The Gray Autumn

The Gray Autumn
Revoir


__ADS_3

Semua anggota tim marketing yang tadi masih saling berbincng, kini sudah mulai tenang. Suasana hening kian terasa. Semua kebisingan itu berhenti saat seorang wanita yang merupakan asisten Gabriel, berdiri sambil meletakkan setumpuk berkas ke hadapan Gabriel. Ia tersenyum ramah kepada pria itu, dan berbalas hal yang sama. "Terima kasih, Elloise," ucap Gabriel. Wanita bernama Elloise tersebut, mengngguk tanpa melepas senyumannya.


Sesaat kemudian, Gabriel lalu menyalakan LCD dan mengarahkan pantulan ke layar putih di sampingnya. Ia yang biasanya terlihat ramah, mendadak berubah menjadi sangat serius ketika memimpin jalannya rapat. Para peserta pun termasuk Autumn, mendengarkan penjelasan dari Gabriel dengan saksama. Ini adalah pertama kalinya bagi Autumn mengikuti jalannya rapat seperti itu.


"Baiklah. Ini adalah file-file yang sudah kalian setorkan padaku," ucap Gabriel setelah selesai memberikan penjelasan panjang lebar tentang acara rutin yang akan dilangsungkan pertengahan tahun nanti. Ia lalu mengambil satu map dan menyebutkan nama yang tertera di sampul depannya. "Sybille," sebut Gabriel. Pandangannya kini tertuju pada sesosok gadis yang tampak berdiri. "Silakan kemukakan idemu."


Tanpa harus diperintah dua kali, Sybille langsung memaparkan hasil pemikirannya yang sudah ia rancang dengan maksimal. Gadis itu juga menyampaikan semua idenya yang luar biasa dengan begitu luwes. Hal itu cukup memengaruhi Autumn. Nyalinya tiba-tiba menciut. Autumn merasa jika apa yang telah dirancangnya terlalu biasa, jika dibandingkan dengan ide-ide lain yang sudah satu per satu dipaparkan dalam rapat tersebut.


Pada akhirnya, giliran Autumn pun tiba. Gadis itu berdiri. Autumn berusaha untuk tetap bersikap setenang mungkin. Ia harus dapat menguasai rasa gugupnya. "Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan padaku. Um ... ideku mungkin tak sehebat milik teman-teman semua. Aku bahkan baru mendapatkannya sekitar beberapa menit yang lalu," Autumn mendehem beberapa kali demi menetralkan rasa kikuk dalam dirinya.


"Baiklah, jadi aku memiliki pemikiran yang teramat sederhana. Aku suka anak-anak, dan juga merindukan masa kanak-kanak yang telah terlewati beberapa belas tahun silam. Kita semua pasti tahu jika masa itu adalah masa yang sangat indah, tetapi ada banyak hal yang tidak boleh kita lakukan. Ibuku sangat pandai membuat kue. Namun, terkadang aku hanya melihatnya dan ia tak mengizinkanku untuk melakukan apapun. Jadi, aku berpikir alangkah senangnya ketika aku bisa memberikan kesempatan kepada anak-anak dengan rasa penasaran yang besar untuk dapat berkreasi," papar Autumn. Rasa percaya dirinya kian tampak, karena gadis itu terlihat sudah mulai nyaman dengan tekanan yang tadi sempat membuatnya gugup.

__ADS_1


"Apa idemu, Nona Hillaire?" tanggap Gabriel seraya menatap lekat gadis itu.


"Untuk kali ini, aku ingin mengundang banyak anak-anak agar dapat belajar sekaligus berkreasi dengan para chef di hotel, dan menjawab rasa ingin tahu tentang bagaiamana pengalaman menciptakan sesuatu yang bisa mengobati rasa penasaran mereka. Pelatihan memasak, demo menyajikan makanan di atas piring, dan tentu saja jamuan makan dengan menu khas dari hotel The Royal Royce. Aku harap itu tidak terlalu berlebihan, Tuan Archambeau," Autumn mengakhiri pemaparan idenya. Terpilih atau tidak, tentunya bukan masalah yang berarti bagi gadis itu. Satu hal yang pasti, kini ia telah dapat bernapas lega.


