The Gray Autumn

The Gray Autumn
Petite Visite


__ADS_3

Seketika Edgar menatap tajam kepada Benjamin. Dia berdiri sambil terus memegangi stick golf dengan tangan kanan. Sementara tangan kiri tampak terkepal di dekat pahanya. "Hubungan apa maksud Anda?" tanyanya dengan raut penuh selidik.


"Aku dan putri Anda saling mencintai. Kami sudah menjalin hubungan sejak beberapa waktu ke belakang," jelas Benjamin mencoba tetap tenang.


"Sejak kapan?" nada bicara Edgar tiba-tiba tak sehangat sebelumnya.


"Sejak peresmian resort di Marseille," jawab Benjamin dengan yakin dan penuh percaya diri.


"Oh, begitu?" tanggapan yang terkesan sangat tidak bersahabat di telinga Benjamin. Dia telah dapat memperkirakan hal tersebut sejak awal, karena itulah Benjamin sudah mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang terburuk sekalipun. "Anda mengencani putriku dengan diam-diam?" tanya Edgar lagi. Tatapan tajamnya terasa semakin menusuk relung hati Benjamin.


"Ya," jawab pria bermata abu-abu itu dengan yakin. "Kami menunggu waktu yang tepat untuk bicara," terangnya.


"Jadi, Anda adalah pria yang ditemuinya saat di Marseille?" raut wajah, tatap mata, serta nada bicara Edgar, membuat suasana terasa semakin tegang. Namun, Benjamin tak ingin terpancing. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu tetap berusaha untuk memperlihatkan respon positif, terhadap perubahan sikap yang ditunjukan Edgar padanya. "Apa kau juga telah meniduri putriku?" hilang sudah rasa hormat Edgar terhadap rekan bisnisnya tersebut. Sebutan 'Anda' kini seketika berganti menjadi panggilan lumrah yang biasa dia gunakan untuk sehari-sehari.


"Aku mencintainya," sahut Benjamin dengan lugas dan penuh percaya diri.


Sebuah jawaban yang tak diharapkan oleh Edgar. Pria paruh baya itu mendekat dan berdiri tepat di hadapan Benjamin, yang belum mengubah posisinya sejak tadi. Sama-sama memiliki mata abu-abu yang indah, kedua pria rupawan tersebut saling pandang dengan dalam. "Begini, Tuan Royce," Edgar kembali berkata. "Aku sangat menghormatimu, meskipun usia kita terpaut cukup jauh. Aku menghargai seorang Benjamin Royce dengan segala prestasi dan nama besar yang telah ditorehkannya dalam dunia bisnis. Namun, untuk yang satu ini aku benar-benar minta maaf. Putriku masih berusia dua puluh dua tahun. Kau pikir aku akan menyerahkannya begitu saja pada pria sepertimu?"

__ADS_1


"Pria sepertiku?" Benjamin menautkan alisnya sebagai tanda tak mengerti.


"Ya, pria sepertimu," Edgar kembali menegaskan. "Semua orang mengetahui seperti apa kehidupan pribadi Benjamin Royce yang kerap tereskpos. Kau dan puluhan wanita yang telah berkencan denganmu. Astaga ...." Edgar berdecak pelan.


"Itu masa laluku, sebelum aku bertemu dengan putri Anda. Setelah menjalin hubungan dengan Elle, seluruh perhatianku hanya tertuju padanya. Tak ada wanita lain," jelas Benjamin meyakinkan Edgar. "Ada banyak orang yang hidup dengan masa lalu tidak terpuji dan aku tak akan mengingkarinya. Aku memang bukan pria yang baik. Akan tetapi, aku berusaha untuk menjadi lebih baik demi cinta yang kurasakan untuk Elle. Aku yakin Anda pasti bisa memahaminya, Tuan Hillaire. Kita sebagai kaum pria, tak lepas dari sikap brengsek. Namun, ada masa di mana seorang pria menemukan sosok yang dapat membawanya pada tujuan hidup yang mulia. Saat ini, aku sedang meniti anak tangga untuk mencapai tujuan tertinggi dari hidupku, yaitu menikah dan berkeluarga," panjang lebar Benjamin memberikan penjelasan kepada Edgar.


