
"Gadis mana lagi, Ben?" Autumn tampak kembali resah mendengar jawaban dari Benjamin. Ia lalu turun dari atas tubuh pria itu dan duduk dengan memasang wajah cemberut. Benjamin pun bangkit dan duduk di sebelah Autumn.
"Saat itu, aku melanjutkan program S1 dan S2 di Inggris. Selama di sana, aku mengenal seorang gadis bernama Samantha. Ia gadis dengan rambut pirang yang sangat indah dan membuatku begitu terpesona padanya. Samantha membuatku sangat jatuh cinta. Namun, hubungan kami harus berakhir ketika aku kembali ke Perancis," Benjamin terdiam untuk sejenak. Sementara Autumn menunggunya untuk melanjutkan cerita.
"Aku mengajak Samantha agar ikut denganku. Akan tetapi, orang tuanya tak memberi izin. Samantha anak tunggal, dan mereka tak ingin melepaskan anak gadisnya sebelum dapat meraih kesuksesan di sana. Padahal aku sudah berkali-kali meyakinkan mereka bahwa Samantha bisa meniti kariernya di sini, di Perancis, bersamaku. Namun, pada akhirnya aku tetap harus mengalah. Aku kembali tanpa membawa Samantha," Benjamin kembali terdiam sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tak lama setelah aku tiba di Paris, Samantha menghubungiku. Ia mengatakan jika dirinya hamil. Samantha baru menyadari hal itu, dan ternyata ia tengah mengandung sekitar lima bulan," tutur Benjamin lagi membuat Autumn terkejut bukan main. Ia menatap pria rupawan di sebelahnya dengan raut tak percaya.
"Lalu, apa yang kau lakukan setelah itu?" tanya Autumn yang mulai diliputi rasa penasaran.
"Aku kembali ke Inggris dengan alasan untuk reuni bersama kawan-kawan lama. Orang tuaku tak mengetahui tentang hubungan kami. Entah kenapa saat itu aku menjadi begitu pengecut. Selalu ada saja yang mencegahku untuk menceritakan hal tersebut pada kedua orang tuaku," sesal Benjamin seraya menyugar rambut cokelat tembaganya.
"Lalu apa yang kau lakukam terhadap Samantha?" tanya Autumn lagi. Ia merasa semakin penasaran.
"Aku mendatanginya, Elle. Akan tetapi, ternyata Samantha dan kedua orang tuanya telah pindah. Aku bertanya kepada semua orang, pada teman-temannya, dan siapa saja yang kuanggap mengetahui ke mana mereka pergi. Namun, tak ada seorang pun yang bersedia memberitahuku. Aku berada di Inggris selama beberapa hari, mencari keberadaan mereka. Akan tetapi, hingga aku memutuskan untuk kembali ke Perancis, aku tak mendapatkan satu pun kabar baik," Benjamin melipat kaki dan meletakkan tangannya di atas lutut. Wajahnya tertunduk lesu dan terlihat penuh sesal.
__ADS_1
"Kau lepas dari tanggung jawab begitu saja, Ben?" suara Autumn terdengar sedikit bergetar. Ia terus menatap lekat pria tampan yang masih menyembunyikan paras rupawannya.
"Aku benar-benar kehilangan jejak Samantha, Elle. Hingga beberapa bulan berlalu, detektif swasta yang kusewa pun belum berhasil menemukan mereka. Akhirnya, pada hari itu ... ibunda Samantha menghubungiku. Ia meminta agar aku datang ke sebuah daerah kecil di pinggiran London. Aku pikir Samantha pun ada di sana, tapi ternyata tidak," Benjamin terdengar mengela napas berat dan mengempaskannya perlahan. Setelah itu, ia mengalihkan tatapan kepada Autumn. Pandangan mereka saling beradu dan tertaut dengan penuh arti, menghadirkan sebuah getaran yang selalu terasa berbeda bagi gadis tersebut. Getaran yang membuatnya merasa yakin jika dirinya telah jatuh cinta kepada pria berambut cokelat tembaga itu.
