The Gray Autumn

The Gray Autumn
Visage Charmant


__ADS_3

"Haruskah kita membahas masalah tentang rahasia, Tuan Royce?" tanya Autumn dengan nada bicara yang membuat Benjamin mengernyitkan keningnya. Ia belum dapat mencerna maksud dari pertanyaan gadis bermata abu-abu tersebut.


"Maksudmu, Nona Hillaire?" tanya pria rupawan itu. Raut wajahnya yang begitu kalem, telah membuat Autumn menelan ludahnya. Tiba-tiba, tenggorokan gadis itu terasa begitu kering dan ia merasa sulit untuk berkata-kata.


"Um ... aku ...." Autumn kebingungan. Semua rangkaian kata-kata yang sempat terlintas dalam benaknya, kini sirna seketika dan menguap begitu saja tanpa tersisa sedikitpun. Autumn segera membalikan badannya dan kembali menatap lautan lepas. Ia tak ingin semakin terjebak dalam pesona pria tiga puluh lima tahun tersebut, yang hanya akan membuat otaknya menjadi terasa tumpul.


"Kenapa Anda ada di sini, Tuan Royce? Bukankah seharusnya Anda ada di dalam bersama ayahku dan pria-pria berjas lainnya?" Autumn mencoba menepiskan rasa kikuk dalam dirinya, yang semakin menggelitik dan membuat gadis bermata abu-abu itu merasa tak nyaman.


Benjamin tersenyum seraya menggumam pelan. Pria berambut cokelat tembaga itu kemudian mengikuti arah tatapan Autumn. Sorot matanya terlihat aneh. Namun, bagi gadis muda seperti Autumn, tatapan itu terlihat sangat menawan dan teramat seksi. Ah, tidak. Ada apa dengan Autumn? Kenapa ia tiba-tiba berpikir demikian? Autumn menggelengkan kepala. Tidak seharusnya pikiran itu muncul dalam benaknya. Terlebih, ia sudah dapat menebak pria seperti apa Benjamin Royce tersebut.


"Apa kau akan tinggal lama di Marseille? Aku dengar, kakekmu berasal dari sini," Benjamin kembali membuka percakapan. Ia juga mengalihkan tatapan kepada gadis cantik di sebelahnya.


"Ya, kakekku berasal dari sini. Ia bahkan meninggal dan dimakamkan di kota ini. Nenekku juga," sahut Autumn mencoba untuk tetap menguasai dirinya.


"Itu artinya, kau memiliki ikatan yang kuat dengan kota ini," timpal Benjamin masih dengan sikapnya yang terlihat sangat kalem.

__ADS_1


Autumn tertawa pelan. "Entahlah. Aku tidak pernah memiliki ikatan yang kuat dengan apapun ... atau siapa pun," balas gadis itu pelan. Ingatannya kini kembali tertuju kepada Leon, pria yang hingga detik itu tak juga menghubungi dirinya. Leon menghilang tanpa ada kabar sama sekali.


"Ikatan yang kuat, memang hanya akan membuat kita merasa terkekang dan seperti tercekik. Kedengarannya sangat menakutkan. Iya, kan?" entah apa maksud dari ucapan Benjamin saat itu. Meskipun Autumn mencoba untuk mencernanya, tetapi ia tak ingin hanya menerka-nerka.


"Entahlah, aku tidak mengerti apa yang Anda katakan. Sebaiknya aku segera kembali. Jangan sampai ibu melihatku di sini," Autumn bermaksud untuk pergi dari sana. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar Benjamin mengatakan sesuatu padanya.


"Besok malam akan ada pesta meriah di pantai dekat tempat tinggalku. Jika kau mau, kau boleh datang ke sana dan aku akan memberikanmu akses masuk. Kau pasti akan menyukainya."


Autumn tertegun. Ia lalu menoleh kepada Benjamin. Sedangkan pria itu menatapnya dengan sorot yang terasa begitu berbeda. "Kau pasti akan menemukan sesuatu yang baru di sana, Nona Hillaire," ucapnya lagi seraya berjalan menghampiri Autumn. Gadis itu terlihat semakin salah tingkah ketika tiba-tiba Benjamin meraih tangannya dan mengeluarkan sebuah bolpoin. Pria itu kemudian menuliskan sesuatu di bagian bawah lengan Autumn, dan membuat Autumn sedikit bergerak karena merasa geli. Namun, Benjamin memegangi tangannya dengan cukup erat.


