The Gray Autumn

The Gray Autumn
A Little Kindness


__ADS_3

"Cuih! Kenapa aku harus membawa serta istriku? Kau tidak tahu apa yang sudah ayahmu lakukan dulu!" sentak Edgar yang telah benar-benar kehilangan kesabarannya. "Ini hanya perbincangan bodoh yang membuat waktuku terbuang sia-sia!" gerutu pria itu lagi seraya membalikkan badan. Edgar bermaksud untuk keluar dari ruangan itu, tetapi ketiga pria tadi yang masih berjaga di luar segera menghadang langkahnya.


"Menyingkir dari hadapanku!" bentak Edgar.


"Tenanglah, Pak Tua," ucap salah seorang dari ketiga pria itu sambil tertawa cukup nyaring. "Lagi pula, di luar udaranya dingin. Akan lebih baik jika Anda tetap berada di dalam," sarannya lagi tak menghiraukan kemarahan Edgar.


Dengan segera, Edgar berbalik kepada Leon. "Cepat suruh cecunguk-cecunguk ini untuk menyingkir dari hadapanku!" titahnya dengan tegas.


"Hey, Pak Tua!" tunjuk pria tadi yang menghadang langkah Edgar. Dia bermaksud untuk menyerang suami dari Arumi tersebut, tapi segera dicegah oleh Leon. Dengan terpaksa, pria itu harus mengurungkan niatnya dan kembali mundur sambil mendengus kesal.


Leon kemudian melangkah ke hadapan Edgar yang masih berdiri dengan penuh emosi. "Sudahlah, Tuan Hillaire. Seharusnya kau sadar bahwa saat ini kau tidak muda lagi. Kami berempat sedangkan kau hanya sendiri. Kalaupun kami menghabisimu di sini, maka tak akan ada seorang pun yang tahu," ancam Leon lagi.


"Kau sama brengseknya dengan ayahmu, Leon!" sentak Edgar penuh penekanan.


"Aku rela jika tak bisa menjadi menantumu, Tuan Hillaire. Setidaknya, aku tak ada niat untuk menculik Elle," ujar Leon lagi dengan entengnya.


"Awas saja jika kau berani berbuat macam-macam terhadap anak-anakku, terutama Elle!" balas Edgar dengan bernada ancaman. Sedangkan Leon hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya. Sikap pria muda tersebut begitu tak acuh, membuat Edgar semakin jengkel terhadapnya.


"Ayolah, Tuan. Ini hanya sebuah pekerjaan kecil untuk orang sepertimu. Aku janji, setelah kau membantu mengurus proses pemindahan ayahku dari Guadalajara ke Paris selesai, maka aku tak akan mengusik kau atau keluargamu lagi," ucap Leon dengan sungguh-sungguh.


"Kau sama penipunya dengan ayahmu. Aku tidak bisa memercayai orang-orang seperti kalian!" cerca Edgar kesal.


"Terserah kau ingin mengatakan apa tentangku atau ayahku. Satu hal yang pasti, aku hanya meminta sedikit bantuan darimu," sahut Leon lagi. "Jika kau setuju, maka aku akan mengizinkanmu untuk keluar dari sini. Akan tetapi, jika kau tetap menolak untuk membantu, jangan salahkan aku seandainya kau tidak bisa bertemu lagi dengan putrimu yang cantik. Penolakanmu artinya penyerahan Elle kepadaku," ancam Leon meskipun dengan nada bicara yang teramat datar.


"Persetan dengan semua ancamanmu!" Edgar tak gentar sedikit pun. "Putriku akan segera menikah. Dia mendapatkan perlindungan dari pria yang tepat," ujarnya dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Tak masalah, karena aku juga bisa berbuat nekat," balas Leon tak mau kalah.


"Asal kau tahu, Tuan Hillaire. Dulu, aku mengorbankan hubunganku dengan putrimu, dan lebih memilih untuk merawat ayah di Meksiko. Setidaknya, aku harus mendapatkan sesuatu yang sepadan karena telah menjadi anak yang berbakti," ujar Leon dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Tunggulah hingga Sinterklas datang mengunjungimu," ledek Edgar dengan senyum puas. "Sudahlah. Hentikan main-main ini karena aku harus segera pulang. Bukankah tadi kau dengar jika istriku sedang menunggu di rumah?"


"Aku serius, Tuan Hillaire," dengan segera, Leon meraih lengan Edgar dan menahannya agar tidak pergi. "Aku mohon. Kau tahu jika pekerjaanku ada di Paris, dan aku tidak bisa terus-menerus pulang-pergi ke Meksiko," pintanya dengan sangat.


"Itu bukan urusanku!" tolak Edgar dengan tegas. "Kau tidak tahu seberapa besar kerugian yang telah dilakukan oleh ayah dan juga tantemu terhadap perusahaan dan juga kehidupan pribadiku. Penjara sebenarnya tidak cukup untuk menghukum mereka berdua!" dengus Edgar kembali tersulut emosi.


