
Seketika Patra mengalihkan pandangan kepada Keanu, saat mendengar bahwa pria asing yang duduk di antara mereka merupakan calon suami Autumn. Pemuda berusia dua puluh tahun itu mengempaskan napas pelan. Betapa terlambatnya dia mengenal gadis secantik Autumn. Itu merupakan sesuatu yang sangat disayangkan.
Sementara Benjamin masih terlihat tenang. Jauh di dalam hati, dia mengucap rasa syukur kepada Tuhan. Pada akhirnya, sesuatu yang menjadi impian pria tiga puluh lima tahun itu akan segera terwujud. Hasratnya untuk memiliki Autumn, kini bukan hanya sekadar angan-angan semata.
Perbincangan terus berlanjut. Namun, sayangnya Edgar tak juga muncul untuk bergabung. Dia terlalu malas harus bertatap muka dengan Moedya. Edgar lebih memilih untuk menyendiri di balkon. Berdiri menatap langit malam sambil mengisap cerutu. Dia terlalu asyik menikmati suasana saat itu, sehingga tak menyadari bahwa Arumi sejak tadi memerhatikannya. Wanita cantik tersebut berdiri di ambang pintu dengan mengenakan baju tidur. Arumi tersenyum sambil melangkah ke arah sang suami berada. Tanpa banyak bicara, dipeluknya tubuh tegap Edgar dari belakang.
"Arum?" Edgar sedikit tersentak mendapati perlakuan Arumi. Dia menoleh ke samping, lalu tersenyum. "Kupikir kau sudah tidur," ucap pria kharismatik tersebut. Edgar lalu memejamkan mata, ketika Arumi memijat pundak serta lengannya.
"Elle sudah pulang. Aku baru dari kamarnya. Dia terlihat sangat bahagia," sahut Arumi meletakkan dagu di atas pundak sang suami.
"Ya. Lihatlah, ada dua mobil di bawah sana. Salah satunya adalah milik mantan kekasihmu," tunjuk Edgar sambil melirik Arumi dengan raut wajah geli, terlebih ketika melihat istrinya memasang ekspresi yang tampak kurang suka dengan candaan dari sang suami.
Arumi kemudian berpindah posisi. Dia menyandarkan sebagian tubuhnya pada teralis pembatas, sambil menghadap kepada Edgar. Pria itu masih dengan cerutunya yang menyala. "Sudah berapa lama kita menikah, Ed?" tanya Arumi pelan. "Aku tak mengerti kenapa kau masih saja cemburu terhadap Moedya," ujar wanita berambut panjang itu. Dia lalu tersenyum kecil. Namun, Edgar seperti tak berniat untuk menanggapi. Dia hanya menoleh sesaat kepada sang istri tercintanya
"Lihatlah Moedya saat ini. Dia bahkan memiliki anak jauh lebih banyak dari kita," ucap Arumi lagi.
"Oh, kau sudah bertegur sapa dengannya?" tukas Edgar.
"Kakakku yang mengatakan hal itu. Aku membatasi diri untuk bertemu apalagi sampai bertegur sapa. Lagi pula, Diana tak akan menyukainya. Kau tahu sendiri seperti apa sikap wanita itu saat di pesta kemarin malam," tutur Arumi. Dia lalu mendekat kepada Edgar. "Kau masih tetap menjadi yang terbaik untukku, Ed. Aku tak akan pernah melupakan hal itu," ucap ibu dua anak tersebut.
__ADS_1
Edgar tersenyum kalem mendengar kata-kata yang Arumi ucapkan padanya. Dari dulu hingga saat ini, entah kenapa dia selalu merasa luluh jika sudah berhadapan dengan wanita yang dulu sangat sulit untuk dia taklukan. Edgar tak pernah bisa marah terhadap Arumi. Bukan sebuah kemarahan yang besar dan meledak-ledak.
Perlahan, Edgar menyentuh pipi sang istri. Usia yang beranjak matang, tak membuat dia kehilangan sisi romantis dalam dirinya. Edgar masih tetap seperti yang dulu, selalu manis dan tentu saja penuh godaan.
"Aku ingin segera kembali ke Perancis," ucap pria itu seraya merekatkan keningnya dengan kening Arumi.
"Bukankah kita akan kembali akhir minggu ini?" Arumi meyakinkan.