Autumn terdiam sejenak. Ia memandangi deretan angka yang tertera di lengan bagian bawahnya. Setelah itu, ia pun berlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi, dengan diiringi tatapan menawan dari seorang Benjamin Royce. Gadis itu terus melangkah masuk dan kembali berbaur dengan orang-orang berpenampilan rapi lainnya.


Sesaat kemudian, Autumn melihat Benjamin pun hadir di sana. Pria itu tampak mengambil segelas minuman yang ditawarkan pelayan, kemudian berbincang dengan beberapa pria berjas. Entah mengapa karena Autumn merasa senang saat memperhatikan pria itu. Benjamin sungguh pria yang memesona. Wajar saja jika ia memiliki banyak wanita dalam hidupnya. Namun, itu merupakan sesuatu yang sangat menakutkan bagi Autumn.


Gadis berambut panjang itu kemudian melihat lengan bagian bawahnya dan kembali memandangi deretan angka-angka di sana. Ini merupakan sebuah godaan berat bagi Autumn, di kala ia merasa ingin setia terhadap sang kekasih.

__ADS_1


"Kau sedang apa, Elle?" pertanyaan Darren tiba-tiba mengejutkan lamunan gadis itu. Autumn segera menoleh dengan tatapan protes.


"Kau selalu mengejutkanku!" ujarnya kesal. Ia kembali memalingkan wajahnya. Tatapannya lagi-lagi tertuju pada paras rupawan Benjamin Royce, yang tengah asyik berbincang dengan para tamu yang lain. Pria itu tersenyum dan sesekali meneguk minumannya. Sementara Darren yang berdiri di sebelah sang kakak, merasa heran dengan sikap gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya pada pundak Autumn dan mengikuti arah tatapan gadis bermata indah tersebut.


"Hey, jangan katakan jika kau tengah memandangi Tuan Royce," celetuk Darren membuat Autumn mendelik tajam padanya. "Akuilah, Elle. Pria itu memang sangat tampan meskipun ia terlalu tua untukmu," Darren terkekeh pelan. Autumn tidak menjawab. Ia hanya menanggapi celotehan sang adik dengan menyikut perut pria muda itu, sehingga Darren pun meringis pelan. "Kau sungguh keterlaluan," ucapnya seraya mengusap-usap perut.


"Kau sungguh menyebalkan!" balas Autumn kesal. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan sang adik yang tengah meringis dan sesekali tersenyum geli.


Hingga menjelang sore, pesta peresmian itu pun berakhir. Semua tamu undangan telah pamit, dan yang tersisa kini hanya ada Edgar serta beberapa pengurus penting lainnya, termasuk Benjamin yang merupakan salah satu pemilik saham di sana. Mereka masih tampak berbincang-bincang dengan santai, dan sesekali diselingi gelak tawa.


Autumn berdiri sambil memeriksa ponselnya. Ia ingin segera pulang dan berganti pakaian. Autumn juga sudah tak tahan dengan pump shoes tujuh senti yang ia kenakan. Itu sungguh menyiksa baginya. "Bu, apa kita akan di sini sampai malam?" bisik Autumn yang sudah merasa tak tahan ingin segera pulang.


"Tentu saja tidak. Kita akan pulang sebentar lagi, sampai ayahmu selesai berbincang-bincang dengan para koleganya," sahut Arumi dengan tenang. Wanita cantik itu masih terlihat sangat nyaman.


"Seingatku mereka sudah berbincang-bincang sepanjang acara. Apa lagi yang sedang mereka bahas? Membosankan!" keluh Autumn. Ia sudah benar-benar merasa jenuh. "Bolehkah aku pulang terlebih dahulu?" bisiknya lagi. Namun, Autumn sepertinya sudah dapat menebak jawaban yang akan diberikan oleh Arumi. Ia pun tak berharap banyak. Autumn memilih untuk duduk dan melepas sepatu. Hal itu membuat Benjamin menoleh dan tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2