The Gray Autumn

The Gray Autumn
Belle Complicité


__ADS_3

Autumn melepaskan ciumannya untuk sesaat, meskipun wajahnya masih menghadap kepada Benjamin. Senyuman manis nan manja penuh kebahagiaan kembali muncul. Rasanya seperti sebuah mimpi ketika mereka dapat kembali memadu kasih seperti itu.


"Ibuku mengatakan bahwa kami akan kembali ke Perancis akhir minggu ini. Bagaimana denganmu?" tanyanya seraya mengusap-usap punggung tangan Benjamin yang melingkar di perut.


"Sepertinya aku akan kembali lebih awal. Kau tahu bukan jika aku kemari dengan meninggalkan Fleur di Paris," ujar Benjamin. Pria bermata abu-abu itu kemudian mengecup kening Autumn dengan lembut.


"Lalu, selama kau berada di sini lantas siapa yang menjaga Fleur?" tanya Autumn lagi terlihat khawatir.


"Ada Jay dan juga Quinton. Mereka berdua adalah pengawal pribadi yang sengaja kusewa selama aku berada di sini," terang Benjamin. Hempasan napas pelan meluncur dari bibirnya. "Ada banyak hal yang terjadi selama beberapa waktu ke belakang. Namun, satu yang pasti adalah bahwa aku sangat merindukanmu," pria berambut cokelat tembaga itu semakin mempererat dekapannya, membuat Autumn kembali menyandarkan kepala di dada yang terasa begitu nyaman.


"Aku harap semuanya segera membaik. Sejujurnya aku ...." Autumn tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena suara dering ponsel yang terdengar dari dalam tas.


Dengan terpaksa gadis itu bangkit dan meraih sling bag miliknya. Dia merogoh ke dalam tas, kemudian mengambil ponsel. Nama Jenna tertera di layar. Belum sempat Autumn mengucapkan salam pembuka, suara berat Edgar telah lebih dulu terdengar di telingamya.


"Kau di mana? Ini sudah petang dan kau belum juga pulang," tegur pria kharismatik itu khawatir.


"Aku ... aku masih bersama Ben, ayah. Aku janji tidak akan pulang terlambat. Ayah tidak usah khawatir," sahut Autumn yang sesekali melirik kekasihnya. Sedangkan Benjamin hanya tersenyum simpul. Kembali dirinya memanjakan mata dengan memandangi sosok Autumn dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Apa pria itu menyekap dan tidak membiarkanmu pergi? Kuharap dia tidak berbuat macam-macam terhadapmu," Edgar berkata dengan nada setengah mengancam.


Akan tetapi, ucapan sang ayah justru malah berbalas sebuah tawa renyah dari Autumn. "Astaga, kupikir kau tidak bisa bercanda, yah," celetuk gadis bermata abu-abu itu seraya menghentikan tawanya. Sedangkan Benjamin hanya mengernyitkan kening. "Aku akan pulang sebentar lagi," tutup Autumn sebelum mengakhiri perbincangan. Setelah itu, dia menoleh kepada Benjamin yang masih memperhatikan dirinya dengan lekat. "Aku harus pulang," ucap Autumn lesu.


Sementara Benjamin tidak segera menjawab. Dia terus saja menatap gadis dengan atasan sabrina lengan pendek itu. Ada makna yang tersirat dalam sorot mata pria tiga puluh lima tahun tersebut. Sesuatu yang teramat dalam dan mungkin sulit untuk dia jabarkan secara mendetail.


"Kau tidak apa-apa, Ben?" tanya Autumn setelah beberapa saat terjadi kebisuan di antara mereka. Gadis itu mendekat, kemudian merebahkan tubuhnya di atas tubuh Benjamin dalam posisi saling berhadapan. Ditatapnya paras tampan penuh pesona ayah satu anak yang telah membuat dirinya tergila-gila. Benjamin terlalu sempurna untuk dia lewatkan.

__ADS_1


"Aku ingin menghentikan waktu, membuatnya tetap seperti ini," ucap Benjamin dengan dalam. Pria bermata abu-abu itu mengelus lembut rambut Autumn yang hanya tersenyum saat mendengar kata-katanya.


"Seandainya kuminta agar kau tidak pergi, apakah kau akan menurutinya?" tanya pria itu membuat Autumn seketika menautkan alis. "Aku tak ingin jika kau menjauh lagi dariku, Elle," tangan Benjamin beralih pada pinggang ramping Autumn, kemudian mendekapnya dengan begitu erat.


"Kau tahu, Ben?" Autumn dengan nyaman merebahkan kepalanya di dada Benjamin, sehingga dia dapat mendengar detakan jantung pria itu. "Kau adalah cinta pertama untukku, meskipun sebelumnya aku pernah menjalin hubungan dengan Leon. Namun, tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami berdua. Semuanya terasa begitu biasa. Aku bahkan tak peduli dan hanya merasa kesal jika dia bersikap menyebalkan. Akan tetapi, lain halnya denganmu," tutur Autumn pelan.


"Apa yang berbeda dariku?" tanya Benjamin dengan senyuman penuh percaya diri.


"Kau membuatku menangis, tertawa, dan juga menjadikan diriku sangat istimewa. Aku benar-benar merasa dewasa saat berada di dekatmu. Kau memiliki senyuman yang memesona. Aku menyukai cara bicaramu, bahasa tubuh, dan segalanya. Kau membuatku sangat terpikat, dan aku jatuh cinta," tutur Autumn lagi malu-malu.


"Sejak kapan kau mulai jatuh cinta padaku?" pancing Benjamin lagi.