"Tuhan sudah menghukum ayahku dengan kondisinya saat ini," balas Leon. "Tidakkah kau berniat untuk memberikan sedikit kebaikan atas nama besarmu untuk membantuku? Jika bisa, maka aku tak akan meminta bantuan kepada siapa pun."


"Lalu kenapa kau harus meminta bantuan padaku?" nada bicara Edgar mulai meninggi. Kesabarannya sudah benar-benar habis.


"Karena aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi," jawab Leon.


Leon terdiam. Pria dua puluh enam tahun itu mengempaskan napas pelan. Diakuinya jika die memang salah mengambil langkah. "Aku benar-benar kalut, Tuan. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih," sesalnya sambil tertunduk lesu.


Edgar menatap pria muda di hadapannya sambil berkacak pinggang. Pria paruh baya itu berdecak kesal sebanyak beberapa kali. "Baiklah, akan kupertimbangkan," ucap Edgar pada akhirnya. "Tidak dulu atau sekarang, ayahmu selalu saja menyusahkanku," dengus Edgar.


"Jadi bagaimana, Tuan?" tanya Leon lagi memastikan.


"Sudah kukatakan tadi, akan kupertimbangkan," jawab Edgar masih menunjukkan sikap kesalnya terhadap Leon.


"Kenapa hanya dipertimbangkan?" Leon setengah membujuk dengan penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah. Baiklah," sahut Edgar lagi. "Aku berjanji akan membantu mengurus pemindahan ayahmu kemari. Namun, setelah itu aku harap kau tidak mengusik diriku atau keluargaku lagi. Sekarang, biarkan aku pulang. Tempat ini membuat napasku sesak!" gerutu Edgar pada akhir kalimatnya.


"Sungguh, Tuan? Kau serius" Leon terlihat sangat antusias menanggapi ucapan Edgar.


"Astaga!" Edgar kembali mendengus kesal. "Harus berapa kali kukatakan bahwa aku setuju!"


"Oh, baiklah," Leon tersenyum bahagia. "Thiery!" panggilnya kemudian pada salah seorang pria yang berada di luar. Tak berselang lama, seseorang yang tadi menghadang langkah Edgar muncul di sana. "Tolong antarkan lagi tuan Hillairre ke tempatnya tadi," suruh Leon.


"Tidak usah," tolak Edgar dengan segera, "carikan saja aku taksi," pintanya.


"Baiklah," sahut pria bernama Thiery tadi. Dia lalu berjalan ke halaman bangunan tua itu hingga menuju jalan yang biasa dilewati kendaraan.


"Katakan, di rumah sakit mana ayahmu dirawat," ucap Edgar lagi setelah mereka hanya tinggal berdua. Leon pun menyebutkan salah satu nama rumah sakit yang ada di kota Guadalajara, Meksiko.


"Baiklah. Besok aku mulai mengurus semuanya. Jika sudah selesai, nanti aku akan menyuruh orang untuk menghubungimu lagi," ujar Edgar kemudian sebelum Thiery kembali masuk ke ruangan itu.


"Taksi Anda sudah menuggu di jalan depan," ucap Thiery memberitahukan kepada Edgar.


"Terima kasih," sahut Edgar. Untuk sesaat dia memperhatikan pria itu. Usianya tak jauh berbeda dengan Leon. "Kau masih muda. Kenapa tidak menggunakan waktumu untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat daripada menjadi preman jalanan?" tegur Edgar.


"Apa yang bisa kulakukan, Tuan? Aku tidak memiliki bakat apapun," jawab Thiery seraya menggaruk kepala.


"Bukannya tidak memiliki bakat apapun, tapi orang-orang sepertimu memang malas untuk bekerja keras. Ubahlah pemikiran seperti itu. Ingatlah perjuangan kedua orang tuamu. Mereka pasti ingin kau menjadi anak yang berguna," ucap Edgar penuh nasihat. Sebelum dirinya berlalu dari sana, dia sempat menepuk pundak Thiery. Pria muda itu hanya membalasnya dengan tertawa pelan. Setelah itu, Edgar pun bergegas keluar dari bangunan tadi, kemudian menghampiri taksi yang sudah menunggunya di jalan depan.


Selama dalam perjalanan menuju tempat di mana dia memarkirkan mobilnya tadi, Edgar tak henti-hentinya memikirkan tentang Benjamin Evariste. Urusan dia dengan sahabat lamanya itu memang telah berakhir. Edgar tak menyangka akan kembali dihadapkan pada orang yang sama. Setelah kemarin dia kembali bertemu dengan Moedya dan menyelesaikan semua sisa percikan masalah di masa lalu, akankah kali ini dia melakukan hal yang sama terhadap kakak dari Mirella tersebut?

__ADS_1


Hembusan napas panjang terdengar dari mulut ayah dua anak tersebut. "Itulah kenapa aku tidak menyukai nama Benjamin," ucapnya dalam hati seraya mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ditatapnya jalanan kota Paris pada penghujung musim gugur yang indah. Satu lagi moment yang terjadi pada musim bersejarah bagi dirinya dan Arumi. Entah keajaiban apa lagi yang dibawa musim gugur, karena ada banyak sekali kisah di dalamnya.


__ADS_2