
Untuk sesaat Benjamin terpaku melihat pemandangan di depannya. Namun, tak berapa lama ia segera tersadar dan bergegas menuruni tangga. Benjamin segera memeriksa keadaan Fleur yang beruntungnya masih dalam keadaan sadar. "Apa yang sakit, Fleur?" tanya pria itu.
"Papa, kakiku ...." Fleur meringis sambil menunjuk kaki sebelah kanannya yang terasa sakit. Gadis itu bermaksud untuk menggerakkan kakinya tersebut.
"Tidak, Fleur!" cegah Benjamin. "Jangan banyak bergerak. Diamlah, karena semakin sering kau menggerakkan kakimu, maka cederanya bisa semakin parah," ucap Benjamin. Ia masih berusaha untuk tetap terlihat tenang di hadapan Autumn dan juga Fleur.
"Sebaiknya segera hubungi ambulans, Ben. Terlalu riskan jika kita membawa Fleur keluar dari gedung dalam keadaan seperti ini," saran Autumn. Raut kecemasan terlihat begitu jelas di wajahnya. Sementara Fleur hanya menatapnya untuk sesaat.
"Iya. Kau benar, Elle," Benjamin menanggapi saran dari Autumn dan menyetujui hal itu. Ia segera memanggil layanan darurat dan mengirimkan lokasi tempatnya berada kini. "Ambulans segera datang, dan kau akan secepatnya ditangani. Tenangkan dirimu, Fleur," ucap pria tiga puluh lima tahun itu lagi dengan sikap yang tetap terlihat tenang.
Sesaat kemudian, Benjamin melirik kepada Autumn yang saat itu tampak pucat. Ia teramat cemas atas keadaan yang menimpa Fleur. Benjamin tak banyak bicara. Pria itu hanya menyentuh punggung tangan Autumn yang masih menjadi penyangga tubuh Fleur. Namun, Autumn mengerti dengan sentuhan kecil itu. Ia dapat memahami maksud dari Benjamin meskipun tanpa adanya kata-kata yang terangkai indah.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ambulans pun tiba di sana. Kehadiran mobil petugas medis itu membuat orang-orang yang ada di area gedung menjadi bertanya-tanya. Mereka pun ikut menyaksikan ketika Fleur dibawa ke dalam mobil tersebut. Autumn menemani putri dari kekasih tercintanya di dalam ambulans hingga ke rumah sakit. Sedangkan Benjamin menyusul dengan mobilnya.
Tak berselang lama, mereka pun tiba di rumah sakit terdekat. Para petugas medis segera membawa dan menangani Fleur di ruang tindakan. Mereka harus memastikan cedera dan luka lainnya yang dialami gadis kecil itu.
"Tak apa-apa, Fleur. Kau akan baik-baik saja," hibur Autumn dengan yakin. Ia mengantar Fleur hingga ke depan ruang tindakan. Namun, gadis itu tak diperkenankan untuk masuk. Ia dipersilakan agar menunggu di luar. Sambil menunggu Benjamin yang belum datang, Autumn memutuskan untuk menghubungi Leon. Ia harus meminta pertanggungjawaban dari mantan kekasihnya tersebut. Dua kali panggilan, tak dijawab oleh Leon. Seperti biasa, sang photographer itu menghindar. Namun, Autumn terus menghubunginya hingga berkali-kali. Pada akhirnya, Leon pun menjawab panggilan tersebut. "Kenapa tidak dijawab juga?" nada bicara Autumn terdengar begitu marah.
"Apa maumu, Elle?" tanya Leon dengan berat. Pria itu sepertinya juga tengah gelisah.
"Kau masih bertanya apa mauku? Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada gadis kecil itu!" tegas Autumn berapi-api. "Lihat saja! Jika sampai terjadi sesuatu yang berat kepada putri dari tuan Royce, maka aku akan membuat perhitungan denganmu!" ancam Autumn dengan semakin tegas. Sementara Leon tidak menjawab. Pria itu masih merasa kebingungan. Ia lebih memilih untuk memutuskan sambungan teleponnya.
"Dasar sialan!" gerutu Autumn. Gadis itu mendengus kesal. Ia pun terlihat semakin gusar.
__ADS_1
"Siapa yang kau hubungi, Elle?" suara berat Benjamin membuat kegusaran Autumn kian menjadi. Gadis itu menoleh dan terlihat salah tingkah.
"Ben? Aku pikir kau belum sampai kemari," ucap Autumn dengan agak gugup. Sedangkan Benjamin terus menatapnya dengan raut penuh penasaran bercampur curiga.
"Apa yang terjadi? Kenapa putriku bisa sampai terjatuh dari tangga?" selidik pria berambut cokelat tembaga itu tampak sangat serius.
Autumn tak segera menjawab. Gadis itu menyibakan rambut panjangnya ke belakang. Ia pun memilih untuk duduk pada kursi yang tersedia di sana. Sementara Benjamin masih terus memperhatikannya dengan saksama. Ia yakin pasti ada sesuatu yang Autumn tutupi dari dirinya.