Untuk sejenak, Edgar terdiam. Napasnya terdengar cukup berat. Pria itu seakan tengah menahan gejolak amarah yang cukup besar dalam dirinya. "Kita lihat, seberapa besar kau bisa memperjuangkan putriku," selesai berkata demikian, Edgar membalikan badan dan pergi begitu saja, meninggalkan Benjamin yang masih berdiri terpaku menatapnya.


Sementara itu, Autumn baru pulang dari kantor. Seperti biasa, dia memilih untuk berjalan kaki meskipun udara dingin mulai mendera. Sesaat kemudian, Autumn menghentikan langkahnya di depan sebuah toko mainan. Dia lalu masuk dan melihat-lihat semua mainan yang dijual di sana. Rasanya, gadis itu ingin kembali pada masa kanak-kanak ketika melihat semua mainan lucu tersebut.


Perhatian Autumn kemudian tertuju pada sebuah kotak musik berwarna putih, dengan balerina di atasnya. Gadis itu memutar tuasnya, hingga terdengar alunan musik klasik yang sangat menenangkan. Balerina yang berada di atas, tampak berputar seakan menari mengikuti irama musik tersebut. Autumn tersenyum lembut. Dia menyukai kotak musik itu.


Selang beberapa saat, gadis itu berhenti di depan sebuah toko bunga. Autumn memesan bunga mawar putih dari sana. Setelah mendapat semua yang dia butuhkan, gadis berambut cokelat tersebut melanjutkan perjalanan menuju tempat yang telah lama tidak dia datangi.


Udara terasa semakin dingin. Namun, hal itu tak menyurutkan niat Autumn, hingga akhirnya dia berdiri di depan pintu dari sebuah rumah megah. Setelah dia mengetuk pintu, seseorang membukanya dari dalam. "Bonjour," sapa Autumn kepada seorang wanita berpakaian pelayan. "Aku ingin bertemu dengan ...."


"Elle?" suara seorang wanita yang tiada lain adalah Aamber, terdengar di sana menyapa Autumn dengan ramah. Pelayan wanita itu pun segera mundur, ketika Aamber menghampiri ke dekat pintu. "Apa kabar, Elle?" sapanya dengan disertai senyuman hangat.

__ADS_1


"Cukup baik. Kau sendiri?" Autumn balik bertanya. "Aku dengar kemarin kau kurang sehat," ucap gadis itu berbasa-basi.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya terjatuh di kamar mandi," terang Aamber seraya tertawa pelan. "Mari. Masuklah, Elle," ajaknya kepada Autumn yang sejak tadi hanya berdiri di luar. Gadis itu tersenyum seraya melangkah melewati pintu. "Kebetulan Ben belum pulang sejak tadi. Katanya hari ini dia harus bertemu dengan salah satu rekan bisnis. Apa kalian sudah membuat janji?" Aamber menatap Autumn dengan semua yang dia bawa.


"Tidak juga. Awalnya aku memang tak berencana datang kemari. Namun, tiba-tiba aku teringat dengan keadaan Fleur. Aku dengar jika dia sedang sakit," jelas Autumn yang masih saja berdiri.


"Ya, kau benar," balas Aamber. "Dia baru kembali dari rumah sakit siang tadi. Apa kau ingin menemuinya secara langsung?" tawar wanita paruh baya tersebut.


Autumn mengangguk pelan. "Aku harap dia bersedia bertemu denganku," ucap gadis itu ragu.


"Coba saja. Lagi pula, kau sudah membawakannya sesuatu," lirik Aamber pada paper bag dan bunga yang Autumn bawa. "Itu untuk Fleur, kan?"


Autumn tersenyum seraya mengangguk pelan. "Ben tidak menyukai boneka beruang," ucapnya.


"Ya, sudah. Mari," ajak Aamber. Dia meminta Autumn agar mengikutinya. "Kemarin Ben terlihat sangat kerepotan. Aku juga tidak bisa membantunya karena badanku sakit semua," ujar wanita bertubuh agak gemuk itu.


"Iya. Dia sudah mengatakannya padaku," sahut Autumn terus mengikuti sang pengasuh dari Fleur, hingga mereka berhenti di depan kamar gadis kecil itu. Aamber kemudian membuka pintu. Dia masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


Di dalam kamar, tampaklah Fleur yang tengah asyik membaca. Gadis kecil berambut cokelat tembaga itu menoleh sejenak kepada Aamber dan tersenyum. Namun, senyumnya seketika memudar, ketika dirinya melihat Autumn masuk ke ruangan tersebut.


__ADS_2