"Sejak kita bertemu lagi di Marseille," jawab Autumn dengan binar indah pada kedua bola matanya. "Entahlah, tapi saat itu kau terlihat sangat tampan meskipun aku sempat melihatmu berciuman dengan seorang wanita di acara peresmian resort. Wanita berbeda dengan yang kulihat saat di kediamanmu. Oh, kau sangat nakal. Ben," Autumn mencubit pangkal hidung Benjamin, kemudian tertawa pelan.


"Aku tidak berbuat macam-macam, Elle. Sungguh," sela Benjamin dengan penekanan yang dalam. Dia berharap agar Autumn dapat mempercayai semua ucapannya.


"Baiklah. Aku harus segera pulang," dengan hati-hati, Autumn bangkit dari atas tubuh Benjamin, kemudian merapikan penampilannya di depan cermin.


Sementara itu, Benjamin kembali memeluknya dari belakang. "Jangan pergi," bisiknya seraya membenamkan wajah di dekat leher Autumn.


"Ayolah, Ben. Kita sudah menghabiskan waktu seharian. Apa itu belum cukup untukmu?" Autumn mengernyitkan kening, menanggapi sikap manja kekasihnya.


"Tidak akan pernah ada kata cukup untuk segala sesuatu yang berhubungan denganmu, Elle," sahut Benjamin. "Bagaimana jika kau kembali ke Perancis denganku saja? Sambil menunggu kedua orang tuamu datang, kau bisa menginap di rumahku," tawaran yang begitu gila dari seorang Benjamin Royce, dan membuat Autumn tertawa saat mendengarnya. "Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" Benjamin tak mengerti.


"Kau sungguh konyol. Jika berani, katakan itu di depan tuan Hillaire," tantang Autumn tenang seraya meraih tasnya. "Baiklah, jadi kau akan mencarikanku taksi atau ...."

__ADS_1


"Aku yang akan mengantarmu," potong Benjamin. Dia meraih ponselnya, kemudian menghubungi sopir sewaan yang tadi menjemput Autumn dan mengantarkannya ke hotel. "Ayo, sopirnya sudah siap," ajak Benjamin setelah dia mengakhiri perbincangan. Pria itu segera meraih pergelangan tangan Autumn dan menuntunnya keluar kamar.


Selama di dalam perjalanan, Benjamin terus menggenggam jemari lentik Autumn. Sesekali, pria bermata abu-abu itu mengecupnya dengan dalam. Sementara Autumn hanya tersenyum seraya menyandarkan kepala pada pundak sang kekasih.


Jarak tempuh dari hotel hingga ke rumah keluarga Winata, tidaklah jauh. Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah tiba di halaman rumah megah itu. Benjamin keluar terlebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Autumn. Dia kembali menuntun gadis cantik tersebut saat hendak memasuki rumah. Di dalam sana, Autumn melihat Keanu yang tengah berbincang bersama Moedya. Di sebelah mantan kekasih Arumi tersebut, duduk seorang pemuda yang tiada lain adalah Patra. Tatapannya lekat tertuju pada Autumn yang datang bersama Benjamin.


"Baru pulang, Elle," sapa Keanu. Dia lalu berdiri dan menghampiri dua sejoli itu. Keanu segera menyalami Benjamin dengan hangat. "Kebetulan Anda datang kemari, Tuan Royce. Mari kuperkenalkan kepada sahabat sekaligus rekan bisnisku," ajaknya. Dia mempersilakan Benjamin untuk bergabung. Dengan senang hati, pria bermata abu-abu itu menerima ajakan dari Keanu. Sementara Autumn berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Benjamin lalu melangkah ke dekat sofa.


"Tuan Royce, perkenalkan ini adalah tuan Arjuna Moedya Aryatama. Dia merupakan pemilik dari perusahaan kontruksi yang biasa bekerja sama denganku," Keanu mengarahkan tangannya kepada Moedya yang segera berdiri dan mengajak bersalaman.


"Panggil saja Moedya," ucap suami dari Diana tersebut dengan ramah.


"Benjamin Royce," balas Benjamin tak kalah ramah. Dia lalu duduk setelah Keanu mempersilakannya.


"Bagaimana, Tuan Royce? Apa Anda masih berminat untuk menjalin kerja sama dengan kami?" tanya Keanu melanjutkan perbincangannya dengan Benjamin beberapa hari yang lalu.


"Oh, tentu. Jadi, bagaimana?" tanya Benjamin.


"Aku sudah berbicara dengan Edgar. Kami akan kembali membangun resort di luar Jawa. Kebetulan, sahabatku ini bersedia untuk membantu," terang Keanu.


Benjamin menoleh kepada Moedya, kemudian tersenyum. Akan tetapi, dirinya merasa kurang nyaman dengan tatapan dari pemuda di sebelah Moedya, yang sejak tadi memperhatikannya begitu lekat. Entah apa yang sedang dilihat pemuda itu dari dirinya. Patra seakan tengah meneliti dengan detail setiap bagian yang ada dalam diri Benjamin. Akan tetapi, meskipun merasa risih, pria berambut cokelat tembaga itu tak ingin terlalu ambil pusing. Dia masih menunjukkan sikapnya yang tenang.


"Apakah tuan Hillaire sudah tahu jika aku ingin bergabung dalam proyek baru Anda, Tuan Winata?" Benjamin kembali mengalihkan perhatiannya pada Keanu.


"Kami sudah membahasnya tadi siang. Adik iparku setuju. Terlebih, Anda akan menjadi menantunya sebentar lagi."

__ADS_1


__ADS_2