"Ya. Aku meninggalkan segala urusanku di sana," ujar Edgar.
"Elle tadi mengatakan padaku bahwa Ben mengajaknya pulang lebih awal. Aku tidak bisa memberinya izin sebelum bicara denganmu. Namun, Elle mengatakan jika Ben akan langsung meminta izin padamu," tutur Arumi lagi.
Ditatapnya jalanan ibu kota yang masih ramai meskipun saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tanpa sengaja, dia melihat sepasang muda-mudi yang melintas dengan mengendarai sepeda motor. Angan Moedya pun melayang jauh pada puluhan tahun silam. Waktu di mana dirinya kerap berboncengan dengan Arumi, untuk menyusuri jalanan ibu kota di malam hari.
Moedya menggeleng pelan. Tak seharusnya dia masih mengenang masa-masa kebersamaan yang indah itu, meskipun dirinya tak pernah mengira akan kembali bertemu dengan sang mantan kekasih. Namun, semuanya telah berubah. Ya, kisah Miemie dan Moemoe telah terkubur dengan dalam. Moedya kini telah menjadi seorang pria yang jauh lebih bertanggung jawab dan memegang komitmen dengan teguh. Bagaimanapun sikap Diana, harus dia terima karena wanita itulah yang dia pilih untuk menjadi pelabuhan terakhirnya.
"Kamu kenapa?" tanya Moedya kepada Patra yang sejak tadi hanya terdiam.
"Tidak apa-apa," jawab Patra singkat.
__ADS_1
Akan tetapi, Moedya sangat mengenal putra sulungnya itu. Dia tak percaya begitu saja. "Apa yang mengganggumu?" tanyanya lagi.
Awalnya, Patra tidak segera menjawab. Namun, lama-kelamaan pemuda itu akhirnya bersuara juga. "Pria asing tadi, Pa," ucapnya ragu.
"Siapa? Benjamin Royce?"
"Ya, dia," sahut Patra membenarkan. "Menurut Papa, apa pria itu tidak terlalu tua untuk Elle?" sebuah pertanyaan yang terdengar sangat polos dan sesuai dengan usia Patra yang baru menginjak dua puluh tahun.
Sontak Moedya tertawa saat mendengarnya. "Jika Papa yang mendekati Elle, barulah kamu boleh berkata seperti itu," ujar Moedya menanggapi. "Menurut Papa, Benjamin masih terlihat muda. Usianya baru tiga puluh lima tahun. Dia juga seorang pengusaha yang sangat sukses. Coba saja kamu cari namanya di internet."
"Tetap saja dia terlalu tua untuk Elle," Patra bersikukuh dengan pendapatnya. Hal itu membuat Moedya mengerti akan sesuatu. Pria paruh baya yang kini terlihat sedikit gemuk tersebut kemudian menepuk pundak anak sulungnya. Dia dapat melihat kecemburuan dalam bahasa tubuh pemuda itu.
"Fokuslah pada cita-citamu, Ra. Kamu tidak tahu Edgar Hillaire. Dia adalah pria yang ...," Moedya terdiam dan memilih untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Harus diakui bahwa perasaan kesal itu memang masih kerap hadir, setiap kali dia teringat pada pria yang selalu terlihat necis tersebut.
"Kenapa dengan ayahnya Elle, Pa?" tanya Patra seraya melirik sang ayah.
"Tidak apa-apa," jawab Moedya. Kisah masa lalu antara dia, Arumi, dan juga Edgar biarlah terkubur bersama kisah cinta yang telah kandas antara dirinya dan Arumi. Hingga saat ini, tak seorang pun dari ketiga anak Moedya yang mengetahui hal itu, karena baik Moedya ataupun Diana tak pernah membahasnya di hadapan anak mereka. Sama halnya seperti yang Arumi dan Edgar lakukan. Namun, sayangnya rahasia itu kini telah diketahui oleh Autumn. Itu juga secara tidak disengaja.
Sementara itu di kediaman Winata, Benjamin pun tampak akan berpamitan. Edgar akhirnya bersedia turun setelah Moedya pergi. Mereka berbincang sebentar, sebelum Benjamin berdiri dan melangkah ke pintu. "Kita akan bicara serius nanti jika sudah kembali ke Perancis," ujar Edgar dengan sangat yakin.
__ADS_1