan Autumn di kediaman Benjamin. Sekarang, wanita itu tahu siapa sebenarnya gadis yang ia temui di dalam kamar sang kekasih.
__ADS_1
"Jika kalian memang tidak merasa keberatan, maka dengan senang hati aku akan bergabung," sahut pria bermata abu-abu itu dengan tenangnya.
"Tentu saja tidak. Kami justru merasa sangat tersanjung jika Anda bergabung," tegas Gabriel. Ia kemudian membuka kunci pintu ruang apartemennya dan mempersilakan Benjamin untuk masuk terlebih dahulu. Barulah ia mengajak semua rekan-rekan satu tim untuk masuk. Sementara Esmee hanya berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah cemberut. Wanita bermata biru itu begitu kesal. Ia dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Benjamin di dalam, terlebih karena Autumn pun ada di sana.
Sementara itu di dalam apartemen milik Gabriel, suasana riang begitu terasa. Autumn yang belum terlalu mengenal rekan-rekan satu timnya, dipaksa untuk berdiri dan bercerita sesuatu tentang dirinya. Itu sebagai pembukaan dari ritual pesta penyambutan yang biasa diadakan oleh Gabriel.
"Apa yang harus kuceritakan di sini?" Autumn terlihat salah tingkah, terlebih karena ia tahu jika Benjamin terus memperhatikannya dengan lekat. Sorot mata pria itu terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Autumn terdiam sejenak dan berpikir. Sesaat kemudian gadis itu tersenyum. "Baiklah. Aku biasa keluar rumah tanpa izin kepada ayah atau ibuku untuk bertemu dengan Maeva. Kami bersahabat sejak lama ... sangat lama. Terkadang aku pulang lebih dari jam sepuluh malam, ketika pintu utama rumah sudah terkunci, dan adikku Darren adalah seorang dewa penolong. Ia selalu membantuku masuk ke kamar dengan sembunyi-sembunyi. Itu saja, aku harap di antara kalian tidak ada yang mengenal ayahku dan mengadukan hal ini kepadanya," Autumn mengakhiri ceritanya dengan sebuah tawa pelan.
"Apakah ayahmu pria yang galak, Nona?" Benjamin mengajukan pertanyaannya, membuat Autumn menjadi semakin salah tingkah. Tatapannya kini beradu dengan tatapan Benjamin, yang membuat dirinya seketika merinding.
"Ayahku pria yang baik dan sangat bertanggung jawab. Ia pejuang yang pantang menyerah dan begitu mencintai ibuku. Karakter yang aku rasa sangat sulit ditemukan dalam diri pria manapun, maksudku ... sangat sulit menemukan pria dengan rasa tanggung jawab yang besar dalam dirinya. Kebanyakan pria yang kutemui adalah seorang pecundang yang hanya bisa lari dan bersembunyi di balik tubuh tegap," entah disadari atau tidak semua kata-kata yang meluncur dari bibir Autumn saat itu. Sementara tatapannya masih terus beradu dengan tatapan milik Benjamin.
__ADS_1
"Aku harap semoga diriku tidak termasuk salah satu pria itu, Nona Hillaire," Gabriel menanggapi ucapan Autumn.
"Tentu saja tidak, Tuan Archambeau. Aku harap kau tidak seperti pria-pria kebanyakan," balas Autumn seraya mengalihkan tatapannya dari paras tampan Benjamin. Ia tak ingin kembali larut dan terjebak dalam perasaan yang telah membuatnya menjadi sangat bodoh, sehingga tak dapat memakai akal sehat dan logikanya.
"Seberapa dalam kau dapat menilai karakter seseorang, Nona?" tanya Benjamin lagi. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk terus mengorek sesuatu tentang gadis berambut cokelat tersebut.
"Aku bukan seorang peramal, Tuan Royce. Awalnya, aku hanya gadis yang selalu duduk santai dan bersenang-senang. Namun, makin lama aku semakin berpikir. Hidup bukan hanya tentang bersenang-senang atau bagaiamana kita melewati hari dengan seseorang yang berbeda," jawab Autumn kembali menatap Benjamin.
"Maksudmu?" tanya pria bermata abu-abu itu. Sesekali ia menggerak-gerakkan kaki kanan yang diletakannya di atas paha sebelah kiri.
"Aku berpikir untuk belajar melakukan serta menjalani hari dengan sesuatu dan orang yang sama setiap harinya. Aku hanya ingin membuktikan seberapa kuat diriku dalam menghalau rasa bosan," jelas Autumn lagi. Ia kembali beradu tatapan dengan Benjamin.
Pria berambut cokelat tembaga itu tidak segera menanggapi ucapan Autumn. Ia dapat menangkap maksud dari semua yang dikatakan gadis manis tersebut. Akan tetapi, baik Autumn ataupun Benjamin sepertinya lupa jika saat itu mereka tidak sedang berdua saja. Apa yang mereka lakukan, telah membuat yang lainnya terlihat keheranan. Tak terkecuali Gabriel. Pria itu menyunggingkan senyuman kecil ketika menyaksikan sikap Autumn di hadapan Benjamin yang merupakan bos besar mereka.
__ADS_1