"Kau tak ingin berbicara jujur padaku, Elle?" tanya Benjamin lagi dengan nada dan tatapan yang dirasa begitu mengintimidasi oleh Autumn. Gadis bermata abu-abu tersebut menoleh, kemudian mengeluh pelan.
"Maaflan aku, Ben," ucapnya lirih.
"Maaf untuk apa?" Benjamin semakin penasaran. Ia lalu duduk di dekat Autumn dengan posisi menghadap kepada gadis yang telah berhasil merebut hatinya. "Katakan, Elle!" pinta Benjamin dengan cukup tegas meskipun suaranya terdengar pelan.
"Begini, Ben. Tadi ...." Autumn akhirnya menjelaskan semuanya kepada pria itu dengan pelan-pelan. Ia berharap agar Benjamin dapat berpikir dan juga bersikap dengan bijaksana. Autumn menceritakan semuanya dengan terperinci.
"Aku ataupun Leon tak menyangka jika Fleur akan datang dan menghampiri kami," Autumn mengakhiri penuturannya kepada Benjamin.
Sementara Benjamin tidak segera menjawab. Pria itu terdiam. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Satu hal yang pasti, apapun itu telah berhasil membuat jantung Autumn berdetak dengan jauh lebih kencang dari biasanya.
"Katakan sesuatu, Ben," pinta Autumn lirih.
Bemjamin menoleh dan menatap jauh ke dalam mata abu-abu milik Autumn. Sorot tajamnya terasa menghujam dan membuat Autumn merasa sedikit takut. Autumn segera memalingkan wajahnya. Ia tak suka saat Benjamin menatap dirinya dengan cara seperti itu.
__ADS_1
"Kau marah padaku? Kau ingin menyalahkanku?" tukas Autumn terlihat resah.
Benjamin menggumam pelan. "Jadi, pria itu adalah mantan kekasihmu?" tanya Benjamin tiba-tiba menanyakan tentang Leon. Autumn menanggapinya dengan sebuah anggukan, meskipun ia terlihat ragu.
"Kenapa pria itu terus mengikutimu, Elle?" selidik Benjamin lagi.
"Itu pertemuan yang tidak disengaja," jawab Autumn jujur. "Aku tidak tahu jika Leon ada di pesta. Semuanya terjadi begitu saja, Ben," jelas Autumn. Ia harap Benjamin tidak berpikir macam-macam tentang dirinya.
Pria bermata abu-abu itu mengangguk pelan. "Aku sudah sangat dewasa untuk dapat memahami hal seperti itu, Elle. Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya berharap tidak terjadi sesuatu yang serius kepada Fleur. Bagaimanapun juga ia masih terlalu kecil," Benjamin mengempaskan napas pelan. Bersamaan dengan itu, seorang dokter yang menangani Fleur keluar dari ruang tindakan. Ia segera menemui Benjamin dan Autumn yang saat itu langsung berdiri menyambut pria paruh baya tersebut.
"Bagaimana putriku, Dokter?" Benjamin langsung menanyakan kondisi Fleur.
"Putri Anda mengalami patah tulang kaki, Tuan Royce. Beruntung, kondisi patah tulangnya tidak terlalu parah. Kami hanya akan melakukan pembiusan lokal dan mengembalikan posisi tulang," jelas dokter itu dengan tenang.
"Apakah cederanya ini akan berpengaruh pada fisik putriku untuk jangka waktu yang lama?" tanya Benjamin lagi. Raut cemas mulai menghinggapinya saat itu. Seberapapun tenangnya seorang Benjamin, ia tetap merasa khawatir akan keadaan putri semata wayangnya.
"Cedera kaki yang terjadi pada putri Anda termasuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Hal itu tidak akan berpengaruh terlalu signifikan, selama putri Anda tidak melakukan aktivitas yang berat, meskipun nantinya ia telah pulih," jelas dokter itu lagi, membuat Benjamin menjadi terlihat sedikit gusar.
"Putriku sangat menyukai kegiatan menari balet. Ia sudah menggelutinya sejak berumur empat tahun. Apakah itu akan mempengaruhinya juga?" tanya Benjamin lagi dengan mimik khawatir. Ia berharap agar jawaban dari dokter tersebut tak sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, ternyata justru sebaliknya. Dokter itu memberikan jawaban yang mencengangkan dan membuat Benjamin serta Autumn hanya dapat mengempaskan napas berat.
"Saya sarankan agar putri Anda sebaiknya menghindari balet, karena menari balet sangat membutuhkan kondisi fisik yang prima, terutama di bagian kaki.
Saya takut jika hal itu tetap dipaksakan, maka akan menimbulkan efek samping yang tidak baik untuk ke depannya," terang sang dokter lagi, membuat Benjamin tertunduk lesu dengan helaan napas penuh sesal.
__ADS_1