
Edgar tersenyum simpul saat menanggapi ucapan dari Benjamin barusan. Dia seakan tidak menanggapi serius apa yang pria itu katakan. "Silakan. Lakukan apapun yang sekiranya bisa membuatmu merasa yakin. Namun, kita lihat saja siapa yang akan bertahan. Kau belum mengenalku dengan baik, Tuan Royce. Mungkin setelah ini kita bisa jauh lebih saling mengetahui karakter masing-masing. Jika kau memang ingin menikahi putriku, maka tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Aku tidak akan menjadi seorang ayah yang egois, tapi aku juga memiliki prinsip dan aturan-aturan yang harus ditaati," jelas Edgar dengan gaya bicaranya yang terlihat tenang, santun, tapi penuh wibawa.
"Bukankah Anda sudah mendengar dan mengetahui segala hal tentang diriku?" balas Benjamin yang juga sepertinya tidak gentar sama sekali saat berhadapan langsung dengan Edgar. Terlebih, kedua pria lintas usia itu memang memilili karakter yang hampir sama. Mereka tak mudah terpancing emosi.
"Itu hanya 'katanya'. Tentu saja aku membutuhkan sebuah bukti nyata. Jadi, jika memang kau memiliki niat yang tulus, maka saatnya untuk membuktikan dirimu. Kita lihat, seberapa kuat kau bisa bertahan dalam mencintai putriku," tantang Edgar terdengar jauh lebih dalam dan serius dari sebelumnya.
"Aku pernah melakukan hal seperti ini, meskipun tidak berakhir baik. Semoga Anda tidak menyewa seseorang untuk memata-mataiku," balas Benjamin seraya memicingkan matanya.
"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Biarkan kejujuran dan kesungguhanmu yang berbicara. Aku tidak ingin jika sampai kau membohongi diri sendiri dengan berpura-pura baik. Karena itu, jalani saja hidupmu seperti biasanya. Sekali lagi, aku hanya ingin melihat seberapa sanggup dirimu jika dihadapkan pada situasi begini."
"Apa yang harus kutunjukkan kepada Anda? Aku pikir, tidak ada hal yang perlu untuk kubuktikan kepada siapa pun. Perasaan yang tulus tak harus dipamerkan pada dunia. Tanpa kuperlihatkan secara langsung pun, maka setiap orang pasti akan dapat mengetahuinya dengan jelas. Sepeka apa diri Anda, Tuan Hillaire? Dengan melihat bahasa tubuh dan sorot mataku saja, seharusnya Anda sudah dapat memastikan seperti apa perasaan yang kumiliki untuk Elle. Namun, jika memang Anda ingin melihatku seperti itu, maka tak apa. Akan kuikuti apapun peraturannya," ucap Benjamin dengan begitu yakin.
Edgar menaikkan sebelah alisnya. Tatapan pria itu juga terlihat sedikit aneh. Akan tetapi, Benjamin tak merasa terganggu sama sekali. "Baiklah, Tuan Royce. Aku rasa cukup untuk hari ini. Silakan. Pintu keluar ada di sebelah sana," Edgar mengarahkan tangannya ke arah pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Benjamin kemudian membalikkan badan. Dia berjalan menuju pintu. Sebelum dirinya benar-benar keluar, pria itu kembali menoleh. "Jika memang Elle belum ingin bertemu denganku, maka setidaknya biarkan aku tahu bagaimana kabarnya saat ini. Bila nanti Anda menghubunginya, maka katakan bahwa aku sangat merindukan dia," lirih, Benjamin mengakhiri kata-katanya. Sebisa mungkin pria itu mengendalikan diri agar tidak sampai terlihat berlebihan. Seusai bicara demikian, Benjamin pun melanjutkan langkahya hingga benar-benar menghilang dari pandangan Edgar, yang segera berjalan ke dekat pintu. Dia memastikan bahwa Benjamin sudah benar-benar pergi dari sana. Setelah itu, ditutupnya pintu ruangan tersebut rapat-rapat. Edgar kemudian merogoh ponsel di saku kemeja yang dia kenakan. Pria itu mulai memeriksanya.