Sementara Gabriel terdiam dan berpikir. Harus diakuinya jika Autumn memiliki ide yang berbeda dengan rekan-rekannya. Kebanyakan dari mereka, hanya mengembangkan ide lama dari event-event yang sudah sering dilakukan selama dirinya menjabat sebagai ketua marketing. "Menarik, Nona Hillaire. Aku akan mempertimbangkan idemu dan tentu saja ide yang lainnya juga. Kalian semua hebat dan dapat bekerja dengan baik. Aku senang bisa berada dalam tim ini. Semoga kita selalu bisa menjaga kekompakan. Baiklah, aku rasa cukup untuk hari ini. Terima kasih karena telah meluangkan waktunya dan selamat siang," Gabriel menutup rapat itu. Ia kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut. Sementara Autumn masih terduduk dengan perasaan lega.


"Kelihatannya tuan Archambeau tertarik dengan idemu, Nona Hillaire," ujar Elloise yang saat itu baru selesai merapikan setumpuk map dan membawanya. Nada bicara Elloise terdengar penuh sindiran di telinga Autumn. Namun, tentu saja Autumn tak mau ambil pusing karenanya. Pikiran gadis itu sudah tertuju kepada Benjamin yang akan ia temui sore nanti.


Akhirnya, waktu pulang pun tiba. Autumn merapikan dirinya di toilet kantor, sebelum memutuskan untuk pergi ke kediaman Benjamin. Autumn merasa jika ia harus tampil cantik saat bertemu dengan pria pujaan hatinya tersebut.


Autumn tersenyum seraya menggeleng pelan. "Tidak usah, Tuan Archambeau. Aku masih ada sedikit urusan," jawabnya ramah.

__ADS_1


"Baiklah. Semoga menyenangkan, Nona Hillaire," Gabriel masuk ke mobilnya dan berlalu meninggalkan halaman parkir gedung tersebut dengan diiringi tatapan ceria Autumn. Setelah itu, ia kemudian mencari taksi dan berangkat menuju kediaman pria paling memikat bagi dirinya.


Hanya membutuhkan waktu setengah jam di perjalanan, akhirnya Autumn tiba di tempat yang ia tuju, yaitu kediaman mewah milik Benjamin Royce. Autumn rupanya sudah mendapat akses masuk dengan mudah ke rumah itu, sehingga ia dapat melenggang begitu saja menuju pintu utama dan segera masuk.


Di dalam rumah itu suasananya terasa sepi. Autumn mengedarkan pandangan dan mencari sosok Benjamin. "Ben ...." panggilnya dengan suara yang cukup nyaring. Akan tetapi, tak terlihat tanda-tanda Benjamin muncul di ruangan itu. Autumn pun melangkah ke dekat lukisan besar yang terpajang di dinding dan memperhatikannya sesaat.


"Nona," tanpa ia sadari bahwa Benjamin sudah berada di belakangnya. Autumn tersentak dan langsung menoleh. Sementara Benjamin hanya tersenyum kalem. Ia lalu meraih pinggang Autumn dan membuat gadis itu menghadap padanya. Sebuah ciuman hangat pun menyambut kedatangan gadis berambut cokelat tersebut untuk beberapa saat, hingga Benjamin mengakhiri adegan manis itu. Ia lalu mengajak Autumn untuk duduk, dan membuat Autumn bergelayut manja dalam dekapannya.


"Bagaimana hari ini?" tanya Benjamin seraya mengecup kening Autumn dengan lembut.


"Luar biasa," jawab Autumn tampak antusias.

__ADS_1


"Apanya yang luar biasa?" tanya Benjamin lagi. Autumn kemudian segera menegakan posisi duduknya. Ia lalu menceritakan semua yang telah berlangsung di kantor seharian tadi. Autumn terlihat begitu bersemangat dan tak henti-hentinya tersenyum. Sedangkan Benjamin menyimak semua penuturan gadis cantik tersebut dengan senyum menawannya.


"Kami memang biasa mengadakan event setiap pertengahan tahun untuk menyambut musim panas. Gabriel datang dengan membawa ide itu, dan aku rasa memang sangat menarik," Benjamin menanggapi cerita dari Autumn dengan cukup serius. "Aku harap kau menikmati masa magangmu di kantorku, Elle," lanjutnya.


__ADS_2