"Ia menyodorkan seorang bayi padaku, dan aku menerimanya dengan tangan bergetar. Anakku telah terlahir ke dunia, Elle. Namun, hal itu pula yang menjadi penyebab kepergian Samantha dari dunia ini. Ibunya mengatakan jika belakangan Samantha mengalami sakit parah. Namun, ia berusaha untuk tetap mempertahankan kandungannya hingga tiba waktu melahirkan. Akan tetapi, Samantha mengalami komplikasi dan nyawanya tak tertolong," Benjamin mengakhiri ceritanya.
Sementara Autumn tampak berpikir. Ia kemudian teringat pada satu hal yang telah dilihatnya beberapa waktu lalu. "Apakah gadis kecil itu, Ben?" tanya Autumn yang seketika membuat Benjamin mengernyitkan keningnya.
"Gadis kecil yang mana? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" selidik Benjamin heran bercampur curiga. Sementara Autumn merasa bingung menjawabnya. Ia tak mungkin mengatakan jika dirinya telah memata-matai pria tersebut meskipun dengan tanpa disengaja. "Katakan, Elle," desak Benjamin lagi. Akan tetapi, Autumn masih tetap bungkam. Benjamin pun mengempaskan sebuah keluhan pendek. Ia sepertinya dapat menebak sendiri.
Autumn mengangguk pelan. "Aku melihatmu dengannya dan seorang wanita paruh baya. Kupikir ia adalah salah satu dari kekasihmu juga ...."
"Astaga!" sela Benjamin tak percaya. Ia tidak menyangka jika Autumn akan berpikiran seperti itu tentang dirinya. "Kau kira aku akan melakukan hal seperti itu? Ya, Tuhan. Apa pikiranmu sejelek itu tentang diriku, Elle?"
Autumn tak menjawab. Ia juga merasa tak enak karenanya. Namun, sesaat kemudian perasaan tersebut seketika sirna dan memudar, ketika ia merasakan sentuhan hangat Benjamin pada punggung tangannya yang halus. Gadis itu menoleh. "Maafkan aku, Ben," sesal Autumn pelan.
__ADS_1
Benjamin tersenyum kecil. Pria itu mengangguk, kemudian mencium punggung tangan Autumn dengan hangat. "Aku akan ke Marseille akhir bulan ini. Apa kau mau ikut denganku?" tawarnya.
"Apa yang menarik di sana sehingga aku merasa harus ikut?"
"Fleur, putriku ada di Marseille," Benjamin menjawab pertanyaan Autumn dengan begitu yakin. Namun, kini giliran Autumn yang tampak ragu.
"Fleur adalah hidupku, Elle. Aku tak bisa meninggalkannya demi siapa pun. Jadi, jika kau memang benar-benar mencintaiku, maka jangan membuatku berada di dalam persimpangan."
Autumn terdiam mendengar ucapan Benjamin. Jika pria itu berkata demikian, apakah itu artinya Benjamin juga memliki perasaan lebih terhadapnya?
"Apakah itu berarti kau ...."Autumn merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Ia takut saat harus mendengar jawaban dari pria yang telah membuatnya berada dalam kegalauan mendalam.
"Aku akan berusaha, Elle. Kau berbeda dari semua wanita yang pernah kukencani. Saat melihatmu, sosok Samantha seperti hilang dari ingatanku, begitu juga dengan rasa bersalah yang selama ini terus mengikuti dan bahkan mengikat langkahku. Aku tidak merasakan hal itu terhadap wanita manapun selama ini. Karena itulah, aku ingin memperkenalkanmu kepada Fleur. Namun, itu juga jika kau bersedia. Jika tidak, maka maafkan aku," Benjamin menyibakan selimut yang tadi menutupi sebagian tubuhnya. Ia lalu turun dari tempat tidur dan berlalu ke dalam kamar mandi, sementara Autumn masih duduk termenung.
Autumn merasa bimbang. Usianya masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, terlebih ibu bagi anak dari wanita yang sangat Benjamin cintai. Apakah ia akan sanggup? Namun, perasaannya yang begitu besar terhadap Benjamin tak dapat ia singkirkan begitu saja.
__ADS_1
Sesaat kemudian, suara dering ponsel menyadarkan Autumn dari semua lamunannya. Nama Edgar tertera di layar. Autumn pun segera menjawab panggilan tersebut. Bersamaan dengan itu, Benjamin keluar dari kamar mandi.