Sementara Benjamin mengemudikan mobil dengan tatapan lurus ke depan. Pikirannya tak karuan. Tidak pernah terbayangkan oleh dirinya, bahwa dia akan jatuh cinta sedalam itu terhadap Autumn. Gadis muda dua puluh dua tahun tersebut, telah menjadi sebuah candu baginya. Benjamin merasa tak berdaya, jika harus terus berjauhan dengan gadis cantik bermata abu-abu yang kini tengah bersembunyi darinya.
Pertengahan musim gugur telah terlewati. Benjamin harus rela kehilangan khayalan indah tentang kumpul keluarga, saat menikmati hangat perapian di musim dingin. Mungkin saja jika salju pertama akan turun, tanpa adanya senyuman manis Autumn di dalam pelukan.
Langit gelap telah menyelimuti kota Paris. Sekitar pukul sepuluh lebih beberapa menit, Benjamin baru kembali. Pria itu tampak sangat kacau. Rambut dan penampilannya, tak serapi seperti yang biasa selalu terlihat dan menjadi ciri khas seorang Benjamin Royce.
"Kau baru pulang, Ben?" tanya Aamber yang ternyata sedang duduk di ruang tamu.
"Aku menunggumu," jawab Aamber seraya beranjak dari duduknya. Dia lalu berjalan menghampiri Benjamin, kemudian berdiri tak jauh dari pria tersebut. "Fleur mencarimu sejak siang tadi, tapi kau tidak ada," ucap wanita paruh baya itu.
"Aku keluar. Ada urusan penting," sahut Benjamin terlihat malas.
__ADS_1
"Apakah tentang Elle?" tanya Aamber penasaran.
"Kenapa memangnya?" Benjamin balik bertanya. Terdengar tawa pelan meluncur begitu saja. Tawa yang penuh dengan kegetiran. "Elle, entah di mana dia sekarang," ucap pria itu dengan penuh sesal. "Kau tahu Aamber? Rasanya sama seperti saat aku kehilangan jejak Samantha. Kenapa? Kenapa wanita yang kucintai selalu saja pergi tanpa jejak?" Aroma minuman keras menguar dari dalam mulut pria bermata abu-abu itu.
"Kau mabuk, Ben?" Aamber memegangi kedua lengan Benjamin dan menahan pria itu.
"Aku hanya minum sedikit, hanya beberapa gelas. Itu tidak akan membuatku mabuk," bantah Benjamin. Dia bermaksud untuk berlalu dari sana, meninggalkan Aamber di ruang tamu tersebut. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah, Aamber langsung menghadangnya. "Minggirlah, Aamber. Aku sedang tidak ingin banyak bicara," suruh Benjamin dingin dan datar.
"Kenapa kau jadi seperti ini, Ben? Lihatlah dirimu. Kau begitu kacau hanya karena Elle pergi," Aamber menggeleng tak mengerti. "Pantaskah jika Fleur merasa takut dan terancam? Sikapmu terhadap gadis itu memang sudah berlebihan. Ingat, Ben. Fleur adalah segalanya bagimu. Dia yang harus kau prioritaskan, bukan yang lain. Apalagi gadis yang kini pergi tanpa memberikan kabar sama sekali dan hanya membuatmu berada dalam kegalauan ...."
"Tutup mulutmu, Aamber!" sentak Benjamin dengan nada cukup tinggi. Tak biasanya dia berkata dengan cara seperti itu terhadap sang pengasuh putrinya. "Sudah kukatakan, jangan ganggu aku saat ini," suara Benjamin kembali rendah dan bahkan terdengar begitu dalam. "Bagaimanapun hubunganku dengan Elle, itu bukanlah urusanmu," ucapnya lagi seraya berlalu.
"Akan menjadi urusanku jika itu berkaitan dengan Fleur!" perkataan Aamber kembali menahan langkah Benjamin. Pria itu menoleh dengan sorot mata yang terlihat tidak bersahabat. "Jika Fleur merasa sakit, maka aku pun merasakannya," ucap Aamber dengan suara bergetar. Dia berdiri tepat di belakang Benjamin yang kembali mengarahkan tatapan ke depan.
__ADS_1
"Fleur adalah putriku, dan tidak mungkin akan kusakiti. Jadi, jangan pernah mengada-ada!" tegas, ucapan Benjamin dia tujukan kepada wanita paruh baya tersebut.